Cinta pada Setetes Minyak Kayu Putih

January 18, 2017

Sewaktu saya kecil, saya benci sekali bau minyak kayu putih. Kalau saya sedang sakit, Ibu suka mengusapkan minyak kayu putih ke perut dan punggung saya ketika saya tidur. Terbangunlah saya dan uring-uringan.

Kini, setelah saya menjadi seorang ayah, anak-anak saya juga tidak suka minyak kayu putih. Kalau anak-anak saya sakit, saya suka memijit mereka dengan memakai minyak kayu putih ketika mereka sedang tidur. Kemudian anak saya terbangun dan uring-uringan.

Hmm. Begitulah, ungkapan cinta kadang disalahartikan. Tapi percayalah, cinta sejati itu selalu akan menjadi juara…

img_20160317_065236_1466022461230

Kredit Foto: Lukisan Mote


Ripuh Cobaan, Bagja Titipan

January 6, 2017

Banyak pelajaran yang bisa kita petik di sepanjang perjalanan. Seperti pelajaran pagi ini yang saya dapat dari sebuah pantat mobil pick up:

img_20170106_080247

Ulah ngeluh keur ripuh

Ulah ngaraja keur bagja

Ripuh cobaan

Bagja titipan

Arti bebasnya kurang lebih seperti ini: “Jangan mengeluh ketika susah! Jangan bergaya ketika bahagia/sukses! Susah itu cobaan, bahagia/sukses itu titipan.”

Saya sangat terkesan dengan quote tersebut. Dalam sekali. Lalu saya coba iseng telusuri di Google, ternyata quote tersebut berasal dari kang Ibing. Hatur nuhun Kang Ibing. Semoga ujaranmu menjadi amal jariyah…

 

 

 


Catatan Akhir Tahun

December 30, 2016
img_20161230_074829_hdr

Kebun Bunga Sedap Malam Gladiol, Kebunhui – Parongpong

Hari-hari yang kita lewati layaknya jalan yang setiap hari kita lalui. Jalannya memang sama. Yang berbeda adalah pemandangan di sepanjang jalan. Awan yang kita lihat hari ini adalah awan yang berbeda dengan awan kemarin. Juga tanaman-tanaman di kanan kiri. Seperti pagi ini, di jalan menuju kantor, kebun bunga Sedap malam Gladiol sudah siap dipanen pak Tani.

Bukan jalan yang sama atau suasana yang berbeda yang menjadi penting. Yang Penting adalah bagaimana kita menyikapi semua itu. Dan yang membuat takjub malaikat adalah ketika kita menyikapi semua yang terjadi hanya dengan dua pilihan: Sabar dan syukur.

Selamat Tahun Baru 2017!


Dan Cinta Itu Menyentuh Kita

November 29, 2016

Menurut teori elektromagnetik, obyek bermuatan yang diam akan menghasilkan medan listrik yang menyebar ke segala arah. Medan ini berawal dari muatan positif dan berakhir di muatan negatif. Ini lah yang dikenal dengan hukum Coloumb. Apabila obyek bermuatan itu bergerak, maka ia akan menghasilkan medan magnet. Ini lah yang dikenal dengan hukum Biot-Savart. Bedanya,  medan magnet ini tidak berawal dan tidak berakhir. Kita bisa memiliki  benda yang bermuatan positif saja (misalnya proton) atau negatif saja (misanya elektron), tapi kita tidak pernah punya benda yang hanya berkutub utara saja atau selatan saja.

santri-ciamis-jalan-kaki-jpg-2

Dan cinta saudara-saudara kita dari Ciamis akan Al Quran yang terefleksi dari keikhlasan mereka bergerak dalam long march ke Jakarta sungguh memancarkan medan magnet cinta yang begitu kuat. Pancaran medan magnet cinta itu menyentuh hati kita. Mengetuk dada kita untuk kembali membuka Al Quran yang sudah lama berdebu di lemari kita…


Mechanical Effect Demo 4/11

November 23, 2016

Puji Tuhan (Alhamdulillah), demo damai umat Islam 4 November 2016 (4/11) lalu telah menggulirkan mechanical effect bagi umat Islam secara khusus dan bangsa Indonesia secara umum. Saya mencatat setidaknya terdapat 4 effect  sebagai berikut.

demo-4-november

Sumber Foto: merdeka.com

Meningkatkan Kepercayaan Diri Umat Islam

Demo yang diikuti oleh setidaknya 2,3 juta orang yang berasal dari berbagai daerah, ormas dan madzhab berjalan secara tertib, bersih dan damai. Hal tersebut membangkitkan kepercayaan diri umat Islam, bahwa umat Islam bisa bersatu dan beradab.

Membangunkan Kesadaran Umat untuk Beraksi

Perlu kita akui bahwa demo 4/11 tersebut adalah sebuah reaksi bukan aksi. Namun, keberhasilan demo tersebut kemudian membangunkan kesadaran umat Islam, bahwa sudah saatnya umat beraksi dalam agenda-agenda kebangsaan dan bahkan agenda-agenda global dalam kerangka rahmatan lil álamiin.

Mungkin saat ini kekuatan umat sebagai “pelaku” masih kecil, tapi setidaknya umat memiliki kekuatan “pasar” yang besar. Apabila kekuatan pasar itu bersatu dan berpihak kepada umat, ia akan menjadi sebuah kekuatan  yang luar biasa. Tidak lagi menjadi pasar yang diperebutkan, tapi umat Islam menjadi pelaku dan bahkan penentu. Contoh ide yang saat ini cukup menggetarkan adalah ide  money rush membesarkan bank nasional dan bank syariah. Bayangkan kalau ide ini bergulir ke sektor lain! Sektor media, industri secara luas, kemudian ke politik.

Menyegarkan Makna Bhineka Tunggal Ika

Selama ini masyarakat Indonesia disibukkan dengan masalah rumah tangga masing-masing, golongan masing-masing, organisasi masing-masing atau partai masing-masing. Secara tidak sadar kita telah terpecah dalam kesibukan masing-masing. Demo 4/11 kemarin telah menyadarkan kita bahwa kita hidup di bumi Indonesia dalam keragaman suku, agama dan ras. Dan itu adalah keniscayaan yang telah ada semenjak Indonesia merdeka. Lebih jauh lagi itu semua adalah fitrah universal. Lantas, benarkah apabila kita saling cuek dan bahkan bertengkar di atas bumi yang satu ini?

Menyadarkan Keberadaan Invisible Hand

Diskusi pasca Demo 4/11 telah memunculkan kesadaran bangsa Indonesia atas keberadaan Invisible Hand yang turut bermain di Indonesia. Panglima TNI secara terang-terangan mengingatkan adanya invisible hand berupa ancaman eksternal yang ingin mengeruk sumber daya Indonesia. Lebih jauh lagi umat Islam kembali diingatkan dengan janji Allah bahwa invisible hand itu memang membuat tipu daya dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Karena Allah adalah sebaik-baiknya pembuat tipu daya, sebaik-baik Invisible Hand!


Parahyangan, Negeri di Atas Awan

November 18, 2016

Secara etimologi, Parahyangan berasal dari kata inti “hyang”, istilah yang dikaitkan dengan keberadaan spiritual yang memiliki kekuatan supranatural dan dimuliakan. Imbuhan “para” menunjukan jamak dan “an” menunjukan tempat, sehingga kata parahyangan kurang lebih bermakna tempat para hyang. Karuhun Sunda menganggap bahwa dataran tinggi/pegunungan di Tatar Sunda sebagai tempat para hyang bersemayam. Sepertinya memang sudah menjadi naluri manusia untuk mengasosiasikan keberadaan Yang Maha Kuasa di atas sana (langit).

Setelah beberapa lama tinggal di Bandung, saya menjadi memahami kenapa karuhun Sunda menamakan Parahyangan, karena pada saat cuaca cerah berawan, Bandung memang terlihat seperti negeri di atas awan layaknya negeri para hyang…

IMG_20161114_062101.jpg

Foto 1. Parahyangan di lihat dari Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (efek kontras)

img_20161114_062103

Foto 2. Parahyangan di lihat dari Parongpong, Kabupaten Bandung Barat

img_20161114_062803

Foto 3. Parahyangan di lihat dari Daerah Setiabudhi, Bandung.


Suatu Senja di Makam Pahlawan

November 10, 2016

Senja di Taman Makam Pahlawan. Gerimis membuat langit lebih temaram. Gerbang makam yang menjulang seolah gambaran keteguhan perjuangan. Suasana begitu tentram dalam panggilan Tuhan, “Wahai Jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridla dan diridlai. Lalu masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Al Fajr 27-30)

img_20161110_171705

Foto 1. Gerbang Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung

img_20161110_171135

Foto 2. Barisan Makam Pahlawan