Membangun Bangsa dan Negara

September 16, 2016

Sewaktu saya kecil, bercita-cita abstrak “berguna bagi  nusa dan bangsa” adalah hal yang wajar. Sepertinya cita-cita tersebut sudah jarang terdengar saat ini. Cita-cita anak-anak kita sekarang cenderung lebih konkrit. Morteza (6), anak sulung saya, bercita-cita menjadi peneliti robot. Menurut analisis singkat saya, era informasi telah membuat anak-anak sekarang lebih cepat melek profesi.

Pertanyaan yang menggelitik bagi para pendidik adalah: Lebih prioritas mana mengajarkan konsep nasionalisme atau profesi terlebih dahulu? Silahkan berkomentar!

Ngomong-ngomong, saya kepikiran hal tersebut, setelah membuka-buka kembali buku hadiah dari pak Nur Mahmudi Ismail berikut:

20151012_215601

 


Mekanisme Cinta

September 1, 2016

Cinta itu tidak buta, tapi hanya menutup sebelah mata (A.F)

Menurutku cinta memang seperti itu. Mungkin yang Engkau cintai tidak rupawan, tapi pintar. Mungkin ia tidak rupawan dan pintar, tapi baik hati. Itu lah preferensi. Berbagai variabel yang berpengaruh terhadap cinta dibobot (weighted) oleh masing-masing individu.

Sebagian besar orang meyakini bahwa domain cinta itu adalah “hati” bukan otak. Tapi mereka sering lupa kalau “hati” tersebut tidak terletak di hati secara fisik (bagi orang indonesia liver, bagi orang bule jantung). Faktanya “hati” itu terletak di otak, yang mau tidak mau ia bekerja dengan mekanisme otak: Preferensi; Pembobotan.

Sistem preferensi dan pembobotan setiap orang bisa berbeda, terkait dengan latar belakang dan kondisi internal/eksternal tertentu. Bagi saya pribadi, itu semua adalah jaring-jaring takdir yang teramat halus. Ya, pada hakikatnya kita menemukan cinta sebagaimana apa yang telah ditakdirkan oleh Tuhan!

Kalau cinta memiliki preferensi, apakah itu berarti tidak ada cinta yang sejati? Menurutku tidak juga, tak peduli bagaimana cinta dimulai, semua cinta bisa menjelma menjadi cinta sejati. Itu lah tugas yang diberikan oleh Tuhan kepada kita!

Hmm, aku sudah ngelantur terlalu panjang. Kalau istriku membaca tulisan ini, sepertinya ia akan berkata, ” Sayang, tahu apa Kau tentang cinta!”

IMG_20160221_093405

 

 


Menjadi Developer Properti

August 23, 2016

Character is more important than intelligence for success (Gilberte Beaux)

Alhamdulillah, weekend kemarin saya belajar banyak dari dua pengusaha properti: Bu Anti Gantira dari Margahayuland Group dan Mas Ghofar Nazila dari Relife Property. Point penting yang saya tangkap dan mungkin berguna untuk dibagi setidaknya sebagai berikut:

  1. Pengusaha itu bukan superman, cari lah partner yang bisa melengkapi kekurangan;
  2. Industri properti adalah open industry, semua orang bebas masuk dan keluar;
  3. Developer properti itu seperti pelari. Developer pemula dan bermodal cekak seyogyanya berlaku seperti pelari sprint (cepat bangun, cepat jual). Kemudian berevolusi lah menjadi pelari marathon melalui skema land bank;
  4. Daripada kue kita tetap kecil, lebih baik kita bersama orang lain memperbesar kue dan membaginya;
  5. Bisnis yang berkelanjutan (sustainable business) itu hanya bisa dibangun di atas karakter yang baik, terutama jujur dan bertanggung jawab;
  6. Bisnis yang berkelanjutan tidak mungkin bisa dibangun dengan motif tunggal profit. Pengusaha harus bisa menemukan motif beyond money, misal menebar sebesar-besarnya kemanfaatan bagi manusia lainnya.

P1020909


Menjadi Gondrong

August 15, 2016

Ternyata waktu bertapa saya cukup lama. Terakhir posting di blog ini akhir April 2016. Saya merasa banyak hal yang perlu dikonsolidasikan di sisa umur saya: Interaksi dengan keluarga; relasi dengan sahabat dan masyarakat; peran di tengah umat. Juga mimpi-mimpi personal yang belum ditunaikan. Termasuk juga merealisasikan keinginan berambut gondrong.

Michio Kaku

Itu bukan foto saya gondrong, tapi Michio Kaku (Sumber: Youtube)

Hmm, sudah saatnya saya menjadi gondrong. Eh, sudah saatnya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah yang masih menumpuk: Novel CIA dari ITB; Republik Rempeyek; startup properti; juga Cinta Masjid…


Lembaga Pentashih Website bagi Umat

April 26, 2016

Di era teknologi internet sekarang ini, semua orang bisa menyebarkan informasi dengan sangat cepat. Informasi menjadi berseliweran di dunia maya. Sebagian orang mabuk informasi: Tidak bisa membedakan mana konten yang benar mana yang salah; mana yang fakta mana yang fitnah. Hal ini menjadi rumit ketika informasi tersebut terkait dengan SARA. Dengan kondisi tingkat kedewasaan informasi masyarakat kita saat ini, fenomena banjir informasi bisa menjadi penyebab disintegrasi bangsa.

Banjir Informasi

Untuk kasus terkait situs web Islam, pemblokiran situs islam radikal seperti yang pernah dilakukan oleh Kemenkominfo beberapa waktu lalu, bukan solusi yang tepat. Ada solusi alternatif yang menurut saya lebih elegan bagi umat Islam, yakni pembentukan Lembaga Pentashih Situs Web, lembaga pemeriksa kesahihan suatu situs web.

Di bayangan saya, Lembaga independen ini ada di bawah Majelis Ulama Indonesia (MUI). Lembaga ini memiliki portal yang hanya berisi daftar situs yang lolos tashih. Dari portal itu lah, umat bisa mengecek apakah suatu situs web tertentu  layak untuk dijadikan referensi atau tidak. Umat bisa mengusulkan situs-situs baru atau yang belum terdaftar untuk di-tashih. Di bayangan saya, situs-situs yang tidak lolos tashih tidak usah ditampilkan di portal Lembaga Pentashih. Biarlah situs-situs abal-abal mati dalam keheningannya sendiri…

 

 

 

 

 

 


Solikhin Valley

April 18, 2016

Saat ini Silicon Valley di Amerika Serikat telah menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. Berdasarkan data Compass Startup Genome, total PDB perusahaan teknologi di Silicon Valley pada tahun 2015 sekitar USD 535 miliar. Itu berarti senilai dengan 62% PDB Indonesia!

Silicon Valley  bermula dari Sputnik zaman perang dingin. Amerika kebakaran jenggot, perlu segera membangun industri pemasok komponen canggih. Kebetulan lowongan kerja bagi lulusan Stanford University sedang seret. Maka lahirlah Sillicon Valley yang dibesarkan dengan  triple helix  Academics  – Business  – Government (ABG). Gelombang itu terus bergerak sampai dengan saat ini: Defence (HP, Varian) –> Integrated Circuit (Fairchild, Intel) –> PC (Apple, Silicon Graphics) –> Internet-Social Media (Netscape, Yahoo, eBay, Google, Facebook).

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Gagasan mengadopsi Silicon Valley sudah ada sejak 1986 yang kemudian ditindaklanjuti dengan pembentukan Bandung High Tech Valley (BHTV). Kenapa di Bandung? Karena di Bandung ada ITB dan BUMN-BUMN besar (Telkom, INTI, LEN, IPTN, Pos Indonesia, KAI) yang harapannya bisa meniru ekosistem Silicon Valley. Beruntung ada krisis moneter 1997 yang dapat dijadikan kambing hitam tgagalnya BHTV. Sebab utamanya sebenarnya belum terbentuknya komunitas ABG yang solid yang memungkinkan terbentuknya atmosfer yang nyaman bagi Startups untuk bisa tumbuh dan berkembang. Sampai saat ini, saya belum melihat perbaikan sinergi ABG yang signifikan.

Bandung Valley

Sumber Foto: Kaskus

Meski belum berhasil, orang Bandung tak perlu berkecil hati. Meski belum punya Silicon Valley, Bandung sudah punya Solikhin Valley: Lembahnya Orang-Orang (yang insya Allah) Saleh. Bandung adalah salah satu acuan inovasi gerakah dakwah di Indonesia. Kita punya Salman dengan Latihan Mujahid Dakwah, Daarut Tauhid dengan manajemen Qalbu, Rumah Zakat (sebelumnya DSUQ) dengan manajemen LAZ yang profesional, MAQDIS dengan gerakan tahsin/tahfidz. Yang terbaru di Bandung adalah munculnya Komunitas Pemuda Hijrah (Shift). Nah ini bagian paling menariknya: Bagaimana membuat Solikhin Valley ini sebagai salah satu pendorong Silicon Valley di Bandung?

 


Bangkitnya Ekonomi Non Ribawi

April 15, 2016

Pada dasawarsa ini terjadi trend penurunan acuan bunga bank oleh beberapa bank sentral. The Fed sejak 2008 menerapkan bunga acuan mendekati 0%. Beberapa bank sentral bahkan mengambil kebijakan negative interest rate. Danish National Bank menerapkan negative interest rate (minus 0,65%) sejak Juli 2012. The European Central Bank mematok negative rate (minus 0,4%) sejak Juni 2014. Langkah tersebut kemudian diikuti oleh Swiss National Bank (minus 0,75%) sejak Desember 2014 dan Swedish Riksbank (minus 1,25%) sejak Februari 2015. Yang terbaru di 2016 adalah Bank of Japan (minus 0,1%) dan Bank Sentral Hungaria (minus 0,05%).

Mulanya negara-negara tersebut di atas mengambil resep zero/negative interest rate sebagai obat penyembuh dari krisis ekonomi. Tapi kalau kita cermati, dengan periode zero/negative rate yang terus diperpanjang, sepertinya negara-negara tersebut merasa nyaman dan menyadari bahwa  zero interest rate bukan sekedar obat tapi juga vitamin untuk menumbuhkan ekonomi.

Zero Interest Rate

Masuk akal! Ekonomi non ribawi  (zero interest rate) lah yang bisa memberikan keadilan dan pemerataan kekayaan bagi seluruh umat manusia. Tanpa bunga, risiko usaha ditanggung bersama antara pemodal dan pelaku bisnis sehingga menciptakan hubungan bisnis yang lebih manusiawi. Tanpa bunga, orang kaya akan cenderung menggulirkan kekayaannya ke dalam usaha riil yang pada gilirannya akan memberikan pemerataan pendapatan.

Alhamdulillah, kita sedang menyaksikan ekonomi dunia sedang berubah menuju kesetimbangan baru sesuai dengan fitrahnya: Ekonomi Non Ribawi.