Mekanisme Cinta

Cinta itu tidak buta, tapi hanya menutup sebelah mata (A.F)

Menurutku cinta memang seperti itu. Mungkin yang Engkau cintai tidak rupawan, tapi pintar. Mungkin ia tidak rupawan dan pintar, tapi baik hati. Itu lah preferensi. Berbagai variabel yang berpengaruh terhadap cinta dibobot (weighted) oleh masing-masing individu.

Sebagian besar orang meyakini bahwa domain cinta itu adalah “hati” bukan otak. Tapi mereka sering lupa kalau “hati” tersebut tidak terletak di hati secara fisik (bagi orang indonesia liver, bagi orang bule jantung). Faktanya “hati” itu terletak di otak, yang mau tidak mau ia bekerja dengan mekanisme otak: Preferensi; Pembobotan.

Sistem preferensi dan pembobotan setiap orang bisa berbeda, terkait dengan latar belakang dan kondisi internal/eksternal tertentu. Bagi saya pribadi, itu semua adalah jaring-jaring takdir yang teramat halus. Ya, pada hakikatnya kita menemukan cinta sebagaimana apa yang telah ditakdirkan oleh Tuhan!

Kalau cinta memiliki preferensi, apakah itu berarti tidak ada cinta yang sejati? Menurutku tidak juga, tak peduli bagaimana cinta dimulai, semua cinta bisa menjelma menjadi cinta sejati. Itu lah tugas yang diberikan oleh Tuhan kepada kita!

Hmm, aku sudah ngelantur terlalu panjang. Kalau istriku membaca tulisan ini, sepertinya ia akan berkata, ” Sayang, tahu apa Kau tentang cinta!”

IMG_20160221_093405

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: