Latte Art

Pagi tadi, sambil menunggu jadwal rapat, kami pesan kopi di Cafe PU, Jakarta. Sampai rapat mau dimulai, kopi yang dipesan belum juga datang.

Selidik demi selidik sepertinya Sang Barista masih belum mahir membuat latte art, hiasan hidangan kopi. Lukisan kurang bagus, diganti lagi dan ganti lagi.

image

Setelah kami bayar, baru kopi datang. Sudah dingin. Kami langsung menuang gula, mengaduk kopi. Latte art larut berantakan. Saya melirik ke Barista, wajahnya lemas. Sayup-sayup saya mendengar suara hatinya, “Mas, Mas, saya capek-capek buat latte art, moso langsung di telen, mbok ya o dinikmati dulu lukisannya…”

Semangat pagi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: