Kisah di Balik Pendirian Bank Syariah di Indonesia

Diskusi tentang pendirian bank syariah di Indonesia sudah mulai bergaung sejak tahun 1970-an. Namun baru tahun 1990, pemikiran tersebut mulai mengerucut, yakni dengan diselenggarakannya Lokakarya Bunga Bank dan Perbankan oleh MUI di Cisarua, Bogor. Ada dua point penting hasil lokakarya tersebut yang sesungguhnya merupakan satu kesatuan silogisme: 1) bahwa di kalangan umat Islam terdapat dua pendapat yakni ada yang menghalalkan bunga bank konvensional dan ada yang mengharamkan. 2) Perlu dibuat wadah bagi umat yang mengharamkan bunga bank konvensional  berupa bank yang berlandaskan syariat islam.

Nah yang menjadi masalah adalah bagaimana mengkomunikasikan hasil Lokakarya tersebut kepada pemerintah. Pada waktu itu, segala yang berbau Islam dianggap cukup sensitif. Pendirian bank syariah sering dihubung-hubungkan sebagai bagian dari cita-cita mendirikan Negara Islam. Celakanya sebagian besar Menteri Agama orde baru juga berpendapat bahwa bunga bank konvensional adalah halal. Yang lebih celaka lagi konstelasi kabinet waktu itu dikhawatirkan kurang pro terhadap Islam, karena berlatar belakang non muslim. Sebut saja: Menko Ekuin, pak Radius Prawiro; Menteri Keuangan, J.B. Sumarlin; Menhankam, L.B. Moerdani dan Gubernur BI, Adrianus Mooy.

Bank MuamalatSebelum menghadap Menteri Keuangan, K.H. Hasan Basri, Ketua MUI waktu itu mereview redaksi rekomendasi hasil Lokakarya. Akhirnya beliau mengusulkan agar redaksi kalimat yang menyebutkan SYARIAT ISLAM diganti dengan kata SYARIAH. Hal tersebut untuk menghindari penolakan akibat analogi kepada Piagam Jakarta 1945, yang sila pertamanya berbunyi “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan SYARIAT Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.

Sewaktu rombongan MUI diterima di ruang Menteri Keuangan, K.H. Hasan Basri menyampaikan rekomendasi hasil Lokakarya kepada pak Menteri dengan lembut dan tenang. Beliau menekankan dengan aksen yang tinggi pada kata SYARIAH di akhir redaksi rekomendasi. Komentar pertama pak Menteri sungguh di luar dugaan, “Pak Kiai, kenapa menggunakan kata SYARIAH? Bukankah kata SYARIAH dalam bahasa Indonesia menjadi SYARIAT?”

Begitulah apabila Tuhan sudah berkehendak. Lampu hijau dari pemerintah kemudian ditindaklanjuti dengan upaya yang tak kenal lelah dari para alim ulama. Pada 1 November 1991, lahirlah bank syariah pertama di Indonesia, Bank Muamalat Indonesia.

(Kisah tersebut diolah berdasarkan cerita Prof. Jimly Asshidiqie (Panitia Lokakarya MUI 1990) pada Musyawarah Zakat dan Penjaminan Sosial Kesehatan, 7 September 2013 di Unpad, Jatinangor)

One Response to Kisah di Balik Pendirian Bank Syariah di Indonesia

  1. bay says:

    kalau diteruskan bisa lebih panjang cerita sejarahnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: