Filosofi Kaya

Harus kita akui bahwa budaya korupsi masih bercokol di masyarakat kita. Saya menduga budaya korupsi tersebut terkait dengan pemahaman yang keliru sebagian besar masyarakat kita terhadap makna kaya. Sebagian besar masyarakat memandang bahwa untuk mencapai bahagia kita mesti kaya, dan kaya itu adalah dengan banyaknya harta.

Izinkan saya mencoba membahas filosofi kaya berdasarkan ajaran yang dibawa manusia yang pernah menguasai hampir seluruh bumi dan berhasil membangun peradaban yang tinggi, dia lah Rasulullah, Muhammad SAW.

Rasulullah mendifinisikan makna kaya secara gamblang dalam satu hadistnya (HR Bukhari dan Muslim), “Bukanlah kaya dengan banyaknya harta tapi kaya itu adalah kaya jiwa.”  Secara kasat mata, hadist tersebut menumbukkan dua domain yang berbeda, yakni domain material/kuantitas dengan domain spiritual/kualitas. Bahwa kaya itu bukanlah predikat quantity of material tetapi kaya itu adalah quality of soul.

Definisi Rasulullah atas kaya tersebut masuk akal dengan fenomena yang terjadi di dunia ini. Kita sering melihat banyak orang yang memiliki materi berlimpah tapi orang tersebut selalu merasa kurang. Banyak harta tapi tidak bisa menikmati hidup. Tapi di sisi lain kita juga sering melihat ada orang yang memiliki materi pas-pasan atau bahkan kurang tapi mereka merasa cukup dan berbahagia dengan kondisi yang ada. Jadi banyaknya materi bukanlah ukuran kecukupan, karena kecukupan itu adanya di dalam jiwa kita, ia ada di domain kualitas, quality of soul. Dan harus diakui bahwa harta itu tidak bisa membeli kebahagiaan, harta hanya memberi lebih banyak pilihan. Tetap saja, kebahagiaan itu ditentukan oleh quality of soul!

Definisi kaya sebagai predikat quality of soul diperkuat dengan satu hadist lainnya, “Qana’ah adalah harta kekayaan yang tak pernah sirna.” Di hadist ini, Rasulullah jelas-jelas menumbukkan lagi domain kuantitas materi (harta kekayaan) dengan domain kualitas jiwa (merasa cukup/qana’ah) dan Rasulullah memenangkan quality of soul atas quantity of material. Kita juga menemukan esensi yang sama di hadist lainnya, “Sesungguh dunia itu adalah perhiasan-perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salihah.” Sekali lagi, Rasulullah memenangkan quality of soul (kesalihan) atas quantity of material (perhiasan).

Dengan pemahaman di atas, mari kita introspeksi seberapa kaya atau miskinkah kita sekarang? Kalau saya, merasa sangat kaya disebabkan harta yang sangat berharga: Istri saya yang hebat!

Jakarta, Malam Jum’at di bulan Maret 2012.

Sumber gambar: http://goldshoesforwomen.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: