Keong Emas

Ini memang bukan keong sembarangan, tidak seperti keong-keong sawah yang hidup di daerah kami. Keong ini warnanya kuning keemasan, karena itu lah ia disebut keong emas1. Pak Lurah yang membawa keong emas ini, oleh-oleh dari kolam hias kerabatnya yang tinggal di Jakarta. Pak Lurah menaruhnya di kolam ikan belakang rumahnya. Ah, gara-gara keong emas itu kolamnya menjadi lebih indah.

Cerita tentang indahnya keong baru itu cepat menyebar. Banyak warga yang menyempatkan melihat kolam pak Lurah. Beberapa di antaranya bahkan meminta pak Lurah untuk membagi keong emasnya untuk dipelihara di kolam mereka. Pak Lurah, menjadi bangga, dia telah membawa sesuatu yang baru bagi desanya.

”Baiklah Saudara-Saudara, berhubung jumlah keong emas saya masih sedikit, saya tidak bisa membaginya kepada Saudara-Saudara sekalian, tunggu lah barang beberapa waktu biar keong itu kawin dulu dan beranak pinak. Saya berjanji akan membagikan kepada Saudara-Saudara sekalian sepasang keong emas.”

Keong emas ini meski istimewa tapi pemeliharaannya mudah. Pak Lurah cukup menaruh daun talas hutan atau daun pisang di kolam. Bahkan daun apa saja sepertinya bisa dimakan oleh keong ini. Benar-benar tidak merepotkan. Hari demi hari warga desa semakin merindukan untuk membawa keong ini ke kolam mereka. Bahkan anak-anak nakal sudah ada yang mencuri beberapa keong dari kolam pak Lurah.

***

Sepertinya penantian warga desa tidak akan lama lagi, karena keong emas itu cepat berkembang biak. Sekali bertelur bisa ratusan butir. Telurnya juga indah, bulat kecil merah jambu, menggerombol memanjang seperti buah arbei. Jelas berbeda dengan telur keong sawah biasa, yang bulat besar putih dan  jumlahnya paling berapa puluh saja dalam satu gerombol.

Sewaktu melihat beberapa keistimewaan itu, pak Carik desa kami sempat mengajak pak Lurah berdiskusi.

“Pak Lurah, saya kok jadi khawatir ya kalau melihat keong emas Pak Lurah…” sebelum kalimat pak Carik ini selesai, pak Lurah sudah memotongnya dengan ketus.

“Khawatir kenapa Pak Carik? Khawatir warga desa semakin menyukai saya?”

Maklum kondisi politik di desa kami memang sedang panas. Enam bulan lagi masa jabatan pak Lurah akan habis dan akan segera dilakukan Pilkades. Dan kandidat kepala desa yang akan bertarung hanya dua orang, yakni Pak Lurah sekarang dan Pak Carik.

“Bukan begitu Pak Lurah. Mohon maaf, saya tidak menyimpan dengki sedikitpun. Yang saya khawatirkan adalah keong emas itu nantinya akan menjadi hama di desa kita,” Pak Carik mencoba berbicara dengan hati-hati.

“Hama bagaimana, Pak Carik? Keong emas ini akan memperindah kolam-kolam warga desa kita. Pemeliharaannya juga tidak merepotkan. Hama bagaimana?” tangkis pak Lurah.

“Begini Pak Lurah, kalau dilihat dari selera makannya yang rakus, mau memakan daun apa saja, dan waktu berkembang biaknya yang cepat, saya khawatir jika jumlahnya banyak dan sampai lepas ke sawah, keong emas ini bisa menghabiskan tanaman padi kita, Pak Lurah.” Jelas pak Carik.

“Ah, kekhawatiran Pak Carik berlebihan. Saya lebih tahu masalah perkeongan dari Pak Carik,” jawab Pak Lurah ketus.“Maaf Pak Carik, saya ada pekerjaan yang harus saya selesaikan.”

Dan diskusi antara pak Lurah dan pak Carik tentang keong emas ini tak pernah dilanjutkan karena pak Lurah selalu menghindar apabila diajak berdialog tentang keong. Alasan yang paling sering digunakan adalah bahwa ia lebih jago masalah perkeongan dari siapapun di desa ini. Memang sih pak Lurah pernah mendapat tentang pelatihan beternak bebek di kabupaten. Lha apa hubungannya antara bebek dan keong? Nah dalam satu sesi pelatihan, terdapat topik penyediaan pakan bebek menggunakan keong sawah yang diternak. Itu saja!

Setelah pak Carik membawa diskusi tentang keong emas ini di perkumpulan Kelompok Tani, makin renggang lah hubungan  pak Lurah dan pak Carik. Pak Lurah menganggap pak Carik telah melakukan black campaign terhadapnya.

***

Seminggu menjelang Pilkades, suasana di belakang rumah pak Lurah begitu ramai. Ternyata ada pembagian keong gratis dari pak Lurah.

“Ini bukan money politics, Saudara-Saudara. Ini murni bermula dari niat saya untuk membuat desa ini lebih indah, yakni salah satunya dengan memperindah kolam ikan kita. Bukankah Tuhan itu indah dan menyukai keindahan, Saudara-Saudara?” Pak Lurah mengutip hadist di dalam pidato kampanye terselubungnya.

“Karena keong emas ini indah, maka akan sayang kalau kolam Saudara-Saudara masih jelek. Karena itulah saya akan membagikan sedikit amplop buat Saudara-Saudara merapikan kolam Saudara-Saudara sekalian. Sekali lagi ini bukan money politics Saudara-Saudara. Ini adalah program yang saya namakan Program Seribu Keong Emas!”

Hmm, jangan dikira Pilkades itu mudah. Sekarang ini, mana ada yang gratis meskipun di desa. Begitu juga untuk suara. Pak Carik pun tidak mau kalah, bedanya pak Carik bermain lebih anggun. Tim sukses pak Carik membagikan amplop kepada warga dengan diam-diam, didatangi rumah mereka satu per satu selepas subuh.

Singkat saja, akhirnya berakhirlah sudah Pilkades, pak Lurah kembali memenangkan Pilkades kali ini. Menang tipis. Hanya tiga suara lebih. Tidak ada yang tahu persis apakah kemenangan ini berhubungan dengan program seribu keong emas-nya atau tidak.

***

Setelah Pilkades, kehidupan masyarakat desa kembali normal. Kubu yang berseteru kembali lagi berbaur. Musim hujan tiba, masa tanam padi dimulai.

Selang beberapa lama setelah tandurane sumilir2 terjadilah kehebohan. Tanaman padi di desa ini rusak dalam beberapa hari saja. Program pak Lurah ternyata benar-benar berhasil. Banyak keong yang lepas dari kolam warga dan berkembang biak di persawahan. Ribuan keong emas muda memakan batang-batang tanaman padi muda…

1) Keong emas: Pamacea Canaliculata Lamarck

2) Tandurane sumilir: tanaman padi yang sudah mulai besar sehingga daun-daunnya bergelombang ditiup angin.

Bandung, 3 September 2009

4 Responses to Keong Emas

  1. gus fit says:

    hahaha, bagus ceritanya Akh,…cerdik

  2. rawins says:

    mumeti pancen….

  3. Untuk cerpen-cerpen selanjutnya yang tidak terkait dengan tema blog ini, penulis unggah di blog: http://mote.dagdigdug.com/

  4. mantap…ambil ilmunya saja dan manfaatnya..allah menciptakan mahluk apapun pasti ada manfaatnya ..amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: