Mengapa Jurusan Kuliah Anak Sampai Dipaksakan?

Beberapa hari yang lalu, ada beberapa orang tua yang mengajak saya berdiskusi tentang jurusan kuliah yang harus diambil oleh anaknya. Ini terkait dengan menjelang ujian masuk perguruan tinggi. Dari diskusi tersebut, saya menangkap masih banyak kasus perbedaan keinginan antara orang tua dan anak dalam penentuan jurusan kuliah yang seringkali berujung pada pemaksaan. Oleh karena itu saya mencoba menuliskan urun rembug menyikapi permasalahan tersebut.

Ada beberapa point pola pikir yang perlu dipahami agar tidak terjadi pemaksaan pilihan pendidikan pada anak, termasuk pemilihan jurusan kuliah anak, yakni:

1. Setiap anak dilahirkan istimewa

Sadarkah kita bahwa setiap manusia itu istimewa? Tidak hanya fisik yang berbeda satu sama lain, tapi juga potensi. Anak-anak kita memiliki bakat, minat, kepribadian dan kemampuan unik yang merupakan anugerah dari sang Pencipta untuk saling bersinergi. Jadi jangan hapuskan keistimewaan tersebut dengan mendidiknya menjadi anak yang “umum”.

Lebih lanjut lagi, keistimewaan mereka terkait juga dengan melekatnya anak-anak kita pada zamannya. Seperti apa yang ditulis dalam salah satu puisi Kahlil Gibran: “Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh mereka, tetapi bukan jiwa mereka. Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi.”

2. Tugas orang tua  membantu menemukan “panggilan jiwa” anaknya

Untuk memahami point ini, kita perlu memahami filosofi penciptaan manusia. Bahwa keberadaan manusia di bumi ini pada hakikatnya memikul dua tugas pokok, yakni beribadah kepada Penciptanya dan memakmurkan bumi. Terkait dengan tugas pokok tersebut, dalam konteks pendidikan anak, maka tugas orang tua bisa dikristalkan menjadi dua, yakni, satu, mengajarkan anaknya bagaimana mengenal tuhan dan beribadah yang baik dan ke-dua, membantu anak menemukan bakat dan minatnya serta mengasahnya agar bisa berkontribusi optimal di bidangnya. Ingat, tugas orang tua menemukan dan mengasah, bukan menciptakan dan memaksakan!

Ngomong-ngomong masalah panggilan jiwa, kita jadi teringat The 8th habbit –nya Stephen Covey, yakni “Find your voice & inspire others to find theirs.” Sebagai bapak, pemimpin keluarga, kita berkewajiban membantu anak-anak kita menemukan panggilan jiwa mereka.

3. Pemaksaan tidak perlu terjadi apabila komunikasi orang tua-anak berjalan dengan baik

Apakah kita sudah membangun komunikasi yang baik dengan anak kita? Dalam Al Quran, terdapat model komunikasi keluarga ideal yang dicontohkan oleh keluarga nabi Ibrahim. Dengan status sebagai nabi dan orang tua, nabi Ibrahim masih mengajak anaknya, Ismail, berdiskusi tentang perintah Tuhan yang mesti dilaksanakan.

Berbicara mengenai model komunikasi orang tua-anak, kita tak bisa lepas dari model pendidikan anak. Sahabat Ali mengajarkan kepada kita tentang model pendidikan anak yang bagus, yakni tujuh tahun pertama perlakukan anak-anak kita seperti raja, tujuh tahun ke-dua, perlakukan anak-anak kita seperti tawanan dan tujuh tahun ke-tiga, perlakukan anak-anak kita seperti menteri. Ini terkait dengan stage perkembangan psikologi anak.

Dengan pola pendidikan yang benar, anak lulusan SMU seharusnya sudah bisa diajak berdiskusi, tidak hanya dalam konteks relasi orang tua-anak, tapi juga relasi antara dua manusia dewasa.

Semoga bermanfaat, saya hanya seorang calon bapak yang sedang belajar…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: