Balubur Trade Center dan Permasalahan Pasar Tradisioal vs Pasar Modern

Kalau Anda melewati fly over Pasupati, Bandung, di ujung arah rektorat ITB, Anda bisa melihat  pembangunan sebuah pusat belanja modern baru, Balubur Trade Center (saya singkat menjadi BalTC, karena singkatan BTC sudah dimiliki Bandung Trade Center). Saya tidak bisa membayangkan bagaimana macetnya persimpangan di ujung fly over itu setelah BalTC beroperasi.

Dahulu, sebelum Pasupati dibangun, lokasi tersebut adalah perumahan penduduk dan pasar tradisional Balubur. Sewaktu saya masih kuliah, saya tinggal di dekat pasar tersebut, sehinga saya sering keluar masuk pasar: dari membeli peralatan tulis, potong rambut, atau sekedar jajan. Sewaktu pembebasan lahan untuk pembangunan Pasupati, saya sempat heran mengapa akuisisi lahan memanjang ke samping. Saya masih ingat, waktu itu percetakan langganan mahasiswa di Balubur yang relatif jauh dari badan jalan fly over ikut tergusur. Akhirnya teka teki tersebut terjawab dengan dibangunnya BalTC. Adakah kongkalikong dalam pembebasan lahan dan perizinan BalTC? Bukan masalah itu yang ingin saya komentari, tetapi pada kasus hilangnya pasar tradisional Balubur.

Saya makin miris dengan menjamurnya pasar-pasar modern dan kolapsnya pasar-pasar tradisional. Data yang dirilis Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) pada tahun 2005,  seperti dikutip website Kementerian Koperasi dan UKM, mengatakan bahwa sekitar 400 toko di pasar tradisional harus tutup usaha setiap tahunnya. Data APPSI per Maret 2009, mengatakan bahwa sudah 68% market share pasar tradisional yang tergerus mall/hypermart.

Memang, penyebab utama kolapsnya pasar tradisional adalah permasalahan internal, yakni pengelolaan (manajemen) pasar yang jelek. Mayoritas kondisi fisik pasar tradisional kurang memadai, bahkan bisa dibilang kumuh. Selain itu, bisnis yang dikelola masing-masing pedagang di pasar tradisional relatif berskala kecil dan cenderung bersifat individual, yang berakibat pasar tradisional kurang mampu memanfaatkan scale of economics, sehingga untuk beberapa barang, harganya kalah murah dibanding hypermart/jaringan pasar modern eksisting.

Keberadaan pasar modern dan tradisional seharusnya bisa berdampingan  dengan baik, karena memang memiliki segmen market sendiri-sendiri. Yang harus menjadi perhatian adalah bahwa jangan sampai pasar modern membunuh pasar tradisional. Hal ini karena menyangkut hajat hidup orang banyak, lapangan pekerjaan dan kegiatan ekonomi kerakyatan yang berputar di pasar tradisional.

Mengacu pada laporan First Pacific Davies, yang mengkaji perilaku konsumen di Jakarta dan sekitarya, market segment pasar  dapat dikelompokkan kedalam tiga kelompok: menengah ke bawah, menengah dan menengah ke atas. Kelompok menengah ke bawah yang menjadi sasaran pasar tradisional berjumlah sekitar 69 persen. Sayangnya, mulai terlihat pergeseran preferensi tempat belanja generasi muda pada kelompok ini dari pasar tradisional ke pusat perbelanjaan modern.

Disinilah pentingnya peran pemerintah untuk menjaga keadilan berusaha antara pasar tradisional vs pasar modern. Menurut saya, setidaknya ada tiga langkah yang mesti dilakukan oleh Pemerintah. Pertama, Pemerintah mesti tegas mengatur pembatasan mall/hypermart, baik pembatasan jarak maupun kuota per wilayah. Kedua, membantu renovasi infrastruktur pasar-pasar tradisional. Peran ini bisa ditangani oleh BUMD Provinsi/kabupaten/kota. Ketiga, mendorong perbaikan manajemen pasar tradisional. Pemerintah mesti melibatkan peran koperasi dalam hal ini. Dengan intensnya peran koperasi, masalah supply chain management dan scale of economics bisa ditangani dengan baik.

Ah, semoga di masa datang, anak cucu kita nyaman berbelanja di pasar tradisional…

Kredit foto:

http://commondatastorage.googleapis.com/static.panoramio.com/photos/original/8253420.jpg

7 Responses to Balubur Trade Center dan Permasalahan Pasar Tradisioal vs Pasar Modern

  1. sujarwo04 says:

    Jangan2 Pasar Pahing Kemojing kebanggaan kita sebentar lagi menjadi Kemojing Trade Centre (KemTC). Meluncur ke utara sedikit ada Banjarwaru Trade Center (BanTC), dan meluncur sedikit ke utara ada Danasri Trade Centre (DanTC)… Berminat jadi pengembangnya Mas? hehehehe

    -SJW-

  2. sujarwo04 says:

    Bali ndeso mbangun ndeso ya Mas??
    Nanti dulu dech, masih ingin Ph.D dulu, biar rada keren pulang kampungnya, hahahahah
    (padahal wong kampung ora ngerti Ph.D-Ph.D-an), hehehe

  3. mendoan 2.0 says:

    duh… nyong dadi kangen tongkrongan karo pak sarkim neng pasar wage….

  4. gadafi says:

    “pasar desa datang,beta senang” ini adalah slogan masy ntt ketika kemdagri ditjen pmd mengadakan bintek pengelolaan pasar desa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: