Pesan Implisit Slumdog Millionaire

Saya baru saja menonton Slumdog Millionaire. Film yang menarik! Saya jadi teringat kembali hakikat seni. Bahwa kesenian tetap bisa menampilkan keindahannya apapun objeknya. Kemelaratan kah. Kekumuhan kah. Wajar saja film ini menyabet penghargaan Oscar untuk 8 kategori, termasuk kategori gambar terbaik.

Namun dari alur cerita yang dibangun, saya menangkap adanya satu kejanggalan. Tapi setelah saya renungkan kembali, saya jadi memiliki pemikiran lain: jangan-jangan kejanggalan ini adalah sebuah pesan yang sengaja disampaikan oleh sutradara secara implisit. Kejanggalan itu adalah perubahan psikis yang drastis tokoh utamanya, Jamal Malik, saat ia kecil dan dewasa. Untuk lebih memahami detil perubahan psikis Jamal, sepertinya saya harus membaca novel sumbernya, Q & A, karya Vikas Swarup.

Awalnya, si kecil Jamal adalah anak yang sangat ceria dan ekspresif meski ia hidup di kawasan kumuh (slum). Salah satu buktinya adalah ketika dia begitu bersemangat untuk melakukan apa saja supaya bisa menemui bintang film pujaannya, Amitabh Bachchan. Sampai-sampai ia rela menceburkan diri ke dalam kakus di pinggir kali. Kondisi tersebut sangat berbeda dengan adegan-adegan Jamal menjelang remaja. Ia digambarkan sebagai sosok yang pendiam. Apalagi saat ia telah dewasa. Jamal tidak pernah sedikitpun digambarkan gembira, kecuali ketika bertemu kekasih sejatinya, Latika

Pesan implisitnya adalah bahwa peristiwa-peristiwa kelam bisa merubah kepribadian. Sepertinya Jamal memang mengalami trauma demikian. Ini bisa dipahami dengan banyaknya peristiwa yang sangat memukul psikisnya: Ibunya yang dibunuh ekstrimis agamis, kekasih kecilnya yang terenggut, juga kakaknya sendiri, si Salim, yang tega memperkosa kekasihnya, Latika. Dan semua memori itu terputar kembali saat Jamal menjawab satu demi satu pertanyaan di kuis Who Wants to be A Millionaire. Tahap-demi tahap hadiah uang yang ia raih tak sedikitpun merubah ekspresi wajahnya. Ia tidak bersorak. Ia tidak menampakkan kegembiraan. Bahkan ketika ia telah berhasil memenangkan 20 juta rupee (sekitar Rp. 4,6 milyar), ia hanya tersenyum dingin.

Ada satu hal yang menarik juga, film ini tidak menyuguhkan pesan moral secara hitam putih. Memang di dalamnya terdapat konflik Kejahatan vs Kebaikan. Tapi ada saat-saat di mana kejahatan itu diperuntukkan untuk kebaikan. Ini bisa dilihat saat Salim, membunuh seorang germo untuk menolong Jamal dan Latika. Atau tokoh jahat pun tidak selamanya jahat. Ia bisa memiliki sisi baik. Meski Salim pernah memperkosa Latika dan menjadi bodyguard seorang boss mafia yang menyimpan Latika, ia kemudian menolong Latika untuk melarikan diri, dan kemudian membunuh bossnya sendiri. Tapi pesan moralnya memang masih konsiten dengan nilai karma: Siapa menanam dia yang menuai. Akhir cerita bisa ditebak, Jamal yang lurus akhirnya bahagia. Menjadi milyuner. Hidup bersama dengan kekasih sejatinya. Ah, romantisme indiahe.

Saya juga jadi teringatkan masalah kemiskinan yang masih menghantui bumi ini. Memang benar, kadang kemiskinan bisa membuat persoalan begitu rumit. Sampai-sampai Nabi Muhammad mengingatkan: kemelaratan kadang mendekatkan kepada kekufuran. Dan ketika si miskin benar-benar menjadi kufur, si Kaya juga bisa ikut terbawa-bawa di akhirat nanti. Seberapa jauh ia telah berusaha menyantuni si fakir…

Kredit foto: http://www.sheknows.com/entertainment/articles/808366/slumdog-millionaire-dvd-showcases-oscar-top-dog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: