Catatan Akhir Tahun

gaza-akhir-tahun1Akhirnya saya ngeblog lagi, setelah liburan akhir tahun kemarin berkeliling Jakarta – Semarang – Cilacap. Jadi pada posting-an awal tahun ini, saya laporkan perjalanan di empat kota, termasuk Bandung, sekaligus sebagai  catatan akhir tahun 2008.

Bandung

Liburan Natal dan tahun baru, membuat Bandung penuh dengan pengunjung dari luar kota.  Jalanan, terutama kawasan FO,  macet oleh kendaraan yang mayoritas berplat nomor B. Apa sih yang di cari mereka di Bandung? Wisata belanja? Ah, di zaman modern ini memang telah terjadi revolusi pariwisata. Saya juga sempat merasakan kemacetan itu saat pergi ke Rabbani untuk mencari hadiah mukena starberry buat Alya, keponakanku yang masih TK.

Menjelang perjalanan berkeliling, saya cukup dikejutkan dengan adanya berita serangan besar-besaran Israhell, eh Israel ke Gaza, Palestina. Ah, dunia akan menutup sejarah 2008 ini dengan catatan kelam!

Jakarta

Malam tahun baru hijriah, 28 Desember,  saya lalui di Tol Cipularang dalam perjalanan ke Jakarta: senyap di antara mobil yang berseliweran.  Di Jakarta, mumpung libur,  saya sempatkan diri  ke Monas.  Ini kunjungan ke-dua saya setelah kunjungan pertama 12 tahun yang lalu. Sayang, kali ini saya juga tidak bisa naik ke menara, antrian lift terlalu panjang karena musim liburan. Saya baru tersadar, ternyata lighting di ruangan diorama sejarah Indonesia sangat minim. Saya tidak paham apakah ini disengaja untuk menciptakan suasana khidmat, soalnya yang saya tangkap justru malah kesan suasana sejarah yang “suram”, “samar-samar”, dan kesan tidak PD menjadi bangsa Indonesia.

Ada yang menarik di ruang diorama, yakni di stand Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Pada buku tamu stand tersebut, pengunjung justru banyak menuliskan curhatan mereka: tentang pemimpin yang cuma janji dan merencanakan tanpa aksi, tentang gas dan air bersih yang langka, tentang kemacetan dan polusi di ibukota. Saya sarankan kepada para anggota DPR dan DPRD DKI Jakarta, sesekali masuklah ke Monas dan bacalah curhatan rakyat Indonesia!

Malam tahun baru masehi saya lalui di Harbor Tollroad, menemani sepupu-sepupu saya yang masih kecil menikmati kembang api . Jalan tol macet! Ada ironi yang terbetik:  saat masyarakat kita menghujani kota dengan  kembang api, penduduk Gaza dihujani  bom oleh tentara Israel. Indonesia telah mengutuk serangan tersebut dan meminta PBB bertindak. Tapi saya tidak paham benar sejauh apa efek dari reaksi Indonesia ini, yang saya takutkan reaksi tersebut hanya seperti  auman  harimau ompong  dan tak bercakar.  Ah, benar kata Rasulullah: yang ditakutkan adalah ketika umat islam banyak tapi hanya seperti buih di lautan.

Semarang

1 Januari saya berangkat ke Semarang. Tiba di Stasiun Tawang menjelang sore. Saudara kembarku, yang sedang menjadi resident spesialis anak, mengajakku berkeliling Semarang. Makan sore di Bandeng Juwana Pandanaran, shalat Maghrib di Masjid Baiturrahman – Simpang Lima dan shalat Isya di masjid Agung Semarang. Malam itu pengunjung Masjid Agung cukup banyak, sebagian besar warga luar kota yang sedang – istilah kerennya- berwisata rohani. Ini revolusi pariwisata juga! Di pelataran Masjid Agung kami berdiskusi  tentang keluarga, rencana ke depan dan masalah umat.

Siang harinya saya berkunjung ke sekretariat  Asy-Syifa RS Dr. Karyadi, bertemu dengan beberapa mahasiswa kedokteran dan dokter  teman saudara saya. Banyak di antara mereka yang salah menyapa, saya dikira dr. Agus. Khutbah  di Masjid Asy-Syifa masih berkaitan dengan serangan Israel ke Palestina, dengan tema bangsa  Yahudi menurut Al Quran.

Setelah makan siang di Bee’s, kami mampir ke Klenteng Sam Po Kong. Dahulu klenteng ini adalah masjid yang dibangun era Laksamana Cheng Ho (Zheng He/Sam Po Kong/Sam Po Tao Lang). Setelah dinasti Ming melemah dan menutup diri serta melarang orang-orang Tionghoa pergi dari daratan Tiongkok maka pengaruh dan pengikut Islam di kalangan orang-orang Tionghoa di pesisir utara Jawa menyurut. Masjid-masjid  Tionghoa banyak yang berubah fungsi menjadi klenteng, salah satunya adalah Klenteng Sam Po Kong ini. Saya jadi teringat kembali: umat islam banyak, tapi seperti buih…

Cilacap

Menjelang pergantian hari  ke-3 2009, saya sudah sampai di Kroya. Praktis saya tidak bebas bepergian karena disandera Alya. Menemaninya menggambar, nonton VCD dan tidur. Paginya kami pergi ke Pantai Widara Payung, salah satu lokasi wisata di pantai Selatan. Kami hanya bermain ombak sebentar karena Alya buru-buru mengajak ke kolam renang anak-anak. Tapi saya sempat mengamati buih-buih laut.  Saya jadi teringat kembali: umat Islam banyak, tapi seperti buih…

Apa Kabar Tahun Baru?

Tahun 2009 menurut kalender Cina adalah tahun Kerbau. Dan kebetulan efek krisis financial global diperkirakan masih berjalan  beberapa tahun ke depan yang menyebabkan perekonomian berjalan lamban seperti kerbau di kubangan lumpur. Jadi memang butuh kerja keras seperti kerbau yang sedang membajak sawah. Tapi kerja keras saja tak cukup, kita mesti bekerja dengan cerdas. Sebab krisis justru bisa menjadi promoter DNA sukses bagi entrepreneur/intrapreneur. Bersama kesulitan ada kemudahan. Tuhan mengatakannya sampai berulang.

Tahun baru 2009 juga kebetulan berimpitan dengan awal tahun baru 1430 hijriyah. Saatnya bagi umat Islam untuk me-refresh semangat hijrah: berusaha menuju kondisi yang lebih baik. Allah lebih mencintai muslim yang kuat, baik secara fisik, intelektual dan ekonomi. Dengan kekuatan itulah umat Islam lebih bisa mengaktualisasikan dirinya sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta. Tidak hanya menjadi seperti buih di lautan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: