AADC – Ada Apa dengan CSR

rumah-baca-jsRabu sore kemarin, saya mewakili kantor untuk menghadiri seremoni launching Rumah Baca, salah satu program Corporate Social Responsibility (CSR) dari kantor. Ngomong-ngomong tentang CSR, masih sering kita jumpai banyak pro dan kontra tentangnya: Mengapa harus melakukan CSR? Apa untungnya bagi perusahaan? Apa filosofinya? Apa bentuk CSR yang paling tepat? Jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa sangat beragam bagi setiap perusahaan, tergantung pada kondisi masing-masing perusahaan. Daripada berdebat tentang jawabannya mending kita membedah kondisi etis apa yang membuat sebuah perusahaan membuat respons terhadap pertanyaan-pertanyaan CSR di atas termasuk juga respons yang lebih luas atas keberadaannya di muka bumi.

Ada beberapa Ethic Models untuk menganalisis kondisi etis sebuah perusahaan yang merupakan sumber respons mereka. Salah satunya yang disusun Reidenbach dan Robin dalam jurnalnya “Toward the Development of a Multidimensional Scale for Improving Evaluations of Business Ethics”. Reidenbach dan Robin membaginya dalam 5 tahap: Amoral – Legalistic – Responsive – Emerging Ethical – Ethical.

Amoral Companies suka sekali berdalih dengan beberapa frasa ini: ” Mereka tidak akan tahu kok” atau “Setiap orang juga melakukan seperti ini” atau “Kita tak akan tertangkap kok.” Sedangkan Legalistics Companies, argumen andalannya adalah, ” Kalau legal berarti OK, kalau tidak yakin, suruh lawyer mengeceknya.” Intinya mereka lebih mengacu kepada tulisan peraturan dari pada semangat yang tersimpan dalam peraturan. Pada tahap Responsive Companies, sebuah perusahaan sudah mulai tidak hanya berpaku pada legal basis dan mereka juga mulai memperhatikan stakeholders yang lebih luas. Sedangkan di tahap Emerging Ethical Companies, nilai-nilai etika sudah menjadi culture perusahaan, namun kadang masih memiliki kekurangan pada pengorganisasian dan perencanaan jangka panjang. Tahap paripurna adalah The Ethical Companies, disebut juga ethical organization. Di tahap inilah terbentuk kesetimbangan yang apik antara ethics dan profit yang mengarahkan kebijakan perusahaan.

Kalau penjelasan di atas nampak rumit, ada penjelasan yang lebih sederhana yang dibuat oleh John Elkington dalam bukunya The Chrysalis Economy. Secara garis besar korporasi-korporasi di muka bumi ini bisa diklasifikasikan dalam 4 macam metafora, yakni: (1) Ulat (Caterpillar), pekerjaan kelompok ini adalah mengenyangkan perut sendiri. Efeknya lingkungan sekitarnya rusak. Fotosintesis tanaman, tempat di mana ia tinggal terganggu. Mahluk lain yangt mendekat bisa dibuat gatal dengan ranjau bulunya yang mengerikan. Pokoknya kelompok ini adalah si rakus yang high impact destructive dan degenerative, (2) Belalang (Locust), kelompok ini memang memakan daun ala kadarnya, tapi jangan dianggap remeh, apabila sudah dalam bentuk koloni mereka bisa membuat ladang menjadi gundul dalam sekejap. Ya, meski daya destruktif mereka relatif kecil tapi dalam jumlah banyak, mereka bisa degenerative; (3) Kupu-kupu (Butterfly), kelompok ini sudah mulai mampu meramu social-environmental value dengan economic value, meski dalam taraf low impact. Mereka mengambil madu dari bunga tetapi mereka juga tidak merusaknya malah membantu penyerbukan. Itu saja! Mereka bekerja dalam skala kecil dan lebih bersifat individual. (4) Lebah (Honeybees), kelompok ini sangat harmonis dalam meramu social-environmental value dengan economic value. Lihatlah mereka mengambil madu tanpa merusak bunga sambil membantu penyerbukan tanaman. Tapi tidak berhenti sampai di situ, mereka juga menyediakan madu yang sangat bermanfaat bagi mahluk lain. Dan hebatnya semua itu dilakukan dalam manajemen organisasi yang sangat solid. O, iya, sengatan mereka bahkan bisa dijadikan sarana pengobatanĀ  akupuntur. Kesimpulannya, kelompok ini menciptakan bisnis yang regeneratif dengan taraf high impact!

Penjelasan di atas memang tidak hanya menjawab CSR dalam makna sempit. CSR itu bisa bermakna sangat luas bagi si Lebah! Ada satu statement dari Timberland, perusahaan apparel asal UK, yang layak kita renungkan terkait dengan CSR ini: “We do not give money to charity. Instead we try to create a return. We create values for our customers, the community and the non-profit organizations we work with. The traditional notion of philanthropy is not adequate. It is not smart or wise to approach social problems with the financial leftovers of companies.” Nah lho…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: