Persahabatan Nusantara – Cina

chinese-childrenMembaca tiga novel dari tetraloginya Andrea Hirata, menyisakan kesan yang dalam, khususnya tentang persahabatan Melayu – Cina yang terjalin  indah: A Kiong yang pada akhirnya menikah dengan Sahara dan kisah pencarian cinta sejati Ikal, A Ling. Ya, Njoo Xian Ling, Michael Yeoh-nya Ikal.

Persahabatan Nusantara-Cina memang sudah terjalin berabad-abad lamanya dengan segala pasang surutnya. Semula adalah hubungan perdagangan yang dilakukan sejak zaman Sriwijaya, Samudera Pasai dan Majapahit. Kemudian sebagian dari duta dagang tersebut ada yang kerasan tinggal di Nusantara. Konon kekuatan tentara laut Majapahit dibantu banyak oleh sisa-sisa tentara Mongol yang dihancurkan Raden Wijaya (sebagian besar berbangsa Han), yang tidak sudi kembali ke Cina karena menjadi bawahan tentara Mongol. Duta persahabatan yang paling legendaris adalah Admiral Cheng Ho yang mengunjungi nusantara pada abad 15. Keluarga Kesultanan Demak dan Cirebon banyak yang memiliki darah Cina.

Sayang, hubungan yang manis antara Nusantara dan orang cina merenggang pada zaman kolonial. Pemerintah kolonial memperlakukan etnis cina sebagai bangsa tersendiri demi keuntungan pihak kolonial. Hal ini mengakibatkan etnis cina terkucil. Pada zaman Orde Lama hubungan pribumi – cina membaik dengan adanya kebijakan poros Jakarta – Peking. Sayang lagi, Orde Baru yang berkuasa kemudian tak banyak membantu memperbaiki jalinan persahabatan ini, meski dengan membuat kebijakan asimilasi melalui perubahan nama yang berbau Indonesia. Tapi tetap saja, persahabatan itu universal, tak perlu menunggu kebijakan pemerintah untuk bisa menjalinnya.

Kembali lagi ke setting novel. Berdasarkan literatur yang saya telusuri, nenek moyang A Ling mungkin berimigrasi ke Belitong pada akhir abad 19. Mereka adalah orang-orang Hokian yang berasal dari Provinsi Fujian yang berimigrasi dengan tujuan mencari penghidupan yang layak menyusul ambruknya pertanian di akhir Dinasti Qing. Awalnya mereka bekerja di pertambangan timah milik kolonial yang kemudian beralih profesi ke bidang perniagaan dan perdagangan eceran. Sebagian ada yang bekerja di sektor perkebunan, seperti ayahnya A Kiong.

Mengikuti kisah tokoh A Kiong dan A Ling, saya menjadi teringat teman-teman tionghoa saya. Sewaktu bersekolah di SMA N 1 Purwokerto, saya punya banyak teman-teman cina peranakan. Ada satu orang yang sangat dekat dengan saya, Chandra, teman sebangkuku. Anak yang terobsesi dengan komik dan bola basket. Buku-buku catatannya selalu habis dengan coretan-coretan kartun dari halaman belakang. Ia betul-betul menjadi sahabat dekat. Meminjami buku, mengajari berenang juga mencarikan tempat duduk yang strategis setiap pagi. Tempat duduk di kelas waktu itu memang bebas, siapa cepat ia dapat. Perannya sangat berarti karena saya selalu datang hampir telat, dan semua teman sekelas sangat enggan apabila duduk di deretan bangku depan: soalnya harus menjadi good boy sepanjang hari, membosankan kan?

Untuk yang perempuan, ada Sherley, si chubby. Dengan bibirnya yang merah natural dan kulitnya yang putih, wajahnya nampak manis seperti kue lapis. Ada juga Meilawati, anak yang sangat rajin, yang sering mengajakku diskusi PR setiap pagi. Wajahnya mirip pemeran A Ling dalam film Laskar Pelangi. Tapi dari deskripsi novelnya, menurutku A Ling yang sesungguhnya lebih mirip temanku yang satu lagi, namanya Sherly juga, tapi bukan Sherley yang chubby tadi.

Yang lain ada Rudy, si jago matematika, Eddy “Jangsing” si gendut yang lincah bermain basket, Diana yang imut dan berultah pada 17 Agustus. Sedangkan teman-teman kuliah, ada Irene, si mungil yang jenius. Sekarang ia sudah menjadi doktor Applied Physics. Ada Ye Gun, yang memiliki kecepatan berfikir dan berbicara yang mengagumkan seperti automatic gun. Ada juga Yoanna, si out of the box thinker. Dan masih banyak lagi teman-teman keturunan tionghoa yang tidak  saya sebut.

Saya selalu menaruh respect kepada mereka semua. Tak peduli mereka peranakan cina. Menurut saya mereka adalah Indonesia tulen juga. Dan saya belajar banyak pada mereka: kesediaan untuk bekerja keras dan cinta mereka yang besar kepada keluarga.

Lama saya tidak bertemu dengan mereka. Ah, saya merindukan mereka semua…

4 Responses to Persahabatan Nusantara – Cina

  1. sujarwo04 says:

    Mas,
    Nampaknya negara kita memang seharusnya membangun komunikasi intens dengan China sebagai negara yang perkembangannya sangat pesat. Dengan jumlah penduduk yang melimpah dan sumberdaya alam yang sangat banyak, jika China dan Indonesia membuat poros kekuatan, maka akan muncul kekuatan besar di Asia yang dapat mengimbangi kekuatan negara Adidaya yang ‘adigang adigung dan adiguna’ itu (heheh). Pernah kutulis dalam blogku: http://sujarwo04.wordpress.com/2008/10/29/abg-lampu-merah-dari-asia-indonesia/

    Sudah saatnya Asia memimpin dunia pasca kegagalan US dan Barat dengan dominasinya untuk membawa kemaslahatan bagi dunia. Dan negara yang memiliki potensi itu ada 3 yaitu Indonesia, China, dan India….

  2. Kenapa orang China seperti malu kalau disebut “China”? Apalagi kalo pake “Dasar Lu China”. Padahal kalao ada orang bilang ke aku “Dasar Lu Jawa” terasa tidak ada yang menyakitkan. Apakah orang China pernah mebikin ‘dosa sejarah’?

  3. Untuk memperindah blognya silahkan mengakses ke video kami di youtube mudah-mudahan video kolaborasi Indonesia – Tionghua ini berkenan.
    Hatur Nuhun

  4. Sae Kang Andry! Semoga berlanjut…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: