Sebuah Tempat Tinggal bagi Seorang Teman

pondok-pesantrenSabtu dan Minggu kemarin, saya mengantar rombongan teman-teman saya ke daerah Tasikmalaya untuk mencari pondok pesantren buat seorang teman saya. Bukan sembarang pesantren, yang kami cari adalah pesantren yang bisa memberikan terapi bagi teman saya itu yang sedang diuji dengan gangguan psikologis. Kami menemukannya pingsan di sebuah masjid. Mengaku sebatang kara, terusir dari keluarganya.

Tujuan pertama kami adalah Pesantren Suryalaya. Sayang kami tidak bisa melobi lebih jauh untuk menitipkan teman saya itu. Pertama,  karena saat ini terapi Suryalaya memang difokuskan pada korban narkoba, sedangkan teman saya itu hanya gangguan psikologis. Ke-dua, kami tidak bisa memenuhi persyaratan adanya wali/keluarga calon santri.

Akhirnya dari net work teman saya yang lain, kami dipertemukan dengan seorang guru muda sebuah pesantren di Ciawi, namanya Kang Budi. Beliau baik sekali dan sangat rensponsif untuk mencarikan pesantren yang cocok bagi teman saya itu. Bahkan karena kami kemalaman, kang Budi menyediakan tempat menginap untuk kami di rumahnya dan di pesantren tempat ia mengajar, sebuah pesantren tua, basis perjuangan di zaman Jepang. Ada beberapa alternatif pondok pesantren yang kami  coba hubungi di keesokan paginya. Sayang, akhirnya kami belum berhasil juga. Ada keberatan yang menjadi pertimbangan, disamping teman saya mengalami gangguan psikologis, ia juga lemah secara fisik. Ia butuh penanganan total yang bersifat personal. Dan di pesantren salaf, hal ini cukup sulit disediakan.

Akhirnya kami kembali ke Bandung. Teman-teman saya yang perkasa yang kemudian berjuang habis-habisan mencarikan tempat tinggal baginya. Ini juga cukup sulit, sebab ia sudah tidak diterima lagi oleh masyarakat di kompleks tempat kami tinggal, karena terlalu banyak masalah yang pernah dilakukannya. Sedangkan kami hanya anak-anak kost. Akhirnya berbekal rekomendasi, untuk sementara ia tinggal di sebuah rumah persinggahan. Kami tak tau sampai kapan.

Semua itu masih menyisakan ganjalan dalam hati saya. Saya meyakini solusi paling baik adalah menyerahkannya kepada keluarganya. Dan teman-teman masih mencoba men-trace keberadaan keluarganya dari potongan-potongan puzzle  yang kami tangkap darinya. Solusi terbaik nomer dua adalah Pesantren yang bersedia merawatnya. Karena menurut saya gangguan psikologisnya tidak terlampau parah, yang parah adalah pemahamannya terhadap beberapa konsep ketuhanan, terutama mengenai takdir. Ia tidak bisa membedakan mana yang absolut,  mana yang ikhtiari. Mungkin ada yang bersedia membantu mencarikannya tempat tinggal yang tepat?

Saya membayangkan betapa beratnya menjadi dia. Seorang wanita 30-an, sendirian,  terlempar dari keluarga, dengan kondisi fisik dan psikologis yang lemah… Saya juga jadi berfikir ternyata negara kita masih sangat minim dalam menyediakan fasilitas bagi orang-orang seperti mereka. Dan kalau mau jujur, orang-orang seperti ini jumlahnya berlimpah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: