Laskar Pelangi Banget!

laskar-pelangiAkhirnya saya nonton film Laskar Pelangi. Saya di ajak teman-teman kampus satu proyek dulu, yang dimotori mba Ida. Dia senior saya di kampus, anak perminyakan dan studi pembangunan yang sebentar lagi mau melanjutkan program doktornya di Jepang.

Saya memang belum membaca novel Laskar Pelangi secara utuh, saya hanya membaca resensi dan beberapa bagiannya saja. Namun dengan melihat film ini, saya merasa sudah mendapat gambaran Laskar Pelangi yang cukup.

Saya betul-betul tersindir dengan kisah bu Mus (bu Muslimah). Bu Mus begitu bersemangat mengajar di sebuah sekolah miskin, yang hanya berdinding kayu, yang setiap hujan selalu bocor. Meski bergaji kecil  dan bahkan dibayar telat. Ternyata yang membuat bu Mus bertahan karena bu Mus memang bekerja sesuai panggilan jiwanya. Mimpinya bukan menjadi istri saudagar tapi menjadi guru. Bu Mus bekerja dengan cinta. Mencintai anak-anak didiknya. Memberi kesempatan kepada anak-anak keluarga miskin Belitong untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Pendidikan yang tak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan tapi juga akhlak yang mulia. Ah, Cut Mini, Engkau begitu sempurna memerankan bu Mus.

Saya juga tersindir saat adegan Kucai yang hendak berhenti jadi ketua kelas karena mulai putus asa melerai pertengkaran diantara teman-temannya. Namun bu Mus dengan bijak menasihatinya dengan mengatakan: “Menjadi seorang pemimpin adalah tugas yang mulia.” Juga nasihat tambahan dari Sahara : “Alquran mengatakan bahwa kepemimpinan itu akan dipertanggungjawaban kelak di akhirat.” Akhirnya Kucai tetap menjadi ketua kelas.

Selepas menonton film ini, saya baru tersadar, sepertinya mba Ida ngoprak-ngoprak kami untuk nonton film ini memang ada maksudnya. mba Ida tahu bahwa beberapa hari ini memang waktu yang sangat menjenuhkan bagi saya dan mas Riva. Mungkin kalau di Laskar Pelangi, kondisi kami ini seperti pak Bakrie yang mulai hopeless dengan kondisi pekerjaan eksisting dan diiming-imingi tawaran menggiurkan dari luar. Padahal di pekerjaan sekarang ini, kami bisa berbuat banyak bagi masyarakat. Padahal kondisi kami jauh lebih baik dari bu Mus itu. Jadi sebenarnya mba Ida mau menasihati kami seperti nasihat pak guru Harfan : “Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya. Bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.”

Saya jadi ingin membaca Laskar Pelangi secara utuh, menikmati setiap detil perjuangan bu Mus dan kesepuluh Laskar Pelanginya. Mengikuti petualangan mereka. Merasakan nuansa bunga saat Ikal melihat kuku Aling. Merasakan kecemasan saat Lintang yang tak kunjung datang, dst, dst…Sepertinya saya harus meminjam novel ini dan sambungan tetraloginya ke mba Ida. Bukan mba Ida yang saya sebut tadi, ini mba Ida lain lagi! Dia punya koleksi yang lengkap. Pinjam ya Mba…

4 Responses to Laskar Pelangi Banget!

  1. Nur Rahmat says:

    Assalamu alaikum…

    Memang hidayah itu datang dari mana-mana ya bung Andi, dari film, dari teman,
    dari bencana/musibah, dari anugrah bahkan bisa datang dari sesuatu yg kita tidak
    sukai.

    Ngomong-ngomong soal pinjam meminjam buku saya jadi teringat masa lalu neh,
    inget lagunya Iwan Fals judul “Buku ini Aku Pinjam”, juga pernah terjadi pada saya
    dulu ketika masih di SMA saya pinjam buku catatan kepada seorang cewek yg saya
    taksir hanya untuk cari perhatian, padahal saya sendiri sudah mencatat rapih dari
    papan tulis. Jaman saya dulu dikalangan umur-umur seusia kami hanya sebatas pinjam meminjam buku sekolah aja lho, jadi entah perasaan malu atau gengsi begitu kalo mau pinjam novel atau sejenis. Jaman dulu novel itu berkonotasi/identik roman murahan. Baru setelah film “Topan Anak Jalanan” yg diangkat dari novel menjadikan masyarakat mulai mencari-cari novel.

    Saya juga penasaran dengan jalan cerita “Laskar Pelangi”, nanti kalo sudah dibaca
    seluruhnya tolong dibuat rangkumannya ya bung Andi. Karena saya lebih suka film
    yg dramatic survival true story ketimbang dramatic true love story. Makanya meskipun film “Ayat-Ayat Cinta” semua orang bilang bagus buat saya kurang sreg. Kalo saya pinjam novelnya pasti dik Ida keberatan ngasihnya, karena disamping keberatan ongkos kirim juga dik Ida keberatan ngelepasnya… hahahaaaa.

    Salam ukhuwah buat mbak Ida, dik Ida, tente Ida, mbah Ida dan Ida-Ida lainnya.

    Wassalam.

  2. ‘Alaykumussalam Wr. Wb.
    Ah, Mas Rahmat bisa aja. Saya memang suka pinjam buku, terutama buku2 yang bukan target koleksi saya. Jadi koleksi saya lebih fokus dan hemat jg. Saya dulu juga suka pinjem catatan kalau mau ujian, karena saya males nyatet. Tp langsung dicopy. Dan kalau diinget2, 75% copy-an itu ga sempat saya baca. Di malam ujian, saya selalu terserang sindrom: tergoda membaca semua buku, kecuali buku materi ujian.

  3. sujarwo04 says:

    Sayang aku belum nonton filmnya Mas…
    Masih menunggu di Gudangnya film di kampus, hehehe.
    (penonton bajakan sejati)😀

  4. Bener Wo, kalau untuk cerita ini, kamu mending nonton filmnya dulu. Setelah puas nonton baru baca novelnya. IA kamu akan dapet 2 hal exciting. Kayaknya kamu perlu nulis juga, judulnya Laskar Tegalan😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: