Sebuah Senyum Istimewa

Ba’da Isya kemarin di tempat penitipan sandal Masjid Daarut Tauhid (DT), saya dapat pelajaran istimewa. Tukang penitipan sandal yang sedang berjaga malam itu adalah seorang yang diuji oleh Allah dengan sindrom kesulitan mengontrol gerak tubuh (Apa istilah kedokterannya Pak Dokter?). DT memang banyak mengkaryakan orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik. Bukan untuk dieksploitasi tetapi diberi ruang gerak untuk berkarya dalam hidupnya sesuai kemampuan mereka. Dengan keterbatasannya  tukang penitipan sandal itu memberiku sebuah senyum. Senyum yang sangat indah!  Sepertinya saya jarang sekali menemukan senyum seindah itu. Saya sampai terharu dan menangis sepanjang jalan pulang. Saya pikir itu adalah kekuatan ketulusan. Senyum yang kadang dianggap sepele menjadi begitu powerfull dengan ketulusan!

Waktu aku ceritakan peristiwa ini kepada tetangga saya, si Mumun, dia malah bilang,” selamat ya kamu dapat keberuntungan malam  ini, itu karena kamu orang baik.” Lalu saya jawab, ” Bukan itu lesson-nya Mun, saya jadi berpikir kita yang normal begini jarang banget memberi senyum yang tulus ke orang lain. Atau bahkan tidak pernah…”

“O, gitu ya. Kamu juga banyak senyum,” gombal si Mumun.

“Iya, tapi senyumnya orang sakit jiwa, Mun,” balasku dengan bercanda, “kalau kamu lain, kamu susah senyum. Kalau senyum juga ada maunya.”

Si Mumun pundung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: