Pembangunan Maritim Indonesia dan Pemilu 2009

Setiap liburan di Cilacap, saya selalu menyempatkan diri untuk bermain ke pantai. Demikian juga saat liburan kemarin. Saya memang suka sekali pantai. Pantai Laut Selatan hanya berjarak 6 km-an dari rumah saya. Dahulu sewaktu saya masih kecil, suara ombak terdengar sampai rumah kami di malam hari. Sekarang sudah tidak bisa terdengar lagi, mungkin karena semakin bisingnya daerah kami. Satu saat nanti saya ingin membuat rumah di pinggir pantai, sehingga setiap pagi dan senja bisa menikmati matahari terbit dan tenggelam bersama istri. Romantis sekali!

Semenjak dahulu, laut memang menjadi sumber inspirasi. Ini karena dua alasan. Alasan pertama adalah dari sisi geografis, pantai adalah tempat berlayar dan berlabuhnya perjalanan laut yang memungkinkan pertemuan berbagai suku/bangsa termasuk informasi dan budayanya. Alasan kedua adalah dari sisi psikologis. Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya, Arus Balik, menguraikan bahwa hamparan samudra secara psikologis mampu membangun jiwa yang lapang, berpandangan luas, lain halnya dengan tinggal di daerah pedalaman yang cenderung membuat pandangan yang sempit. Karena dua alasan inilah peradaban Nusantara berkembang pesat di pesisir, seperti Sriwijaya, Samudra Pasai dan Demak.

Majapahit pernah menjadi negara maritim yang perkasa di Asia Tenggara di bawah semangat Sumpah Palapa. Memang Majapahit tidak berpusat di pesisir, tetapi Majapahit memiliki kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa. Jadi lagu “nenek moyangku seorang pelaut” itu tidak mengada-ada. Sayang, kekuatan ini meluruh seiring dengan kemunduran Majapahit. Kekuatan maritim ini sempat dicoba dibangun kembali pada saat kesultanan Demak dengan dilatari semangat juang mengusir Portugis di Selat Malaka. Setelah kegagalan penyerangan dan kemunduran Demak, peradaban di Jawa kembali ditarik ke pedalaman oleh bangsawan-bangsawan agraris. Ini tak lepas dari skenario pengkerdilan kekuatan maritim oleh kolonialis. Demikian juga pusat-pusat kekuatan maritim lainnya kita seperti di Makasar, Ternate-Tidore dan Banten yang dibuat hancur. Berakhirlah masa kejayaan maritim Nusantara.

Empat abad kemudian, di orde baru, kekuatan maritim ini coba dibangun melalui pembangunan industri kapal laut – PT PAL dan industri pesawat terbang – IPTN dalam kelompok industri strategis yang dimotori BJ Habibie. Namun ini juga akhirnya gagal karena kurang kokohnya value chain kedua industri ini di Indonesia.

Pembangunan bahari kembali didengungkan dari masa pemerintahan Habibie sampai SBY. Namun sampai sekarang perkembangan signifikan di sektor maritim belum terlihat. Bahkan kita terpukul dengan berbagai peristiwa/keadaan yang menunjukkan lemahnya kekuatan maritim kita: lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan, bobroknya transportasi laut dan udara kita serta masih merajalelanya pencurian ikan oleh kapal asing. Sebab kegagalan sangat jelas, kita tidak memiliki visi yang jelas dalam pembangunan maritime kita. Sumber daya laut yang melimpah tetap hanya menjadi santapan negara asing. Nelayan kita tetap miskin!

Menjelang Pemilu 2009 ini, mungkin cukup tepat saatnya kita kampanyekan: jangan pilih partai dan pemimpin yang tidak memiliki visi dan program yang jelas dalam pembangunan maritim kita! Memang visi dan program yang partai/politisi janjikan di saat kampanye belumlah cukup. Namun tanpa visi dan program yang jelas, apa yang hendak mereka perjuangkan nanti?

4 Responses to Pembangunan Maritim Indonesia dan Pemilu 2009

  1. Nur Rahmat says:

    Assalamu alaikum…

    Kami setuju sekali dengan pandangan bung Andi. Karena dengan menguasai kemaritiman maka kita akan mampu mejaga kekayaan laut dan serta mengelola secara optimal sumber daya laut kita. Salah satu mengapa Amerika mampu menjadi negara super power adalah kesanggupan menguasai tehnologi maritim khususnya di bidang militer. Kita masih ingat juga beberapa tahun yg lalu ketika Inggris merebut kembali kepulauan Malvinas yg diintervensi Argentina, juga dari penguasaan tehnologi kemaritiman yg mngerahkan 2/3 dari kekuatan AL nya.
    Namun dari semua prioritas pembagunan kita menurut kami adalah PEMBERANTASAN KORUPSI dan Pembangunan dibidang HUKUM. Kerena jika ditinjau dari berbagai disiplin ilmu dalam setiap diskusi ataupun yg lain-lain sumber dari segala sumber krisis yg dialami Indonesia adalah KORUPSI dan HUKUM. Jika ini sudah berjalan sebagaimana mestinya pasti bidang-bidang lainnya akan mengikuti dengan sendirinya.
    Kita lihat saja China, yg pada jaman tahun 1965 menjadi kambing hitam dari peristiwa G30S/PKI, saudara-saudara kita baik yg muslim ataupun bukan menjadi korban pemusnahan tanpa proses hukum, bahkan sebagian mereka hanya korban fitnah. Sekarang ini Amerika berdecak kagum kepada China setelah mereka mencapai sukses luar biasa di olympiade. Bukan itu saja kemajuan ekonomi China sangat mencengangkan, banyak perusahaan-perusahaan besar Amerika dibeli China. Bahkan dalam sebuah buku karya Harvad (kami lupa judulnya) menguraikan tahun paska 2010 adalah giliran China yg akan menjadi negara super power setelah kemerosotan pengaruh Amerika akibat keruntuhan ekonomi.
    Semua itu adalah hasil nyata dari keinginan kuat China dalam pemberantasan korupsi. Lalu bagaimana dengan kita?
    Pilihlah Pemimpin yg mempunyai komitmen kuat untuk MEMBERANTAS KORUPSI dan PENEGAKKAN HUKUM yg nyata !!!!!!!!!

    SARAN : Untuk yg terpilih dimasa yg akan datang baik President/Men/EselonI-IV, DPR/DPRD, Gub/Bup/Cam/Lur, dan semua unsur Judikatif jika akan studi banding maka hendaklah pergi ke RRC bagaimana memberantas korupsi yg efektif.

    YES WE CAN !!!
    INDONESIA WE UNITE !!!
    GOD BLESS INDONESIA…!!!

    Wassalam.

  2. Setuju Mas Rahmat. Sambil kita kritisi dan tuntut pemerintah untuk memperbaiki penegakan hukum, kita dukung juga lewat 3M: Mulai dari yang kecil, Mulai dari diri sendiri, Mulai dari sekarang. Kapan-kapan undang saya ke negerinya Barry Uncle😀

  3. dir88gun says:

    Assalamu alaikum wr. wb.

    Saudaraku tersayang,
    lihat kenyataan yang ada di sekitar kita!

    Uang Dihamburkan…
    Rakyat dilenakan…
    Pesta DEMOKRASI menguras trilyunan rupiah.
    Rakyat diminta menyukseskannya.
    Tapi rakyat gigit jari setelahnya.
    DEMOKRASI untuk SIAPA?

    Ayo temukan jawabannya dengan mengikuti!

    Halqah Islam & Peradaban
    –mewujudkan rahmat untuk semua–
    “Masihkah Berharap pada Demokrasi?”
    Tinjauan kritis terhadap Demokratisasi di Dunia Islam

    Dengan Pembicara:
    Muhammad Rahmat Kurnia (DPP HTI)
    KH. Ahmad Fadholi (DPD HTI Soloraya)

    yang insyaAllah akan diadakan pada:
    Kamis, 26 Maret 2009
    08.00 – 12.00 WIB
    Gedung Al Irsyad

    CP: Humas HTI Soloraya
    HM. Sholahudin SE, M.Si.
    081802502555

    Ikuti juga perkembangan berita aktual lainnya di
    hizbut-tahrir.or.id

    Semoga Ia senantiasa memberikan petunjuk dan kasih sayangnya kepada kita semua.
    Ok, ma kasih atas perhatian dan kerja samanya. (^_^)
    Mohon maaf jika ada ucapan yang kurang berkenan. (-_-)

    Wassalamu alaikum wr. wb.

  4. […] nan luas itu akhirnya runtuh juga karena tak mampu menjaga lautnya. Kemudian pada zaman kolonial, “lupa lautan” berlanjut dan ditegaskan sebagai arus utama kebijakan kekuasaan. Indonesia bukan lagi negara […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: