Mudik dan Refleksi Makna Keberadaan

Akhirnya saya nge-blog lagi setelah dua minggu vakum karena suasana lebaran. Satu minggu larut dalam kesibukan mudik dan berlebaran dengan keluarga di Cilacap. Satu minggu lagi setelah kembali ke Bandung juga langsung ditelan kesibukan karena banyak pekerjaan yang mesti diselesaikan.

Mudik lebaran memang sebuah fenomena tahunan yang menarik di Indonesia. Semangat mudik sebenarnya ada di setiap bangsa karena bersumber dari fitrah manusia berupa kerinduan akan tempat asal. Namun ritual mudik masal hanya hidup di Indonesia dan sebagian masyarakat melayu. Budaya mudik ini mungkin berakar dari budaya yang sudah ada semenjak berabad lampau. Dahulu nenek moyang kita melakukan mudik untuk berziarah ke makam leluhurnya. Setelah Islam masuk, mereka menemukan momen spesial mudik pada saat lebaran, karena mampu menyatukan implementasi nilai-nilai silaturahim, kesyukuran setelah menjalani satu bulan berkah Ramadan serta ziarah sesuai ajaran Islam. Di Jawa, budaya mudik ini diperkuat dengan filosofi kebersamaan keluarga Jawa, mangan ora mangan angger kumpul. Tentu saja budaya mudik semakin besar seiring kuatnya arus transmigrasi dan urbanisasi.

Ternyata ritual mudik bukan hanya milik manusia saja. Banyak jenis satwa yang melakukan ritual mudik, terutama untuk golongan ikan (pisces) dan burung (aves). Yang paling fenomenal adalah mudiknya salmon atlantik. Mereka rutin melakukan migrasi ke tempat kelahirannya meski mengarungi berbagai rintangan dan seringnya berujung pada kematian. Satu-satunya motif mudik berbagai satwa tersebut adalah insting untuk mempertahankan kelangsungan populasi mereka. Sebuah perjalanan mudik yang berarti bukan? Mereka telah menunaikan sebuah makna keberadaan. Lantas apa makna mudiknya manusia?

Mudik yang berasal dari frasa “menuju udik” selain bisa bermakna kembali ke kampung juga berarti kembali ke asal (hulu). Kita berasal dari rahim ibu kita, di situlah titik temu kasih sayang antara kita dan saudara-saudara kita. Setelah beberapa waktu berpisah kadang terjadi kerenggangan antar keluarga inti atau keluarga dalam cakupan yang lebih luas. Nah mudik menjadi sarana silaturahim, menghubungkan kembali ikatan kekeluargaan dan kasih sayang. Lebih jauh lagi, mudik juga bisa membantu kita untuk memahami makna keberadaan: Dari mana kita berasal? Mengapa kita dicipta tak sendiri? Meski kemudian mudik bagi sebagian orang diboncengi oleh maksud-maksud lain, seperti memamerkan keberhasilan di negeri rantau dan sebagainya.

Disadari atau tidak, ritual mudik tahunan tersebut telah menimbulkan berbagai efek pada kehidupan sosial-budaya, ekonomi dan politik masyarakat kita. Pada aspek sosial-budaya, mudik merupakan media pertukaran informasi, life style bahkan pola pikir antara masyarakat urban dan rural. Meski pihak yang lebih dominan adalah pemudik, namun pemudik juga sedikit banyak bisa memperoleh feedback dari masyarakat desa, setidaknya memperoleh penyegaran akan nilai-nilai tradisional yang mulai sulit ditemukan di perkotaan. Pada aspek ekonomi lebih kentara terlihat, yakni pemudik membawa aliran cash dari kota ke desa, baik dalam bentuk konsumsi maupun sangu (bekal) bagi keluarga di kampung. Tanpa disadari, mudik juga merupakan arena marketing produk-produk dari perkotaan. Selanjutnya, efek di aspek politik yang paling sulit dilihat. Meski porsinya sedikit, pada pertemuan mudik telah terjadi diskusi politik, dalam arti yang luas, yang melibatkan sudut pandang urban/rural. Selain itu, mudik bagi para politikus Indonesia ternyata dijadikan ajang untuk mengumpulkan simpati agar nanti di pemilu/pilkada nanti mereka mendapat kursi.

Mudik bagi saya pribadi sampai saat ini selalu memberikan rasa bahagia dan sedih sekaligus. Bahagia karena bisa berkumpul langsung dengan keluarga dan sahabat. Sedih, karena setiap saya mudik, saya merasa menjadi orang paling tidak berguna dan paling bodoh di desa saya. Saya yang menyandang gelar insinyur dan master masih belum mampu berkontribusi nyata bagi masyarakat desa. Lantas apa bedanya dengan mereka yang tak memperoleh kesempatan untuk belajar?

Sebenarnya banyak sekali ide pengembangan masyarakat di kepala ini… Tuhan, beri kami kekuatan untuk merealisasikan semua mimpi itu. Hingga di saat kami mudik sejati ke hadapan-Mu, sebuah makna keberadaan telah kami coba tunaikan…

One Response to Mudik dan Refleksi Makna Keberadaan

  1. […] https://indonesiasejahtera.wordpress.com/2008/10/12/mudik-dan-refleksi-makna-keberadaan/ 0.000000 0.000000 Advertisement GA_googleAddAttr(“AdOpt”, “0”); GA_googleAddAttr(“Origin”, “other”); GA_googleAddAttr(“theme_bg”, “ffffff”); GA_googleAddAttr(“theme_border”, “cccccc”); GA_googleAddAttr(“theme_text”, “000000”); GA_googleAddAttr(“theme_link”, “515151”); GA_googleAddAttr(“theme_url”, “f78b0c”); GA_googleAddAttr(“LangId”, “1”); GA_googleAddAttr(“Autotag”, “technology”); GA_googleAddAttr(“Tag”, “umum”); GA_googleAddAttr(“Tag”, “ikan-salmon”); GA_googleAddAttr(“Tag”, “mudik”); GA_googleFillSlot(“wpcom_below_post”); Share this:EmailPrintFacebookTwitterLike this:LikeBe the first to like this post. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: