Selamat Hari Raya Ied: Kemana Kita Kembali?

Setiap menjelang Idul Fitri, ada saja SMS dari teman-teman atau kerabat yang menanyakan: “Minal aidin wal faizin artinya apa Mas?” Atau “Taqabalallahu minna wa minkum artinya apa? Tulisan benernya seperti apa?”

Memang kata-kata yang paling umum digunakan sebagai ucapan idul Fitri di masyarakat kita adalah: Selamat Idul Fitri 1 Syawal 14XX H, minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. Begitu seringnya frasa “minal aidin wal faizin” melekat dengan “mohon maaf lahir dan batin,” sehingga membuat banyak orang beranggapan bahwa “minal aidin wal faizin” itu artinya adalah “mohon maaf lahir dan batin.”

Frasa “minal aidin wal faizin” berasal dari bahasa arab, namun konon masyarakat arab sendiri tidak mengenal dan memahami frasa ini. Secara harfian arti dari frasa ini adalah “dari orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang/beruntung.” Namun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa frasa ini berasal dari ungkapan masyarakat arab sebelum berangkat berperang. Dengan konteks ini, kemungkinan kalimat lengkapnya adalah: (semoga kita termasuk) dari orang-orang yang kembali (dari berperang – selamat) dan (termasuk) dari orang-orang yang menang. Apabila dikaitkan dengan Ramadan, frasa tersebut bisa bermakna: “(Semoga kita termasuk) dari orang-orang yang kembali dan memperoleh kemenangan (setelah sebulan penuh berperang melawan hawa nafsu).”

Frasa tersebut mungkin saja dibiarkan terbuka sebagai bahan perenungan bagi siapapun yang telah melalui satu bulan Ramadan. “Orang-orang yang kembali” ini maksudnya kembali kepada apa? Apakah kembali kepada sifat/perilaku malas kita seperti sebelum Ramadan? Kalau ini yang terjadi berarti kita memang mengalami idul fitri, fitri yang berasal dari kata fathara/fithrah yang bermakna keadaan awal-kosong. Semangat beribadah kembali kosong, masjid-masjid kembali kosong. Atau apakah kita kembali kepada fithrah yang bermakna keadaan awal-kesucian? Karena Ramadan sebagai bulan maghfirah (ampunan).

Namun kalau mau menilik asal kata idul fitri, yakni fathara/ifthor, makna yang paling tepat adalah memecah (puasa), kembali berbuka, kembali makan/minum. Sebab di hari Idul Fitri, umat islam diperbolehkan kembali untuk makan/minum setelah satu bulan sebelumnya dilarang makan/minum dari fajar sampai maghrib.

Lantas apa itu “taqabbalallahu minna wa minkum“? Justru inilah ucapan yang dicontohkan oleh Rasulullah di hari raya Idul Fitri. Ungkapan ini adalah doa yang artinya ” Semoga Allah menerima (amal-amal) dari kami dan (amal-amal) dari Anda.”

Jadi yang sebaiknya kita ucapkan di hari raya Idul Fitri adalah “taqabbalallahu minna wa minkum.” Tapi tentu saja kita tidak dilarang untuk mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin.” Hanya saja kalau kita memiliki kebiasaan meminta maaf seketika setelah kita berbuat salah kepada orang lain, meminta maaf menjadi tak harus menunggu satu tahun di hari raya Idul Fitri. Tidak dilarang juga untuk mengucapkan “minal aidin wal faizin,” dalam arti tidak sekedar kembali makan, tapi juga semoga kembali kepada kesucian.

O, iya, sekalian saja, sebelum terlambat saya ucapkan: Selamat hari raya Idul Fitri 1429 H, taqabbalallahu minna wa minkum. Terima kasih atas review dan comment dari pembaca blog Indonesia Sejahtera selama ini. Mohon maaf jika ada beberapa tulisan yang menyinggung atau menyakitkan dan belum saya mintakan maaf…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: