Lomba 17-an dan Lelang WKP Panas Bumi Jawa Barat

Tujuh belasan! Kantorku, PT Jasa Sarana, mengadakan corporate gathering yang dikemas dalam aneka perlombaan rakyat. Ada lomba individual skill: balap karung, paku-botol, memindahkan belut dan makan krupuk. Ada juga lomba team work: bakiak, mengambil coin di buah, tarik tambang, kelompencapir dan lomba cooking with hidden ingredients. Aku cuma mengumpulkan medali emas di bidang mengambil coin beregu dan medali perak di bidang paku-botol. O iya, aku juga dapet 2 doorprize sebagai orang paling kalem dan paling helpful di kantor (Narsis ya diceritain? Ini baru quickcount kok).

Ternyata perlombaan ini tak hanya berhenti di intern korporat, lusanya, 19 Agustus, kami berlomba di proses tender WKP Panas Bumi Jawa Barat Tahap II. Tahap pertama telah berhasil kami lewati, yakni penilaian program kerja pengembangan PLTP dan kemampuan pendanaan. Untuk bertanding di lelang ini, kami tidak sendiri, tapi bersinergi dengan strategic partner. Di WKP Cisolok-Cisukarame, kami bersama dengan PT Rekayasa Industri dalam wadah Konsorsium Jabar Halimun Geothermal, di WKP Gunung Tampomas dengan PT Wijaya Karya dan PT Resource Management Indonesia, sedangkan di WKP Tangkupan Perahu dengan PT Medco Power Indonesia.

Total Project

Di tender ini, peserta harus betul-betul fight, mengingat ini adalah tender terbuka dengan sistem total project, yakni pengembangan lapangan geothermal dari hulu (up stream) sampai hilir (down stream) dengan penilaian harga listrik terendah.

Dengan besarnya risiko di up stream dan adanya informasi terbuka mengenai drilling & EPC cost, maka yang akan menjadi kunci di sini bukan lagi the art of procurement tetapi  the art of funding. Sejauh mana return yang masih bisa diterima untuk mendapatkan the best electricity price. Apabila sebuah perusahaan mendapatkan sumber pendanaan dengan cost of debt/capital yang murah, maka batas bawah return proyek yang diinginkan tentu lebih rendah.

Usulan ke Depan

Di balik serunya proses lelang WKP Panas Bumi dengan sistem total project pertama di Indonesia ini, ada banyak perbaikan yang mesti dilakukan pemerintah untuk bisa mengembangkan WKP-WKP berikutnya. Data awal berupa survey pendahuluan yang terbatas sebenarnya mengalihkan risiko pengembangan kepada pengembang (investor). Namun risiko ini tidak diimbangai dengan adanya penetapan batas tarif listrik geothermal, yang harus di bawah Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik PLN (80-85%). Ironisnya BPP dihitung berdasarkan historical cost pembangkit-pembangkit listrik eksisting yang sudah lama (mungkin sudah tidak memperhitungkan biaya depresiasi :)). Seharusnya penentuan tarif listrik geothermal dibandingkan dengan BPP pembangkit baru. Lebih fair lagi apabila tarif listrik geothermal disamakan dengan BPP. Ini kan untuk waktu 30 tahun ke depan. Ketika harga listrik pembangkit berbahan bakar fosil semakin gila menanjak akibat naiknya bahan bakar fosil yang semakin langka, harga listrik geothermal relatif tetap karena hanya memperhitungkan eskalasi biaya berdasarkan indikator ekonomi makro.

Aturan main tender geothermal berdasarkan PP 59 juga perlu direview sebab masih memiliki beberapa kelemahan. Panitia tender tidak dimungkinkan untuk melakukan evaluasi terhadap harga listrik yang ditawarkan oleh peserta lelang. Apabila peserta lelang telah lolos tahap I  berupa evaluasi program kerja dan kemampuan pendanaan, maka di tahap ke-2, panitia hanya bisa menetapkan pemenang berdasarkan harga terendah. Tak peduli apakah dengan harga itu proyek pengembangan WKP bisa berjalan. Seolah-olah memungkinkan adanya discontinuity antara tahap I dan tahap II. Apabila banting-bantingan harga terjadi, maka bisa saja pemenang tender  hanya bertujuan asal menang untuk kemudian dijual kepada pihak ke-tiga. Atau pemenang tidak mampu melakukan pengembangan WKP akibat tidak menariknya feasibilitas financial proyek bagi perbankan/investor. Jika hal ini terjadi maka ada waktu penundaan pengembangan yang harus dibayar oleh pemerintah. Sumber daya geothermal akan mengalami idle lagi selama 2 tahun-an!

Pemenang Tender

Setelah pembukaan amplop harga listrik, alhamdulillah, kami menang di 2 WKP, yakni bersama PT Rekayasa Industri menang di WKP Cisolok-Cisukarame dan bersama PT Wijaya Karya serta PT RMI menang di WKP Gunung Tampomas. Itu bukan kemenangan kami saja tetapi juga kemenangan bagi Jawa Barat. Dan tugas pengembangan 2 WKP menantang di depan. Semangat! Semangat!

4 Responses to Lomba 17-an dan Lelang WKP Panas Bumi Jawa Barat

  1. tribas says:

    Ospek Jalan Ganesha… njaluk di kemplangi opo? hahahaha

  2. He he he . Teman-teman, komentar Mr. Tribas di atas itu bukan untuk saya lho. Tapi untuk media-media Indonesia yang ga bener menuliskan berita. Dan berita di media itu secara marketing image telah merugikan kami. Lihat lengkapnya di http://tribas.wordpress.com/2008/08/26/ketololan-bacainkonsistensi-media-di-indonesia/

  3. at says:

    halo …

    tertarik ama geothermal nih .. boleh minta emailnya gak buat nanya2 ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: