Knowledge Sharing in Toll Road Financial Modeling

Tiga hari kemarin, 7 – 9 Juli, saya mengikuti pelatihan Investment Analysis & Financial Modeling in Toll Road Infrastructure Project yang diselenggarakan oleh Transforum di Hotel Borobudur, Jakarta. Bagi sebagian peserta yang berasal dari perusahaan jalan tol, materi financial modeling yang diberikan mungkin kurang begitu menarik, karena masing-masing perusahaan sudah mengembangkan financial modeling yang lebih lanjut. Namun  pelatihan ini menjadi menarik dengan adanya materi Managing Risk Management Issues in Toll Road Project serta Financial Modeling using Simulation Program. Pada sesi simulasi, pemateri mengenalkan Infrisk, sebuah program simulasi komputer untuk analisis risiko pada keuangan  proyek infrastruktur yang dikembangkan oleh Word Bank.

Banyak hal-hal baru dan berharga yang bisa saya dapatkan dari pemateri maupun dari sharing pengalaman antar sesama peserta. Ada teman-teman dari industri  jalan toll: Jasa Marga, MMS, MSJ, Astratel, Trans Marga Jateng dan Bakrie. Ada juga teman-teman dari Thies Indonesia, Jakpro dan Susanto Cipta Jaya. Sedangkan dari industri perbankan ada teman-teman dari BNI, BCA, BRI, Bank Jabar, Bank Sumut dan Bank Mega. Saya sarikan hasil diskusi tentang beberapa kunci keberhasilan bermain di industri jalan toll di Indonesia:

1) Kontrol Budgeting

Investasi jalan tol bersifat capital intensive dan dengan tingkat pengembalian yang tertentu akibat adanya regulated tariff. Oleh karena itu kontrol budgeting mesti dilakukan dengan ketat semenjak  land aqcuisition, EPC sampai operasi. Investor mesti terlibat secara aktif dalam pembebasan lahan, sebagai tahap yang paling krusial dalam pembangunan jalan toll. Semakin cepat pembebasan lahan semakin kecil risiko cost over run yang bisa terjadi.

2) Link-kan bisnis jalan toll dengan bisnis lain yang terkait

Bisnis jalan toll memiliki payback period yang lama dan dengan tingkat pertumbuhan yang terbatas. Investor mesti pintar mengawinkan bisnis ini dengan bisnis lainnya yang lebih quick yield dan dengan tingkat pertumbuhan yang lebih baik, misalnya bisnis pengembangan kawasan.  Contoh best practise-nya adalah Group Bakrie yang mengawinkan bisnis jalan toll dengan bisnis properti.

3) Masuklah pada saat yang tepat

Investor, baik pemain baru atau pemain lama,  mesti pandai-pandai memilih saat yang tepat apabila hendak masuk ke dalam satu ruas toll. Apakah akan mengikuti proses tender atau melalui pola akuisisi. Contoh best practise adalah saat Bosowa mengakuisisi ruas toll Serpong – Pondok Aren.

Meet Friends

Yang lebih menyenangkan, di pelatihan ini saya bisa berjumpa dengan teman-teman kampus dulu. Saya bertemu dengan Erza (GM 99) dan Hosni (SI 97) yang kini di Divisi Corporate  Banking BNI serta Pak  Rudi Alvin (senior di FT) yang kini di bagian Risk Management Bank Jabar.

O  iya, saya mesti mengucapkan selamat kepada Mba Irma Setyowati dari Bakrie, sebagai peserta teraktif selama pelatihan. Dia telah mengajarkan: “antusiaslah di mana pun kamu berada!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: