Memecah Communication Barrier dalam Organisasi

js.jpgStephen P. Robbins mengingatkan dalam bukunya Organizational Behavior, ada beberapa barrier dalam berkomunikasi, yakni filtering, selective perception, information overload, defensiveness serta bahasa. Latar belakang sosial budaya sangat mewarnai pola komunikasi dalam suatu organisasi, termasuk barrier komunikasinya. Di negeri kita, kolonialisme, feodalisme dan Rezim Orde baru termasuk yang menyumbangkan banyak andil dalam barrier komunikasi. Bawahan terserang sindrom ABS, Asal Bapak Senang, yang membuat mereka melakukan filtering informasi, melaporkan yang baik-baik saja.  Sebaliknya, atasan terserang sindrom defensiveness, tidak suka dikritik.

Kali ini saya hanya ingin membicarakan penggunaan bahasa dalam suatu organisasi dan pengaruhnya dalam barrier komunikasi. Saya ambilkan dua contoh kasus. Di tempat saya bekerja, kami lebih suka memanggil sesama rekan dan atasan yang relatif muda dengan panggilan  “Mba” dan “Mas” dari pada “Ibu” dan “Pak”. Namun kepada yang sudah “senior”, kami tetap memanggil “Pak” dan “Bu”. Sedangkan di salah satu jurusan di ITB, panggilan “Mas” dan “Mba” kepada senior sampai sekarang masih dipertahankan, bahkan kepada yang sudah sepuh sekalipun, atau kepada profesor.

Mungkin panggilan “Mba” dan “Mas” terdengar sepele, tapi setelah saya renungi dan evaluasi, ternyata efeknya cukup bagus dalam mencairkan barrier komunikasi di lingkungan organisasi. Saya sendiri ketika mengucapkan “Mba” dan “Mas”, seolah-olah saya sedang berbincang dengan kakak atau saudara saya sendiri, sehingga komunikasi menjadi lebih mengalir.

Saya pernah kepikiran, bagaimana kalau menganggap sebuah Divisi di tempat saya bekerja sebagai keluarga kecil. Kepala Divisi (Kadiv) dipanggil “Pak” atau “Bu”, jajaran dibawahnya saling memanggil “Mas” dan “Mba”, serta memanggil Kadiv lainnya dengan sapaan “Pak De” atau “Bu Dhe”. Kalau seperti ini, Direksi dipanggil “Mbah”, Komisaris dipanggil “Mbah Buyut”. Stop!

Saya memang tidak sedang mengusulkan sistem sapaan dalam perusahaan seperti itu, saya hanya ingin menekankan bahwa barrier komunikasi bisa juga diatasi dengan pemilihan bahasa, khususnya panggilan yang lebih informal. Tentunya tanpa menghilangkan kaidah kesopanan dan  kesantunan. Implementasinya  juga fleksibel disesuaikan dengan kondisi perusahaan masing-masing, sebab words mean different things to different people.  Dengan hilangnya barrier komunikasi maka lalu lintas informasi, knowledge sharing, serta sinergi inovasi dalam suatu organisasi akan lebih berkembang dengan dahsyat.  Selamat memecah barrier komunikasi dalam organisasi Anda…

2 Responses to Memecah Communication Barrier dalam Organisasi

  1. Somet says:

    Bagus…..bagus…..suka bukunya Stephen Robbins yha Bang?

  2. Thx, iya aku suka baca bukunya, bahasannya enak dipahami. Dulu sempat agak ndak suka dengan kesan narsisnya membubuhkan tanda tangan besarnya di cover buku. Ternyata itu memang salah satu keunikan bukunya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: