Seminar dan Refleksi Manajemen Risiko Nasional

asnzs-4360.jpgHari Selasa-Rabu kemarin, saya mengikuti Seminar dan Lokakarya Nasional tentang Manajemen Risiko pada Sektor Publik dan Corporate serta Sektor  Swasta yang diselenggarakan oleh Yayasan Dharma Satya Parahita – Lembaga Pendidikan-BPKP, bertempat di Hotel Kartika Chandra, Jakarta. Tadinya saya berekspektasi, kalau seminar ini membahas manajemen risiko secara teknis pada sektor Publik-Korporat-Swasta, tetapi saya ternyata keliru. Seminar ini lebih tepat bertema pembangunan manajemen risiko dalam suatu organisasi, sebab dari 8 sesi materi selama dua hari hanya membahas overview pembangunan manajemen risiko tanpa memberikan ulasan teknis manajemen risiko pada sektor Publik-Korporat-Swasta yang dilengkapi dengan contoh kasus best practice. Saya kira bukan saya saja yang salah berekspektasi, sebab beberapa peserta di sesi pertama seminar juga langsung menanyakan hal-hal teknis, seperti  bagaimana mengelola risiko di bidang usahanya masing-masing.

Namun justru overview integral tersebut yang dilengkapi dengan contoh pedoman umum, prosedur, instruksi kerja, serta formulir  manajemen risiko, saya pikir sangat membantu sebagian peserta, khususnya bagi yang sedang membangun manajemen risiko di lingkungannya. Dan memang ini terbukti, dari testimoni beberapa peserta yang saya ajak berdiskusi.

Bagaimanapun penyelenggaraannya, saya mengacungi jempol kepada team marketing seminar/lokakarya ini yang mampu mendatangkan sekitar 250-an peserta perwakilan dari lembaga pemerintahan, BUMN, BUMD, perusahaan swasta dari seluruh Indonesia, meski dengan harga tiket seminar yang relatif mahal. Ketika saya menanyakan tips marketing penyelenggaraan seminar ini kepada salah seorang panitia, dijawab bahwa kuncinya adalah kerja keras, mengundang peserta jauh-jauh hari sebelumnya. Teman saya nyeletuk, “pesertanya pada takut, soalnya  penyelenggara secara tidak langsung membawa nama BPKP.”

Manajemen risiko memang sedang ngetrend di Indonesia. Banyak event organizer menyelenggarakan seminar dan workshop tentang manajemen risiko. Ini juga yang mungkin merupakan alasan lain mengapa peserta seminar ini membludak.

Manajemen risiko memperoleh momentum kemunculannya di luar negeri pada tahun 70/80-an dari industri asuransi. Pada tahun 90-an, standard manajemen risiko dikembangkan di Canada. Pada tahun 1995 sebuah task-force mengembangkan The Australian and New Zealand Standard for risk management – AS/NZS 4360:1995. Standard ini kemudian disempurnakan pada tahun 1999 menjadi AS/NZS 4360:1999, terakhir disempurnakan lagi pada tahun 2004 menjadi AS/NZS 4360:2004.  Di Amerika Serikat, the Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission (COSO) yang didukung oleh lima asosiasi besar di Amerika Serikat yakni: the American Accounting Association, the American Institute of Certified Public Accountants, Financial Executives International, The Institute of Internal Auditors, and the National Association of Accountants (sekarang the Institute of Management Accountants) mengeluarkan The COSO Enterprise Risk Management – Integrated Framework and Application Techniques pada tahun 2004, yang dikenal dengan ERM COSO 2004. Dua Standard ini kemudian diterima secara internasional sebagai guideline dalam mengimplementasikan manajemen risiko.

Lantas bagaimana praktik manajemen risiko di Indonesia sekarang? Dalam seminar ini diungkap, bahwa perusahaan yang mempunyai pedoman dan menerapkan manajemen risiko di Indonesia baru mencapai 21%. Sisanya terbagi dalam kategori: punya pedoman tidak menerapkan, tidak punya pedoman tetapi melakukan risk assessment serta kategori tidak punya pedoman dan tidak menerapkan menajemen risiko. Manajemen risiko baru melembaga secara resmi di sektor perbankan dengan adanya Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/25/PBI/2005 tentang Sertifikasi Manajemen Risiko Bagi Pengurus dan Pejabat Bank Umum.

Kecilnya angka perusahaan yang memiliki pedoman dan menerapkan manajemen risiko di Indonesia mungkin menjadi salah satu penyebab mengapa di negeri ini sering terjadi kebobolan. Yang terbaru adalah kasus byar pet nya listrik PLN akibat buruknya manajemen suplai bahan bakar serta kasus kecelakaan dan bangkrutnya Adam Air…

4 Responses to Seminar dan Refleksi Manajemen Risiko Nasional

  1. mukhtar says:

    Terimaksih atas atensi pada seminar
    Biarpun saya bukan panitia tapi saya bisa share sedikit pengalaman kami dalam mengembangkan MR dan IT Risk di BUMN. Bila anda dari BUMN atau lembaga pemerintah lainnya ingin tahu lebih lanjut tetang RM dan turunannya sikalan kontak tim RM/IT BPKP.

    Saya salah satu anggotanya kami sedang melakukan asisten di beberapa BUMN bahkan perusahaan BUMN Tbk yang sebelumnya RM dikembangkan oleh konsultan asing namun belum berhasil mereka minta kita untuk melanjutkannya.

  2. ircham says:

    kalo’ boleh tau sejarahnya mengapa dibuat AS/NZS 4360:2004 karena apa ya/?????

  3. udik bs says:

    Mohon informasi textbook (judul buku dan penulisnya) manajemen resiko yang paling lengkap (beserta contoh analisa resikonya) yang dipasarkan di Indonesia.

    email saya: kompiudiks@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: