Kepemimpinan Kaum Muda

hade-pisan.jpgPada peringatan Hari Sumpah Pemuda 2007 kemarin, para pemuda menagih hak “kepemimpinan kaum muda.” Ada berbagai reaksi dari masyarakat.  Beberapa diantaranya adalah reaksi sinis dari kaum tua dan incumbent. Wajar saja timbul reaksi sinis tersebut, sebab memang kepemimpinan kaum muda belum teruji lagi di Indonesia. Tapi ini bukan berarti bahwa kaum muda tidak diberi kesempatan memimpin. Jika tidak diberi kesempatan memimpin bagaimana bisa dikatakan teruji.

Beberapa waktu ini, issue “kepemimpinan kaum muda” juga digaungkan oleh pasangan Calon Gubernur (Cagub) dan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Jawa Barat, Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf Macan Effendi, dengan inisial HADE*, yang diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN).

Membicarakan kepemimpinan kaum muda, saya jadi teringat satu surat dalam Al Quran, yang banyak memberikan pelajaran dalam kepemimpinan kaum muda, yakni Surat Yusuf. Surat ini memang khusus menceritakan perjalanan kehidupan Yusuf  as sejak dari kanak-kanak hingga menduduki jabatan sebagai bendaharawan Mesir dalam usia muda. Tidak seperti kisah-kisah nabi lainnya, yang kisahnya terpencar-pencar dalam berbagai surat, kisah nabi Yusuf hanya terkumpul dalam satu surat dalam rangkaian ayat-ayat yang terjalin berurutan dan indah.

Saya mencatat beberapa point pelajaran berharga kepemimpinan Yusuf as untuk dijadikan teladan oleh para pemuda kita untuk menjadi pemimpin sejati, yakni:

1. Kepemimpinan adalah hasil dari proses belajar

Yusuf tidak mendapatkan skill kepemimpinan begitu saja, ia telah dibina (oleh Allah) melalui berbagai macam ujian. Pengkhianatan saudara-saudaranya supaya membuatnya sabar dan tidak menjadi pengkhianat. Ia dibuang ke sumur, agar ia menjadi manusia tawakal dan tidak membuang orang lain ke dalam penderitaan. Ia pernah dijadikan budak, supaya ia mencintai kaum lemah. Ia pernah digoda oleh jebakan cinta Zulaikha sebagai latihan keteguhan hati dan sarana untuk memahami permasalahan “biologis” umat. Ia pernah dipenjara untuk mematangkan kesabaran dan kemampuan berfikir.

Dengan berkaca pada kisah Yusuf, para pemuda mesti berlomba-lomba mengumpulkan ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya sebelum ia meminta jubah kepemimpinan. Dari kisah ini, kaum tua juga mesti memahami, bahwa ilmu dan pengalaman untuk memimpin negeri tidak mesti harus dilalui dengan menjadi birokrat terlebih dahulu. Bahwa pengalaman pemuda dalam berorganisasi dan dalam kegiatan-kegiatan pemecahan permasalahan umat secara konsep dan praktis juga merupakan pengalaman yang patut dipertimbangkan. Kadang pengalaman lapangan ini justru lebih bermakna dari pada pengalaman kaum tua yang hanya ongkang-ongkang di meja kerja dan tidur siang di ruang rapat. Dalih kaum tua “serahkan pada ahlinya,” (maksudnya serahkan kepada yang pernah duduk di pemerintahan) seringkali hanyalah alibi untuk menyelamatkan jabatan mereka saja.

2. Jadilah pemimpin jika pemuda meyakini kapabilitas dan kemurnian niatnya

Yusuf berani mengatakan “jadikan aku bendaharawan (Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (QS. Yusuf:55). Pertimbangan Yusuf meminta jabatan bendaharawan bukanlah berdasarkan atas nafsu untuk berkuasa, tapi berdasarkan pemahaman Yusuf akan besarnya permasalahan yang akan dan sedang dihadapi masyarakat Mesir pada waktu itu dan ia merasa bahwa ia adalah orang yang tepat untuk memikul tanggung jawab tersebut. Ketika ia mengucapkan bahwa ia pandai menjaga dan berpengetahuan ia tidak sedang memuji dirinya, tapi merupakan ungkapan jaminan akan kapasitas dan kemampuannya dalam melaksanakan tugas.

Bukti bahwa Yusuf tidak didorong oleh nafsu berkuasa dapat dilihat pada Tafsir Majma al bayan dan Al Mizan, yang menceritakan pola kerja Yusuf. Ketika musim kekeringan tiba, ia menjual gandum dengan emas dan perak, di tahun ke dua dengan perhiasan, di tahun ke-tiga dengan binatang ternak, di tahun ke-empat dengan budak, di tahun ke-lima dengan rumah, di tahun ke-enam dengan ladang, di tahun ke-tujuh dengan menjadikan orang sebagai budak. Ketika tahun ke-tujuh hampir habis, ia berkata kepada raja Mesir, ” Rakyat semua dan apa yang mereka miliki ada di tangan kita, tapi aku bersumpah kepada Tuhan dan Anda juga harus bersumpah bahwa mereka semua adalah merdeka dan kita akan mengembalikan harta benda mereka dan aku juga akan mengembalikan istana, singgasana dan stempel kerajaan. Pemerintahan bagiku adalah sarana untuk menyelamatkan rakyat, tidak ada lagi yan lain.” Imam Ridha meriwayatkan bahwa Yusuf di masa sulit Mesir melewatkan hidupnya dengan perut keroncongan agar ia tidak melupakan orang-orang yang kelaparan.

3. Pemimpin bervisi jelas, memahami permasalahan umat dan mempunyai solusi

Dalam Surah Yusuf 43-44, dikisahkan bahwa Raja berkata kepada orang-orang yang terkemuka dari kaumnya. “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk, dimakan oleh tujuh sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir gandum yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering. Hai orang-orang yang terkemuka, terangkanlah kepadaku ta’bir mimpiku itu jika kamu dapat menakbirkan mimpi.” Mereka menjawab, “itu adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menahu tentang ta’wil mimpi itu.”

Demikianlah, ketika permasalahan tidak diserahkan kepada yang benar-benar paham. Orang-orang terkemuka di sekitar Raja mengganggap mimpi Raja hanya sekedar mimpi yang kacau, padahal mimpi raja tersebut sebenarnya adalah mimpi yang sangat berhubungan dengan kelangsungan kehidupan masyarakat Mesir waktu itu.

Kemudian seorang pelayan yang pernah menyaksikan kemampuan ta’wil mimpi Yusuf memberitahukan Yusuf kepada Raja.Yusuf tanpa mengeluh dan tanpa meminta syarat langsung menta’wilkan mimpi Raja dengan jelas, bahwa akan datang tujuh tahun masa panen seperti biasa yang diikuti tujuh tahun masa kemarau yang akan diakhiri masa hujan lagi. Yusuf tidak hanya menjelaskan ta’wil tersebut tapi ia memberikan solusi pemecahan permasalahan masyarakat Mesir itu, yakni manajemen logistik bahan pangan (gandum) masyarakat Mesir selama empat belas tahun.

Yusuf telah mengajarkan bahwa pemimpin mesti memiliki visi, gambaran masa depan umat, ia juga mesti memiliki pemahaman yang benar akan permasalahan riil umat, sekaligus memberikan solusi yang membumi.

Pilgub Jabar 2008 dan Kepemimpinan Kaum Muda

Pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2008 mendatang, saya secara pribadi mendukung pasangan HADE. Ini bukan hanya karena saya setuju dengan kepemimpinan kaum muda. Tapi saya melihat bahwa kriteria tiga point kepemimpinan kaum muda sudah dipenuhi oleh pasangan HADE.

Soal pengalaman dan kapabilitas, saya cukup yakin dengan apa yang dimiliki oleh Kang Ahmad Heryawan. Beliau  tidak hanya memiliki basis keilmuan yang mendukung, tetapi juga memiliki pengalaman yang matang dari lembaga akademis, organisasi sosial kemasyarakatan dan politik. Kapabilitasnyanya juga teruji di lembaga DPRD DKI Jakarta. Soal ketulusan niat, memang tidak bisa dibaca dengan mata telanjang, tapi dari berbagai kesempatan saya untuk bersinggungan dengan pengurus-pengurus PKS, menyaksikan sendiri kehidupan bumi mereka, saya yakin, Kang Ahmad memiliki keikhlasan menjadikan jabatan kepemerintahannya sebagai sarana menyejahterakan rakyat.

Soal visi, pemahaman persoalan rakyat dan usulan solusinya, saya tidak meragukan lagi, teman-teman dalam think tank PKS cukup mumpuni. Soal pelaksanaan program, saya juga yakin teman-teman dari PKS mampu bekerja sama dengan setiap komponen Jawa Barat. Apalagi dengan dukungan Kang Dede Yusuf dan teman-teman dari PAN yang progresif, saya harap pasangan HADE ini mampu berkontribusi menjadikan Jawa Barat HADE PISAN!**

*) HADE, Ahmad Heryawan-Dede Yusuf, dalam bahasa sunda juga berarti bagus.

**) Pisan, sangat (bahasa Sunda), hade pisan = sangat bagus.

Referensi:

Qaraati, Mohsen, Tafsir untuk Anak Muda (diterjemahkan dari Tafsire Sure Ye Yusuf), Jakarta: Al Huda

Advertisements

3 Responses to Kepemimpinan Kaum Muda

  1. Yadhie says:

    pak dede yusuf kalo rakyat bandung barat..pada sakit kasih bodrek ok…

  2. Kang Yadhie, setuju banget. Mungkin yang dimaksud bodrek itu seperti ini ya: kalau pada sakit dan ga bisa berobat, HADE harus memberi solusi “bodrek” layanan kesehatan murah/free. Kalau rakyat pada sakit kepala karena ga punya duit untuk biaya hidup dan nyekolahin anak2, HADE harus memberi solusi “bodrek” lapangan pekerjaan, pembinaan UMKM dan layanan pendidikan murah/gratis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: