Mengapa Orang Sunda Sulit Melafalkan Huruf “F”?

masjid-kasepuhan.jpgSaya sering iseng  bertanya, kenapa orang sunda kesulitan melafalkan huruf “F”? Kesulitan ini tidak hanya di temukan pada masyarakat awam, tapi juga pada masyarakat yang yang tergolong berpendidikan cukup tinggi. Saya pernah menemukan beberapa diktat kuliah Perguruan Tinggi Negeri  ternama di Bandung, yang disusun oleh dosen asli Sunda, yang banyak memuat kekeliruan penulisan antara “F” dan “P”. Sampai ada satu anekdot. Orang-orang Sunda suka membela diri dengan mengatakan, ” Siapa bilang orang sunda tidak bisa bilang “F”, itu teh Pitnah!, Pitnah!”

Memang huruf “F” bukan huruf dan lafal asli daerah Sunda. Huruf “F” berasal dari kosa kata  bahasa  Arab dan Eropa. Yang menarik adalah suku Jawa sebagai tetangga terdekat suku sunda tidak memiliki kesulitan yang berarti dalam melafalkan huruf “F”, kecuali untuk beberapa masyarakat generasi sepuh di pedalaman Jawa.  Padahal Jawa dan Sunda memiliki sejarah yang hampir sama dalam hal interaksi dengan bangsa asing yang telah membawa huruf “F” dalam budaya lisan dan literatur mereka.

Meruntut sejarah Sunda dan Jawa, huruf “F” pertama kali dibawa dan diperkenalkan oleh pedagang bangsa Arab, Persia dan Gujarat yang sekaligus juga menyebarkan agama Islam di Jawa pada abad ke-13. Bangsa Arab memiliki lafal “F” dari huruf asli “Fa’ yang banyak digunakan dalam kosa kata mereka yang tersebar baik dalam bidang perdagangan maupun dalam bidang keagamaan.

Memang Islam lebih dulu memasuki suku Jawa dibanding suku Sunda. Tingkat penyebaran awal  juga lebih luas dengan berdirinya kerajaan Demak yang disokong oleh Wali Sanga-nya.

Berdasarkan sumber sejarah tertulis, Carita Parahyangan, Islam dibawa  ke Tatar Sunda oleh Bratalegawa, atau Haji Purwa, seorang saudagar dan pelayar besar yang juga merupakan anak Sang Bunisora -penguasa kerajaan Galuh. Ia menikah dengan seorang muslimah Gujarat, kemudian masuk Islam  dan kembali ke Galuh pada tahun 1337 Masehi  serta menyebarkan Islam di Cirebon (Caruban) Girang. Namun proses islamisasi Tatar Sunda secara massal baru pada abad ke -16, dengan adanya peran Syarif Hidayatullah atau dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati di Cirebon. Dengan kedudukannya sebagai salah satu Wali Sanga, beliau mendapat dukungan dari Kerajaan Demak secara penuh. Dari Cirebon, Sunan Gunung Jati mengembangkan Islam ke Tatar Sunda lainnya, seperti Majalengka, Kuningan, Galuh (Kawali-Ciamis), Sunda Kelapa dan Banten.

Untuk kasus di Jawa, modus penyebaran islam yang bergerak dari pesisir ke pedalaman membuat kita mudah memahami mengapa di daerah pedalaman, masih terdapat masyarakat, khususnya generasi sepuh, yang kesulitan melafalkan “F”, misalnya ketika mengucapkan kata “film” (bahasa inggris) menjadi “pilem”. Tapi secara general,  hampir seluruh suku Jawa tidak kesulitan dalam melafalkan huruf “F”.

Sedangkan di Tatar Sunda, kesulitan pelafalan “F” hampir menyeluruh dari pesisir pantai utara sampai pesisir pantai selatan, dari generasi tua sampai generasi sekarang. Kenapa? Saya mencoba menganalisisnya dan membuat teori  untuk menjawabnya.

Huruf “F” lebih banyak tersebar ke masyarakat Jawa dan Sunda melalui bidang dakwah. Sebab bidang perdagangan hanya menyentuh beberapa gelintir masyarakat di daerah pesisir. Bedanya adalah mekanisme internalisasi Islam berikut  budaya lisan dan tulisan yang melekat padanya.

Huruf “F” lebih mudah diserap oleh masyarakat Jawa akibat internalisasi Islam beserta  budaya ikutannya (termasuk huruf “F”) yang dilakukan melalui metode yang mudah diterima dan dipraktikan. Beberapa anggota Wali Sanga di Jawa  banyak menggunakan media seni dan budaya. Yang paling fenomenal adalah peran Sunan Kalijaga dalam mengembangkan wayang purwa atau wayang kullit yang bercorak islam. Beberapa sunan lainnya juga dikenal sebagai ahli gubah tembang Jawa. Sunan Bonang (R. Makhdum Ibrahim) yang dianggap sebagai pencipta gending bermuatan islam. Sunan Drajat (R. Syarifudin) yang terkenal sebagai penggubah tembang Pangkur. Sunan Kudus (Ja’far Shadiq) yang terkenal dengan gubahan gending Maskumambang dan Mijil. Sunan Muria (R. Umar Said) yang menciptakan tembang dakwah Sinom dan Kinanti.

Melalui media seni dan budaya inilah, Islam dan budaya ikutannya menjadi lebih mudah diterima oleh masyarakat pada waktu itu, masyarakat agraris dengan komunikasi “getok tular”. Dengan media seni, akulturasi kebudayaan, termasuk penggunaan dan pelafalan huruf “F” menjadi lebih mudah. Sebab ia tidak hanya digunakan saja dalam ranah ritual di masjid-masjid saja, tetapi budaya ikutannya telah memasuki ranah setiap sendi kehidupan masyarakat, melalui tembang-tembang yang dinyanyikan, melalui pertunjukan-pertunjukan seni yang mereka nikmati.

Memang dakwah di Sunda juga menggunakan media seni dan budaya juga, seperti wayang golek, dangding, guguritan, tradisi upacara (sawer orok, tingkeban, dll) akan tetapi penggunaan media ini tidak seintens seperti di tanah Jawa. Penggunaan media ini baru berkembang pasca Sunan Gunung Jati.

Mungkin ini bisa dipahami dari latar belakang Syarif Hidayatullah. Latar belakang personal beliau tidak bisa dilepaskan dari corak Islam di Tatar Sunda sebab perannya yang sangat  sentral dalam penyebaran Islam di Tatar Sunda. Dalam usia 20 tahun, Beliau telah memiliki tingkat kefakihan yang mumpuni, hasil selama belajar Islam di Mekah, Madinah, sampai ke Baghdad. Sebelum berlayar ke Jawa, beliau pernah singgah di Pasai dan tinggal bersama Maulana Ishak. Latar belakang tersebut menyebabkan dakwah Sunan Gunung lebih “to the point”.

Sunan Gunung Jati juga memiliki keunikan pendekatan dakwah melalui bidang pengobatan. Naskah-naskah kuno Cirebon hampir seluruhnya memberikan informasi tentang peran Sunan Gunung jati sebagai seorang tabib.

Pendekatan dakwah “to the point” membuat sedikit batas akulturasi kebudayaan Islam dengan budaya asli Sunda, khususnya penyerapan huruf “F” dalam budaya lisan Sunda. Huruf “F” hanya hidup di ranah agama, di lingkungan masjid. Akan tetapi huruf “F” tidak hidup dalam bidang kehidupan sehari-hari lainnya.

Analisis masalah kesulitan pelafalan huruf “F” oleh suku Sunda di atas baru dilihat dari sisi kemungkinan mekanisme akulturasi kebudayaan yang dominan. Sangat mungkin bahwa penyebab utamanya bukan karena itu. Misalnya pengaruh anatomi mulut masyarakat sunda dahulu. Atau  pengaruh prestise trend pelafalan para elit Tatar Sunda waktu itu, seperti tren pengucapan “kan” menjadi “ken” pada masa orde baru. Semoga ahli bahasa Sunda, sejarah dan anthropolog ada yang berminat meneliti masalah ini.

Referensi:

  1. Bisri, Cik Hasan, Yeti Heryati, Eva Rufaidah (ed.). Pergumulan Islam dengan Kebudayaan Lokal di Tatar Sunda. Bandung: Kaki Langit, 2005
  2. Solihin, M. Melacak Pemikiran Tasawuf di Nusantara. Jakarta: Raja Grafindo Perkasa,2005

40 Responses to Mengapa Orang Sunda Sulit Melafalkan Huruf “F”?

  1. rafi says:

    salam,

    mohon izinkan saya utk copy paste tulisan anda..
    Saya akan forward ke bos dan teman2 saya.
    Soalnya mereka sering bertanya kenapa saya susah melafalkan huruf “f”.
    ternyata I am not the only one…
    he..he…

    Trims,
    Rafi

    • haryoharyo says:

      Huruf F atau V sudah ke Indonesia bukan datang dari Arab untuk pertama kali. Bahasa Sansekerta sudah terdapat huruf V. ini dia contohnya: Jalesveva Jayamahe. Slogan angkatan laut kita.

      • Thank You, Pak Haryo. Bapak benar, Sanskirt ada huruf “V” nya. Saya perlu mengoreksi tulisanj saya. Tapi mungkin perlu diteliti, apakah yang masuk ke Nusantara zaman dulu itu huruf “V” atau dialek Sanskirt lainnya yang melafalkan “V” menjadi “W”? Atau apakah kasus ini mirip dengan asimilasi pelafalan “F” menjadi “P” di Sunda. Ini menarik, Pak…Salam.

  2. Mangga Kang Rafi😀

  3. ira says:

    Ada penelitian tentang pelafalan bahasa, pada bayi jepang berusia dibawah 6 bulan mereka masih bisa mendengar perbedaan antara pelafalan ra dan la sementara setelah 1 tahun bayi jepang kehilangan kepekaan terhadap beda fonem ra dan la sehingga mereka kesulitan untuk membedakan fonem ra dan la. mungkin ini juga yang terjadi pada bayi sunda. Karena sampai dengan usia tertentu synaps2otak yang tidak terpakai mati, dan pada bayi sunda tampaknya synaps yang tidak terpakai adalah synaps untuk pelafalan fonem fa dan va. Ketika sudah dewasa dan menemukan banyak fonem fa dan va yang harus dilafalkan, bayi sunda tersebut harus belajar lagi, namun ibaratnya belajar bahasa baru, pelafalan fonem fa dan va tersebut harus dilakukan secara sadar, jika tidak akan kembali ke fonem pa sebagai bahasa dasar/native-nya.
    -ira-

  4. Bagus juga infonya, Ra. Di Jepang rumusnya L = R, kalau di Sunda F = V = P (Sudah ada temen2 yang buat kaosnya lho).

  5. andi says:

    sami abdi oge gaduh masalah f = p=v, dugi ka ayeuna.
    di walanda 7 taun tetep teu acan tiasa spontan ngabentenkeun f = p = v. teoritis sih tiasa tapi spontan tetep wae sok tibalik balik hi hi sok isin hi hi. mevrow = meprow.
    cipanas malah jadi ci fanas h ha ha.

    aduuuuh puyengggggg.

  6. Salam kenal, kang Andi. Deket Delf? Btw jadi inget cerita temen. Waktu itu ada interview kerja. Interviewer bertanya kepada pelamar yang kebetulan seorang perempuan sunda, ” nama Anda siapa?” “Peny,” jawab perempuan itu. “P nya pake Fanta atau Vespa?” interviewer menggali. “Pake Panta,” jawab perempuan itu enteng.

  7. koeleuheu says:

    Setiap orang dari berbagai suku di Indonesia bahkan dunia mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing seperti orang Sunda dalam mengucapkan huruf p=f=v juga orang Jepang dalam la=ra. Hanya untuk di Indonesia karena ibukota negara terletak di tanah orang Sunda jadilah yang diexpose kelemahan orang Sunda yang salah satunya masalah ini.

    Beberapa sahabat dari suku lain di Indonesia yang untuk beberapa kasus mungkin terjadi kesalahan misalnya huruf d=t, g=k dan lain-lain dan bukan untuk huruf eu wajar sekali jika tidak bisa. Hanya mungkin orang Sunda tidak mempedulikannya atau tidak mentertawakannya, atau mungkin juga orang Sunda drop duluan ketika ditertawakan tidak becus melafalkan f sehingga tidak bisa menyerang balik meskipun dalam kontek bergurau? Dan memang tidak setiap orang yang suka mentertawakan orang lain, rela juga ditertawakan.

    Kadang ditemukan juga orang-orang yang “unik”, ketika bertemu dengan sesuatu hal yang menuntut penulisan nama atau namanya dipanggil orang lain langsung interupsi bahwa harus memakai ef bukan ep. Satu sisi mungkin sebagai hak dia, disisi lain ada kesan “meremehkan” orang lain. Atau mungkin punya pengalaman buruk bahkan mungkin juga takut disangka orang Sunda?

  8. erikurn says:

    Selamat kang Agus atas tulisannya. Susah sekali saya bisa mendapatkan tulisan-tulisan tentang linguistik Indonesia atau Sunda khususnya secara online. Duka kamarana atuh linguis Sunda atawa Indonesia teh.

    Betul apa yang diutarakan oleh Teh Ira. Memang dalam teori pemerolehan bahasa kedua disebutkan bahwa bayi memiliki potensi atau kemampuan untuk menguasai bunyi apapun. Namun kemampuan itu secara bertahap berkurang dan bahkan hilang sampai usia satu tahun. Memang menarik penelitian tentang kontras fonem /l/ dan /r/ dalam bahasa Jepang karena setelah satu tahun kemampuan bayi untuk membedakan kedua fonem itu hilang seiring dengan hilangnya fitur fonologis [coronal] dalam bahasa ibunya karena pajanan atau input yang diperoleh bayi tersebut mengisyaratkan hilangnya kontras kedua fonem.

    Nah, inilah sebenarnya yang bisa menjelaskan mengapa orang Sunda tidak bisa (susah) melafalkan kontras fonem /p/ dan /f/ dan /v/ karena ketiga bunyi tersebut tidak dikontraskan dalam bahasa Sunda sehingga kontrasnya hilang ketika bayi Sunda menginjak usia satu tahun. Kontras itu otomatis hilang karena bahasa Sunda tidak membutuhkannya. Sering kita mendengar bagaimana orang Sunda melafalkan kata [universitas] atau [fakultas] yang dibaca [unipersitas] dan [pakultas], termasuk saya sendiri ketika tidak secara sadar berusaha membedakannya, padahal saya sudah belajar membaca Quran dari kecil. Contoh lain, bahasa Arab memiliki fonem /f/ tapi tidak memilki /p/ sehingga mereka kesulitan melafalkan, misalnya, kata [pipi] yang saya dengar menjadi [bibi] karena /p/ dan /b/ ada dalam satu tempat artikulasi.

    Nah, pertanyaannya sekarang adalah bisakah fonem baru diperoleh oleh pemelajar bahasa kedua? Benyak hipotesis yang sudha diajukan. Ada yang mengklaim tidak, ada yang mengklaim bisa. Tapi saya yakin bisa. Bukti sederhananya orang Indonesia bisa membedakan fonem /t/ dan /th/ dalam bahasa Inggris padahal /th/ tidak ada dalam bahasa Indonesia. Begitupun kita orang Sunda yang bisa melafalkan fonem-fonem dalam bahasa Arab seperti /f/, /q/, /kh/, /’a/, /gh/ dll.

  9. @ Koeleuheu
    Saya setuju sekali, setiap suku ada kekurangan juga kelebihan. Saya mengangkat masalah ini bukan berarti meremehkan teman-teman Sunda, tapi karena ini masalah yang unik. Pesantren di tatar Sunda banyak sekali tersebar tapi huruf “f” yang berasal dari arab justru sulit diucapkan dalam bahasa keseharian. Terima kasih ya telah mengingatkan….

    @ Erikurn
    Wah, terima kasih atas ulasan yang panjang dan mencerahkan. Bagaimana kalau Erikurn (Eri Kurniani atau Eri Kurniawan)? membuat penelitian masalah ini lebih lanjut, bakalan jadi sebuah bahan jurnal ilmiah yang menarik…

  10. Iwan H says:

    Mohon izin pak,
    saya forward ke milis klapanpuluahn@yahoogroups.com

    nuhun sateuacanana

  11. Mangga Pak Iwan, semoga bisa menjadi bahan diskusi yang menarik. Sami-sami…

  12. gunners says:

    izin ngofi buat ngisi di multifli yak…
    akhirnya ada jg penjelasan logis ttg hal ini

    fermisi ah…

  13. Mangga Kang, semoga bermanfaat…

  14. Terima kasih kang Agus atas apresiasinya. Nama saya Eri Kurniawan. Mungkin nanti ketika saya kembali ke tanah air akan coba mengajukan penelitian longitudinal untuk mengungkap tahapan pemerolehan fonem oleh bayi Sunda.

    http://eri-kurniawan.co.cc

  15. vitri says:

    Ass,,salam kenal dari abdi.ngiring ngopy artikel na nya, pun ieu teh pentig. abdi teh salah satu korban wargi sunda nu harese ngalafalkeun huruf F sarung V. malah sok tibalik. jadina abdi jadi bahan lelucon,,he he
    hatur nuhun, wassalam…

  16. ‘Alaykumussalam. Mangga Vitri. Btw ini Vitri atau Fitri?😀

  17. nonoy says:

    punya referensinya gak???
    butuh niy…?
    thx

  18. nonoy says:

    assalamualaikum
    noy mw ngopy artikelny yaw….
    klo da referensi laiin, ttg knp org sunda sush lfln “F”…
    blh mint infonya???
    thx

  19. ‘Alaykumussalam wr. wb.
    Silahkan Noy. Terus terang, sampai sekarang saya belum nemu referensi (kajian) lain yang membahas kesulitan orang sunda melafalkan huruf F/V. Mungkin saja ada tapi belum dipublish. Dua buku yang saya kutip di atas hanya saya pakai untuk melihat latar belakang historis Sunan Gunung Jati.
    Kalau Noy mau meneliti, itu bisa menjadi sebuah kajian yang menarik. Sebenarnya ada satu hal lain yang menarik juga tentang bahasa Sunda, yakni adanya bunyi “eu” yang terdapat juga di Aceh. Bunyi ini tidak terdapat di Jawa (Tengah dan Timur). Ini mungkin masih ada hubungannya dengan keberadaan Sunan Gunung Jati di Tatar Sunda.

  20. TJ. Ariri says:

    Saya tertarik dengan tulisan anda. Alhamdulilah bisa jadi bahan acuan untuk wawasan saya. Jika anda tertarik dengan lingusitik, untuk lebih dalam, dapat anda cari bukunya Alif Danya Munsyi “Bahasa Menunjukkan Bangsa” banyak mengungkap peristiwa semisal. Sebagai dasar acuan tentang bahasa bisa juga anda cari dalam kajian buku Sosiolinguistik, Dialektologi, dan Linguistik Umum (Fatimah JS., Abdul Chaer, H.Kridalaksana, dll) oleh beberapa pakar bahasa Indonesia tentang penyerapan fonem /f/.
    Matur nuwun..

  21. Matur nuwun juga atas info referensinya. IA segera saya cari. Sepertinya Anda dosen Departemen Bahasa/Sastra. Dimana?

  22. Irwan says:

    Tapi, saya sama sekali gak ada kesulitan untuk memilah F dengan P kok, fadahal saya orang Sunda tulen.
    Mohon maap, saya kurang agree dengan uraian bang Agus di atas,
    kalo fendafat saya sih, kayaknya hanya karena kebiasaan yang bersumber dari jenis bahasa daerah yang biasa digunakan, that’s it… coba, ip bayi Sunda diurus dan dibesarkan di Amerika oleh orang bule Amerika, afa tetef susah membedakan F n P?!
    Hatur nuhun

  23. abah ucha says:

    nuhun ah aya geuning anu ngupas masalah ieu,
    ngiring ngopi pa haji urang diskusikeun sareng rencang di kantor kaleresan kabayan wungkul….

  24. @ Kang Irwan: Betul Kang Irwan, kita tidak boleh mengeneralisasi, apalagi terhadap kelompok generasi muda Sunda yang sudah terglobalisasi😀

    @ Abah Ucha: Mangga Abah, hasil diskusinya mohon diinfokan juga. Nuhun

  25. nabiilky says:

    mohon ijinkan saya copy paste tuk di postkan di blog saya,nanti saya buatkan linknya ke blog sampean,dan saya akan porword ke email isteriku, kebetulan saya juga orang sunda sering salah ngucapin huruf f saya sering dikeritik sama teman-teman terutama isteriku, waktu isteriku mau lahiran anak pertama yang menurut dokter perkiraan laki-laki setelah di usg, ketika isteriku tanya namanya siapa? saya usulkan beberapa nama diantaranya nafiis, langsung saja isteriku bilang nanti dipanggilnya napiis… yah jadinya sekarang nama anakku m.nabiil,

  26. josephiraelba says:

    Aduh emang Pusssing menghafalkan huruf P,F sama V saya orang Brebes Jawa Tengah tapi tinggal di perbatasan Jawa Barat letaknya antara perbatasan Brebes dengan Cirebon.Dulu sewaktu saya kuliah di DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta)dan sampai sekarang saya ikut suami ke Banyuwangi Jawa Timur saya sering ditertawakan gara-gara salah mengucapkan huruf antara P,F sama V. Aduh liuer letah teh mani hese pisan ngucakeunna

  27. Fifi says:

    Menarik banget artikelnya … saya juga dipanggil nama bener cuma sama ayah saya (krn beliau orang Bengkulu) anak saya dan suami saya (org kediri), Ibu saya, adik dan kakak saya kalo manggil “PIPI” karena bahasa sunda kental sekali di keluarga saya …..

    Aku minta izin untuk ngopy ya Kang .. Nuhun …

  28. nengs_89 says:

    asskum………………..

    duh ngabaca referensina jamteun ka sindir eum he…he…,nuhunnya tos aya saalit pengerahan yeuh!!!

    mudah2an pribados tiasa neliti permasalahan ieu, amin

    piduana ti sadayana
    hatur nuhun………….

  29. geus nasib atuh eta mah..bawaan ti Gusti Alloh

  30. Asep nu kasep says:

    maaf baru nemu info ini…🙂
    tp mnrtku sich (kbetulan saya org sunda), mungkin sm mrk kdengarannya berlafal “F” pdhl apa yg aku katakan “P”.

    klo mslh lafal gt, org betawi jg ada? yaitu lafal “D” jadi “T” contoh; dlm kata Ahmad jd Ahmat.., Bejad jd Bejat, dsb

    mlh yg saya heran (maaf) banyak org indonesia yg buta warna, sperti kata air bening (dlm bhs sunda = Ci Herang atw cai herang), mrk bnayak mngatakan ciherang tsb dgn air putih, sdgkan yg saya ketahui air putih itu air beras atau air susu. kalimat ini banyak ditemukan di warung2 makan atw swaktu kita jd tamu di rmh tmn.

  31. Ageung says:

    pitnah itu,, saya bisa ah bilang ep! tuh kan bisa…

  32. Mint Ice says:

    Ia, saya teh kadang suka susah melafalkan huruf ‘F’ walau nama depan saya dari ‘F’. Tapi gimana lagi atuh da itu mah sudah jadi kebiasaan. Gak apa” ya, itu mah da ciri khas

  33. Kamil says:

    Mohon ijin mengutip untuk tugas teori translasi, terima kasih buat penelitian nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: