Malangnya Pejalan Kaki di Bandung

trotoar.jpgKemarin malam, kaki saya terperosok ke dalam lubang di tengah trotoar Geger Kalong. Lecet dan memar di bagian tulang kering. Efeknya saya demam seharian. Kejadian itu membuat akumulasi penilaian saya terhadap  kondisi trotoar di Kota Bandung sangat buruk. Hak-hak pejalan kaki sangat kurang diperhatikan.

Salah satu contoh trotoar yang jelek juga adalah trotoar sepanjang jalan Sumur Bandung. Boleh dibilang di jalan ini sesungguhnya tidak ada trotoar sama sekali. Bahu jalan yang sangat sempit banyak diselingi pohon-pohon yang besar yang memakan hampir seluruh bahu jalan. Padahal pejalan kaki di jalur ini sangat ramai, mahasiswa-mahasiswa ITB, pelajar-pelajar SMU yang mengikuti bimbingan belajar di SSC, Sony Sok Cakep, eh maaf Kang Sony, yang bener Sony Sugema College. Belum lagi pejalan kaki umum lainnya yang menuju Jalan Utama Simpang Dago.

Semua itu memang berawal dari tata kota yang tidak direncana dengan baik. Di Bandung, sekarang tidak bisa dibedakan mana kawasan komersil, perumahan, resapan air, dll. Perumahan di sepanjang jalan raya sekarang sudah  berubah fungsi menjadi tempat bisnis, ada Factory Outlet (FO), restaurant, café, dan sebagainya. Memang sih, peralihan fungsi ini membantu perolehan pendapatan  kota Bandung dari bidang jasa. Tapi karena peruntukan awal yang bukan untuk kawasan komersial menyebabkan lahan dan sarana pendukung kegiatan komersial ini menjadi sangat terbatas, terutama lahan parkir. Terbatasnya lahan parkir ini sering menjadi alasan bagi pemilik kendaraan untuk memarkirkan kendaraannya di lahan pejalan kaki. O, itu belum cukup. Kondisi  tersebut diperparah dengan adanya aktivitas pedagang kaki lima di beberapa trotoar Bandung. Sekarang sempurna lah sudah!

Jadi bagaimana solusinya. Saya sendiri juga bingung. Tapi saya berusaha menyumbangkan ide sebisanya. Kalau toh pun salah wajar saja, saya bukan  seorang ahli tata kota.

Untuk menyelesaikan masalah jeleknya trotoar, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mesti memprogramkan renovasi/pembangunan trotoar sepanjang kota Bandung. Jika lahan untuk trotoar sangat sempit, bisa di-design trotoar di atas drainase (ini bukan ide baru!). Atau jika memungkinkan pelebaran trotoar dengan pembebasan tanah masyarakat. Jika merasa kesulitan anggaran, Pemkot bisa membuat program kerja sama pembangunan trotoar baik dengan swasta maupun masyarakat dalam kemasan yang saling menguntungkan. Misalnya seperti trotoar advertising, jadi pihak swasta bisa menempelkan logonya di bidang trotoar. Atau trotoar seperti “hall of fame” (ini juga bukan ide baru!).

Untuk mengatasi kesemrawutan parkir yang menggangu pejalan kaki dan lalu lintas,  aparat berwenang mesti tegas dalam menindak pemilik kendaraan yang parkir di sembarang tempat. Sedangkan untuk solusi jangka panjang,  Pemerintah Kota bandung harus membuat atau merevisi peraturan mengenai pendirian usaha di suatu lokasi. Untuk mendirikan satu usaha harus ada syarat-syarat yang mesti dipenuhi, yaitu luas lahan parkir minimal yang akan dibangun. Setiap bidang  dan skala usaha harus memiliki standard luas parkir yang mesti dimilikinya ditambah dengan mekanisme peninjauan ulang setiap tahunnya. Jadi bisa saja, suatu usaha skala kecil setelah beberapa tahun menjadi besar, izin lokasi akan dicabut jika tidak melakukan penyesuaian luas lahan parkir sesuai standar bidang dan skala usaha. Lagi-lagi, untuk mengeksekusi peraturan ini diperlukan ketegasan dan kebersihan aparat.

Semoga kedepannya hak pejalan kaki semakin dihormati…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: