The True Power of Soul and Praying

kristal-air.jpgSudah membaca buku The True Power of Water-nya Masaru Emoto? Buku ini merupakan lanjutan dari Buku Emoto sebelumnya, The Hidden Messages in Water, yang mengungkapkan bahwa air bisa dipengaruhi oleh pikiran, kata-kata, dan perasaan kita. Pada The True Power of Water, Emoto menjelaskan lebih lanjut mengenai kemampuan air dalam penyembuhan penyakit (karena sebagian besar komponen manusia adalah air), kemampuan doa dalam pemurnian air, yang dilengkapi dengan foto-foto hasil percobaan pengaruh kata-kata, tulisan dan musik terhadap molekul air. Menurut saya buku ini memang tidak disajikan secara ilmiah. Buku ini lebih terkesan menceritakan pengalaman Emoto dalam melakukan penelitian airnya. Tapi justru disinilah letak hikmahnya : Emoto telah mengajarkan keuletan dalam meneliti sesuatu meski di luar bidangnya (ia berlatar belakang ilmu sosial).

Sayangnya buku ini kurang menjelaskan mekanisme perubahan molekul air akibat pengaruh kata-kata, perasaaan, pikiran yang ditujukan kepada air.

Mekanisme air mampu mendengar mungkin bisa dihubungkan dengan teori fenomena gelombang. Tapi teori ini kurang kuat untuk menjawab pertanyaan: bagaimana jika kita berbicara “lain di bibir lain di hati”? Apakah air tetap merespon ucapan kita apa adanya? Lebih sulit lagi untuk memahami mekanisme air bisa membaca. Bisa saja dihubungkan dengan teori optik (cahaya), tapi menjadi tidak masuk akal bagi air untuk bisa membedakan tulisan jepang, latin atau arab, atau tulisan baru sekalipun, karena air seperti sangat cerdas dan adaptif. Jadi pasti ada satu bahasa universal yang mampu didengar atau dibaca oleh air!

Saya berfikir, teori fisika tersebut kurang mampu menganalisis mekanisme air mendengar dan membaca. Saya mencoba menggunakan teori interaksi ruh – semesta sebagai alat bantu. Manusia sebagai khalifah Pencipta di bumi, yang bertugas memakmurkan semesta, dilengkapi dengan komponen ruh. Ruh ini berasal dari tuhan dan akan kembali kepada tuhan. Gabungan antara jasad dan ruh ini membentuk apa yang dinamakan nafs (jiwa). Nafs ini memiliki potensi untuk taat atau tidak taat. Taat ini ada dua jenis. Pada taat Rubbubiyah, nafs taat pada pengaturan semesta (hukum alam) yang dibuat oleh Pencipta dan Pengatur (Rabb).  Pada taat uluhiyah, nafs taat pada Sang Pencipta, sebagai satu-satunya dzat yang layak disembah (ilah). Jadi bisa saja manusia itu taat terhadap pengaturan semesta, tapi ia tidak tunduk kepada Sang Pencipta atau taat secara dua-duanya.

Nah, semesta ini  diciptakan dengan fitrah “taat” selamanya kepada Sang Pencipta. Oleh karena itu ia akan selalu memberikan respon yang baik kepada nafs-nafs yang “taat”, baik taat rububiyah atau uluhiyah. Tapi tingkat responnya akan lebih besar pada nafs yang taat sekaligus secara rububiyah dan uluhiyah. Tentu saja pengaruh terhadap semesta yang paling besar adalah  tindakan Tuhan. Dengan doa sebagai salah satu bentuk komunikasi ruhiyah manusia dengan Tuhan, semesta akan memberikan respon yang terbaik kepada orang yang berdoa sebagai bentuk ketaatan semesta kepada Tuhan yang Maha Kuasa.

Kembali pada pertanyaan : Bagaimana air bisa membaca tulisan jepang, tulisan latin atau arab? Air tidak bisa membacanya! Jadi tulisan di wadah air itu tidak bisa mempengaruhi molekul air, tapi yang mempengaruhi adalah kekuatan jiwa manusia yang menempelkan tulisan tersebut atau akibat “campur tangan” Tuhan atas pengaruh doa yang diucapkan.

Jika kekuatan jiwa dan doa bisa mempengaruhi molekul air, ia juga mampu mempengaruhi hidangan yang kita makan. Oleh karena itu, bagi ibu-ibu, jangan sepelekan dalam menyediakan hidangan bagi keluarga. Masakan yang dimasak dengan cinta, dengan kekuatan jiwa dan doa akan berbeda dengan masakan yang dimasak dengan “tanpa perasaan.”

Lebih jauh lagi pengaruh kekuatan jiwa dan doa tidak hanya mempengaruhi molekul air dan  makanan dan benda-benda mati atau makhluk tanpa ruh, akan tetapi ia juga mampu mempengaruhi manusia lainnya melalui mekanisme komunikasi ruhiyah yang cenderung bersifat homogen, artinya ia cenderung berkumpul / berinteraksi dengan ruh yang sejenis dalam ketaatan.

Berdasarkan analisis di atas, judul buku Emoto seharusnya bukan The True Power of Water tapi The True Power of Soul & Praying.

One Response to The True Power of Soul and Praying

  1. mas wiwid says:

    alangkah lebih bijaksana dan cerdas mengadakan penelitian sendiri dari pada mengomentari tulisan/penelitian orang lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: