Dikotomi IPA – IPS

social-asocial.jpg

Ini akibat dari sisa kebudayaan dikotomi Ilmu sosial (social science) dan ilmu alam (natural science). Beberapa orang masih menganggap bahwa ilmu sosial itu lebih rendah dari ilmu alam. Anak di bidang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sering dianggap lebih bodoh dari anak di  bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Kenyataannya anak lulusan IPA di  kemudian hari menjadi natural scientist atau engineer yang kebanyakan bekerja di bawah kendali manager atau direktur yang lulusan IPS. Itu masih di lingkup bisnis dan industri. Kalau kita mau melihat dengan scope yang lebih luas ternyata dunia industri itu diatur oleh orang-orang politik, yang sekali lagi ia jebolan IPS. Di sinilah kemudian orang IPA tersadar, bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan derajat antara ilmu sosial dan ilmu alam, keduanya adalah sama-sama ilmu, yang sama-sama berguna bagi kesejahteraan manusia. Mereka juga tersadar bahwa  di dunia nyata mereka tak hanya bisa bertahan dengan ilmu alam dan teknik yang dibanggakannya,  mereka membutuhkan ilmu sosial!

Kemudian muncullah trend yang berkembang dalam beberapa dekade ini: sarjana dengan latar belakang ilmu alam atau teknik banyak yang melanjutkan jenjang pendidikan program Master of Business Administration (MBA)  atau  dalam versi Indonesia Magister Manajemen (MM). MBA atau MM  sebagai jenjang pendidikan profesi memang cukup memberikan bekal ilmu manajemen secara komprehensif dan relatif cepat kepada para lulusan ilmu alam atau teknik. Di MBA atau MM mereka bisa belajar semua function management: Finance, Human Resource, Operation, dan Marketing  dengan pendalaman di bidang manajemen fungsi yang diminati.

Memang, ilmu manajemen itu bisa dipelajari secara otodidak, melalui buku dan web site. Tapi dengan mengikuti program MBA/MM, pembelajaran menjadi lebih terstruktur dengan akselerasi yang tinggi. Pembelajaran terstruktur ini banyak membantu lulusan IPA, khususnya dalam memahami bidang finance, yang sering menjadi momok bagi lulusan IPA.

Namun ada kekhawatiran saya yang semoga tidak benar bahwa di balik trend ini sebenarnya tersirat arogansi orang IPA: mereka tetap tak mau kalah dengan orang IPS. Tetap saja terdapat dikotomi IPA – IPS!

4 Responses to Dikotomi IPA – IPS

  1. dennyks says:

    sebenernya tiap orang memiliki kelebihan masing-masing di bidangnya dalam hal ini IPA dan IPS.jadi seharusnya orang IPA dan IPS saling bekerjasama untuk mencapai hasil yang terbaik bukannya malah saling bertengkar meyombongkan kelebihannya masing-masing

  2. Setuju banget Kang Denny. Saya nulis itu juga karena berawal dari keprihatinan banyaknya temen2 IPA yang menyombongkan IPA nya. Thanks for ur comment😀

  3. CANDRA says:

    stuj tuh… aqo sendiri skrg ada di jurusan ips.
    biasana sii, anak iiang masuk jur ipa di skulku, karn keinginan ortu, dan blum puna bayangan di masa depan. cuma sdikid iiang benr” krna bakadt dan menguasai ipa itu sndiri…
    klo aqo mah uwda puna rencana masa depan, aqo pengenna taun dpn komunikasi ui…
    doakeu iia.
    hhahags*

  4. Amien, semoga tujuanmu tercapai, Candra. Saya sangat seneng ketemu dengan orang-orang yang memiliki rencana masa depan yang jelas. Visi inilah yang memberikan kekuatan untuk bertahan dan terus berjalan menggapai tujuan. Memang Tuhan yang menentukan, tetapi ia mencintai manusia yang berikhtiar. Selamat berjuang Candra…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: