Fenomena Aliran Sesat dan Refleksi bagi Umat

la.jpgIndonesia betul-betul negeri subur, bukan hanya tongkat dan batu bisa tumbuh jadi tanaman, tapi aliran sesat apa pun bisa tumbuh di negeri ini. Belum lama ini kita dikejutkan dengan di-expose-nya Aliran Al Qiyadah dan Al Qur’an Suci oleh media massa. Ini menambah daftar aliran sesat yang tumbuh di Indonesia, diantaranya NII KW IX, LDII, Inkar Sunah, Ahmadiyah, Isa Bugis, Lembaga Kerasulan dan Salamullah-nya Lia Aminuddin.

Kita tidak bisa menyalahkan penganut aliran sesat sepenuhnya. Justru semua itu harus menjadi bahan introspeksi umat Islam, bahwa sebenarnya kita juga turut andil dalam tumbuhnya aliran sesat tersebut. Hemat penulis ada empat andil utama umat Islam terhadap tumbuhnya aliran sesat di Indonesia, yakni:

1. Belum mampu menyebarkan informasi Islam yang benar dan lengkap ke semua komponen masyarakat

Aliran sesat yang memiliki banyak pengikut sebenarnya memberi indikasi bahwa masyarakat kita memiliki semangat spiritual yang tinggi. Sayangnya besarnya semangat ini tidak cukup diimbangai dengan ketersediaan informasi ajaran Islam yang benar. Semangat yang besar tanpa informasi benar yang memadai justru membahayakan, karena masyarakat awam kemudian mencari informasi seadanya. Kebetulan aliran sesat mampu menjangkau mereka sebab masyarakat awam adalah target utama yang paling mudah dicekoki aliran sesat.

Atau jangan-jangan kita mendakwahkan Islam sebagai sesuatu yang justru menyulitkan umat sehingga masyarakat awam lebih dahulu takut untuk mendalami Islam. Padahal ajaran Islam sesungguhnya mudah. Memang ibadah ritual umat islam lebih detil daripada agama lain, akan tetapi semua ibadah itu meiliki hikmah dan manfaat bagi yang melaksanakannya. Pemahaman tentang hikmah dan manfaat inilah yang masih kurang diperoleh umat, mereka lebih sering memperoleh aturannya saja dalam kajian fiqh.

Sinyalemen bahwa penganut aliran sesat tertarik akibat kemudahan dalam aliran yang dilakoninya bisa dilihat pada kasus Al Qiyadah, mereka lebih memilih qiyamul lail saja daripada melaksanakan sholat 5 waktu. Dalam kasus NII KW IX, terdapat ajaran shalat bisa dirapel atas dasar pemahaman yang salah akan kondisi perang, jadi dari mulai shalat zuhur sampai dengan shalat subuh dilakukan dalam satu waktu, masing-masing hanya satu rakaat. Mengenai puasa, mereka membolehkan makan sahur meski sudah terbit matahari dan membolehkan berbuka pada jam 5 sore dengan dalih pemahaman yang salah akan hadist.

Nah, inilah andil pertama kesalahan umat Islam : Kita belum mampu menyebarkan ajaran Islam yang benar dan lengkap ke semua komponen masyarakat. Kita harus mengakui da’wah yang dilakukan oleh Wali Sanga belum selesai. Indonesia sangat luas, masyarakat kita sangat majemuk, sehingga diperlukan kerja dakwah terpadu dari semua pihak yang memiliki “kemampuan”: ulama dengan ilmunya, umara (pemimpin) dengan kebijakannya, pengusaha dengan sokongan dananya, pokoknya semua komponen umat.

2. Belum bisa memberikan teladan kepada masyarakat

Harus diakui umat Islam di Indonesia sangat merindukan teladan. Kita melihat para pemimpin kita, pengusaha dan tokoh-tokoh kita yang nota bene beragama Islam belum bisa memberikan teladan aplikasi agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat melihat justru tokoh-tokoh tersebut mencontohkan korupsi, kecurangan, kebohongan dan kemaksiatan.

Ini bukan berarti kita tidak memiliki tokoh teladan, akan tetapi tokoh-tokoh teladan yang ada kebanyakan masih memiliki lingkup yang sempit, dalam arti medan kesalihan yang dipancarkan tidak terlalu luas baik secara geografis maupun cakupan bidang kehidupan.

Keringnya teladan bisa membuat masyarakat awam mencari jalan alternatif. Setidaknya mereka menaruh sedikit harapan pada “aliran” yang menghampiri mereka yang tanpa mereka pahami bahwa itu sesat dan menyesatkan.

3.Belum mampu menyumbangkan solusi praktis bagi permasalahan umat

Harus kita akui bahwa bangsa Indonesia masih memiliki dua persoalan besar, yakni kemiskinan dan kebodohan. Rasululah pernah bersabda bahwa kefakiran itu kadang mendekatkan kepada kekufuran. Kaya atau miskin sebenarnya akan selalu ada, karena itu semua adalah fitrah dan ketetapan dari Pencipta. Islam memberikan panduan bahwa dalam harta si kaya terdapat hak si miskin yang dituangkan dalam fasilitas : zakat, infaq, shadaqah dan waqaf. Intinya adalah harta tidak boleh terkumpul ditangan si kaya saja, akan tetapi didistribusikan untuk kesejahteraan semua lapisan masyarakat.

Sayangnya fasilitas pendistribusian harta umat di Indonesia belum optimal. Zakat yang bisa dikelola baru mencapai sekitar 0.018% dari potensi zakat yang ada (diolah dari data PIRAC). Jika umat Islam Indonesia bisa mengelola potensi zakat/shadaqah yang ada, tentu dua persoalan umat sedikit banyak bisa diatasi.

Nah, karena umat Islam belum mampu menyumbangkan solusi yang praktis, banyak masyarakat awam yang kemudian mencari solusi permasalahan mereka pada aliran atau “apapun” yang menjanjikan materi yang sangat mereka butuhkan. Ada issue bahwa beberapa pemeluk aliran sesat Al Qiyadah tertarik untuk bergabung karena iming-iming akan medapatkan sepeda motor. Kaitan aliran sesat dengan masalah materi bisa juga dilihat pada kasus NII KW IX. Mereka memahami makna fai’ dan ghanimah secara salah yang kemudian didoktrinkan kepada pengikutnya bahwa harta orang selain NII boleh dirampas dan dianggap halal. Doktrin ini membuat banyak anggotanya melakukan pencurian, perampokan atau penipuan namun mereka menganggapnya sebagai ibadah.

4. Belum mampu mengantisipasi secara dini rongrongan “pihak asing”

Sebagai bangsa kita juga harus mengakui bahwa kita belum kuat untuk melindungi saudara-saudara kita sendiri. Kita sering kecolongan makar-makar dari pihak-pihak yang membeci umat Islam dan bangsa Indonesia.

Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (IKADI), Prof. Dr. Achmad Satori Ismail, mengatakan MUI sudah melakukan survei atas aliran sesat. MUI menemukan informasi bahwa banyak pemimpin aliran sesat yang tidak paham agama Islam (sebelum menyebarkan aliran sesat mengaku beragama Islam) dan mengakui mendapat bayaran dari pihak asing. Skenario tersebut dirancang untuk merusak NKRI (ANTARA News).

Nah, inilah tugas kita satu lagi, terutama pemerintah untuk sekuat tenaga melindungi bangsa, umat dan negara dari rongrongan pihak asing yang membenci islam dan tidak ingin melihat Indonesia maju.

4 Responses to Fenomena Aliran Sesat dan Refleksi bagi Umat

  1. I was searching for this kind of a blog for months now. Actually lost the hope of finding one, but here i am🙂 Thanks for the great articles! Looking forward for a little read after dinner🙂

  2. Agus Fitriandi says:

    “DF”, thanks for your appreciation. Waiting for your next visit and hope we can discuss more and share each other…

  3. Agus Fitriandi says:

    Pagi tadi saya merasa trenyuh menyaksikan berita perusakan rumah jamaah aliran sesat ahmadiyah di Kuningan. Saya memang tidak setuju dengan aliran sesat tersebut, tapi apa memang sudah tidak ada cara lain untuk mengingatkan mereka kembali kepada ajaran Islam yang benar. Seperti diskusi terbuka antar tokoh, saling tabayyun, berdalil, mengkoreksi pemahaman yang keliru, serta kesadaran menerima kebenaran. Apakah semua itu sudah dilakukan?

  4. aldi says:

    ko daftar nama-nama aliran sesatnya ga disebutin dengan lengkap? Kalo bisa sebutin daftar nama aliran2 sesat yang ada di indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: