Potensi Gasified Petroleum Condensate (GPC) Sebagai Bahan Bakar Alternatif

surface-facilities.jpgSecara umum terjadinya peningkatan kebutuhan energi mempunyai keterkaitan erat dengan perkembangan kegiatan ekonomi dan pertumbuhan jumlah penduduk. Jumlah penduduk yang semakin bertambah dan pertumbuhan ekonomi yang terus berlangsung mengakibatkan peningkatan kebutuhan energi di Indonesia sebagai suatu hal yang tak bisa dihindari.

Kenaikan harga energi secara global telah memaksa pemerintah untuk menaikan harga BBM untuk mengurangi beban subsidi yang ditanggungnya. Permasalahan ini ditambah dengan terjadinya penurunan produksi BBM nasional. Indonesia telah menjadi salah satu negara pengimpor minyak. Hal ini terlihat di akhir tahun 2005, Indonesia telah mengimpor sekitar 45 % kebutuhan BBM dalam negeri, dan bahkan sudah mengimpor LPG (Bakti, 2005).

Untuk menghadapi tantangan di bidang energi ini, secara umum ada tiga cara untuk me-manage penggunaan energi : Pertama, pengurangan permintaan terhadap energi. Hal ini bisa melalui kesadaran sendiri maupun melalui peraturan atau kebijakan pemerintah. Kedua, menggunakan metode, proses atau peralatan alternatif yang meningkatkan efisiensi pemakaian energi. Ketiga, substitusi suatu bahan bakar dengan sumber energi lainnya. Cara ini tidak mendorong penghematan energi, tetapi dapat menggeser permintaan terhadap suatu bahan bakar ke bahan bakar yang lain sehingga menghemat bahan bakar yang langka (Smith, 1981).

Masyarakat harus  mulai dikondisikan, diperkenalkan dan diajarkan menggunakan sumber energi lain yang baru untuk menggantikan bahan bakar minyak yang selama ini dikenal yaitu : bensin, solar dan minyak tanah melalui langkah-langkah yang realistis.

Saat ini pemerintah telah mencanangkan program konversi minyak tanah rumah tangga dengan LPG. Program ini memang cukup strategis untuk memangkas besarnya subsidi negara untuk BBM. Namun akan lebih strategis lagi apabila konversi minyak tanah ini tidak hanya dilakukan dengan LPG saja. Program konversi ini seolah-olah langsung menghapus program pemanfaatan briket batu bara yang belum lama juga disosialisasikan oleh pemerintah*.  Pemerintah sudah selayaknya mempertimbangkan penggunaan sumber energi (bahan bakar) dengan berbasis pada sumber daya alam yang kita miliki, salah satunya adalah batu bara yang sangat melimpah di Indonesia. Indonesia juga memiliki sumber energi bahan bakar yang belum dikembangkan secara optimal, yaitu kondensat.

GASIFIED PETROLEUM CONDENSAT (GPC)

Kegiatan pengeboran migas, tidak hanya menghasilkan minyak mentah (crude) tapi juga menghasilkan bahan-bahan lainnya, termasuk fraksi yang lebih ringan dari crude diantaranya kondensat. Kondensat selama ini dimanfaatkan sebagai campuran crude untuk keperluan pemompaan, sebagai solvent dan bahan petrokimia lainnya. Karena kualitas kondensat yang dihasilkan tiap sumur bervariasi, maka  tidak semua kondensat dapat dimanfaatkan secara komersial di pasar. Kondensat yang belum termanfaatkan tersebut biasanya dimanfaatkan untuk own usage sebagai bahan bakar kilang.

Dalam rangka diversifikasi energi dan meningkatkan nilai tambah kondensat sehingga lebih dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat luas, Pertamina telah melakukan penelitian dan pengembangan kondensat untuk bahan bakar alternatif dengan nama Gasified Petroleum Condensat (GPC).

Sesuai dengan namanya, GPC menggunakan bahan baku utama kondensat. Produksi GPC dilakukan dengan cara memompakan kondensat dari vessel ke tabung yang kemudian ditambah gas pendorong (propellant).

GPC ini memiliki keunggulan ekonomis dibandingkan dengan bahan bakar yang dikenal sekarang ini (LPG dan minyak tanah) yaitu harga yang relatif murah namun memiliki nilai kalor yang relatif tinggi.  Nilai kalor dari GPC sekitar 10.000 – 12000 cal/gram, hampir setara dengan LPG,  sedangkan nilai kalor kalor  dari kerosine sekitar 9900 – 11100 cal/gram (Bakti, 2005).

Secara teknis pemakaian GPC relatif mudah, seperti penggunaan LPG. Hanya saja untuk penyalaan awal pada kompor GPC rumah tangga masih memerlukan pemanasan awal (pre heating). Masalah ini diharapkan akan dapat dipecahkan seiring dengan perkembangan teknologi kompor GPC. Penggunaan GPC pada kompor jenis semawar (kompor pedagang) dan burner industri (jenis coil burner) lebih mudah, karena langsung bisa dinyalakan seperti halnya menggunakan bahan bakar minyak tanah sebelumnya.

POTENSI PASAR

GPC dapat dijadikan energi alternatif untuk rumah tangga maupun industri, karena teknologi yang dipakai sederhana dan mudah diaplikasikan. GPC diperkirakan mampu mengambil potensi pasar dari pengguna minyak tanah, LPG,  maupun potensi pasar baru mengingat harga GPC direncanakan diantara harga Minyak tanah maupun LPG.

POTENSI PENGHEMATAN DEVISA

Jika GPC dijadikan alternatif pengganti minyak tanah atau kerosine maka pemerintah bisa menghemat devisa negara. Seperti kita ketahui kebutuhan BBM dalam negeri tidak dapat dipenuhi oleh kilang-kilang Pertamina, sebagian harus diimpor. Jika kita mengimpor kerosine sebanyak 30MBPD dan selisih harga kerosine dan harga kondensat di pasar luar negeri saat ini sekitar US$10, maka akan dapat dihemat devisa sekitar 108 juta US$/tahun (Bakti, 2005).

Kondensat, sebagai hasil ikutan eksploitasi lapangan migas maupun produk sampingan kilang, cukup berlimpah di Indonesia. Produksi kondensat di Indonesia diperkirakan sekitar 130,000 – 140,000 BPD (diolah dari data DESDM, 2004). Potensi pasokan kondensat juga bisa diperoleh dari pemanfaatan lapangan-lapangan migas marginal yang banyak tersebar.

POTENSI KERJA SAMA

Pertamina sebagai pemilik teknologi pembuatan GPC dan bahan, dalam waktu dekat, belum berencana untuk memproduksi GPC karena pertimbangan investasi. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di wilayah penghasil kondensat bisa memanfaatkan peluang ini dengan menjadi mitra Pertamina dalam pengembangan GPC sebagai bahan bakar alternatif. Kerja sama ini diharapkan bisa mempercepat realisasi pengembangan GPC, sebagai langkah mendukung program konversi minyak tanah yang berbasiskan potensi energi setempat: kondensat.

*) Memang briket batu bara kurang cocok sebagai bahan bakar alternatif minyak tanah bagi segmen rumah tangga. Bagi rumah tangga miskin jelas batu bara menjadi mubazir. Batu bara akan efektif setelah dipanaskan cukup lama, padahal hanya untuk sekedar menggoreng ikan asin yang hanya beberapa menit. Untuk masyarakat menengah ke atas jelas batu bara tidak praktis. Ada kecenderungan bahwa semakin maju dan makmur masyarakat, mereka akan beralih dari bahan bakar padat ke gas. Intinya adalah kepraktisan. Jadi batu bara padat memang hanya cocok sebagai bahan bakar alternatif bagi segmen industri atau komersial.

Referensi:

Bakti, Edwin, Diversifikasi Produk BBM. Seminar Strategi Ketahanan Energi Jawa Barat Visi Tahun 2010. & Desember 2005. Bandung

Smith, Craig B.  (1981). Energy Management Principles Aplications Benefits Savings, New York, Pergamon Press

One Response to Potensi Gasified Petroleum Condensate (GPC) Sebagai Bahan Bakar Alternatif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: