Anomali Ekonomi Ramadan

pasar.jpgPada waktu bulan Ramadan, ketika umat islam tidak melakukan makan siang karena berpuasa, seharusnya secara logika akan terjadi penurunan permintaan (demand) terhadap bahan makanan. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya, permintaan di bulan Ramadan justru meningkat. Inilah yang disebut sebagai anomali ekonomi Ramadan. Lain halnya ketika menjelang akhir Ramadan, ketika umat islam menambah konsumsi sebagai salah satu bentuk perayaan dan keyukuran, sehingga peningkatan permintaan bisa dianggap wajar secara logika (meski Islam tidak mengajarkan berlebih-lebihan). Tapi yang lebih mengherankan adalah anomali ekonomi Ramadan selanjutnya. Dengan meningkatnya permintaan di bulan Ramadan dan menjelang akhir Ramadan, secara ilmu ekonomi, dengan kondisi supply yang dianggap tetap (kenyataannya kondisi supply malah lebih siap) seharusnya harga barang akan turun, tetapi yang terjadi justru sebaliknya, harga malah merangkak naik bahkan melejit.

Anomali pertama bisa dijelaskan sebagai berikut. Kenaikan demand ini lebih dikarenakan Ramadan dijadikan bulan untuk “mengada-adakan,” bahkan berlebih-lebihan. Contohnya seperti ini. Pada waktu bulan-bulan biasa, masyarakat kita terbiasa untuk tidak menyediakan kolak, es buah atau cendol atau penganan khas bulan puasa lainnya sebagai hidangan makan malam, akan tetapi di bulan Ramadan masyarakat kita berlomba-lomba untuk mengadakannya. Meski pada kenyataannya tidak semua hidangan yang disiapkan habis dilahap. Inilah yang menyebabkan anomali ekonomi Ramadan. Hal ini sangat jauh dengan yang diajarkan Rasulullah. Dari Anas bin Malik,”Rasulullah biasa berbuka dg beberapa buah ruthab (kurma yg masih basah), jika tidak ada maka dengan beberapa butir kurma kering (tamar), dan jika tidak ada maka beliau minum beberapa teguk air.” Hikmah dari hadist ini adalah bahwa Rasulullah berbuka dengan “apa  yang ada,” meski beliau mencontohkan untuk berbuka dengan sumber kalori cepat – kurma.

Buka puasa di masyarakat kita kadang menjadi ajang balas dendam, dengan mengkompensasikan makan siang ke dalam hidangan berbuka. Apabila demikian yang terjadi hikmah puasa menjadi kurang mengena. Puasa selain mengajarkan kesabaran, kedisiplinan, kejujuran dan ketaatan juga mengajarkan umat islam untuk berempati yang kemudian harus dinyatakan dalam amal nyata.

Dengan menahan dari makan dan minum, umat islam diajarkan untuk mampu merasakan kelaparan saudara-saudara di sekitar kita. Kemudian, anggaran yang seharusnya dibelanjakan untuk hidangan makan siang, disisihkan untuk kemudian disedekahkan kepada saudara-saudara yang kurang mampu, sehingga tidak hanya berhenti sampai pada empati tetapi pada tataran amal nyata.

Dengan cara seperti itulah seseorang mampu menjadi “lebih dermawan” dari pada waktu-waktu di luar Ramadan.  Diriwayatkan bahwa Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, akan tetapi beliau lebih dermawan lagi ketika bulan Ramadan. Memang untuk menjadi lebih dermawan daripada bulan-bulan lainnya, tidak cukup hanya dengan menyisihkan anggaran belanja di Bulan Ramadan, akan tetapi Rasulullah telah jauh-jauh hari mempersiapkan kondisi financial yang memungkinkan beliau untuk lebih dermawan di bulan Ramadan. Inilah yang disebut I’daad al maal (persiapan harta), selain persiapan lainnya yang perlu dilakukan: I’daad ar ruuh (persiapan ruhiyah), I’daad al jasad (persiapan jasad), I’daad al ‘uluum (persiapan ilmu).

Sedangkan untuk anomali kedua, yaitu naiknya harga seiring dengan naiknya permintaan bisa dijelaskan sebagai berikut. Seperti telah disinggung di atas, pada bulan Ramadan, karakter belanja masyarakat kita cenderung “mengada-adakan” dan berlebih-lebihan. Pola pembelian seperti ini menjadikan kurva permintaan terhadap harga menjadi bergeser (shifted). Sehingga naiknya permintaan tetap tidak bisa menurunkan harga, justru malah bisa membuatnya semakin naik.

Bergesernya kurva ini seringkali dimanfaatkan oleh pedagang yang ingin mencari untung sendiri dengan cara menaikkan harga semaunya. Toh masyarakat tidak akan mengurangi tingkat konsumsi, toh masyarakat sedang dalam keadaaan sabar yang tinggi, sebab ia sedang berpuasa, sebab kemarahan mereka akan merusak nilai puasa mereka. Sungguh ironis!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: