Puncak Kecerdasan

images21.jpgRasulullah pernah bersabda, “Orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat mati.” Sekilas orang yang mendengar hadist ini mungkin akan mengatakan bahwa hadist ini mengajarkan pesimisme, bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk mengabaikan kehidupan di dunia, bahwa Islam mengajak manusia untuk fokus hanya pada urusan akhirat saja.

Akan tetapi kalau kita mau menggali hadist ini lebih lanjut, makna hadist ini sangat dalam. Sesungguhnya ia tidak mengajarkan pesimisme, justru hadist ini mengajarkan nilai-nilai strategis bagi manusia. Setidaknya ada dua nilai penting yang terkandung dalam hadist ini, yaitu:

  1. Nilai optimalisasi. Mengingat mati akan membuat seseorang untuk mawas diri, mengoptimalkan potensi dan sumber daya yang ada, baik jiwa/raga, materi dan waktu bagi kebaikan dirinya juga bagi kebaikan manusia di sekitarnya. Bagaimana mungkin orang yang mengingat mati akan menyia-nyiakan sisa waktu yang dimilikinya? Tentunya ia akan berusaha memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya seefektif dan seefisien mungkin. Apalagi Rasululah juga memerintahkan  agar seorang muslim harus selalu lebih baik dari waktu ke waktu. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka ia merugi, dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka ia celaka. Islam mengajarkan bahwa sumber daya yang dimiliki manusia secara terbatas bisa dioptimalisasi menjadi tak terbatas, seperti apa yang dikatakan dalam hadist lainnya bahwa setelah kematian akan terputus segala amal manusia, kecuali tiga hal: sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang salih.
  2. Nilai visi yang jelas. Mengingat mati dalam hadist ini adalah mengingat pertemuan dengan Tuhan. Jadi orang yang paling banyak mengingat mati adalah orang yang selalu mengingat visi hidupnya. Bahwa ia akan menjumpai Tuhannya suatu saat. Oleh karena itu ia akan mempersembahkan yang terbaik, mempersembahkan sesuatu yang layak dibanggakan di hadapan Tuhannya. Prestasi yang dipersembahkan ke hadapan Tuhan tidak sebatas pada ibadah ritual saja, yang bersifat vertikal manusia-Tuhan, tapi juga prestasi kemanfaatan seseorang di atas bumi. Rasulullah mengajarkan konsep : khairunnasi anfa’uhum linnasi (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya).

Jadi ketika Rasululah mengatakan bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat mati, secara tidak langsung beliau mengatakan bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang paling mengoptimalkan sumber daya yang dimilikinya. Bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang paling mengingat visi hidupnya : Mempersembahkan yang terbaik ketika bertemu dengan Tuhan. Inilah kecerdasan puncak: Kecerdasan Ilahiah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: