Masih Adakah Nasionalisme?

merah-putih.jpgMenjelang peringatan hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan Indonesia yang ke-62, pertanyaan di atas cukup relevan untuk kita tanyakan kembali. Jujur saja, beberapa dari kita ada yang meragukan apakah bangsa Indonesia masih memiliki jiwa nasionalisme? Ketika banyak masyarakat Indonesia yang miskin, banyak para pemimpin yang tega membuat mereka semakin miskin dengan melakukan korupsi. Ketika beberapa anak negeri berusaha membuat produk buatan sendiri, banyak diantara kita yang terlanjur “under estimate” dan mengagung-agungkan produk luar negeri. Ketika generasi muda yang seharusnya mempersiapkan diri seoptimal mungkin sebagai pengganti generasi terdahulu, banyak di antara mereka yang cuek dan terjebak pada cara hidup “hura-hura”.

Nasionalisme dan Fenomena 17-an

Menjelang 17 Agustus, di mana-mana kita melihat masyarakat begitu antusias untuk memperingatinya. Bendera merah putih dan umbul-umbul berkibar di semua pelosok Indonesia. Masyarakat (seringnya dikoordinir oleh pemuda-pemudi) mengumpulkan sumbangan dengan sukarela untuk mendanai kegiatan peringatan. Perlombaan-perlombaan mulai banyak diselenggarakan : lomba gaple, karambol, catur, balap karung, sepak bola sarung, sendok kelereng, memasukkan paku ke botol dan tak lupa panjat pinang. O, iya korporat-korporat juga meramaikan peringatan ini di lingkungan kantornya dan beberapa di antaranya berlomba-lomba memamerkan iklan yang bernuansa merah putih di televisi. Tentunya yang paling sibuk mempersiapkan peringatan 17-an adalah pemerintah dengan segala jajarannya. Wow, betapa kompaknya Indonesia! Pemerintah, masyarakat dan korporat bersama-sama merayakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Apakah semua itu tidak cukup menjadi bukti bahwa nasionalisme masih ada?

Nasionalisme Masih Ada, Tapi… 

Hemat Penulis, memang nasionalisme itu masih ada di dalam dada bangsa Indonesia. Hanya saja ada dalam keadaan beragam seperti berikut ini:

  1. Nasionalisme berkadar rendah. Kita mengaku mencintai Indonesia, tetapi ketika tiba saatnya kita diperlukan bangsa dan negara, kita gentar. Kita mengaku mencintai Indonesia, tetapi kita lebih mencintai diri sendiri.

  2. Nasionalisme simbolis. Kita mengaku mencintai Indonesia, karena itu kita memasang bendera merah putih di halaman, kendaraan, kamar bahkan baju kita. Dengan melakukan seperti itu kita merasa sebagai manusia Indonesia paling nasionalis. Tapi pada tataran amal, kita tak pernah melakukan sesuatu yang berarti bagi Indonesia. Kita mencontek, kita bermalas-malasan, kita saling bertengkar, kita berkorupsi, kita merendahkan martabat Indonesia sendiri di hadapan dunia. Dan semua itu dilakukan dengan sadar.

  3. Nasionalisme tak terarah. Kita mencintai Indonesia, tapi tak tahu harus berbuat apa bagi Indonesia. Oleh karena itu kita menyelenggarakan lomba gaple semalam suntuk.

  4. Nasionalisme temporer. Nasionalisme jenis ini hanya muncul kadang-kadang saja. Bisa muncul hanya satu tahun sekali, ya di acara 17-an itu.

  5. Nasionalisme gimmick. Nasionalisme ini dipakai untuk tujuan marketing. Agar mendapat dukungan masyarakat, banayk partai yang mengkampanyekan lebih nasionalis dari partai lainnya. Agar bisa memperbesar market share, perusahaan-perusahaan melakukan iklan bernuansa merah putih.

  6. Nasionalisme tulen. Biasanya justru orang yang memiliki nasionalisme jenis ini tidak menggembar-gemborkan nasionalisme mereka. Bahkan seringkali mereka malah tidak menyadari, bahwa mereka memiliki nasionalisme itu. Uniknya nasionalisme ini justru seringkali dimiliki oleh orang-orang yang tidak terkenal dan sering kita abaikan. Seperti guru-guru di pedalaman yang mengabdikan diri mendidik anak-anak Indonesia meski dengan gaji dan fasilitas yang sangat terbatas. Penduduk-penduduk pedalaman yang dengan setia menjaga kelestarian alam, menjaga hutan dari kegundulan. Nelayan-nelayan yang dengan ikhlas menanam pohon bakau demi menjaga pantai dari abrasi. Petugas kebersihan yang dengan disiplin menyapu sampah dan menarik gerobaknya demi kota yang bersih dan manusiawi.

Jadi Anda termasuk warga negara dengan jenis nasionalisme mana? …

Apabila kita mau merenungi, pada dasarnya setiap kita seharusnya bisa memiliki nasionalisme tulen. Ketika kita berusaha seoptimal mungkin berkarya sesuai dengan posisi dan peran kita masing-masing. Sebagai penutup, saya tuliskan satu buah puisi sebagai renungan menjelang hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia tercinta.

Sore menjelang 17-an
Waktu buat merenungi arti sebuah kemerdekaan

Apa mungkin kemerdekaan itu cuma milik kanak-kanak?
Hingga kita mencoba mengulangnya lewat lomba balap karung atau bakiak
Sebab di situ kita merasa merdeka
Bebas dari himpitan masalah meski sementara

Lalu peringatan kemerdekaan menjadi perayaan hiburan belaka
Apa mungkin itulah tujuan dari merdeka?
Tertawa, gembira dan bahagia
Karena tangis tak boleh terjadi di atas tanah yang merdeka?

Ah, lantas apa arti dari semua perjuangan
Air mata, darah dan jiwa

62 tahun sudah
Dan mungkin kita masih belum dewasa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: