Apakah Orang Sunda Mengenal Lapar?

citarum12.jpgPernahkah Anda memperhatikan bahwa bahasa sunda tidak memiliki kosa kata untuk lapar? Atau pernahkah Anda memperhatikan mengapa masyarakat sunda mengatakan, “mau ke air”, untuk mengungkapkan mau ke kakus, sedangkan orang jawa mengatakan “mau ke belakang”?

Bahasa suatu masyarakat mencerminkan kebudayaan setempat. Bahasa berevolusi seiring evolusi budaya. Sedangkan budaya itu sendiri selain dipengaruhi oleh faktor internal, berupa kemampuan masyarakat itu sendiri, juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, yang bisa berupa kondisi alam (kondisi geografis, iklim dan cuaca) serta pengaruh kebudayaan eksternal sebagai akibat dari interaksi dengan masyarakat dari luar komunitas tersebut.

Penulis tertarik untuk mengulas bahasa jawa dan sunda secara amatir.  Penulis mengambil beberapa kosa kata atau ungkapan dari Jawa dan Sunda  untuk dibandingkan sebab  kemunculannya. Jawa yang dimaksud penulis di sini adalah suku yang sekarang mendiami Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur.

Apakah Orang Sunda Mengenal Lapar?

Bahasa jawa banyak memiliki kosa kata yang menunjukkan makna lapar, setidaknya ada 3 kosa kata yang umum digunakan, yakni : ngelih, kencot, luweh. Sedangkan bahasa sunda sama sekali tidak mengenal kosa kata asli untuk  “lapar”, yang ada hanya frasa padanan, yaitu “hayang dahar” dan  kata “lapar” yang merupakan kata serapan dari bahasa melayu. Mengapa bahasa sunda tidak mengenal kosa kata lapar?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, mari kita lihat kondisi tatar Sunda sebagai faktor eksternal yang mempengaruhi budaya dan bahasa. Dataran Sunda memiliki tanah yang subur. Selain itu juga mempunyai banyak aliran sungai yang menjamin suplai air sepanjang musim. Maka tidak mengherankan mengapa banyak nama-nama daerah di sunda yang berawalan “ci”, yang berasal dari kata “cai” atau air, seperti Cicadas, Cibodas, Cipanas, dsb. Dua kondisi ini mengakibatkan orang sunda tidak kesulitan bercocok tanam, berburu (mencari ikan), maupun beternak. Orang sunda betul-betul dimanja dengan ketersediaan pangan yang melimpah. Oleh karena itulah orang sunda (dahulu) tidak mengenal kosa kata lapar, sebab memang mereka tidak pernah merasakan lapar, dalam arti kesulitan mencari makanan. Tetapi ada satu alasan lagi mengapa orang sunda tidak mengenal kosa kata lapar. Orang Sunda relatif lebih “herbifora” dibanding orang jawa.  Mereka relatif  lebih menyukai dedaunan untuk dijadikan lalapan. Setidaknya lalapan sunda lebih banyak jenisnya dari lalapan jawa. Melimpahnya dedaunan di tatar Sunda, benar-benar mendukung orang sunda untuk tidak mengenal “lapar”.

Kondisi di atas jauh berbeda dengan kondisi di Jawa. Jawa tidak sesubur tatar sunda. Sungai di Jawa tidak sebanyak di tatar sunda. Banyak persawahan di Jawa yang merupakan lahan tadah hujan, yang menyebabkan musim kemarau menjadi sangat terasa, terutama sebagai penyebab kekurangan  pangan. Oleh karena itu, wajar saja masyarakat jawa sering merasakan kelaparan.

Sekarang kita beralih kepada kosa kata yang bermakna kenyang. Tentu saja bahasa sunda lebih banyak kosa kata bermakna kenyang dari pada bahasa jawa. Sunda memiliki kosa kata sebeuh, wareg, bentet, dan kata superlatif kamerekaan (terlalu kenyang), sedangkan Jawa hanya memilki wareg, tuwuk  dan kemlakaran (terlalu kenyang).

Ke Belakang atau ke Air?

Kondisi alam itu pula yang menyebabkan orang jawa berbeda dengan orang sunda dalam hal mengutarakan niat untuk ke kakus. Orang sunda mengatakan ” bade ka cai”, yang secara harfiah berarti mau ke air. Orang sunda memanfaatkan banyaknya sungai yang mengalir untuk minum, memasak, sekaligus untuk Mandi, Cuci, Kakus (MCK).  Celakanya budaya ini masih tersisa. Berdasarkan pengamatan penulis (yang sudah 6 tahun-an tinggal di Bandung), orang sunda suka sekali membuang sampah di sungai/kali/selokan.

Orang jawa mengatakan “bade teng wingking”, yang secara harfiah berarti mau ke belakang. Mungkin manusia modern tidak terlalu merasa aneh dengan istilah ke belakang sebagai bentuk eufimisme dari kakus. Karena memang secara estetis, kloset memang sangat cocok diletakan di bagian belakang rumah. Tetapi pada masa lampau, sebelum ditemukan kloset/kakus, orang jawa membuang hajat betul-betul di belakang rumahnya, yang seringnya berupa kebun bambu atau kebun pisang.

10 Responses to Apakah Orang Sunda Mengenal Lapar?

  1. infogue says:

    terimakasih, artikel anda bagus dan menarik, artikel anda:
    http://jawa.infogue.com/apakah_orang_sunda_mengenal_lapar_

    anda bisa terus promosikan artikel anda di http://www.infogue.com yang akan berguna untuk semua pembaca. Telah tersedia plugin/ widget vote & kirim berita dan beberapa pilihan widget lainnya yang ter-integrasi dengan sekali instalasi mudah bagi pengguna. Salam!

  2. nun1k04a says:

    kalo gak makan yaa pasti laper dong meskipun gak punya kosakata laper ……..

  3. Iya, cuma karena insiden lapar jarang terjadi mereka lupa menemukan ekspresi lisan lapar yang asli, mereka cuma mengatakan: “hayang dahar.”

  4. Om..ijin ngopi gambar sungai citarumnya ya.
    makasih.

  5. anna yulianita says:

    sunda juga ada bahasa yang lebig halus dibanding bade ka cai yaitu”bade kapengker” atau “bade kajamban”masing2 artinya mau ke belakang atau mau ke kamar mandi….itu yang saya tahu ya kang ^_^

  6. andisuwaidi says:

    hehehe… aku yang orang Bugis (sulsel) juga ikut senyum senyum… mikir.. ada ngg ya kata lapar dalam bahasa bugis.. ternyata ada… ‘malufu..’

  7. straightroad says:

    Hahahah thx infonya mas, emang enak klo jadi philolog bahasa tuh kadang2 lucu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: