Salah Satu dari Kita Berasal dari Samudera

August 5, 2009

Und Mas Andi email

*

Di muara ini kita bersatu

Memadukan perbedaan yang kita bawa sedari mula

Karna kita berasal dari gunung dan samudera

**

Perjalanan dari mata air tentu penuh liku

Sering mengalir tanpa tentu

Kadang penuh kadang kering

Kadang keruh kadang bening

***

Untuk itulah satu dari kita harus menjadi samudera

Yang menjernihkan dan mengendapkan segala keruh

Menjaga agar muara tak surut di musim kemarau

****

Dan ketika samudera mendapat badai

Muara adalah tempat mengadu

Membagi segala keluh

*****

Sehingga kebahagiaan selalu terjaga

Sebab muara ini pertemuan yang diridlai Pencipta

******

Bahkan setelah badai berlalu

Angkasa menjadi lebih indah terlihat

*******

Percayalah!


Menikahlah, Tuhan Akan Mengayakanmu*

June 2, 2009

The RingJujur, saya pernah merasa miskin ketika memikirkan rencana untuk menikah. Hampir-hampir perasaan itu menjadi alasan bagi saya untuk menunda-nunda pernikahan. Tapi saya bersyukur, banyak teman-teman saya yang mengingatkan. Salah satunya dengan mengutip satu ayat Al Quran,  ”Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan mengayakan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah maha luas (pemberian-Nya) lagi maha mengetahui.” (An Nuur: 32).

Hmm…Saya percaya atas janji Tuhan. Tapi dengan kondisi iman kita yang naik turun, kadang perlu waktu untuk memahaminya. Sekedar berbagi, saya coba tuliskan beberapa point bahan perenungan tentang hubungan antara menikah dan menjadi kaya.

Satu, menikah itu menyucikan. Dengan menikah maka hilanglah kebiasaan-kebiasaan kita yang buruk dan jelek yang sering kita lakukan sebelum menikah. Pada hal perbuatan-perbuatan buruk itu menutupi qalbu kita seperti noda yang menutupi kaca. Sebenarnya Tuhan telah menetapkan rezeki bagi kita, tapi karena qalbu kita tertutup, kita tak bisa melihat rezeki meski ia berada di sekitar kita. Dengan kebersihan qalbu, maka akan gamblanglah petunjuk Tuhan**, termasuk petunjuk dalam menjemput rezeki.

Dua, menikah itu menentramkan. Tuhan  memberi kenikmatan-kenikmatan yang hanya dapat dirasakan oleh mereka yang telah menikah. Bukan hanya relasi suami-istri saja, tetapi juga relasi orangtua-anak serta berbagai relasi lainnya yang hanya terbentuk melalui pernikahan. Dengan ketentraman ini, IQ, EQ dan SQ kita lebih optimal. Sehingga optimal pula ikhtiar dalam menjemput rezeki.

Tiga, menikah itu mengoptimalkan. Secara matematis bisa diterangkan seperti ini. Menikah itu adalah sarana resultansi positif rezeki sepasang manusia, tapi di sisi lain, menikah itu memungkinkan terjadinya irisan beban (expenses intersection), misalnya suami istri cukup tinggal di satu rumah. Itu semua membuat ekonomi yang efisien. Kehadiran anak-anak bukanlah beban baru, sebab setiap makhluk membawa rezekinya sendiri-sendiri. Tidak hanya potensi ekonomi yang akan lebih optimal, tetapi juga potensi lainnya seperti yang sudah disebut pada point 2.

Empat,  menikah itu mendewasakan. Parameter utama kedewasaan adalah bertanggung jawab.  Menikah itu menguatkan semangat bertanggung jawab. Adanya istri yang kemudian diikuti kehadiran anak-anak, akan menimbulkan perasaan yang amat kuat untuk melaksanakan secara sempurna tanggungjawab sebagai seorang suami dalam menafkahi istri dan keluarga. Semangat tanggung jawab inilah yang memberi kita kekuatan ekstra untuk menjemput rezeki.

Lima, menikah itu mengayakan jiwa. Keempat point di atas pada hakikatnya akan mengayakan jiwa. Rasulullah pernah mengatakan bahwa kaya bukanlah dengan banyaknya harta, tapi kekayaan sejati adalah karena kaya jiwanya. Oleh karena itu tidak lah mengherankan apabila Rasulullah juga mengatakan bahwa istri shalihah adalah harta simpanan yang tak akan pernah habis. Istri shalihah akan selalu mengalirkan kasih sayang, memberikan semangat  serta memperkaya jiwa kita  selama melintasi ujian kehidupan. Dan  itu tak akan ada habis-habisnya, karena istri shalihah akan menemani kita sampai akhirat kelak…

Untuk mendukung argumen di atas, saya akan menceritakan dua kasus empiris. Kasus Pertama. Saya punya teman, anak tukang becak. Sebelum menikah dia termasuk pemuda yang nakal. Malu menjadi anak tukang becak. Kerjaannya hanya ngelayap. Dia paling tidak suka melihat ayam-ayam peliharaan bapaknya, bahkan sering melempari ayam-ayam itu dengan batu. Setelah ia menikah dan bapaknya wafat, semangat bertanggung  jawab berkeluarga membuatnya mau berikhtiar menjemput rezeki dengan menjadi tukang becak, becak peninggalan sang Bapak. Untuk menambah penghasilan, bahkan ia malah beternak ayam di belakang rumahnya. Ekonomi keluarganya sekarang sudah cukup maju. Dia sering mengatakan, “inilah berkah pernikahan…”

Kasus ke-dua. Ada teman saya yang lain. Ia menikah muda. Selepas kuliah. Waktu itu ia hanya bekerja serabutan di rental computer. Pernah beberapa waktu setelah mereka menikah, saya datang ke kontrakan mereka. Mereka sedang makan sepiring nasi berdua hanya dengan garam karena keuangan yang terbatas. Tapi setelah beberapa bulan, rezeki Allah itu datang. Ia mendapat pekerjaan yang mapan. Bahkan usaha rentalnya semakin berkembang.

Jadi memang tak ada alasan menunda pernikahan karena kita merasa miskin. Yang penting adalah niat yang bersih dan kuat untuk melaksanakan perintah Allah. Niat ini kemudian diikuti dengan semangat bertanggungjawab sebagai seorang suami dalam menafkahi keluarga. Selanjutnya kita tinggal menapaki hari-hari dengan menyempurnakan ikhtiar dan mengkhusyukkan doa. Dan pada saatnya, kita akan menyaksikan bahwa tak ada yang diragukan dari janji Allah, ”jika mereka miskin Allah akan mengayakan mereka dengan karunianya. “

*) Teruntuk  seorang wanita shalihah yang bersedia menikah dengan lelaki miskin.

**) Ada yang menarik dalam rangkaian surat An Nuur. Surat ini dinamakan An Nuur, karena terdapat satu ayat yang menjelaskan Nuur (cahaya). Yakni perumpamaan tentang cahaya (petunjuk) Allah. Apabila diperhatikan, ayat yang menerangkan cahaya ini berada persis setelah rangkaian ayat-ayat yang menerangkan tentang kesucian keluarga melalui pernikahan. Jadi secara implisit Allah hendak menekankan betapa pentingnya pernikahan sebagai jalan memperoleh cahaya (petunjuk) Allah.


Satu Icon Simpang Dago Telah Tiada

February 27, 2009

aki-dkkBagi yang sering melewati jalan simpang Dago, pasti pernah melihat sosok ini. Seorang kakek-kakek kurus hitam, berpeci haji, menjajakan keripik singkong dari pagi sampai malam. Bisa dikatakan si Aki inilah icon Simpang Dago. Icon perjuangan hidup! Siapapun yang melihatnya akan malu. Beliau yang sudah sepuh begitu masih bersedia menyongsong rezeki tanpa meminta-minta.

Saya sering menjumpainya di Masjid dekat kantorku. Beliau memang tinggal di masjid itu. Tidur sambil membantu bersih-bersih. Beliau selalu shalat berjamaah. Apabila sedang berdagang dan tiba waktu shalat, ia selalu ke masjid itu. Dagangannya diletakkan begitu saja di teras masjid. Jadi kalau kadang saya membeli keripik dan beliau masih sibuk mengaji, saya tinggal ambil keripik dan menaruh uangnya di keranjang dagangan. Beliau sudah paham.

Kadang, beliau menahanku ketika buru-buru keluar setelah shalat. Mengajakku berdiskusi tentang masalah akhirat. Dan terus terang, beliau selalu bisa menasihatiku pada saat yang tepat! Sampai kadang-kadang aku berfikir apakah dia malaikat.

Saya pernah menanyakan tentang  keluarganya. Beliau menjelaskan bahwa keluarganya ada di Cirebon. Anak-anaknya sudah mandiri. Itu saja. Jadi saya berasumsi anak-anaknya sudah mandiri tapi dengan kemampuan ekonomi yang terbatas. Saya tidak terlalu hapal jadwal beliau pulang ke Cirebon, tapi sepertinya sebulan sekali. Seringnya hanya 5 hari di sana, kemudian kembali lagi berjualan di Bandung. Minggu ini sudah lebih dari 7 hari setelah pulang ke Cirebon, beliau belum balik lagi. Ternyata memang beliau tidak akan pernah kembali lagi. Setelah pihak masjid mengontak keluarga si Aki di Cirebon, baru terungkap, si Aki sudah wafat. Beliau dipanggil saat sedang tilawah surat yasin.

Jumat tadi, sebelum khatib naik mimbar. Pihak masjid memberitahukan berita wafatnya si Aki. Dan saya baru tahu, bahwa nama beliau adalah Mulyono. Selama ini kami selalu memanggilnya Aki saja. Ya Allah, sebagaimana indahnya nama dan perbuatannya,  muliakanlah ia di sisi-Mu…


Catatan Akhir Tahun

January 5, 2009

gaza-akhir-tahun1Akhirnya saya ngeblog lagi, setelah liburan akhir tahun kemarin berkeliling Jakarta – Semarang – Cilacap. Jadi pada posting-an awal tahun ini, saya laporkan perjalanan di empat kota, termasuk Bandung, sekaligus sebagai  catatan akhir tahun 2008.

Bandung

Liburan Natal dan tahun baru, membuat Bandung penuh dengan pengunjung dari luar kota.  Jalanan, terutama kawasan FO,  macet oleh kendaraan yang mayoritas berplat nomor B. Apa sih yang di cari mereka di Bandung? Wisata belanja? Ah, di zaman modern ini memang telah terjadi revolusi pariwisata. Saya juga sempat merasakan kemacetan itu saat pergi ke Rabbani untuk mencari hadiah mukena starberry buat Alya, keponakanku yang masih TK.

Menjelang perjalanan berkeliling, saya cukup dikejutkan dengan adanya berita serangan besar-besaran Israhell, eh Israel ke Gaza, Palestina. Ah, dunia akan menutup sejarah 2008 ini dengan catatan kelam!

Jakarta

Malam tahun baru hijriah, 28 Desember,  saya lalui di Tol Cipularang dalam perjalanan ke Jakarta: senyap di antara mobil yang berseliweran.  Di Jakarta, mumpung libur,  saya sempatkan diri  ke Monas.  Ini kunjungan ke-dua saya setelah kunjungan pertama 12 tahun yang lalu. Sayang, kali ini saya juga tidak bisa naik ke menara, antrian lift terlalu panjang karena musim liburan. Saya baru tersadar, ternyata lighting di ruangan diorama sejarah Indonesia sangat minim. Saya tidak paham apakah ini disengaja untuk menciptakan suasana khidmat, soalnya yang saya tangkap justru malah kesan suasana sejarah yang “suram”, “samar-samar”, dan kesan tidak PD menjadi bangsa Indonesia.

Ada yang menarik di ruang diorama, yakni di stand Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Pada buku tamu stand tersebut, pengunjung justru banyak menuliskan curhatan mereka: tentang pemimpin yang cuma janji dan merencanakan tanpa aksi, tentang gas dan air bersih yang langka, tentang kemacetan dan polusi di ibukota. Saya sarankan kepada para anggota DPR dan DPRD DKI Jakarta, sesekali masuklah ke Monas dan bacalah curhatan rakyat Indonesia!

Malam tahun baru masehi saya lalui di Harbor Tollroad, menemani sepupu-sepupu saya yang masih kecil menikmati kembang api . Jalan tol macet! Ada ironi yang terbetik:  saat masyarakat kita menghujani kota dengan  kembang api, penduduk Gaza dihujani  bom oleh tentara Israel. Indonesia telah mengutuk serangan tersebut dan meminta PBB bertindak. Tapi saya tidak paham benar sejauh apa efek dari reaksi Indonesia ini, yang saya takutkan reaksi tersebut hanya seperti  auman  harimau ompong  dan tak bercakar.  Ah, benar kata Rasulullah: yang ditakutkan adalah ketika umat islam banyak tapi hanya seperti buih di lautan.

Semarang

1 Januari saya berangkat ke Semarang. Tiba di Stasiun Tawang menjelang sore. Saudara kembarku, yang sedang menjadi resident spesialis anak, mengajakku berkeliling Semarang. Makan sore di Bandeng Juwana Pandanaran, shalat Maghrib di Masjid Baiturrahman – Simpang Lima dan shalat Isya di masjid Agung Semarang. Malam itu pengunjung Masjid Agung cukup banyak, sebagian besar warga luar kota yang sedang – istilah kerennya- berwisata rohani. Ini revolusi pariwisata juga! Di pelataran Masjid Agung kami berdiskusi  tentang keluarga, rencana ke depan dan masalah umat.

Siang harinya saya berkunjung ke sekretariat  Asy-Syifa RS Dr. Karyadi, bertemu dengan beberapa mahasiswa kedokteran dan dokter  teman saudara saya. Banyak di antara mereka yang salah menyapa, saya dikira dr. Agus. Khutbah  di Masjid Asy-Syifa masih berkaitan dengan serangan Israel ke Palestina, dengan tema bangsa  Yahudi menurut Al Quran.

Setelah makan siang di Bee’s, kami mampir ke Klenteng Sam Po Kong. Dahulu klenteng ini adalah masjid yang dibangun era Laksamana Cheng Ho (Zheng He/Sam Po Kong/Sam Po Tao Lang). Setelah dinasti Ming melemah dan menutup diri serta melarang orang-orang Tionghoa pergi dari daratan Tiongkok maka pengaruh dan pengikut Islam di kalangan orang-orang Tionghoa di pesisir utara Jawa menyurut. Masjid-masjid  Tionghoa banyak yang berubah fungsi menjadi klenteng, salah satunya adalah Klenteng Sam Po Kong ini. Saya jadi teringat kembali: umat islam banyak, tapi seperti buih…

Cilacap

Menjelang pergantian hari  ke-3 2009, saya sudah sampai di Kroya. Praktis saya tidak bebas bepergian karena disandera Alya. Menemaninya menggambar, nonton VCD dan tidur. Paginya kami pergi ke Pantai Widara Payung, salah satu lokasi wisata di pantai Selatan. Kami hanya bermain ombak sebentar karena Alya buru-buru mengajak ke kolam renang anak-anak. Tapi saya sempat mengamati buih-buih laut.  Saya jadi teringat kembali: umat Islam banyak, tapi seperti buih…

Apa Kabar Tahun Baru?

Tahun 2009 menurut kalender Cina adalah tahun Kerbau. Dan kebetulan efek krisis financial global diperkirakan masih berjalan  beberapa tahun ke depan yang menyebabkan perekonomian berjalan lamban seperti kerbau di kubangan lumpur. Jadi memang butuh kerja keras seperti kerbau yang sedang membajak sawah. Tapi kerja keras saja tak cukup, kita mesti bekerja dengan cerdas. Sebab krisis justru bisa menjadi promoter DNA sukses bagi entrepreneur/intrapreneur. Bersama kesulitan ada kemudahan. Tuhan mengatakannya sampai berulang.

Tahun baru 2009 juga kebetulan berimpitan dengan awal tahun baru 1430 hijriyah. Saatnya bagi umat Islam untuk me-refresh semangat hijrah: berusaha menuju kondisi yang lebih baik. Allah lebih mencintai muslim yang kuat, baik secara fisik, intelektual dan ekonomi. Dengan kekuatan itulah umat Islam lebih bisa mengaktualisasikan dirinya sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta. Tidak hanya menjadi seperti buih di lautan…


Dari Kambing Menuju Hakikat Kurban

December 9, 2008

smily-goatIdul Adha kemarin, saya turut mengorganisir titipan hewan kurban. Kebanyakan kambing, jadi saya kepikiran banyak hal tentang kambing. Bagaimana bahasa kambing? Apakah “mbeee” nya universal? Apakah kambing Sunda bisa berkomunikasi dengan kambing Jawa atau kambing Arab?

Saya juga jadi kepikiran tentang idiom yang menggunakan kata kambing. Kenapa ya orang-orang memilih “kambing hitam” bukan “kelinci hitam”?  Terus yang satu spesies, kenapa ya orang memilih idiom “adu domba” bukan “adu jangkrik” untuk makna memecah belah? Toh sama-sama mengadu satu bangsa.

Tapi pertanyaan-pertanyaan itu saya biarkan menggantung di pikiran prioritas belakang. Meskipun saya sudah memiliki banyak hipotesis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan usil di atas. Mending kita lebih serius mengingat makna kurban bagi kita.

Hidup ini pada hakikatnya ujian, agar Tuhan tahu siapa yang amalnya paling baik. Itu semua dibuktikan dengan tingkat pengorbanan manusia. Pada zaman sekarang, kita tetap bisa meneladani kisah Ibrahim yang diperintahkan Tuhan untuk menyembelih Ismail.  Baik meneladani melalui ibadah kurban yang bernilai religi-sosial-ekonomi, juga meneladani secara maknawi. Ismail zaman sekarang pada hakikatnya adalah sesuatu yang diidam-idamkan manusia, atribut-atribut duniawi yang sering dijadikan berhala oleh manusia,  bisa berupa kekayaan, jabatan dan sebagainya. Lantas apa maksud menyembelih atribut-atribut tersebut dan bagaimana caranya?

Menyembelih dalam konteks ini adalah memperlakukannya sesuai dengan perintah Tuhan. Jadi jika kita diuji dengan kekayaan, kelolalah kekayaan itu sesuai dengan perintah-Nya: berzakat dan menggunakannya untuk kemaslahatan bersama. Jika kita diuji dengan jabatan, gunakanlah jabatan itu untuk menegakkan keadilan, gunakanlah sebagai sarana amar ma’ruf nahy munkar.  Konsep menyembelih dalam konteks ini terkait erat dengan konsep zuhud. Zuhud bukan berarti berlari dari atribut-atribu duniawi tetapi ia meletakkan semua atribut itu hanya di tangan saja, tidak meletakkannya di dalam hati.

Dalam pelaksanaan pengurbanan, selalu terjadi peperangan batin: perang melawan godaan setan yang melancarkan serangan dari berbagai arah secara terus menerus. Seperti setan yang menggoda Ibrahim, kemudian menggoda Siti Hajar dan Ismail agar mengurungkan niat penyembelihan. Dan peperangan ini selalu ada sampai kiamat .

Di akhir tulisan saya tidak ingin membuat kesimpulan, tapi hanya mencoba memetik beberapa key word kehidupan ini dari kisah pengorbanan Ibrahim-Ismail, yakni: ujian, pengorbanan dan godaan. Itu saja. Silahkan menyusun paragraph kehidupan Anda dengan key words tersebut sesuka Anda. Tuhan Maha Tahu dan Maha Memperhitungkan…