Karena Kita Terlalu Banyak Mewarnai Malaysia Sejak Dahulu Kala

September 7, 2009

KLCCAkhirnya  saya tidak tahan juga untuk ikut berkomentar masalah berbagai  klaim budaya dari Malaysia. Banyak apologi yang bisa dipakai untuk tetap berbesar hati terhadap sikap Malaysia, di antaranya kuantitas seni dan budaya Malaysia yang lebih minim, kreativitas yang terbatas, sampai akar budaya yang berasal dari Nusantara.

Mengenai akar budaya Malaysia, sedikitnya ada tiga gelombang pembawa pengaruh budaya Malaysia oleh Nusantara, yakni:

1. Gelombang Prajurit Demak

Setelah kekalahan Demak dalam penyerangan Portugis di Malaka tahap II pada tahun 1521, banyak prajurit-prajurit Demak yang malu atau tidak bisa kembali lagi ke Jawa. Mereka menetap dan banyak berkumpul di area yang sekarang dikenal dengan nama Terengganu. Nama ini diambil dari nama sultan Pengganti Pati Unus, yakni saudara iparnya yang bernama Trenggana. Kisah ini bisa dibaca pada novel sejarah tulisan Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Arus Balik. Uniknya justru yang mengenalkan saya untuk membaca novel ini adalah orang Malaysia, Mr. Abd Rahman.

Sebelum penyerangan ini sebenarnya sudah ada beberapa masyarakat Jawa yang tinggal di sekitar Malaka. Konon nama Melayu, berasal dari kosa kata Jawa “mlayu”, yang berarti lari. Karena orang-orang jawa itu “lari” dari tanah Jawa. Kisah ini saya dapat dari teman saya lainnya di Malaysia, Mr. Saharuddin,  yang mengaku sebagai keturunan orang Tanah Melayu.

Gelombang prajurit  itu tentu memberi warna budaya Malaysia…

2. Gelombang Guru-Guru dari Indonesia

Pasca konfrontasi Indonesia-Malaysia 1965, banyak guru (cik gu) malaysia yang belajar di Indonesia yang kemudian mengembangkan pendidikan di Malaysia. Malaysia juga  banyak mengimport guru-guru dari Indonesia. Tak heran Melaysia pernah menyebut Indonesia sebagai Kakak Kandung, kakak yang member teladan. Bahkan sampai sekarang masih banyak guru-guru Malaysia yang belajar tentang pola pendidikan yang lebih dulu diterapkan di Indonesia. Contohnya studi banding tiap tahun guru-guru dari Sabah.

Gelombang guru-guru produk Indonesia itu tentu memberi warna budaya Malaysia juga…

3. Gelombang Tenaga Kerja Indonesia ke Malaysia

Pada  1980-an sampai pertengahan 1990-an, Malaysia mengalami pertumbuhan ekonomi yang berarti di bawah kepemimpinan perdana menteri ke-4, Dr. Mahathir Mohamad. Malaysia mengalami lompatan dari ekonomi berbasis pertanian ke ekonomi berbasis industri manufaktur (elektronika dan komputer). Lompatan ini menyebabkan pergeseran preferensi bidang kerja. Bidang pertanian/perkebunan menjadi kekurangan pekerja keras. Pada periode ini juga, bentang darat Malaysia berubah dengan tumbuhnya beraneka mega-projek infrastruktur.  Ini juga membutuhkan banyak pekerja keras. Dan Indonesia mensuplai kebutuhan itu dengan Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

Gelombang TKI itu tentu memberi  warna budaya Malaysia juga…

Dari tiga gelombang tersebut, tidaklah mengherankan apabila ada beberapa bagian masyarakat Malaysia yang kebingungan membedakan mana budaya asli Malaysia dan mana yang berasal  dari Nusantara. Karena kita terlalu banyak mewarnai mereka semenjak dahulu kala…


Pesan Implisit Slumdog Millionaire

March 7, 2009

jamal-malikSaya baru saja menonton Slumdog Millionaire. Film yang menarik! Saya jadi teringat kembali hakikat seni. Bahwa kesenian tetap bisa menampilkan keindahannya apapun objeknya. Kemelaratan kah. Kekumuhan kah. Wajar saja film ini menyabet penghargaan Oscar untuk 8 kategori, termasuk kategori gambar terbaik.

Namun dari alur cerita yang dibangun, saya menangkap adanya satu kejanggalan. Tapi setelah saya renungkan kembali, saya jadi memiliki pemikiran lain: jangan-jangan kejanggalan ini adalah sebuah pesan yang sengaja disampaikan oleh sutradara secara implisit. Kejanggalan itu adalah perubahan psikis yang drastis tokoh utamanya, Jamal Malik, saat ia kecil dan dewasa. Untuk lebih memahami detil perubahan psikis Jamal, sepertinya saya harus membaca novel sumbernya, Q & A, karya Vikas Swarup.

Awalnya, si kecil Jamal adalah anak yang sangat ceria dan ekspresif meski ia hidup di kawasan kumuh (slum). Salah satu buktinya adalah ketika dia begitu bersemangat untuk melakukan apa saja supaya bisa menemui bintang film pujaannya, Amitabh Bachchan. Sampai-sampai ia rela menceburkan diri ke dalam kakus di pinggir kali. Kondisi tersebut sangat berbeda dengan adegan-adegan Jamal menjelang remaja. Ia digambarkan sebagai sosok yang pendiam. Apalagi saat ia telah dewasa. Jamal tidak pernah sedikitpun digambarkan gembira, kecuali ketika bertemu kekasih sejatinya, Latika

Pesan implisitnya adalah bahwa peristiwa-peristiwa kelam bisa merubah kepribadian. Sepertinya Jamal memang mengalami trauma demikian. Ini bisa dipahami dengan banyaknya peristiwa yang sangat memukul psikisnya: Ibunya yang dibunuh ekstrimis agamis, kekasih kecilnya yang terenggut, juga kakaknya sendiri, si Salim, yang tega memperkosa kekasihnya, Latika. Dan semua memori itu terputar kembali saat Jamal menjawab satu demi satu pertanyaan di kuis Who Wants to be A Millionaire. Tahap-demi tahap hadiah uang yang ia raih tak sedikitpun merubah ekspresi wajahnya. Ia tidak bersorak. Ia tidak menampakkan kegembiraan. Bahkan ketika ia telah berhasil memenangkan 20 juta rupee (sekitar Rp. 4,6 milyar), ia hanya tersenyum dingin.

Ada satu hal yang menarik juga, film ini tidak menyuguhkan pesan moral secara hitam putih. Memang di dalamnya terdapat konflik Kejahatan vs Kebaikan. Tapi ada saat-saat di mana kejahatan itu diperuntukkan untuk kebaikan. Ini bisa dilihat saat Salim, membunuh seorang germo untuk menolong Jamal dan Latika. Atau tokoh jahat pun tidak selamanya jahat. Ia bisa memiliki sisi baik. Meski Salim pernah memperkosa Latika dan menjadi bodyguard seorang boss mafia yang menyimpan Latika, ia kemudian menolong Latika untuk melarikan diri, dan kemudian membunuh bossnya sendiri. Tapi pesan moralnya memang masih konsiten dengan nilai karma: Siapa menanam dia yang menuai. Akhir cerita bisa ditebak, Jamal yang lurus akhirnya bahagia. Menjadi milyuner. Hidup bersama dengan kekasih sejatinya. Ah, romantisme indiahe.

Saya juga jadi teringatkan masalah kemiskinan yang masih menghantui bumi ini. Memang benar, kadang kemiskinan bisa membuat persoalan begitu rumit. Sampai-sampai Nabi Muhammad mengingatkan: kemelaratan kadang mendekatkan kepada kekufuran. Dan ketika si miskin benar-benar menjadi kufur, si Kaya juga bisa ikut terbawa-bawa di akhirat nanti. Seberapa jauh ia telah berusaha menyantuni si fakir…


Bagaimana Mama Lauren dan Paranormal Meramal

January 7, 2009

mlSudah beberapa hari ini diskusi makan siang teman-teman kantor bertema ramalan 2009-nya Mama Lauren (ML). Di bidang politik, ML bilang akan terjadi pergolakan politik besar-besaran; Dua politisi kawakan tewas terbunuh akibat akumulasi persaingan. Di bidang ekonomi:  Banyak cobaan di sisi properti, pertambangan, perkebunan, penerbangan, perkapalan, dan perminyakan; Banyak perusahaan yang gulung tikar dan mem-PHK karyawannya; Investor di bisnis properti sebaiknya lebih bersabar; Bursa saham akan ditutup di beberapa negara termasuk Indonesia; Harga sandang dan pangan juga melonjak naik. Di bidang entertainment: Wabah kawin cerai masih tetap marak; Tapi ada dua pasangan yang sudah bercerai akan rujuk kembali; Indonesia juga akan kehilangan tujuh bintang terkenal, yakni empat laki-laki dan tiga perempuan. Dua laki-laki dan satu perempuan di antaranya meninggal karena narkoba, dan empat orang lainnya karena sakit. Tentang alam (bencana) di antaranya:  Curah hujan terbesar akan terjadi pada Desember 2008 hingga Januari 2009; Musim pancaroba akan terjadi pada April dan Mei serta Oktober-November; Gempa bumi juga terjadi di sejumlah wilayah yang akan memakan banyak korban jiwa dan materi; Akan terjadi gunung meletus; Bencana banjir di DKI Jakarta juga tak bisa dielakkan; Banjir dan tanah longsor akan terjadi di daerah Jawa Barat; Gempa dan tanah longsor juga masih mengintai Sumatera Barat, Tapanuli bagian barat, dan Aceh bagian Barat; Sedangkan air laut yang pasang akan mengalir menuju sungai-sungai di Kalimantan.

Menyikapi ramalan ML tersebut saya cuma bilang ke teman-teman: Tidak ada satu mahluk pun yang tahu pasti tentang masa depan. Hanya Tuhan yang tahu! Manusia hanya bisa memprediksi berdasarkan data historis berikut analisisnya. ML pun demikian juga. Saya berkeyakinan ML itu rajin mengikuti berita media massa serta membaca kolom analisis politik dan ekonomi di surat kabar. Tapi saya tidak yakin kalau ML berlangganan data release-nya lembaga survey, seperti Biro Pusat Statistik (BPS), AC Nielsen, CIC, dll. Lihat saja hasil prediksinya tentang 2009. Sebagian besar prediksi tersebut mah hanya ekstrak dari analisis trend kondisi politik, sosial dan ekonomi di Indonesia yang bisa kita tangkap juga apabila kita rajin membaca dan mengikuti berita.  Politik di 2009 pasti akan bergolak kan memang ada Pemilu. Industri properti dan manufaktur berorientasi ekspor memang lagi turun akibat krisis financial global yang berakibat pada banyaknya PHK. Trend harga minyak dan batu bara sejak pertengahan 2008 kemarin memang juga turun. Bursa saham 2008 kemarin juga sempat ditutup karena anjlok drastis. Harga sandang pangan naik ya karena memang inflasi yang cukup tinggi. Prediksi di entertainment tidak perlu saya komentari, itu semua bisa kita peroleh kalau rajin mengikuti infotainment.  Kalau masalah cuaca dan gempa bumi, kita juga bisa prepare dengan menyimak prediksi dari BMG.

Untuk membuat diferensiasi dengan analisis para pakar, ML merumuskan beberapa prediksi yang lebih detil dan dramatis. Untuk itu ML memakai bilangan yang definitif. Misal 2 pasangan artis akan rujuk kembali. Tapi kalau menyebut 2 politisi kawakan akan terbunuh, saya pikir ini lebih merupakan upaya dramatisisasi agar prediksinya terkesan magis.

Terus ada yang bertanya, bagaimana kalau ML atau paranormal mendapat bisikan dari roh halus atau jin. Saya bilang bisa saja paranormal itu mendapat bisikan dari jin usil/setan. Ingat jin usil/setan, bukan roh orang yang sudah meninggal. Tapi tetap saja jin usil juga tidak bisa mengetahui masa depan, mereka juga seperti kita hanya memprediksi berdasarkan data historis dan analisisnya. Jin/setan juga punya BPS. Mungkin mereka juga mengintip hasil survey nya lembaga survey manusia. Setan/jin usil memang berkepentingan menjerumuskan manusia agar mempercayai dukun/paranormal. Mereka melengkapi diri dengan data-data untuk mensuplai bisikan-bisikan ke paranormal yang “mendekati” akurat sehingga makin banyak manusia yang dijerumuskan. Dan kebetulan mereka punya advantage dari sifatnya yang bisa melihat manusia tapi tidak bisa dilihat manusia. Mereka melengkapi data-data survey dengan perilaku/gerak-gerik manusia yang mendukung ramalan.

Lain lagi kalau ramalan bintang bulanan (horoscope) di majalah, internet atau mobile (sms), itu mah hanya permainan kata-kata. Administrator hanya mengacak data base kalimat: kondisi dan saran. Misal hati-hati dengan kondisi kesehatan Anda. Anda akan mendapat rezeki tak terduga. Hubungan dengan pasangan renggang. Itu kan cuma kondisi-kondisi umum yang bisa berlaku kepada siapa saja secara acak. Kalau mau lebih canggih sebenarnya administrator bisa bermain dengan data statistik. Tapi tetap saja itu semua tidak bisa menggambarkan masa depan. Mau-maunya ya orang kirim sms ke REG XXXX untuk mendapatkan ramalan acak. Mau-maunya ya ada orang pindah kerja gara-gara ramalan tidak cocok kerja di air. Lebih bodoh lagi ramalan jodoh yang hanya melalui nama orang dan calon pasangannya.

Nah, dengan mengetahui pola paranormal/dukun bekerja seperti dipaparkan di atas, kita harus sadar daripada percaya kepada paranormal mending rajin mengikuti informasi dan menyimak analisis dari pakar di bidangnya. Secara agama, mendatangi dukun itu termasuk syirik karena menganggap ada yang lebih pintar dari Tuhan. Secara logika mendatangi dukun itu hal yang bodoh karena mereka sama-sama tidak tahu. Secara psikologi, mempercayai dukun itu termasuk sakit jiwa karena tak percaya potensi diri.


Catatan Akhir Tahun

January 5, 2009

gaza-akhir-tahun1Akhirnya saya ngeblog lagi, setelah liburan akhir tahun kemarin berkeliling Jakarta – Semarang – Cilacap. Jadi pada posting-an awal tahun ini, saya laporkan perjalanan di empat kota, termasuk Bandung, sekaligus sebagai  catatan akhir tahun 2008.

Bandung

Liburan Natal dan tahun baru, membuat Bandung penuh dengan pengunjung dari luar kota.  Jalanan, terutama kawasan FO,  macet oleh kendaraan yang mayoritas berplat nomor B. Apa sih yang di cari mereka di Bandung? Wisata belanja? Ah, di zaman modern ini memang telah terjadi revolusi pariwisata. Saya juga sempat merasakan kemacetan itu saat pergi ke Rabbani untuk mencari hadiah mukena starberry buat Alya, keponakanku yang masih TK.

Menjelang perjalanan berkeliling, saya cukup dikejutkan dengan adanya berita serangan besar-besaran Israhell, eh Israel ke Gaza, Palestina. Ah, dunia akan menutup sejarah 2008 ini dengan catatan kelam!

Jakarta

Malam tahun baru hijriah, 28 Desember,  saya lalui di Tol Cipularang dalam perjalanan ke Jakarta: senyap di antara mobil yang berseliweran.  Di Jakarta, mumpung libur,  saya sempatkan diri  ke Monas.  Ini kunjungan ke-dua saya setelah kunjungan pertama 12 tahun yang lalu. Sayang, kali ini saya juga tidak bisa naik ke menara, antrian lift terlalu panjang karena musim liburan. Saya baru tersadar, ternyata lighting di ruangan diorama sejarah Indonesia sangat minim. Saya tidak paham apakah ini disengaja untuk menciptakan suasana khidmat, soalnya yang saya tangkap justru malah kesan suasana sejarah yang “suram”, “samar-samar”, dan kesan tidak PD menjadi bangsa Indonesia.

Ada yang menarik di ruang diorama, yakni di stand Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Pada buku tamu stand tersebut, pengunjung justru banyak menuliskan curhatan mereka: tentang pemimpin yang cuma janji dan merencanakan tanpa aksi, tentang gas dan air bersih yang langka, tentang kemacetan dan polusi di ibukota. Saya sarankan kepada para anggota DPR dan DPRD DKI Jakarta, sesekali masuklah ke Monas dan bacalah curhatan rakyat Indonesia!

Malam tahun baru masehi saya lalui di Harbor Tollroad, menemani sepupu-sepupu saya yang masih kecil menikmati kembang api . Jalan tol macet! Ada ironi yang terbetik:  saat masyarakat kita menghujani kota dengan  kembang api, penduduk Gaza dihujani  bom oleh tentara Israel. Indonesia telah mengutuk serangan tersebut dan meminta PBB bertindak. Tapi saya tidak paham benar sejauh apa efek dari reaksi Indonesia ini, yang saya takutkan reaksi tersebut hanya seperti  auman  harimau ompong  dan tak bercakar.  Ah, benar kata Rasulullah: yang ditakutkan adalah ketika umat islam banyak tapi hanya seperti buih di lautan.

Semarang

1 Januari saya berangkat ke Semarang. Tiba di Stasiun Tawang menjelang sore. Saudara kembarku, yang sedang menjadi resident spesialis anak, mengajakku berkeliling Semarang. Makan sore di Bandeng Juwana Pandanaran, shalat Maghrib di Masjid Baiturrahman – Simpang Lima dan shalat Isya di masjid Agung Semarang. Malam itu pengunjung Masjid Agung cukup banyak, sebagian besar warga luar kota yang sedang – istilah kerennya- berwisata rohani. Ini revolusi pariwisata juga! Di pelataran Masjid Agung kami berdiskusi  tentang keluarga, rencana ke depan dan masalah umat.

Siang harinya saya berkunjung ke sekretariat  Asy-Syifa RS Dr. Karyadi, bertemu dengan beberapa mahasiswa kedokteran dan dokter  teman saudara saya. Banyak di antara mereka yang salah menyapa, saya dikira dr. Agus. Khutbah  di Masjid Asy-Syifa masih berkaitan dengan serangan Israel ke Palestina, dengan tema bangsa  Yahudi menurut Al Quran.

Setelah makan siang di Bee’s, kami mampir ke Klenteng Sam Po Kong. Dahulu klenteng ini adalah masjid yang dibangun era Laksamana Cheng Ho (Zheng He/Sam Po Kong/Sam Po Tao Lang). Setelah dinasti Ming melemah dan menutup diri serta melarang orang-orang Tionghoa pergi dari daratan Tiongkok maka pengaruh dan pengikut Islam di kalangan orang-orang Tionghoa di pesisir utara Jawa menyurut. Masjid-masjid  Tionghoa banyak yang berubah fungsi menjadi klenteng, salah satunya adalah Klenteng Sam Po Kong ini. Saya jadi teringat kembali: umat islam banyak, tapi seperti buih…

Cilacap

Menjelang pergantian hari  ke-3 2009, saya sudah sampai di Kroya. Praktis saya tidak bebas bepergian karena disandera Alya. Menemaninya menggambar, nonton VCD dan tidur. Paginya kami pergi ke Pantai Widara Payung, salah satu lokasi wisata di pantai Selatan. Kami hanya bermain ombak sebentar karena Alya buru-buru mengajak ke kolam renang anak-anak. Tapi saya sempat mengamati buih-buih laut.  Saya jadi teringat kembali: umat Islam banyak, tapi seperti buih…

Apa Kabar Tahun Baru?

Tahun 2009 menurut kalender Cina adalah tahun Kerbau. Dan kebetulan efek krisis financial global diperkirakan masih berjalan  beberapa tahun ke depan yang menyebabkan perekonomian berjalan lamban seperti kerbau di kubangan lumpur. Jadi memang butuh kerja keras seperti kerbau yang sedang membajak sawah. Tapi kerja keras saja tak cukup, kita mesti bekerja dengan cerdas. Sebab krisis justru bisa menjadi promoter DNA sukses bagi entrepreneur/intrapreneur. Bersama kesulitan ada kemudahan. Tuhan mengatakannya sampai berulang.

Tahun baru 2009 juga kebetulan berimpitan dengan awal tahun baru 1430 hijriyah. Saatnya bagi umat Islam untuk me-refresh semangat hijrah: berusaha menuju kondisi yang lebih baik. Allah lebih mencintai muslim yang kuat, baik secara fisik, intelektual dan ekonomi. Dengan kekuatan itulah umat Islam lebih bisa mengaktualisasikan dirinya sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta. Tidak hanya menjadi seperti buih di lautan…


Persahabatan Nusantara – Cina

December 1, 2008

chinese-childrenMembaca tiga novel dari tetraloginya Andrea Hirata, menyisakan kesan yang dalam, khususnya tentang persahabatan Melayu – Cina yang terjalin  indah: A Kiong yang pada akhirnya menikah dengan Sahara dan kisah pencarian cinta sejati Ikal, A Ling. Ya, Njoo Xian Ling, Michael Yeoh-nya Ikal.

Persahabatan Nusantara-Cina memang sudah terjalin berabad-abad lamanya dengan segala pasang surutnya. Semula adalah hubungan perdagangan yang dilakukan sejak zaman Sriwijaya, Samudera Pasai dan Majapahit. Kemudian sebagian dari duta dagang tersebut ada yang kerasan tinggal di Nusantara. Konon kekuatan tentara laut Majapahit dibantu banyak oleh sisa-sisa tentara Mongol yang dihancurkan Raden Wijaya (sebagian besar berbangsa Han), yang tidak sudi kembali ke Cina karena menjadi bawahan tentara Mongol. Duta persahabatan yang paling legendaris adalah Admiral Cheng Ho yang mengunjungi nusantara pada abad 15. Keluarga Kesultanan Demak dan Cirebon banyak yang memiliki darah Cina.

Sayang, hubungan yang manis antara Nusantara dan orang cina merenggang pada zaman kolonial. Pemerintah kolonial memperlakukan etnis cina sebagai bangsa tersendiri demi keuntungan pihak kolonial. Hal ini mengakibatkan etnis cina terkucil. Pada zaman Orde Lama hubungan pribumi – cina membaik dengan adanya kebijakan poros Jakarta – Peking. Sayang lagi, Orde Baru yang berkuasa kemudian tak banyak membantu memperbaiki jalinan persahabatan ini, meski dengan membuat kebijakan asimilasi melalui perubahan nama yang berbau Indonesia. Tapi tetap saja, persahabatan itu universal, tak perlu menunggu kebijakan pemerintah untuk bisa menjalinnya.

Kembali lagi ke setting novel. Berdasarkan literatur yang saya telusuri, nenek moyang A Ling mungkin berimigrasi ke Belitong pada akhir abad 19. Mereka adalah orang-orang Hokian yang berasal dari Provinsi Fujian yang berimigrasi dengan tujuan mencari penghidupan yang layak menyusul ambruknya pertanian di akhir Dinasti Qing. Awalnya mereka bekerja di pertambangan timah milik kolonial yang kemudian beralih profesi ke bidang perniagaan dan perdagangan eceran. Sebagian ada yang bekerja di sektor perkebunan, seperti ayahnya A Kiong.

Mengikuti kisah tokoh A Kiong dan A Ling, saya menjadi teringat teman-teman tionghoa saya. Sewaktu bersekolah di SMA N 1 Purwokerto, saya punya banyak teman-teman cina peranakan. Ada satu orang yang sangat dekat dengan saya, Chandra, teman sebangkuku. Anak yang terobsesi dengan komik dan bola basket. Buku-buku catatannya selalu habis dengan coretan-coretan kartun dari halaman belakang. Ia betul-betul menjadi sahabat dekat. Meminjami buku, mengajari berenang juga mencarikan tempat duduk yang strategis setiap pagi. Tempat duduk di kelas waktu itu memang bebas, siapa cepat ia dapat. Perannya sangat berarti karena saya selalu datang hampir telat, dan semua teman sekelas sangat enggan apabila duduk di deretan bangku depan: soalnya harus menjadi good boy sepanjang hari, membosankan kan?

Untuk yang perempuan, ada Sherley, si chubby. Dengan bibirnya yang merah natural dan kulitnya yang putih, wajahnya nampak manis seperti kue lapis. Ada juga Meilawati, anak yang sangat rajin, yang sering mengajakku diskusi PR setiap pagi. Wajahnya mirip pemeran A Ling dalam film Laskar Pelangi. Tapi dari deskripsi novelnya, menurutku A Ling yang sesungguhnya lebih mirip temanku yang satu lagi, namanya Sherly juga, tapi bukan Sherley yang chubby tadi.

Yang lain ada Rudy, si jago matematika, Eddy “Jangsing” si gendut yang lincah bermain basket, Diana yang imut dan berultah pada 17 Agustus. Sedangkan teman-teman kuliah, ada Irene, si mungil yang jenius. Sekarang ia sudah menjadi doktor Applied Physics. Ada Ye Gun, yang memiliki kecepatan berfikir dan berbicara yang mengagumkan seperti automatic gun. Ada juga Yoanna, si out of the box thinker. Dan masih banyak lagi teman-teman keturunan tionghoa yang tidak  saya sebut.

Saya selalu menaruh respect kepada mereka semua. Tak peduli mereka peranakan cina. Menurut saya mereka adalah Indonesia tulen juga. Dan saya belajar banyak pada mereka: kesediaan untuk bekerja keras dan cinta mereka yang besar kepada keluarga.

Lama saya tidak bertemu dengan mereka. Ah, saya merindukan mereka semua…