Akhirnya saya tidak tahan juga untuk ikut berkomentar masalah berbagai klaim budaya dari Malaysia. Banyak apologi yang bisa dipakai untuk tetap berbesar hati terhadap sikap Malaysia, di antaranya kuantitas seni dan budaya Malaysia yang lebih minim, kreativitas yang terbatas, sampai akar budaya yang berasal dari Nusantara.
Mengenai akar budaya Malaysia, sedikitnya ada tiga gelombang pembawa pengaruh budaya Malaysia oleh Nusantara, yakni:
1. Gelombang Prajurit Demak
Setelah kekalahan Demak dalam penyerangan Portugis di Malaka tahap II pada tahun 1521, banyak prajurit-prajurit Demak yang malu atau tidak bisa kembali lagi ke Jawa. Mereka menetap dan banyak berkumpul di area yang sekarang dikenal dengan nama Terengganu. Nama ini diambil dari nama sultan Pengganti Pati Unus, yakni saudara iparnya yang bernama Trenggana. Kisah ini bisa dibaca pada novel sejarah tulisan Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Arus Balik. Uniknya justru yang mengenalkan saya untuk membaca novel ini adalah orang Malaysia, Mr. Abd Rahman.
Sebelum penyerangan ini sebenarnya sudah ada beberapa masyarakat Jawa yang tinggal di sekitar Malaka. Konon nama Melayu, berasal dari kosa kata Jawa “mlayu”, yang berarti lari. Karena orang-orang jawa itu “lari” dari tanah Jawa. Kisah ini saya dapat dari teman saya lainnya di Malaysia, Mr. Saharuddin, yang mengaku sebagai keturunan orang Tanah Melayu.
Gelombang prajurit itu tentu memberi warna budaya Malaysia…
2. Gelombang Guru-Guru dari Indonesia
Pasca konfrontasi Indonesia-Malaysia 1965, banyak guru (cik gu) malaysia yang belajar di Indonesia yang kemudian mengembangkan pendidikan di Malaysia. Malaysia juga banyak mengimport guru-guru dari Indonesia. Tak heran Melaysia pernah menyebut Indonesia sebagai Kakak Kandung, kakak yang member teladan. Bahkan sampai sekarang masih banyak guru-guru Malaysia yang belajar tentang pola pendidikan yang lebih dulu diterapkan di Indonesia. Contohnya studi banding tiap tahun guru-guru dari Sabah.
Gelombang guru-guru produk Indonesia itu tentu memberi warna budaya Malaysia juga…
3. Gelombang Tenaga Kerja Indonesia ke Malaysia
Pada 1980-an sampai pertengahan 1990-an, Malaysia mengalami pertumbuhan ekonomi yang berarti di bawah kepemimpinan perdana menteri ke-4, Dr. Mahathir Mohamad. Malaysia mengalami lompatan dari ekonomi berbasis pertanian ke ekonomi berbasis industri manufaktur (elektronika dan komputer). Lompatan ini menyebabkan pergeseran preferensi bidang kerja. Bidang pertanian/perkebunan menjadi kekurangan pekerja keras. Pada periode ini juga, bentang darat Malaysia berubah dengan tumbuhnya beraneka mega-projek infrastruktur. Ini juga membutuhkan banyak pekerja keras. Dan Indonesia mensuplai kebutuhan itu dengan Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
Gelombang TKI itu tentu memberi warna budaya Malaysia juga…
Dari tiga gelombang tersebut, tidaklah mengherankan apabila ada beberapa bagian masyarakat Malaysia yang kebingungan membedakan mana budaya asli Malaysia dan mana yang berasal dari Nusantara. Karena kita terlalu banyak mewarnai mereka semenjak dahulu kala…
Posted by Agus Fitriandi
Saya baru saja menonton
Posted by Agus Fitriandi
Sudah beberapa hari ini diskusi makan siang teman-teman kantor bertema ramalan 2009-nya Mama Lauren (ML). Di bidang politik, ML bilang akan terjadi pergolakan politik besar-besaran; Dua politisi kawakan tewas terbunuh akibat akumulasi persaingan. Di bidang ekonomi: Banyak cobaan di sisi properti, pertambangan, perkebunan, penerbangan, perkapalan, dan perminyakan; Banyak perusahaan yang gulung tikar dan mem-PHK karyawannya; Investor di bisnis properti sebaiknya lebih bersabar; Bursa saham akan ditutup di beberapa negara termasuk Indonesia; Harga sandang dan pangan juga melonjak naik. Di bidang entertainment: Wabah kawin cerai masih tetap marak; Tapi ada dua pasangan yang sudah bercerai akan rujuk kembali; Indonesia juga akan kehilangan tujuh bintang terkenal, yakni empat laki-laki dan tiga perempuan. Dua laki-laki dan satu perempuan di antaranya meninggal karena narkoba, dan empat orang lainnya karena sakit. Tentang alam (bencana) di antaranya: Curah hujan terbesar akan terjadi pada Desember 2008 hingga Januari 2009; Musim pancaroba akan terjadi pada April dan Mei serta Oktober-November; Gempa bumi juga terjadi di sejumlah wilayah yang akan memakan banyak korban jiwa dan materi; Akan terjadi gunung meletus; Bencana banjir di DKI Jakarta juga tak bisa dielakkan; Banjir dan tanah longsor akan terjadi di daerah Jawa Barat; Gempa dan tanah longsor juga masih mengintai Sumatera Barat, Tapanuli bagian barat, dan Aceh bagian Barat; Sedangkan air laut yang pasang akan mengalir menuju sungai-sungai di Kalimantan.
Posted by Agus Fitriandi
Akhirnya saya ngeblog lagi, setelah liburan akhir tahun kemarin berkeliling Jakarta – Semarang – Cilacap. Jadi pada posting-an awal tahun ini, saya laporkan perjalanan di empat kota, termasuk Bandung, sekaligus sebagai catatan akhir tahun 2008.
