The True Power of Soul and Praying

January 3, 2008

kristal-air.jpgSudah membaca buku The True Power of Water-nya Masaru Emoto? Buku ini merupakan lanjutan dari Buku Emoto sebelumnya, The Hidden Messages in Water, yang mengungkapkan bahwa air bisa dipengaruhi oleh pikiran, kata-kata, dan perasaan kita. Pada The True Power of Water, Emoto menjelaskan lebih lanjut mengenai kemampuan air dalam penyembuhan penyakit (karena sebagian besar komponen manusia adalah air), kemampuan doa dalam pemurnian air, yang dilengkapi dengan foto-foto hasil percobaan pengaruh kata-kata, tulisan dan musik terhadap molekul air. Menurut saya buku ini memang tidak disajikan secara ilmiah. Buku ini lebih terkesan menceritakan pengalaman Emoto dalam melakukan penelitian airnya. Tapi justru disinilah letak hikmahnya : Emoto telah mengajarkan keuletan dalam meneliti sesuatu meski di luar bidangnya (ia berlatar belakang ilmu sosial).

Sayangnya buku ini kurang menjelaskan mekanisme perubahan molekul air akibat pengaruh kata-kata, perasaaan, pikiran yang ditujukan kepada air.

Mekanisme air mampu mendengar mungkin bisa dihubungkan dengan teori fenomena gelombang. Tapi teori ini kurang kuat untuk menjawab pertanyaan: bagaimana jika kita berbicara ”lain di bibir lain di hati”? Apakah air tetap merespon ucapan kita apa adanya? Lebih sulit lagi untuk memahami mekanisme air bisa membaca. Bisa saja dihubungkan dengan teori optik (cahaya), tapi menjadi tidak masuk akal bagi air untuk bisa membedakan tulisan jepang, latin atau arab, atau tulisan baru sekalipun, karena air seperti sangat cerdas dan adaptif. Jadi pasti ada satu bahasa universal yang mampu didengar atau dibaca oleh air!

Saya berfikir, teori fisika tersebut kurang mampu menganalisis mekanisme air mendengar dan membaca. Saya mencoba menggunakan teori interaksi ruh – semesta sebagai alat bantu. Manusia sebagai khalifah Pencipta di bumi, yang bertugas memakmurkan semesta, dilengkapi dengan komponen ruh. Ruh ini berasal dari tuhan dan akan kembali kepada tuhan. Ruh ini memiliki potensi untuk taat atau tidak taat. Taat ini ada dua jenis. Pada taat Rubbubiyah, ruh taat pada pengaturan semesta (hukum alam) yang dibuat oleh Pencipta dan Pengatur (Rabb).  Pada taat uluhiyah, ruh taat pada Pencipta Ruh, sebagai satu-satunya dzat yang layak disembah (ilah). Jadi bisa saja manusia itu taat terhadap pengaturan semesta, tapi ia tidak tunduk kepada Pencipta Ruh atau taat secara dua-duanya.

Nah, semesta ini  diciptakan dengan fitrah “taat” selamanya kepada Sang Pencipta ruh. Oleh karena itu ia akan selalu memberikan respon yang baik kepada ruh-ruh yang “taat”, baik taat rububiyah atau uluhiyah. Tapi tingkat responnya akan lebih besar pada ruh yang taat sekaligus secara rububiyah dan uluhiyah. Tentu saja pengaruh terhadap semesta yang paling besar adalah  tindakan Tuhan. Dengan doa sebagai salah satu bentuk komunikasi ruhiyah manusia dengan Tuhan, semesta akan memberikan respon yang terbaik kepada orang yang berdoa sebagai bentuk ketaatan semesta kepada Tuhan yang Maha Kuasa.

Kembali pada pertanyaan : Bagaimana air bisa membaca tulisan jepang, tulisan latin atau arab? Air tidak bisa membacanya! Jadi tulisan di wadah air itu tidak bisa mempengaruhi molekul air, tapi yang mempengaruhi adalah kekuatan jiwa manusia yang menempelkan tulisan tersebut atau akibat “campur tangan” Tuhan atas pengaruh doa yang diucapkan.

Jika kekuatan jiwa dan doa bisa mempengaruhi molekul air, ia juga mampu mempengaruhi hidangan yang kita makan. Oleh karena itu, bagi ibu-ibu, jangan sepelekan dalam menyediakan hidangan bagi keluarga. Masakan yang dimasak dengan cinta, dengan kekuatan jiwa dan doa akan berbeda dengan masakan yang dimasak dengan “tanpa perasaan.”

Lebih jauh lagi pengaruh kekuatan jiwa dan doa tidak hanya mempengaruhi molekul air dan  makanan dan benda-benda mati atau makhluk tanpa ruh, akan tetapi ia juga mampu mempengaruhi manusia lainnya melalui mekanisme komunikasi ruhiyah yang cenderung bersifat homogen, artinya ia cenderung berkumpul / berinteraksi dengan ruh yang sejenis dalam ketaatan.

Berdasarkan analisis di atas, judul buku Emoto seharusnya bukan The True Power of Water tapi The True Power of Soul & Praying.


Karakteristik Bahan dan Aspek Lingkungan Refrigeran Hidrokarbon* – Menuju Indonesia Bebas ODS -

November 1, 2007

PENDAHULUAN

CFC (Chloro-Fluoro-Carbon) memegang peranan penting dalam sistem refrigerasi, sejak ditemukan pada tahun 1930. Hal ini dikarenakan CFC memiliki properti fisika dan termal yang baik sebagai refrigeran, stabil, tidak mudah terbakar, tidak beracun dan kompatibel terhadap sebagian besar bahan komponen dalam sistem refrigerasi. Akan tetapi setelah masyarakat mengetahui hipotesa bahwa CFC termasuk Ozone Depleting Substance (ODS), yaitu zat yang dapat menyebabkan kerusakan ozon, masyarakat mulai mencoba melakukan penghentian pemakaian ODS dan dituangkan ke dalam beberapa konvensi, seperti Vienna Convention  pada bulan Maret 1985, Montreal Protocol pada bulan September 1987 dan beberapa amandemen lainnya. Pemerintah Indonesia telah meratifikasinya melalui Keppres RI No. 23 tahun 1992.

R-134a sebagai salah satu alternatif memiliki beberapa properti yang baik, tidak beracun, tidak mudah terbakar dan relatif stabil. R-134a juga memiliki kelemahan di antaranya, tidak bisa dijadikan pengganti R-12 secara langsung tanpa melakukan modifikasi sistem refrigerasi (drop in subtitute), relatif mahal, dan masih memiliki potensi sebagai zat yang dapat menyebabkan efek pemanasan global karena memiliki Global Warming Potential (GWP) yang signifikan. Selain itu R-134a sangat bergantung kepada pelumas sintetik yang sering menyebabkan masalah dengan sifatnya yang higroskopis.

Alternatif lain yang ditawarkan adalah refrigeran hidrokarbon. Sebenarnya hidrokarbon sebagai refrigeran sudah dikenal masyarakat sejak 1920 di awal teknologi refrigerasi bersama fluida kerja natural lainnya seperti ammonia, dan karbon dioksida. Hidrokarbon yang sering dipakai sebagai refrigeran adalah propana (R-290), isobutana (R-600a), n-butana (R-600). Campuran yang sering digunakan di antaranya  R-290/600a, R-290/600 dan R-290/R-600/R-600a.

Hidrokarbon memiliki beberapa kelebihan seperti ramah lingkungan, yang ditunjukkan dengan nilai Ozon Depleting Potential (ODP) nol, dan GWP yang dapat diabaikan, properti termofisika dan karakteristik perpindahan kalor yang baik, kerapatan fasa uap yang rendah, dan kelarutan yang baik dengan pelumas mineral.

Pemakaian hidrokarbon dengan isu hemat energi dan ramah lingkungan  masih belum bisa diterima secara luas seperti pemakaian freon sebagai refrigeran. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran masyarakat akan sifat hidrokarbon yang bisa terbakar. Sifat ini sebenarnya tidak membahayakan jika digunakan sesuai prosedur yang benar. Untuk memahami bekerja dengan prosedur yang benar, mau tidak mau diperlukan pengetahuan tentang karakteristik hidrokarbon. Seperti pepatah mengatakan, “tak kenal maka tak sayang”, kita tidak akan mau menggunakan hidrokarbon jika tida mengenalnya. 

REFRIGERAN DAN ASPEK LINGKUNGAN 

Refrigeran kelompok halokarbon merupakan refrigeran sintetik karena tidak terdapat di alam secara langsung. Refrigeran ini mempunyai satu atau lebih atom dari golongan halogen; khlorin, fluorin dan bromin.Meskipun dari segi teknik refrigeran ini mempunyai sifat yang baik, seperti kestabilan yang tinggi, tidak mudah terbakar dan tidak beracun, refrigeran ini termasuk ODS. Jika gas CFC yang memiliki dua atom khlorin terlepas ke udara dan terkena sinar ultraviolet akan terurai. Atom khlorin (Cl) akan terlepas dan bereaksi dengan ozon (O3) mengambil satu atom oksigen dari ozon untuk membentuk khlorin monoksida dan oksigen. Khlorin monoksida akan bereaksi dengan atom oksigen lainnya membentuk molekul oksigen dan atom khlorin membentuk oksigen. Atom khlorin hanya beraksi sebagai katalis dalam reaksi. Oleh karena itu satu atom khlorin mampu terus menerus mengubah ozon menjadi oksigen melalui ribuan reaksi sejenis.  Proses perusakan ozon ini ditunjukkan pada Gambar 1 dan 2.

 1.png  

Gambar 1 Proses penguraian CFC [1]                                        

 2.png

Gambar 2 Pemecahan ozon [1]

Dengan menipisnya lapisan ozon, lapisan pelindung yang terletak pada ketinggian sekitar 15-50 km di atas permukaan bumi, radiasi ultraviolet dari matahari akan langsung  sampai ke bumi yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan dan gangguan keseimbangan ekosistem.  Ringkasan perbandingan dampak refrigeran terhadap lingkungan CFC-12, HCFC-22, HCFC-134a dan hidrokarbon ditunjukkan pada Tabel 1. Terlihat bahwa hidrokarbon adalah refrigeran yang ramah lingkungan, karena tidak merusak ozon (ODP nol) dan tidak menyebabkan pemanasan global (GWP diabaikan). 

Tabel 1 Perbandingan dampak terhadap lingkungan [2]

Refrigeran Formula Usia aktif (tahun) ODP GWP
CFC-12 CCl2F2 120 1.0 4000
HCFC-22 CHClF2 13.3 0.055 1700
HFC-134a CH2FCF3 14.6 0 1300
Hidrokarbon CnHm <1 0 -

Kebijakan Internasional dan Nasional Mengenai Dampak Lingkungan Refrigeran

Kesadaran masyarakat internasional akan pentingnya menjaga lapisan ozon dituangkan ke dalam berbagai konvensi, antara lain:

  • Vienna Convention , 22 Maret 1985, Austria, tentang perlindungan ozon.

  • Montreal Protocol, September 16, 1987, Canada. Zat yang termasuk ODS menurut Montreal Protocol antara lain: CFC (R-11, R-12, R-13, R-111, R-112, R-113, R-114, R-115), HCFC (R-22, R-123, R-124, R-141, R-142), Halon (Halon-1211, Halon-1302, Halon-2402), dan lainnya (Carbon Tetrachloride, Methyl Chloroform, Methyl bromide).

  • London Amendement, 27-29 Juni 1990, tentang jadwal penghapusan produksi ODS.

  • Copenhagen Amendement, 23-25 November 1992, Denmark, tentang penjadwalan penghapusan HCFC.

Perhatian pemerintah Inddonesia dituangkan ke dalam berbagai peraturan baik berupa keputusan presiden maupun keputusan menteri antara lain :

  • Kep. Pres No:23 Tahun 1992, meratifikasi Konvensi Wina, Montreal Protocol dan Amendemen London.  

  • Kep. Menperindag No: 110/MPP/Kep/1/1998, mengenai pelarangan memproduksi barang yang menggunakan ODS dan kewajiban barang baru menggunakan zat non ODS. Bahan ODS dan barang yang terbuat dari ODS hanya dapat diperdagangkan sampai 2005.

  • Kep. Menperindag No: 111/MPP/Kep/1/1998, mengenai pelarangan import ODS dan pembatasan import CFC-12 untuk keperluan purna jual sampai tahun 2003 sebanyak 700 ton melalui importir terdaftar.

  • Kep. Menperindag No: 410-411/MPP/Kep/9/1998

  • Kep. Menperindag No: 789-790/MPP/Kep/12/2002, mengenai perpanjangan izin import ODS oleh importir terdaftar sampai 31 Desember 2007.

KARAKTERISTIK TERMOFISIKA HIDROKARBON 

Pemilihan hidrokarbon sebagai refrigeran alternatif ramah lingkungan pengganti CFC dan HCFC harus memperhatikan beberapa hal diantaranya titik didih pada tekanan normal , kapasitas volumetrik dan efisiensi energi. Titik didih harus diperhatikan untuk menjamin apakah tekanan operasi sama dengan CFC untuk menghindari keperluan penggantian peralatan tekanan tinggi seperti kompresor.

Salah satu refrigeran hidrokarbon yang digunakan sebagai contoh dalam makalah ini adalah MUSICOOL, yang  diproduksi oleh Pertamina Unit pengolahan III Plaju. Sifat fisika refrigeran hidrokarbon MUSICOOL berdasarkan pengujian laboratorium Pertamina ditampilkan pada Tabel 2, yang menunjukkan bahwa hidrokarbon MUSICOOL (MC) mampu menggantikan refrigeran sintetik (CFC, HCFC, HFC) secara langsung tanpa penggantian komponen sistem refrigerasi. MC-12 menggantikan R-12, MC-22 menggantikan R-22 dan MC-134 menggantikan R-134a.  Sifat fisika dan termodinamik hidrokarbon MUSICOOL memberikan kinerja sistem refrigerasi yang lebih baik, keawetan umur kompresor, dan hemat energi. Beberapa parameter perbandingan kinerja MUSICOOL terhadap refrigeran sintetik pada system refrigerasi dengan beban  1 TR pada suhu kondensasi 100 oF dan suhu evaporator 40 oF. ditunjukkan pada Tabel 3. 

Tabel 2 Sifat Fisika  dan Thermodinamika

No Parameter R-12 MC-12 R-22 MC-22 R-134a MC-134
1. Normal boiling point, °C -29.75 -32,90 -40.80 -42,05 -26.07 -33,98
2. Temperatur kritis, °C 111,97 115,5 96 96,77 101,06 113,8
3. Tekanan Kritis,  psia 599,9 588,6 723,7 616,0 588,7 591,8
4. Panas jenis cairan jenuh pada 37,8° C, Kj /Kgk 1,026 2,701 1.325 2,909 1,486 2,717
5. Panas jenis uap jenuh pada 37,8 ° C, Kj/ Kgk 0.7493 2,003 0,9736 2,238 1,126 2,014
6. Tekanan cairan jenuh pada 37,8 °C, psia 131,7 134,4 210,7 188,3 138,9 139,4
7. Kerapatan cairan jenuh pada 37,8°C, ( kg/m³ ) 1263 503,5 1138 471,3 1156 500,6
8. Kerapatan uap jenuh pada 37,8°C  ( kg/m³ ) 51,46 17,12 62,46 28,53 47,05 17,76
9. Kerapatan uap jenuh pada NBP, kg/m³  6,29            1,642       4,705       2,412  5,259  1,642
10. Konduktivitas Termal cairan jenuh 37,8°C,w/mk 0,0628 0.0898 0.0778 0.0868 0.0756 0.0896
11. Konduktivitas Termal uap jenuh 37,8°C,w/m k 0.0112 0.0194 0.0128 0.0211 0.0195 0.01955
12. Viskositas cairan jenuh pada 37,8°C, uPa-s 166,5 103,6 143,1 84,58 102,5 101,6
13. Viskositas uap jenuh pada 37,8°C, uPa-s 12,37 7,997 13,39 9,263 8,064 8,044

 Tabel 3 Perbandingan kinerja MUSICOOL dengan refrigeran sintetik

  

No. Parameter R-12 MC-12 R-22 MC-22 R-134a MC-134
1 Rasio Tekanan Kompresi 3.1 3.1 3.0 2.8 3.4 3.1
2 Efek Refrigerasi, Kj/Kg 1.25 314 168 299 159 314
3 Aliran  gas, Cfm/Ton 8.21 3.28 6.12 3.44 6.49 3.28
4 Koefisien Performance, COP 3.35 3.39 3.20 3.26 3.31 3.38
5 Temperatur glide, K - 7,8 - 0.1 - 7.7

Pemakaian hidrokarbon lebih efisien dibandingkan dengan refrigeran sintetik, yang ini ditunjukan oleh COP (Coefficient of Performance) yang lebih besar. Hal ini disebabkan sbb:

  • Rasio tekanan (perbandingan tekanan dorong dengan tekanan hisap kompresor) yang lebih kecil dari rasio tekanan refrigeran sintetik. Karakteristik ini dapat dilihat pada Gambar 4 dan 5. Hal ini mengakibatkan kecilnya kerja kompresor yang diperlukan sehingga menghemat konsumsi energi, yang ditunjukkan dengan penurunan arus listrik 10-20%. Oleh karena itu arus listrik name plate tidak bisa dijadikan patokan ketika melakukan retrofit dengan hidrokarbon.

  • Kalor laten dan efek refrigerasi yang lebih besar dari refrigeran sintetik. Karakteristik ini mengakibatkan kapasitas pendinginan dan cooling rate yang lebih besar dari kapasitas pendinginan dan cooling rate dengan refrigeran sintetik. Perbandingan kalor laten dan efek refrigerasi antara freon dan hidrokarbon dapat dilihat pada Gambar 6 dengan 7 dan Gambar 8 dengan 9.

  • Kerapatan (density) hidrokarbon yang lebih kecil dari kerapatan refrigeran sintetik. Hal ini mengakibatkan jumlah pemakaian hidrokarbon lebih sedikit, sekitar 30% dari berat penggunaan refrigeran sintetik untuk volume yang sama.

  • Viskositas yang lebih kecil dari refrigeran sintetik. Hal ini mengakibatkan kecilnya rugi-rugi tekanan sepanjang sistem refrigerasi yang meringankan beban kompresor dan mengawetkan sistem refrigerasi.

  3.png            

Gambar 3 Grafik Tekanan vs Temperatur R-12 dan MC-12  

 4.png

Gambar 4 Grafik Tekanan vs Temperatur R-134 dan MC-134  

 5.png

Gambar 5 Grafik Tekanan vs Temperatur R-22 dan MC-12

 6.png

Gambar 6 Grafik Entalphi MC-12 

 7.png

Gambar 7 Grafik Entalphi MC-12    

 8.png

Gambar 8 Grafik Entalphi R-22   

 9.png

Gambar 9 Grafik Entalphi MC-22  

Sifat Zeotropik dan Azeotropik Hidrokarbon

Refrigeran hidrokarbon dapat berupa zat tunggal (misal MC-22 yang merupakan propana) atau campuran (misal MC-12 dan MC-134 yang merupakan campuran dari propana, isobutana dan n-butana).

Refrigeran hidrokarbon campuran bersifat zeotrop, berperilaku sangat berbeda dibanding dengan zat tunggal atau campuran azeotropik. Campuran ini tidak menguap dan mengembun pada suatu temperatur tetap, tetapi pada kisaran tertentu yang sering di sebut dengan glide. Refrigeran ini tepat berada pada titik didih (buble temperature) saat campuran tepat seluruhnya mencapai keadaan cair yaitu tepat pada akhir proses pengembunan. Refrigeran ini tepat berada pada titik embun (dew temperature) saat campuran tepat seluruhnya mencapai keadaan uap yaitu pada akhir proses penguapan. Temperatur glide ini dapat dilihat pada Gambar 10.

Efek temperatur glide ini akan berpengaruh besar pada proses di dalam evaporator dan kondensor. Temperatur penguapan meningkat dengan semakin lanjutnya proses penguapan berlangsung, sedangkan di dalam kondensor temperatur pengembunan menurun bersamaan dengan berlangsungnya proses pengembunan. Perubahan temperatur pada tekanan tetap ini merugikan efek perpindahan kalor pada evaporator dan kondenser. Oleh karena itu standard maksimal glide temperature yang diijinkan untuk refrigeran adalah 12 K [3].

Dengan dasar itulah maka proses retrofit menggunakan refrigeran hidrokarbon campuran (MC -12 dan MC-134) dilakukan pada fasa cair untuk menjaga komposisi campuran dan menjaga agar glide temperatur tidak berlebih. Retrofit MC-22 bisa dilakukan pada fasa cair dan gas, karena merupakan zat tunggal.

10.png 

Gambar 10 Efek glide pada sistem refrigerasi berrefrigeran zeotrop[4] 

Flammability Hidrokarbon

Hidrokarbon dapat terbakar bila berada di dalam daerah segitiga api yaitu tersedianya : hidrokarbon, udara dan sumber api. Jika salah satu dari ketiga faktor tersebut tidak terpenuhi maka proses kebakaran tidak akan tejadi. Hal ini mengakibatkan tidak akan terjadi kebakaran di dalam sistem refrigerasi karena tidak adanya udara (tekanan sistem refrigerasi lebih tinggi dari tekanan atmosfer).

Hidrrokarbon termasuk kelompok refrigeran A3, yaitu refrigeran tidak beracun yang mempunyai batas nyala bawah (Low Flammability Limit/LFL) kurang daaaari 3,5%. Hidrokarbon dapat terbakar jika berada di antara ambang batas nyala 2-10% volume. Bila konsentrasi hidrokarbon di udara kurang dari 2% maka tidak cukup hidrokarbon untuk terjadinya pembakaran, demikian juga bila konsentrasinya di atas 10% karena oksigen tidak cukup untuk terjadinya pembakaran. Secara praktis batas  nyala bawah sekitar 35 g/m3 bagi rata-rata refrigeran HC di udara [3].

Sifat  flammable hidrokarbon dapat diantisipasi dengan memperhatikan prosedur dan standard kerja, di antaranya Standard Nasional Indonesia (SNI), standard Inggris BS : 4434 tahun 1995 standard Jerman DIN 7003, standard Australia AS 1596-1989 dan AS 1677. 

MATERIAL KOMPATIBILITAS HIDROKARBON 

Berdasarkan hasil analisa pengujian secara laboratorium dan aplikasi dilapangan, refrigeran hidrokarbon tidak merusak material sistem refrigerasi.  Sifat hidrokarbon terhadap material diantaranya:

  • Tidak merusak semua jenis logam dan desikan  yang dipakai sistem refrigerasi

  • Tidak merusak bahan elastomer yang biasa digunakan kecuali elastomer berbahan dasar karet alam dimana CFC, HCFC dan HFC juga dapat merusaknya.

  • Bisa menggunakan pelumas R-12, R-22 dan R-134a, hanya karena sifatnya yang dapat bercampur baik dengan pelumas maka disarankan menggunakan pelumas dengan indeks viskositas yang lebih tinggi.

Tabel 6 menunjukkan hasil tes laboratorium terhadap kandungan logam dan keasaman pada oli pada rentang waktu pemakaian yang sama. Hasil tes ini menunjukkan bahwa refrigeran hidrokarbon lebih kompatibel terhadap material komponen sistem refrigerasi. Sifat hidrokarbon ini  mengawetkan komponen sistem refrigerasi. 

Tabel 6 Hasil tes kandungan asam dan logam pada oli   

No

Refrigeran/ Oli

Acidity

(ppm)

Fe

(ppm)

Cu

(ppm)

Al

(ppm)

1 CFC-12/ Oli  Mineral  (Patil, 1997)

85.34

<1 <1 <1
2 Hidrokarbon / Oli Mineral  ( Patil, 1998 )

40.54

<1 <1 <1
3 HFC-134a / polyolester oil  ( Patil, 1998 )

3890

60 3.25 8.7

KESIMPULAN

 

 

Refrigeran hidrokarbon merupakan refrigeran alternatif jangka panjang refrigeran CFC/HCFC. Dua keunggulaan penting yang dimilikinya adalah ramah lingkungan dan karakteristik termodinamika yang handal sehingga meningkatkan kinerja dan menghemat konsumsi energi sistem refrigerasi secara aman.    

DAFTAR PUSTAKA 

  1. United Nations Environment Programme Industry and Environment, Chillers and Refrigerant Management, United Nations Publication, Paris,1994.

  2. Watanabe, Koichi, Widiatmo, Januarius V., Alternative Refrigerants and their thermophysical Properties Research, Seminar on ODS Phase Out, 5-7 Mei 1999, Bali

  3. Ecofrig, Refrigeration Appliances Using Hydrocarbon Refrigerants, Ecofrig publication, United Kingdom, 1997.

  4. Jazwin, Richard, Alternative Refrigerants, ICI Klea, Wilmington, 1995.

*) Makalah ini disampaikan pada Pelatihan Penggunaan Refrigeran Hidrokarbon pada Mesin Pendingin di Bandung, 18 Desember 2004 yang diselenggarakan oleh Himpunan Praktisi Tata Udara dan Refrigerasi (HIMPATUR). Makalah ini ditampilkan kembali pada web site ini dalam rangka peringatan berakhirnya jangka waktu izin import ODS di Indonesia pada akhir tahun 2007.


Gerhana, Shalat Gerhana dan Isyarat Ilmiah

August 30, 2007

gerhana-bulan.jpgPada Selasa malam Rabu kemarin (28 Agustus 2007),  terjadi peristiwa alam yang menakjubkan : gerhana bulan. Antusias masyarakat untuk melihat gerhana bulan ini cukup besar. Jalanan Bandung sejak pukul 6 terlihat lebih sepi, masyarakat ingin menikmati gerhana bulan dari rumahnya masing-masing. Kalau toh pun masih ada yang di jalanan, mereka beramai-ramai berhenti di tepi jalan untuk mengamati dan ada beberapa yang mengabadikannya melalui kamera handphone. Penulis yang biasa pulang ke rumah ba’da maghrib, juga mempercepat pulang sebelum maghrib, sekedar ingin menjadi saksi gerhana bulan dan sebuah niat untuk melakukan shalat gerhana bulan, seperti yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah kepada umat muslim.

Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya matahari dan rembulan adalah dua tanda-tanda kekuasaan Allah, maka apabila kalian melihat gerhana, maka berdo’alah kepada Allah, lalu sholatlah sehingga hilang dari kalian gelap, dan bersedekahlah.” (HR Bukhari-Muslim)

Sayyidatuna A’isyah ra bercerita: Gerhana matahari pernah terjadi di masa Rasululloh SAW kemudian beliau sholat bersama para sahabat. Beliau pun berdiri dengan lama, ruku’ dengan lama, berdiri lagi dengan lama namun lebih pendek dari yang pertama, lalu ruku’ dengan lama namun lebih pendek dari yang pertama, lalu mengangkat kepala dan bersujud, dan melakukan sholat yang terakhir seperti itu, kemudian selesai dan matahari pun sudah muncul. (HR Bukhari, Muslim, Nasa’i, Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

KH Fahmi Basya, dosen Matematika Universitas Islam Negeri Sjarif Hidayatullah Jakarta banyak mengupas hikmah tentang putaran atau sudut yang dibuat saat melakukan shalat. Salah satunya, menurut KH Fahmi Basya, salat gerhana berhubungan dengan isyarat ilmiah  gerhana baik matahari maupun bulan. Dalam shalat gerhana ada dua kali rukuk, setiap ruku’ dianggap bersudut 90 derajat. Jika dijumlah maka sudutnya menjadi 180 derajat, yang dalam matematika, ini membentuk garis lurus. Dan memang, ratusan tahun kemudian dari adanya perintah shalat gerhana, para ahli fisika/astronomi baru menemukan bahwa gerhana terjadi akibat posisi bulan, bumi dan matahari yang berada pada satu garis lurus.

Kalau KH. Fahmi Basya mengupas hikmah shalat gerhana dari sudut pandang matematika, penulis mencoba mengupas dari sudut pandang humaniora. Kita sepakat bahwa manusia memiliki tiga komponen pembeda dari makhluk lainnya, yaitu : akal, perasaan (sebenarnya lebih tepat memakai kata : al afidah) dan nafsu. Domain akal adalah otak, domain perasaan (al afidah) adalah hati (qalb), sedangkan nafsu terdapat pada domain mulut, perut dan kemaluan.

Jika kita menganalogikan tiga komponen manusia tersebut dengan semesta, maka akal bisa dianalogikan sebagai matahari, sebab tabiat akal adalah menyinari seperti matahari yang memiliki sumber cahaya sendiri dan mampu menerangi kegelapan semesta. Hati bisa dianalogikan sebagai bulan. Bulan tidak memiliki sumber cahaya sendiri, ia hanya memantulkan cahaya matahari. Hati adalah tempat diterimanya cahaya wahyu dalam bentuk keimanan yang kemudian dipantulkan kembali dalam bentuk pekerjaan hati : akhlak. Nafsu bisa dianalogikan dengan bumi. Di bumilah terdapat karakteristik fisika yang memungkinkan adanya kehidupan, tetapi ia dalam keadaan gelap. Mataharilah yang membuat siangnya menjadi terang dan bulan membuat malamnya menjadi indah. Bulan juga yang menuntun manusia dalam memperhitungkan masa.

Gerhana terjadi ketika matahari, bumi dan bulan berada dalam satu garis lurus. Dan ketika rukuk, otak, hati dan perut berada dalam satu garis lurus juga. Yang menarik adalah shalat gerhana, setiap rakaatnya memiliki dua kali rukuk, berbeda dengan shalat-shalat lainnya. Isyarat shalat gerhana adalah adanya garis lurus , yaitu garis lurus antara otak, hati dan perut seperti dalam gerakan rukuk, seperti garis lurusnya matahari, bumi dan bulan yang menyebabkan terjadinya peristiwa gerhana.

 


Teletransport: Transportasi Masa Depan

August 13, 2007

th-prestige_pu.jpgSudah menonton film “The Prestige”? Film ini menceritakan persaingan antara dua pemain sulap. Untuk memenangkan persaingan, salah satu tokoh menggunakan alat pemindahan tubuh dari satu terminal ke terminal lain ciptaan seorang peneliti, meski ternyata alat tersebut gagal. Alih-alih memindahkan tubuh/ barang justru malah menggandakan tubuh/barang tersebut. Kalau mau lihat alat teletransport yang sudah jadi, Anda bisa melihatnya di film “Star Trek”.

Kalau belum menonton film-film tersebut, contohnya sedikit mirip dengan di film kartun “Dora Emon”. Dora Emon, dengan pintu ajaibnya, bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam sekejap. Itu semua film import. Indonesia juga memiliki imajinasi teletransport seperti itu, malah semenjak zaman dahulu. Konon para “orang pinter” bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa alat dalam sekejap.  

Apakah semua imajinasi itu bisa diwujudkan oleh teknologi? Secara logika bisa! Mekanisme teletransport sebenarnya tidak berbeda jauh dengan mekanisme telekomunikasi digital. Pada telekomunikasi digital terdapat Analog/Digital Converter, pada teletransport harus ada Converter Materi/Gelombang energy. Pada telekomunikasi digital terdapat transmisi gelombang yang berisi informasi, demikian juga pada teletransport.

Yang menjadi kendala utama bagi teletransport adalah masalah mengkonversi (coding) materi  ke bentuk energi gelombang dan sebaliknya. Ilmuwan/Engineer harus memahami struktur dan konfigurasi atom penyusun materi yang akan ditransport secara detil. Sebab disinilah letak kunci teletransport. Kendala berikutnya adalah mengenai transfer gelombang energy dari transmitter ke receiver. Harus dipikirkan agar dissipasi energy dan gangguan selama transfer tidak merubah konfigurasi informasi materi yang dikirim. Selain itu transmisi gelombang pembawa informasi materi juga harus tidak membahayakan materi yang dikirim dan lingkungan sekitar.

Untuk mentransport manusia, masih memakan waktu yang lebih lama lagi. Sebab komponen manusia lebih rumit dari materi/benda mati. Manusia memiliki nyawa/ruh. Masih ada satu langkah lagi yang harus dipecahkan, yaitu meng-coding dan mentransfer nyawa/ruh. Dan ini masalah tersulit, sebab pengetahuan manusia tentang ruh sangat terbatas.

Teletransport Menurut Wahyu

Dalam Kitab Suci umat Islam, Al Qur’an-Surah An Naml,  dikisahkan pada zaman Nabi Sulaiman, “seorang yang berilmu” dengan izin Allah mampu memindahkan singgasana Ratu Balqis dengan waktu lebih cepat dari kejapan mata.

Penulis yakin bahwa beberapa manusia pilihan Tuhan diberi kemampuan untuk melakukan teletransport.  Jadi untuk beberapa hal, teknologi yang berdasarkan logika memang masih jauh tertinggal dari pencapaian ilmu “spiritual”. Penyebabnya adalah karena ilmu dan teknologi yang sekarang kita geluti  hanya meneliti ranah materi. Padahal ada ranah di luar materi yang menyimpan rahasia alam yang sangat besar.


Bagaimana Menangkal/Mengobati Santet?

August 11, 2007

santet.jpgBeberapa waktu yang lalu, di Jawa Timur kembali merebak kasus penuduhan dukun santet, yang mengingatkan kita pada peristiwa penganiayaan/pembunuhan tersangka dukun santet di Banyuwangi periode 98-an.

Santet memang masih kontroversial. Banyak masyarakat yang mempercayainya, tapi tidak sedikit pula yang menganggapnya hal klenik yang tak masuk akal. Kita sampai pada pertanyaan menarik : apakah santet masuk akal?

Bagi Penulis, santet sangat masuk akal (rasional). Mekanisme santet memenuhi teori dualisme cahaya/gelombang elektromagnetik.  Cahaya atau gelombang elektromagnetik memiliki sifat dualisme, sifat ganda, yakni sebagai partikel dan gelombang. Cahaya misalnya diemisikan dan diabsoprsi dalam bentuk kuanta atau foton. Foton adalah partikel jenis khusus yang tak bermassa dan selalu bergerak dengan kecepatan cahaya. Namun ketika partikel cahaya ini berpindah dan melalui ruang, cahaya tampak sebagai medan listrik dan medan magnetik bergetar yang menunjukkan perilaku gelombang. Sedangkan mekanisme transmisi santet bisa dianalogikan dengan mekanisme transmisi pada telekomunikasi: ada pengirim, pesan yang dikirim, media pengiriman dan penerima pesan. Pesan dari gelombang santet adalah destruktif.

Tapi untuk memahami mekanisme santet, kita masih membutuhkan satu teori lagi, yaitu teori tentang ruh (jiwa). Sayangnya teori tentang ruh yang dipahami oleh manusia masih sangat terbatas dan mungkin tetap menjadi suatu hal yang misterius sampai hari kiamat**. Tapi setidaknya kita akan mengambil teori dasar ruh yang dipahami umum oleh manusia, bahwa manusia itu terdiri dari jasad (badan) dan ruh, sebagai satu kesatuan yang saling mempengaruhi. Nah, santet itu pada hakikatnya adalah menyerang ruh melalui suatu gelombang energi. Ruh yang terserang kiriman energi ini akan memberi efek pada jasad manusia. Oleh karena itu ilmu kedokteran konvensional tidak bisa membuktikan adanya serangan santet, karena sudah berada di luar ranahnya, yaitu materi, sebab santet berada di ranah ruhani.

Bagaimana menangkal atau mengobati santet?

Dengan memahami bahwa santet menyerang ranah ruhani, maka kita akan sangat mudah untuk memahami bagaimana cara penangkalan dan penyembuhannya. Ada dua macam cara penangkalan santet : (1) cara Mekanika Gelombang dan (2) cara Spiritual. Sedangkan cara spiritual itu sendiri masih bisa dibagi menjadi 2 macam lagi, yaitu Spiritual Humanis dan Spiritual Religius. Apa bedanya?

(1) Cara Mekanika Gelombang

Cara ini menangkal santet dengan menggunakan teori mekanika gelombang. Bahwa gelombang energi santet harus ditangkal dengan membuat gelombang energi yang bersifat destruktif atau menahan  gelombang santet yang datang tersebut. Penulis pernah mendengar sudah ada insinyur yang membuat alat penangkal santet. Penulis menduga bahwa penemu itu menggunakan teori mekanika gelombang ini. Yang menjadi layak untuk diacungi jempol adalah bagaimana insinyur tersebut meneliti karakteristik gelombang energi santet! Sebab di situlah terletak kunci untuk memahami penangkalannya.

(2) Cara Spiritual Humanis

Menangkal santet dengan cara ini menggunakan teori kejiwaan. Bahwa jiwa yang kuat mampu menahan gangguan eksternal. Meski kekuatan jiwa tidak bisa diukur namun ia mampu dilihat dari ketenangan jiwa, semakin tenang kejiwaan seseorang, semakin kuat kejiwaannya. Orang yang jiwanya kuat tidak bisa dipengaruhi oleh gangguan eksternal. Lantas bagaimana menguatkan kejiwaan seseorang? Kekuatan jiwa seseorang tidak bisa diperoleh begitu saja, ia diperoleh melalui proses yang panjang, yang dilatih dari sikap penghargaan terhadap hidup serta terhadap kehidupan sekelilingnya. Kekuatan spiritual ini relatif dekat bahkan sangat dekat dengan kekuatan spiritual religius. Semakin kuat religiusitas seseorang maka semakin kuat kejiwaannya.

(3) Cara Spiritual Religius

Cara ini sesuai dengan namanya memang bersadarkan prinsip religius. Bahwa jiwa/ruh itu dikuasai oleh Tuhan. Bahwa Tuhan maha mengetahui dan menguasai segala apa yang ada di semesta. Analogi sederhananya seperti ini. Jika Anda sedang berjalan dan diganggu oleh seekor anjing, apa yang akan Anda lakukan? Jika anda melawan anjing dengan mengambil batu atau pemukul, berarti anda memakai cara mekanika gelombang. Jika Anda malah berjongkok dihadapan anjing tersebut dan bersikap seolah-olah menggonggong anjing untuk menakut-nakutinya, berarti Anda memilih cara Spiritual Humanis. Tapi jika Anda memanggil pemilik anjing tersebut, agar ia menjinakan anjingnya, berarti Anda memilih cara spiritual religius. Dan memang cara ketiga inilah cara yang paling mudah dan sederhana, tapi yang paling ampuh!

*) Memang seharusnya disebut hukum konservasi energi, bukan kekekalan energi, sebab yang kekal hanyalah Sang Pencipta.

**) Dalam Kitab Suci umat Islam, disebutkan bahwa Allah berfirman : Tidaklah manusia diberi ilmu tentang ruh, kecuali sangat sedikit.