Mastering Physics: Bagaimana Membuat Fisika Menjadi Mudah?

September 26, 2008

Saya sering tertawa kalau ada kenalan baru yang menanyakan background sekolah, “dulu kuliah di jurusan apa?” Ketika saya menjawab “Teknik Fisika,” ia menyahut dengan cepat, “wah hebat.” Saya tertawa karena tak bisa menemukan di mana letak hebatnya. Sebab Teknik Fisika atau Fisika itu sama dengan ilmu lainnya, sama dalam effort untuk menguasainya. Tapi di sisi lain saya trenyuh, sebab itu berarti di dalam benak mereka Fisika itu sesuatu yang susah dijangkau. Saya lebih trenyuh lagi saat mendengar keluhan anak-anak sekolah tentang susahnya menyelesaikan soal-soal ujian Fisika. Saya trenyuh karena betapa cepatnya mereka men-judge Fisika sebagai pelajaran sulit.

Padahal Fisika itu memang ilmu yang biasa-biasa saja. Dalam arti semua orang bisa menguasainya, seperti menguasai ilmu manajemen, hukum dan sebagainya. Jadi apa sih yang membangun image Fisika sesuatu yang super sulit? Hemat saya ada beberapa hal yang membuat Fisika terkesan sebagai pelajaran yang super sulit.

1. Paradigma bahwa Fisika hanya bisa dikuasai oleh orang cerdas

Banyak kalangan yang beranggapan bahwa fisika adalah ilmu yang susahnya minta ampun, sehingga yang bisa menguasainya hanya orang-orang jenius, minimal cerdas. Alasan orang menganggap fisika itu sulit karena banyaknya hal-hal yang terkesan abstrak. Seperti gaya (force), momentum, listrik, dsb yang “tidak kelihatan.” Fisika kok abstrak?!

Pendapat tersebut jelas salah besar. Untuk menguasai Fisika cukup diperlukan satu syarat saja: akal sehat. Jadi, asal anda tidak gila, dalam arti memiliki akal sehat, itu sudah sangat cukup untuk memahami fisika dengan baik.

2. Fisika adalah pelajaran hafalan rumus

Padahal menghafal hanya sebagai alat bantu untuk mempercepat penyelesaian soal. Cara menghafalnya pun ada triknya sehingga mudah diingat sesuai logika akal sehat. Dengan memahami gaya dan gerak, kita akan sangat mudah menghafal rumus tegangan permukaan, rumus gerak peluru dan rumus lainnya yang terlihat panjang dan rumit (akan saya coba terangkan di pembahasan selanjutnya).

3. Fisika adalah matematika

Matematika hanyalah alat bantu. Dan sama seperti Fisika, Matematika itu selaras dengan akal sehat, jadi sebenarnya manusia itu tidak punya kesulitan memahami matematika.

Sebagai urun rembug, ada beberapa usulan yang bisa dipertimbangkan oleh guru-guru Fisika agar murid-muridnya menyukai Fisika, antara lain:

  1. Perbanyak praktikum. Agar tidak terkesan abstrak, murid harus diajak belajar dengan menyaksikan fenomena. Ini bisa dilakukan dengan melakukan banyak praktikum. Sebagai catatan, praktikum ini bisa dilakukan meski dengan alat sederhana! Saya sangat salut dengan salah satu dosen optik Teknik Fisika, Prof. Andri. Beliau membangun peralatan praktikum optik dengan alat-alat sederhana. Tapi dari situlah teman-teman Teknik Fisika bisa memahami arti fisis fenomena optik dengan jelas. Bahkan dari lab sederhana inilah banyak penelitian yang muncul di jurnal-jurnal ilmiah internasional. Berbicara tentang arti fisis ini, saya jadi teringat dengan salah satu teman saya. Setiap habis diterangkan oleh dosen, terutama kuliah-kuliah yang terkesan abstrak, seperti elektromagnetik dan fenomena gelombang, pertanyaan yang selalu ditanyakan adalah : Arti fisisnya seperti apa? Karena seringnya menanyakan seperti itu, pertanyaannya selalu bisa ditebak “arti fisisnya seperti apa?” Dia sering diledek, tetapi dia memang benar, untuk lebih memahami kita memang memerlukan deskripsi fisis! Dia sekarang benar-benar menjadi ilmuwan!
  2. Perbanyak akses informasi melalui internet. Buatlah siswa didik kita untuk rajin berfisika ria di internet. Sekarang banyak website yang menampilkan ilustrasi dan simulasi peragaan fisika yang akan memudahkan pemahaman anak didik tentang fisika.
  3. Kunjungan ke Laboratorium dan industri. Kunjungan ke laboratorium dan industri terkait akan membantu pemahaman siswa didik mengenai arti fisis dan terapannya di kehidupan nyata.
  4. Metoda pengajaran yang santai. Ini sangat penting. Sangat disayangkan image yang terbangun selama ini adalah kebanyakan guru Fisika itu galak. Untungnya saya selalu mendapat guru Fisika yang kocak (mungkin gara-gara ini saya jadi masuk Teknik Fisika). Jika murid-murid sudah merasa nyaman dan dekat dengan guru Fisika, dijamin mereka akan mau mati-matian memahami Fisika. Kalau perlu anjurkanlah siswa didik Anda untuk suka membaca buku sastra! Buku sastra akan melatih kemampuan bahasa dan imajinasi siswa didik Anda untuk mendeskripsikan fenomena alam ke dalam bahasa yang mudah dipahami. Kemampuan ini akan sangat membantu mereka kelak ketika menjadi ilmuwan.

Dikotomi IPA – IPS

December 11, 2007

social-asocial.jpg

Ini akibat dari sisa kebudayaan dikotomi Ilmu sosial (social science) dan ilmu alam (natural science). Beberapa orang masih menganggap bahwa ilmu sosial itu lebih rendah dari ilmu alam. Anak di bidang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sering dianggap lebih bodoh dari anak di  bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Kenyataannya anak lulusan IPA di  kemudian hari menjadi natural scientist atau engineer yang kebanyakan bekerja di bawah kendali manager atau direktur yang lulusan IPS. Itu masih di lingkup bisnis dan industri. Kalau kita mau melihat dengan scope yang lebih luas ternyata dunia industri itu diatur oleh orang-orang politik, yang sekali lagi ia jebolan IPS. Di sinilah kemudian orang IPA tersadar, bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan derajat antara ilmu sosial dan ilmu alam, keduanya adalah sama-sama ilmu, yang sama-sama berguna bagi kesejahteraan manusia. Mereka juga tersadar bahwa  di dunia nyata mereka tak hanya bisa bertahan dengan ilmu alam dan teknik yang dibanggakannya,  mereka membutuhkan ilmu sosial!

Kemudian muncullah trend yang berkembang dalam beberapa dekade ini: sarjana dengan latar belakang ilmu alam atau teknik banyak yang melanjutkan jenjang pendidikan program Master of Business Administration (MBA)  atau  dalam versi Indonesia Magister Manajemen (MM). MBA atau MM  sebagai jenjang pendidikan profesi memang cukup memberikan bekal ilmu manajemen secara komprehensif dan relatif cepat kepada para lulusan ilmu alam atau teknik. Di MBA atau MM mereka bisa belajar semua function management: Finance, Human Resource, Operation, dan Marketing  dengan pendalaman di bidang manajemen fungsi yang diminati.

Memang, ilmu manajemen itu bisa dipelajari secara otodidak, melalui buku dan web site. Tapi dengan mengikuti program MBA/MM, pembelajaran menjadi lebih terstruktur dengan akselerasi yang tinggi. Pembelajaran terstruktur ini banyak membantu lulusan IPA, khususnya dalam memahami bidang finance, yang sering menjadi momok bagi lulusan IPA.

Namun ada kekhawatiran saya yang semoga tidak benar bahwa di balik trend ini sebenarnya tersirat arogansi orang IPA: mereka tetap tak mau kalah dengan orang IPS. Tetap saja terdapat dikotomi IPA – IPS!