Laskar Pelangi Banget!

November 18, 2008

laskar-pelangiAkhirnya saya nonton film Laskar Pelangi. Saya di ajak teman-teman kampus satu proyek dulu, yang dimotori mba Ida. Dia senior saya di kampus, anak perminyakan dan studi pembangunan yang sebentar lagi mau melanjutkan program doktornya di Jepang. 

Saya memang belum membaca novel Laskar Pelangi secara utuh, saya hanya membaca resensi dan beberapa bagiannya saja. Namun dengan melihat film ini, saya merasa sudah mendapat gambaran Laskar Pelangi yang cukup.

Saya betul-betul tersindir dengan kisah bu Mus (bu Muslimah). Bu Mus begitu bersemangat mengajar di sebuah sekolah miskin, yang hanya berdinding kayu, yang setiap hujan selalu bocor. Meski bergaji kecil  dan bahkan dibayar telat. Ternyata yang membuat bu Mus bertahan karena bu Mus memang bekerja sesuai panggilan jiwanya. Mimpinya bukan menjadi istri saudagar tapi menjadi guru. Bu Mus bekerja dengan cinta. Mencintai anak-anak didiknya. Memberi kesempatan kepada anak-anak keluarga miskin Belitong untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Pendidikan yang tak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan tapi juga akhlak yang mulia. Ah, Cut Mini, Engkau begitu sempurna memerankan bu Mus.

Saya juga tersindir saat adegan Kucai yang hendak berhenti jadi ketua kelas karena mulai putus asa melerai pertengkaran diantara teman-temannya. Namun bu Mus dengan bijak menasihatinya dengan mengatakan: “Menjadi seorang pemimpin adalah tugas yang mulia.” Juga nasihat tambahan dari Sahara : “Alquran mengatakan bahwa kepemimpinan itu akan dipertanggungjawaban kelak di akhirat.” Akhirnya Kucai tetap menjadi ketua kelas.

Selepas menonton film ini, saya baru tersadar, sepertinya mba Ida ngoprak-ngoprak  kami untuk nonton film ini memang ada maksudnya. mba Ida tahu bahwa beberapa hari ini memang waktu yang sangat menjenuhkan bagi saya dan mas Riva. Mungkin kalau di Laskar Pelangi, kondisi kami ini seperti pak Bakrie yang mulai hopeless dengan kondisi pekerjaan eksisting dan diiming-imingi tawaran menggiurkan dari luar. Padahal di pekerjaan sekarang ini, kami bisa berbuat banyak bagi masyarakat. Padahal kondisi kami jauh lebih baik dari bu Mus itu. Jadi sebenarnya mba Ida mau menasihati kami seperti nasihat pak guru Harfan : “Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya. Bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.”

Saya jadi ingin membaca Laskar Pelangi secara utuh, menikmati setiap detil perjuangan bu Mus dan kesepuluh Laskar Pelanginya. Mengikuti petualangan mereka. Merasakan nuansa bunga saat Ikal melihat kuku Aling. Merasakan kecemasan saat Lintang yang tak kunjung datang, dst, dst…Sepertinya saya harus meminjam novel ini dan sambungan tetraloginya ke mba Ida. Bukan mba Ida yang saya sebut tadi, ini mba Ida lain lagi! Dia punya koleksi yang lengkap. Pinjam ya Mba…


Geothermal Direct Use

November 5, 2008

geothermal-direct-useSore kemarin saya berdiskusi dengan beberapa senior di Dinas Pertambangan & Energi Provinsi Jawa Barat. Salah satu temanya adalah pemanfaatan langsung panas bumi (direct use).  Beberapa waktu yang lalu mereka mengadakan studi banding ke area panas bumi Lahendong, Sulawesi Utara. Pertamina Area Geothermal Lahendong telah memasok uap sebesar 4 ton per jam secara cuma-cuma untuk pabrik gula aren Masarang yang berkapasitas produksi terpasang sebesar 2,5 ton per hari. Jadi pabrik ini merupakan pabrik gula aren pertama di Indonesia dan pabrik gula aren pertama di dunia yang menggunakan energi panas bumi sebagai bahan bakar pemrosesannya.

Nah kalau di Jawa Barat sendiri bagaimana? Di Pangalengan, panas bumi ini telah  dimanfaatkan pada budidaya jamur dan kentang untuk mensterilkan media tanam yang sebelumnya dikukus dengan energi dari BBM. Selain digunakan untuk mensterilkan media tanam, energi panas bumi bisa digunakan untuk proses pengeringan produk pertanian dan destilasi minyak atsiri. Teknik pengeringan produk pertanian itu telah diterapkan pada tiga pabrik pengeringan daun teh, yakni di Malabar, Kertamanah dan Purbasari, Pangalengan. Sedangkan di area PLTP Kamojang, Garut, akan dibangun pilot project pemanfaatan panas bumi untuk industri pengilangan minyak akar wangi.

Pemanfaatan utama energi panas bumi sebetulnya ditujukan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).  Namun sumur-sumur yang produksi uapnya sudah decline dan atau tak cukup untuk memasok uap PLTP, bisa dimanfaatkan untuk keperluan non listrik. Ini yang disebut dengan pemanfaatan langsung (direct use), yakni pemanfaatan energi dan atau fluida panas bumi untuk keperluan non listrik, seperti untuk agroindustri, proses industri dan pariwisata.

Nah dari diskusi ini ada hal unik tentang pemanfaatan panas bumi secara langsung di Indonesia yang betul-betul Indonesia banget. Yakni pemanfaatan air limbah panas bumi oleh beberapa masyarakat di Lahendong untuk bisnis ayam potong. Bukan untuk sterilisasi kandang, tapi untuk mempermudah pencabutan bulu ayam yang baru dipotong. Yang lebih lucu lagi di beberapa instalasi PLTP sering digunakan penduduk sekitar untuk menjemur pakaian. Sampai-sampai pihak PLTP membuat papan larangan menjemur pakaian. Ha ha ha.

Ayam rasa sulfur


Singapura, Indonesia dan Sumpah Palapa

October 26, 2008

EsplanadeTiga hari yang lalu saya baru mengunjungi Singapura. Saya jadi teringat kembali sejarah. Pada abad ke-13, pulau ini dikuasai oleh Kerajaan Sriwijaya. Berdasarkan Hikayat Melayu, daerah ini dinamakan Singapura (kota singa) setelah pangeran Sriwijaya yang baru saja mendarat di pulau ini melihat binatang yang disangkanya singa (kemungkinan besar adalah harimau). Peristiwa ini dianggap sebagai pertanda baik, sehingga sang pangeran menamakan daerah ini menjadi Kota Singa, dalam sanskerta adalah Singapura. Bayangkan, andai sang pangeran melihat monyet, mungkin kita akan mengenal negeri itu dengan nama Wanarapura! Dan kita tak akan mengenal Merlion tapi Mermonkey!

Pulau ini menjadi pusat pelabuhan perdagangan yang terkenal semenjak abad ke-14. Ini tak lepas dari dukungan letak yang strategis, di tengah-tengah jalur perdagangan India dan Cina. Empu Prapanca dalam Kitab Negarakertagama menyebut daerah ini dengan sebutan Tumasik (kota laut). Dalam Sumpah Palapa, Gajah Mada menyebutkan Tumasik sebagai salah satu target penaklukan kerajaan Majapahit. Dan akhirnya cita-cita Gajah Mada memang terwujud, Tumasik menjadi daerah bawahan Majapahit. Peran Singapura semakin signifikan di Asia Tenggara ketika Stamford Raffles membangunnya menjadi kota pelabuhan modern mulai tahun 1819.

Singapura memang sangat nyaman untuk berbisnis, belajar atau untuk sekedar jalan-jalan dan berbelanja. Dipikir-pikir kunci dari kenyamanan ini adalah dua faktor: 1) Disiplin; 2) Menghormati hak semua orang. Dua faktor tersebut membuat negeri ini menjadi teratur dan nyaman. Implikasi dua faktor tersebut sangat besar dan luas, dari kebersihan yang terjaga, lalu lintas teratur, birokrasi yang simpel sampai menjalankan bisnis dengan nyaman, dll.

Kalau masyarakat Indonesia mau, kita bisa melebihi Singapura. Potensi resource yang dimiliki kita lebih banyak. Tinggal bagaimana kita membangun human capital kita. Sepertinya kita patut belajar lagi Sumpah Palapa-nya Gajah Mada, bukan untuk menginvasi Singapura, tapi mengalahkannya di bidang ekonomi, politik dan pendidikan!


Pembangunan Maritim Indonesia dan Pemilu 2009

October 20, 2008

Setiap liburan di Cilacap, saya selalu menyempatkan diri untuk bermain ke pantai. Demikian juga saat liburan kemarin. Saya memang suka sekali pantai. Pantai Laut Selatan hanya berjarak 6 km-an dari rumah saya. Dahulu sewaktu saya masih kecil, suara ombak terdengar sampai rumah kami di malam hari. Sekarang sudah tidak bisa terdengar lagi, mungkin karena semakin bisingnya daerah kami. Satu saat nanti saya ingin membuat rumah di pinggir pantai, sehingga setiap pagi dan senja bisa menikmati matahari terbit dan tenggelam bersama istri. Romantis sekali!

Semenjak dahulu, laut memang menjadi sumber inspirasi. Ini karena dua alasan. Alasan pertama adalah dari sisi geografis, pantai adalah tempat berlayar dan berlabuhnya perjalanan laut yang memungkinkan pertemuan berbagai suku/bangsa termasuk informasi dan budayanya. Alasan kedua adalah dari sisi psikologis. Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya, Arus Balik, menguraikan bahwa hamparan samudra secara psikologis mampu membangun jiwa yang lapang, berpandangan luas, lain halnya dengan tinggal di daerah pedalaman yang cenderung membuat pandangan yang sempit. Karena dua alasan inilah peradaban Nusantara berkembang pesat di pesisir, seperti Sriwijaya, Samudra Pasai dan Demak.

Majapahit pernah menjadi negara maritim yang perkasa di Asia Tenggara di bawah semangat Sumpah Palapa. Memang Majapahit tidak berpusat di pesisir, tetapi Majapahit memiliki kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa. Jadi lagu “nenek moyangku seorang pelaut” itu tidak mengada-ada. Sayang, kekuatan ini meluruh seiring dengan kemunduran Majapahit. Kekuatan maritim ini sempat dicoba dibangun kembali pada saat kesultanan Demak dengan dilatari semangat juang mengusir Portugis di Selat Malaka. Setelah kegagalan penyerangan dan kemunduran Demak, peradaban di Jawa kembali ditarik ke pedalaman oleh bangsawan-bangsawan agraris. Ini tak lepas dari skenario pengkerdilan kekuatan maritim oleh kolonialis. Demikian juga pusat-pusat kekuatan maritim lainnya kita seperti di Makasar, Ternate-Tidore dan Banten yang dibuat hancur. Berakhirlah masa kejayaan maritim Nusantara.

Empat abad kemudian, di orde baru, kekuatan maritim ini coba dibangun melalui pembangunan industri kapal laut – PT PAL dan industri pesawat terbang – IPTN dalam kelompok industri strategis yang dimotori BJ Habibie. Namun ini juga akhirnya gagal karena kurang kokohnya value chain kedua industri ini di Indonesia.

Pembangunan bahari kembali didengungkan dari masa pemerintahan Habibie sampai SBY. Namun sampai sekarang perkembangan signifikan di sektor maritim belum terlihat. Bahkan kita terpukul dengan berbagai peristiwa/keadaan yang menunjukkan lemahnya kekuatan maritim kita: lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan, bobroknya transportasi laut dan udara kita serta masih merajalelanya pencurian ikan oleh kapal asing. Sebab kegagalan sangat jelas, kita tidak memiliki visi yang jelas dalam pembangunan maritime kita. Sumber daya laut yang melimpah tetap hanya menjadi santapan negara asing. Nelayan kita tetap miskin!

Menjelang Pemilu 2009 ini, mungkin cukup tepat saatnya kita kampanyekan: jangan pilih partai dan pemimpin yang tidak memiliki visi dan program yang jelas dalam pembangunan maritim kita! Memang visi dan program yang partai/politisi janjikan di saat kampanye belumlah cukup. Namun tanpa visi dan program yang jelas, apa yang hendak mereka perjuangkan nanti?


Menjalin Sinergi antar BUMD Provinsi Jabar

September 13, 2008

Selasa sore kemarin, 9 September, saya mengikuti acara forum silaturahim BUMD-BUMD Pemprov Jawa Barat yang diprakarsai oleh PT Jasa Sarana. Hadir di situ perwakilan Direksi dan Komisaris BUMD Jabar: PT Bank Jabar, PT Agronesia, PT Jasa Sarana, PD Agribisnis dan Pertambangan (PDAP) serta PD Jasa dan Kepariwisataan (PD Jawi). Ada dua BUMD yang belum bergabung, yakni PT Tirta Jabar yang masih dalam revitalisasi di bawah manajemen PT Jasa Sarana serta PT Bank Perkreditan Rakyat (PT BPR). Forum ini mirip-mirip BUMN Executive/CEO Club lah. Saya hadir di situ bukan sebagai salah satu executive BUMD, tapi karena diminta bantuan untuk mengurus acara Kultum (Kuliah Tujuh belas Menit) menjelang buka puasa bersama. Ustadznya Dr. Asep Zainal Aushof, salah satu dosen saya di kampus dulu.

Acara ini di buat untuk menjalin kembali sinergi antar BUMD Pemprov. Konon sih Badan Koordinasi Perusahaan-Perusahaan Daerah Pemprov Jabar sudah ada, namun gebrakan sinergitasnya masih belum terasa signifikan.

Seperti kita ketahui, kondisi BUMD-BUMD Pemprov Jabar beragam. Beberapa BUMD memang telah membangun dirinya menjadi entitas bisnis yang profesional, terutama BUMD yang telah berbentuk PT, namun secara keseluruhan BUMD-BUMD masih memiliki kondisi rata-rata sebagai berikut: 1. Tingkat produktifitas dan utilitas asset yang masih rendah; 2. Pola manajemen masih cenderung birokratis yang menyebabkan kurangnya tingkat adaptif dan inovasi bisnis; 3. Masih kurang berorientasi terhadap pasar, kualitas dan kinerja; 4. Kurangnya marketing; 5. Masih rendahnya tingkat profitabilitas, kondisi ini adalah konsekuensi dari keempat kondisi sebelumnya dan 6. Kondisi-kondisi tersebut masih ditambah dengan terkotak-kotaknya usaha masing-masing BUMD. Sinergi antar BUMD diharapkan dapat mengakselerasi perbaikan kondisi BUMD tersebut, dengan lingkup sinergi sebagai berikut:

1. Kerja sama penanganan proyek

Banyak proyek yang bisa disinergikan sesuai kompetensi masing-masing BUMD. Misalnya proyek pembangunan Rumah Susun (Rusun) Jabar bisa diakselerasi dengan adanya sinergi PT Jasa Sarana (kompetensi, development), PD Jawi (asset) dan Bank Jabar (Pendanaan). Proyek lainnya misalnya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di pedesaan yang dilakukan oleh PT TGR (SDA air), PT Jabar Energi- Perusahaan Anak PT Jasa sarana- dan Bank Jabar (Pendanaan).

2. Joint marketing

Program marketing bersama akan lebih efektif untuk produk/bidang bisnis yang terkait. Misal program kerja sama pengolahan dan pemasaran produk bentonit PDAP dan PT Jabar Energi untuk memasok kebutuhan bentonit untuk drilling di oil & gas industry. Program joint marketing juga bisa dilakukan untuk produk/bidang bisnis yang tidak terkait. Contoh sederhananya adalah penggunaan produk kuliner BMC PT Agronesia atau penggunaan hotel-hotel PD Jawi dalam acara-acara yang diselenggarakan oleh BUMD.

3. Knowledge sharing

Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa tingkat kondisi BUMD tidaklah seragam. Knowledge sharing memungkinkan untuk salaing membangun business management yang lebih efektif dan efisien, baik dalam penanganan kasus operasional, SDM, hukum dan keuangan.

Kultum

Di sesi kultum, Dr. Asep ZA memaparkan bahwa bulan Shaum Ramadan ini melatih kita untuk lebih bisa mengendalikan feeling, willing dan thingking. Pengendalian ketiga potensi inilah yang menentukan martabat kemanusiaan kita. Tingkat pengendalian terhadap tiga komponen itu mesti sangat diperhatikan oleh para pejabat. Dr. Asep ZA juga menyentil audience dengan teknik menertawakan diri sendiri atas beberapa perilaku-perilaku yang sering dianggap sepele namun sebenarnya menunjukan kurang dikendalikannya feeling, willing, thinking. Dan meskipun audience sudah senior, mereka saling bercanda dengan tunjuk-menunjuk. Hi hi hi. Salah satu Direktur BUMD bilang ke saya, ” Semuanya kena sentil.”

Pokoknya acara silaturahim BUMD-BUMD Pemprov Jabar kemarin cukup berhasil, setidaknya mencairkan kebekuan komunikasi selama ini. Saya berharap forum informal silaturahim ini berlanjut, sehingga sinergitas bisnis antar BUMD bukan sekedar wacana namun berlanjut pada program nyata. Tentunya untuk kemajuan Jawa Barat!