Sambil bekerja di depan laptop, saya mengikuti siaran langsung nikahan Ibas-Aliya di televisi (maklum, ini sindrom multitasking). Ada satu yang mengganjal di prosesi ini, yakni saat prosesi ditutup dengan ritual batal wudlu: Pengantin pria menyentuh kening pengantin perempuan dengan jempol tangan, sambil membaca Basmallah, Surat Al Fatihah, dan Shalawat.
Menurut saya prosesi ini tidak syah, karena secara fiqh, sentuhan suami-istri itu tidak membatalkan wudlu. Prosesi ini mestinya diulang. Saya mengusulkan dengan ritual (maaf): Kentut bersama. Karena kentut memang membatalkan wudlu. Kan lebih tidak sopan kalau pakai ritual kencing bersama atau BAB bersama…He he he. Jujur, ini bukan karena saya iri. Dari hati yang paling dalam saya sangat bahagia dengan pernikahan mereka berdua: “Barakallahu laka wabaraka ‘alayka wajama’a baynakuma fi khayr.”
O, iya khutbah nikah dari pak Arif Rahman sangat menyentuh. Saya mesti banyak belajar menyelami hati istri. OK saya mau latihan dulu: Tahan nafas….(menyelam…..)
