Ternyata susunan kabinet baru yang diumumkan pada Selasa petang kemarin tidak hanya membuat “big question mark” bagi orang awam seperti saya, tapi juga bagi Ibas, anaknya pak SBY yang nota bene keluarga dekat dan pengurus pusat PD yang dinaungi pak SBY. Berikut petikan dialog antara Ibas dan pak SBY.
Ibas: “Pak, yang paling membingungkan saya, kenapa Bapak mengganti menteri ESDM dengan menteri pariwisata?”
SBY: “Bas, Ibas, bodoh kok di pelihara. Ini terobosan, Bas. Kamu tahu ndak, Indonesia sekarang ini kan memiliki wilayah pertambangan dengan kerusakan lingkungan yang tinggi. Contohnya di lingkungan Freeport, bekas galian dan limbah tailing luar biasa banyaknya. Mau Kamu apain lokasi seperti itu? Nah, ini tugas pak Jero Wacik! Dia harus bisa membuat tempat-tempat bekas penambangan yang rusak itu menjadi daerah tujuan wisata. Misalnya pada contoh Freeport tadi, dibuat wahana arung jeram limbah tailing. Contoh lainnya mengembangkan wisata lumpur Lapindo. Hebat, kan?
Ibas: (Manggut-manggut pura-pura paham) “Nah kebingungan nomer dua saya mengenai penggantian menteri Kelautan dan Perikanan dari pak Fadel ke pak Cicip, Pak. Saya pikir prestasi pak Fadel cukup bagus selama ini, mengapa diganti?”
SBY: “Pertanyaan bagus, Bas. Jawabannya sedikit filosofis simbolis. Ini terkait dengan keberhasilan program yang dicanangkan kementrian ini yakni program “Mari Makan Ikan”. Masyarakat kita masih banyak yang tidak suka makan ikan. Jangankan makan, cicip-cicip saja mereka ndak mau. Karena itu lah Bapak tunjuk pak Cicip, biar program Mari makan Ikan lebih memasyarakat. Setelah pak Cicip masuk, program itu akan diganti menjadi “Mari Cicip Ikan”. Paham kan, Bas? Penggantian menteri BUMN juga bisa dikaitkan dengan filosofis simbolis juga, Bas. Selain Bapak memang menginginkan banyak trobosan di kementrian BUMN, tapi Bapak juga ingin mengirim pesan kepada direktur-direktur BUMN yang nakal. Kalau mereka nakal, akan Bapak suruh pak Dahlan menyetrum mereka!”
Ibas: “OK, Pak, kebingungan selanjutnya…Di masyarakat santer beredar kabar justru yang akan diganti menpora dan menakertrans yang kementriannya sedang banyak kasus. Kenapa dua menteri itu tetap Bapak pertahankan?
SBY: “Bas, jujur saja ini dilema buat Bapak juga. Tapi akhirnya Bapak memutuskan bahwa dua menteri itu sudah banyak buat masalah. Bapak ingin mereka menyelesaikan masalah-masalah yang telah mereka buat. …”
Tiba-tiba terdengar suara, “Mas, Mas, bangun! Sudah adzan Subuh…” Ternyata itu tadi cuma mimpi. Kebingungan saya atas hasil reshuffle kabinet baru sampai terbawa ke alam mimpi. Otak iseng bawah sadar saya lah yang mereka-reka dialog SBY dan Ibas tadi.
Saya langsung duduk dan beristighfar. Saya harus berprasangka baik kepada bapak SBY. Reshuffle kabinet itu secara hukum memang hak prerogatif presiden, jadi kita tak perlu ambil pusing dengan berbagai alasan di baliknya. Dan beliau itu orang pinter jadi sangat paham konsekuensi segala keputusannya…

nakal tapi mengesankan…..perlu dipupuk tuh bakat nyentilnya
He he. Thanks, Bu. Salam buat Bapak…
He..he..he.. Wah hebat deh mimpinya seru amat Po….