Bagi yang sering melewati jalan simpang Dago, pasti pernah melihat sosok ini. Seorang kakek-kakek kurus hitam, berpeci haji, menjajakan keripik singkong dari pagi sampai malam. Bisa dikatakan si Aki inilah icon Simpang Dago. Icon perjuangan hidup! Siapapun yang melihatnya akan malu. Beliau yang sudah sepuh begitu masih bersedia menyongsong rezeki tanpa meminta-minta.
Saya sering menjumpainya di Masjid dekat kantorku. Beliau memang tinggal di masjid itu. Tidur sambil membantu bersih-bersih. Beliau selalu shalat berjamaah. Apabila sedang berdagang dan tiba waktu shalat, ia selalu ke masjid itu. Dagangannya diletakkan begitu saja di teras masjid. Jadi kalau kadang saya membeli keripik dan beliau masih sibuk mengaji, saya tinggal ambil keripik dan menaruh uangnya di keranjang dagangan. Beliau sudah paham.
Kadang, beliau menahanku ketika buru-buru keluar setelah shalat. Mengajakku berdiskusi tentang masalah akhirat. Dan terus terang, beliau selalu bisa menasihatiku pada saat yang tepat! Sampai kadang-kadang aku berfikir apakah dia malaikat.
Saya pernah menanyakan tentang keluarganya. Beliau menjelaskan bahwa keluarganya ada di Cirebon. Anak-anaknya sudah mandiri. Itu saja. Jadi saya berasumsi anak-anaknya sudah mandiri tapi dengan kemampuan ekonomi yang terbatas. Saya tidak terlalu hapal jadwal beliau pulang ke Cirebon, tapi sepertinya sebulan sekali. Seringnya hanya 5 hari di sana, kemudian kembali lagi berjualan di Bandung. Minggu ini sudah lebih dari 7 hari setelah pulang ke Cirebon, beliau belum balik lagi. Ternyata memang beliau tidak akan pernah kembali lagi. Setelah pihak masjid mengontak keluarga si Aki di Cirebon, baru terungkap, si Aki sudah wafat. Beliau dipanggil saat sedang tilawah surat yasin.
Jumat tadi, sebelum khatib naik mimbar. Pihak masjid memberitahukan berita wafatnya si Aki. Dan saya baru tahu, bahwa nama beliau adalah Mulyono. Selama ini kami selalu memanggilnya Aki saja. Ya Allah, sebagaimana indahnya nama dan perbuatannya, muliakanlah ia di sisi-Mu…
Posted by Agus Fitriandi
Belum lama ini, setelah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menciptakan efek gaung dari iklan Pahlawan-nya, PKS kembali menampilkan lanjutan serial iklan politiknya. PKS kembali berusaha mencitrakan dirinya kepada publik sebagai partai yang terbuka melalui akronim yang beragam: Partai Kebal Sogokan, Partai Keluarga Saya, Partai Kyai dan Santri, Partai Keberuntungan Saya, Partai Keren Sekali, Pasti Koruptor Sebel, Peduli Kita Setiap saat, Partai Kita Semua sampai Palestina Kita Sayangi.
Posted by Agus Fitriandi 