Strategi Optimalisasi BUMD-BUMD Jawa Barat

January 23, 2009

Tanggal 19-20 Januari kemarin, beberapa media massa lokal dan nasional ramai-ramai memberitakan BUMD-BUMD Jawa Barat dengan judul standard berita: rada bombastis! Pikiran Rakyat menuliskan, “Tujuh BUMD di Jabar Akan Direvitaslisasi”, Kompas menuliskan, “Tujuh BUMD Direstrukturisasi”, sedangkan Media Indonesia menuliskan, “Gubernur Rombak Direksi BUMD”. Setelah membaca berita tersebut, beberapa rekan-rekan Office Boy (OB) di kantorku mengadu ke saya tentang masa depan perusahaan kami. Mereka tampak cemas: BUMD kita bermasalah! Saya berusaha menjelaskan kepada mereka dengan sederhana. Akhirnya mereka paham.

Tidak bisa dipungkiri, memang kontribusi BUMD Provinsi Jawa Barat pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) masih sangat minim. Tujuh BUMD yang dimiliki dan aktif hanya menyumbangkan 3,4% dari PAD Jawa Barat 2008. Namun kita tidak bisa mengeneralisasi bahwa semua BUMD tersebut bermasalah. Kita mesti melihat faktor umur, historis dan karakteristik bisnis masing-masing BUMD. Contohnya adalah seperti ini. PT Jasa Sarana tidak bisa dibandingkan dengan PT Agronesia. Sebab karakteristik bisnis infrastruktur yang digeluti PT Jasa Sarana bersifat capital intensive dan long term. Jalan tol baru bisa membagi deviden pada tahun belasan. Pengembangan lapangan panas bumi sendiri memakan waktu 4-5 tahun, baru tahun berikutnya bisa menjual listrik. PT Agronesia lain, dengan dua lini bisnisnya yakni kuliner (BMC) dan produk olahan karet (INKABA), bisnisnya relative lebih quick yield.

Oleh karena itu pemegang saham BUMD, dalam hal ini Gubernur, mesti jeli dalam memetakan masing-masing BUMD untuk menyusun strategi optimalisasi BUMD. Meminjam analisis matriks BCG, BUMD-BUMD Jawa Barat bisa dipetakan sebagai berikut. PT Bank Jabar Banten (Bank Jabar) bisa dikatakan masuk pada kelompok Star. PT Agronesia, PD Jasa dan Kepariwisataaan (PD Jawi) dan PT Jasa Sarana masih masuk dalam kelompok Question Mark. Sedangkan PD Agribisnis dan Pertambangan (PDAP) masuk pada kelompok Dog. Praktis Jawa Barat tidak memiliki BUMD yang berperan sebagai Cash Cow.

bcg-bumd-jabar

Strategi general-nya adalah mendorong Bank Jabar untuk bisa menjadi Cash Cow yang nantinya bisa menyumbangkan cash untuk membesarkan kelompok Question Mark menjadi Star. Tapi ini memakan waktu yang cukup lama. PT Agronesia dan PD Jawi sebenarnya bisa segera dijadikan Star tanpa menunggu Bank Jabar menjadi Cash Cow. Hal ini dimungkinkan karena karakteristik bisnis PT Agronesia dan PD Jawi yang terbilang lebih quick yield dan didukung kekuatan asset yang dimilikinya (terutama asset PD Jawi). Kuncinya adalah fokus. Menurut hemat saya, PT Agronesia akan lebih cepat berkembang menjadi Star dengan memfokuskan diri pada bisnis karet olahan. Sedangkan PD Jawi fokus pada pengelolaan commercial buiding. Dua industri ini (karet olahan dan commercial building) yang pertumbuhannya menjanjikan dan memungkinkan untuk meroketkan PT Agronesia dan PD Jawi menjadi Star. Tentu saja ada harga yang harus dibayar oleh Pemprov: dukungan modal untuk membangun core competency mereka.

Untuk Jasa Sarana, dengan karakteristik long term investment, membuatnya memerlukan asupan cash yang cukup lama. Secara jangka pendek, bisnis ini tidak memberikan sumbangan financial yang signifikan bagi Provinsi. Namun proyek-proyek infrastruktur stratejik yang dikembangkan Jasa Sarana bisa memberikan keuntungan ekonomi bagi Jawa Barat, melalui multiplier effect yang diciptakannya. Baru dalam jangka panjang ia bisa menjadi Cash Cow. Namun PT Jasa Sarana juga sangat mungkin untuk menciptakan kemadirian financial mereka melalui strategi bisnis quick yield melalui anak-anak perusahaannya, terutama melalui PT Jabar Telematika dan PT Jabar Energi.

Untuk PDAP, dengan kondisinya yang kronis dan membebani APBD, strategi yang paling mudah (berarti ada strategi lainnya!) adalah dengan men-divest-nya. Namun yang perlu dilakukan sebelum men-divest perusahaan ini adalah mengamankan asset-aset yang dimilikinya, yang sebagian diantaranya “dikuasai oleh masyarakat”. Atau kalau perlu disusun strategi optimalisasi asset tersebut bersama masyarakat “yang menguasai” yang bersifat mutualisme.

Untuk PT BPR, saya tidak bisa berkomentar banyak. Saya masih confuse apakah keberadaan PT BPR ini bersifat kompetitif dengan Bank Jabar atau tidak? Sejauh manakah peran strategis BPR? Apakah peran ini tidak bisa ditangani oleh Bank Jabar? Saya pikir, baru dengan memahami pertanyaan-pertanyaan di atas, kita baru membuat strategi: apakah divest BPR ataukah sinergi program keduanya.


Bagaimana Mama Lauren dan Paranormal Meramal

January 7, 2009

mlSudah beberapa hari ini diskusi makan siang teman-teman kantor bertema ramalan 2009-nya Mama Lauren (ML). Di bidang politik, ML bilang akan terjadi pergolakan politik besar-besaran; Dua politisi kawakan tewas terbunuh akibat akumulasi persaingan. Di bidang ekonomi:  Banyak cobaan di sisi properti, pertambangan, perkebunan, penerbangan, perkapalan, dan perminyakan; Banyak perusahaan yang gulung tikar dan mem-PHK karyawannya; Investor di bisnis properti sebaiknya lebih bersabar; Bursa saham akan ditutup di beberapa negara termasuk Indonesia; Harga sandang dan pangan juga melonjak naik. Di bidang entertainment: Wabah kawin cerai masih tetap marak; Tapi ada dua pasangan yang sudah bercerai akan rujuk kembali; Indonesia juga akan kehilangan tujuh bintang terkenal, yakni empat laki-laki dan tiga perempuan. Dua laki-laki dan satu perempuan di antaranya meninggal karena narkoba, dan empat orang lainnya karena sakit. Tentang alam (bencana) di antaranya:  Curah hujan terbesar akan terjadi pada Desember 2008 hingga Januari 2009; Musim pancaroba akan terjadi pada April dan Mei serta Oktober-November; Gempa bumi juga terjadi di sejumlah wilayah yang akan memakan banyak korban jiwa dan materi; Akan terjadi gunung meletus; Bencana banjir di DKI Jakarta juga tak bisa dielakkan; Banjir dan tanah longsor akan terjadi di daerah Jawa Barat; Gempa dan tanah longsor juga masih mengintai Sumatera Barat, Tapanuli bagian barat, dan Aceh bagian Barat; Sedangkan air laut yang pasang akan mengalir menuju sungai-sungai di Kalimantan.

Menyikapi ramalan ML tersebut saya cuma bilang ke teman-teman: Tidak ada satu mahluk pun yang tahu pasti tentang masa depan. Hanya Tuhan yang tahu! Manusia hanya bisa memprediksi berdasarkan data historis berikut analisisnya. ML pun demikian juga. Saya berkeyakinan ML itu rajin mengikuti berita media massa serta membaca kolom analisis politik dan ekonomi di surat kabar. Tapi saya tidak yakin kalau ML berlangganan data release-nya lembaga survey, seperti Biro Pusat Statistik (BPS), AC Nielsen, CIC, dll. Lihat saja hasil prediksinya tentang 2009. Sebagian besar prediksi tersebut mah hanya ekstrak dari analisis trend kondisi politik, sosial dan ekonomi di Indonesia yang bisa kita tangkap juga apabila kita rajin membaca dan mengikuti berita.  Politik di 2009 pasti akan bergolak kan memang ada Pemilu. Industri properti dan manufaktur berorientasi ekspor memang lagi turun akibat krisis financial global yang berakibat pada banyaknya PHK. Trend harga minyak dan batu bara sejak pertengahan 2008 kemarin memang juga turun. Bursa saham 2008 kemarin juga sempat ditutup karena anjlok drastis. Harga sandang pangan naik ya karena memang inflasi yang cukup tinggi. Prediksi di entertainment tidak perlu saya komentari, itu semua bisa kita peroleh kalau rajin mengikuti infotainment.  Kalau masalah cuaca dan gempa bumi, kita juga bisa prepare dengan menyimak prediksi dari BMG.

Untuk membuat diferensiasi dengan analisis para pakar, ML merumuskan beberapa prediksi yang lebih detil dan dramatis. Untuk itu ML memakai bilangan yang definitif. Misal 2 pasangan artis akan rujuk kembali. Tapi kalau menyebut 2 politisi kawakan akan terbunuh, saya pikir ini lebih merupakan upaya dramatisisasi agar prediksinya terkesan magis.

Terus ada yang bertanya, bagaimana kalau ML atau paranormal mendapat bisikan dari roh halus atau jin. Saya bilang bisa saja paranormal itu mendapat bisikan dari jin usil/setan. Ingat jin usil/setan, bukan roh orang yang sudah meninggal. Tapi tetap saja jin usil juga tidak bisa mengetahui masa depan, mereka juga seperti kita hanya memprediksi berdasarkan data historis dan analisisnya. Jin/setan juga punya BPS. Mungkin mereka juga mengintip hasil survey nya lembaga survey manusia. Setan/jin usil memang berkepentingan menjerumuskan manusia agar mempercayai dukun/paranormal. Mereka melengkapi diri dengan data-data untuk mensuplai bisikan-bisikan ke paranormal yang “mendekati” akurat sehingga makin banyak manusia yang dijerumuskan. Dan kebetulan mereka punya advantage dari sifatnya yang bisa melihat manusia tapi tidak bisa dilihat manusia. Mereka melengkapi data-data survey dengan perilaku/gerak-gerik manusia yang mendukung ramalan.

Lain lagi kalau ramalan bintang bulanan (horoscope) di majalah, internet atau mobile (sms), itu mah hanya permainan kata-kata. Administrator hanya mengacak data base kalimat: kondisi dan saran. Misal hati-hati dengan kondisi kesehatan Anda. Anda akan mendapat rezeki tak terduga. Hubungan dengan pasangan renggang. Itu kan cuma kondisi-kondisi umum yang bisa berlaku kepada siapa saja secara acak. Kalau mau lebih canggih sebenarnya administrator bisa bermain dengan data statistik. Tapi tetap saja itu semua tidak bisa menggambarkan masa depan. Mau-maunya ya orang kirim sms ke REG XXXX untuk mendapatkan ramalan acak. Mau-maunya ya ada orang pindah kerja gara-gara ramalan tidak cocok kerja di air. Lebih bodoh lagi ramalan jodoh yang hanya melalui nama orang dan calon pasangannya.

Nah, dengan mengetahui pola paranormal/dukun bekerja seperti dipaparkan di atas, kita harus sadar daripada percaya kepada paranormal mending rajin mengikuti informasi dan menyimak analisis dari pakar di bidangnya. Secara agama, mendatangi dukun itu termasuk syirik karena menganggap ada yang lebih pintar dari Tuhan. Secara logika mendatangi dukun itu hal yang bodoh karena mereka sama-sama tidak tahu. Secara psikologi, mempercayai dukun itu termasuk sakit jiwa karena tak percaya potensi diri.


Catatan Akhir Tahun

January 5, 2009

gaza-akhir-tahun1Akhirnya saya ngeblog lagi, setelah liburan akhir tahun kemarin berkeliling Jakarta – Semarang – Cilacap. Jadi pada posting-an awal tahun ini, saya laporkan perjalanan di empat kota, termasuk Bandung, sekaligus sebagai  catatan akhir tahun 2008.

Bandung

Liburan Natal dan tahun baru, membuat Bandung penuh dengan pengunjung dari luar kota.  Jalanan, terutama kawasan FO,  macet oleh kendaraan yang mayoritas berplat nomor B. Apa sih yang di cari mereka di Bandung? Wisata belanja? Ah, di zaman modern ini memang telah terjadi revolusi pariwisata. Saya juga sempat merasakan kemacetan itu saat pergi ke Rabbani untuk mencari hadiah mukena starberry buat Alya, keponakanku yang masih TK.

Menjelang perjalanan berkeliling, saya cukup dikejutkan dengan adanya berita serangan besar-besaran Israhell, eh Israel ke Gaza, Palestina. Ah, dunia akan menutup sejarah 2008 ini dengan catatan kelam!

Jakarta

Malam tahun baru hijriah, 28 Desember,  saya lalui di Tol Cipularang dalam perjalanan ke Jakarta: senyap di antara mobil yang berseliweran.  Di Jakarta, mumpung libur,  saya sempatkan diri  ke Monas.  Ini kunjungan ke-dua saya setelah kunjungan pertama 12 tahun yang lalu. Sayang, kali ini saya juga tidak bisa naik ke menara, antrian lift terlalu panjang karena musim liburan. Saya baru tersadar, ternyata lighting di ruangan diorama sejarah Indonesia sangat minim. Saya tidak paham apakah ini disengaja untuk menciptakan suasana khidmat, soalnya yang saya tangkap justru malah kesan suasana sejarah yang “suram”, “samar-samar”, dan kesan tidak PD menjadi bangsa Indonesia.

Ada yang menarik di ruang diorama, yakni di stand Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Pada buku tamu stand tersebut, pengunjung justru banyak menuliskan curhatan mereka: tentang pemimpin yang cuma janji dan merencanakan tanpa aksi, tentang gas dan air bersih yang langka, tentang kemacetan dan polusi di ibukota. Saya sarankan kepada para anggota DPR dan DPRD DKI Jakarta, sesekali masuklah ke Monas dan bacalah curhatan rakyat Indonesia!

Malam tahun baru masehi saya lalui di Harbor Tollroad, menemani sepupu-sepupu saya yang masih kecil menikmati kembang api . Jalan tol macet! Ada ironi yang terbetik:  saat masyarakat kita menghujani kota dengan  kembang api, penduduk Gaza dihujani  bom oleh tentara Israel. Indonesia telah mengutuk serangan tersebut dan meminta PBB bertindak. Tapi saya tidak paham benar sejauh apa efek dari reaksi Indonesia ini, yang saya takutkan reaksi tersebut hanya seperti  auman  harimau ompong  dan tak bercakar.  Ah, benar kata Rasulullah: yang ditakutkan adalah ketika umat islam banyak tapi hanya seperti buih di lautan.

Semarang

1 Januari saya berangkat ke Semarang. Tiba di Stasiun Tawang menjelang sore. Saudara kembarku, yang sedang menjadi resident spesialis anak, mengajakku berkeliling Semarang. Makan sore di Bandeng Juwana Pandanaran, shalat Maghrib di Masjid Baiturrahman – Simpang Lima dan shalat Isya di masjid Agung Semarang. Malam itu pengunjung Masjid Agung cukup banyak, sebagian besar warga luar kota yang sedang – istilah kerennya- berwisata rohani. Ini revolusi pariwisata juga! Di pelataran Masjid Agung kami berdiskusi  tentang keluarga, rencana ke depan dan masalah umat.

Siang harinya saya berkunjung ke sekretariat  Asy-Syifa RS Dr. Karyadi, bertemu dengan beberapa mahasiswa kedokteran dan dokter  teman saudara saya. Banyak di antara mereka yang salah menyapa, saya dikira dr. Agus. Khutbah  di Masjid Asy-Syifa masih berkaitan dengan serangan Israel ke Palestina, dengan tema bangsa  Yahudi menurut Al Quran.

Setelah makan siang di Bee’s, kami mampir ke Klenteng Sam Po Kong. Dahulu klenteng ini adalah masjid yang dibangun era Laksamana Cheng Ho (Zheng He/Sam Po Kong/Sam Po Tao Lang). Setelah dinasti Ming melemah dan menutup diri serta melarang orang-orang Tionghoa pergi dari daratan Tiongkok maka pengaruh dan pengikut Islam di kalangan orang-orang Tionghoa di pesisir utara Jawa menyurut. Masjid-masjid  Tionghoa banyak yang berubah fungsi menjadi klenteng, salah satunya adalah Klenteng Sam Po Kong ini. Saya jadi teringat kembali: umat islam banyak, tapi seperti buih…

Cilacap

Menjelang pergantian hari  ke-3 2009, saya sudah sampai di Kroya. Praktis saya tidak bebas bepergian karena disandera Alya. Menemaninya menggambar, nonton VCD dan tidur. Paginya kami pergi ke Pantai Widara Payung, salah satu lokasi wisata di pantai Selatan. Kami hanya bermain ombak sebentar karena Alya buru-buru mengajak ke kolam renang anak-anak. Tapi saya sempat mengamati buih-buih laut.  Saya jadi teringat kembali: umat Islam banyak, tapi seperti buih…

Apa Kabar Tahun Baru?

Tahun 2009 menurut kalender Cina adalah tahun Kerbau. Dan kebetulan efek krisis financial global diperkirakan masih berjalan  beberapa tahun ke depan yang menyebabkan perekonomian berjalan lamban seperti kerbau di kubangan lumpur. Jadi memang butuh kerja keras seperti kerbau yang sedang membajak sawah. Tapi kerja keras saja tak cukup, kita mesti bekerja dengan cerdas. Sebab krisis justru bisa menjadi promoter DNA sukses bagi entrepreneur/intrapreneur. Bersama kesulitan ada kemudahan. Tuhan mengatakannya sampai berulang.

Tahun baru 2009 juga kebetulan berimpitan dengan awal tahun baru 1430 hijriyah. Saatnya bagi umat Islam untuk me-refresh semangat hijrah: berusaha menuju kondisi yang lebih baik. Allah lebih mencintai muslim yang kuat, baik secara fisik, intelektual dan ekonomi. Dengan kekuatan itulah umat Islam lebih bisa mengaktualisasikan dirinya sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta. Tidak hanya menjadi seperti buih di lautan…