Dari Kambing Menuju Hakikat Kurban

smily-goatIdul Adha kemarin, saya turut mengorganisir titipan hewan kurban. Kebanyakan kambing, jadi saya kepikiran banyak hal tentang kambing. Bagaimana bahasa kambing? Apakah “mbeee” nya universal? Apakah kambing Sunda bisa berkomunikasi dengan kambing Jawa atau kambing Arab?

Saya juga jadi kepikiran tentang idiom yang menggunakan kata kambing. Kenapa ya orang-orang memilih “kambing hitam” bukan “kelinci hitam”?  Terus yang satu spesies, kenapa ya orang memilih idiom “adu domba” bukan “adu jangkrik” untuk makna memecah belah? Toh sama-sama mengadu satu bangsa.

Tapi pertanyaan-pertanyaan itu saya biarkan menggantung di pikiran prioritas belakang. Meskipun saya sudah memiliki banyak hipotesis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan usil di atas. Mending kita lebih serius mengingat makna kurban bagi kita.

Hidup ini pada hakikatnya ujian, agar Tuhan tahu siapa yang amalnya paling baik. Itu semua dibuktikan dengan tingkat pengorbanan manusia. Pada zaman sekarang, kita tetap bisa meneladani kisah Ibrahim yang diperintahkan Tuhan untuk menyembelih Ismail.  Baik meneladani melalui ibadah kurban yang bernilai religi-sosial-ekonomi, juga meneladani secara maknawi. Ismail zaman sekarang pada hakikatnya adalah sesuatu yang diidam-idamkan manusia, atribut-atribut duniawi yang sering dijadikan berhala oleh manusia,  bisa berupa kekayaan, jabatan dan sebagainya. Lantas apa maksud menyembelih atribut-atribut tersebut dan bagaimana caranya?

Menyembelih dalam konteks ini adalah memperlakukannya sesuai dengan perintah Tuhan. Jadi jika kita diuji dengan kekayaan, kelolalah kekayaan itu sesuai dengan perintah-Nya: berzakat dan menggunakannya untuk kemaslahatan bersama. Jika kita diuji dengan jabatan, gunakanlah jabatan itu untuk menegakkan keadilan, gunakanlah sebagai sarana amar ma’ruf nahy munkar.  Konsep menyembelih dalam konteks ini terkait erat dengan konsep zuhud. Zuhud bukan berarti berlari dari atribut-atribu duniawi tetapi ia meletakkan semua atribut itu hanya di tangan saja, tidak meletakkannya di dalam hati.

Dalam pelaksanaan pengurbanan, selalu terjadi peperangan batin: perang melawan godaan setan yang melancarkan serangan dari berbagai arah secara terus menerus. Seperti setan yang menggoda Ibrahim, kemudian menggoda Siti Hajar dan Ismail agar mengurungkan niat penyembelihan. Dan peperangan ini selalu ada sampai kiamat .

Di akhir tulisan saya tidak ingin membuat kesimpulan, tapi hanya mencoba memetik beberapa key word kehidupan ini dari kisah pengorbanan Ibrahim-Ismail, yakni: ujian, pengorbanan dan godaan. Itu saja. Silahkan menyusun paragraph kehidupan Anda dengan key words tersebut sesuka Anda. Tuhan Maha Tahu dan Maha Memperhitungkan…

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,318 other followers

%d bloggers like this: