AADC – Ada Apa dengan CSR

December 26, 2008

rumah-baca-jsRabu sore kemarin, saya mewakili kantor untuk menghadiri seremoni launching Rumah Baca, salah satu program Corporate Social Responsibility (CSR) dari kantor. Ngomong-ngomong tentang CSR, masih sering kita jumpai banyak pro dan kontra tentangnya: Mengapa harus melakukan CSR? Apa untungnya bagi perusahaan? Apa filosofinya? Apa bentuk CSR yang paling tepat? Jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa sangat beragam bagi setiap perusahaan, tergantung pada kondisi masing-masing perusahaan. Daripada berdebat tentang jawabannya mending kita membedah kondisi etis apa yang membuat sebuah perusahaan membuat respons terhadap pertanyaan-pertanyaan CSR di atas termasuk juga respons yang lebih luas atas keberadaannya di muka bumi.

Ada beberapa Ethic Models untuk menganalisis kondisi etis sebuah perusahaan yang merupakan sumber respons mereka. Salah satunya yang disusun Reidenbach dan Robin dalam jurnalnya “Toward the Development of a Multidimensional Scale for Improving Evaluations of Business Ethics”. Reidenbach dan Robin membaginya dalam 5 tahap: Amoral – Legalistic – Responsive – Emerging Ethical – Ethical.

Amoral Companies suka sekali berdalih dengan beberapa frasa ini: ” Mereka tidak akan tahu kok” atau “Setiap orang juga melakukan seperti ini” atau “Kita tak akan tertangkap kok.” Sedangkan Legalistics Companies, argumen andalannya adalah, ” Kalau legal berarti OK, kalau tidak yakin, suruh lawyer mengeceknya.” Intinya mereka lebih mengacu kepada tulisan peraturan dari pada semangat yang tersimpan dalam peraturan. Pada tahap Responsive Companies, sebuah perusahaan sudah mulai tidak hanya berpaku pada legal basis dan mereka juga mulai memperhatikan stakeholders yang lebih luas. Sedangkan di tahap Emerging Ethical Companies, nilai-nilai etika sudah menjadi culture perusahaan, namun kadang masih memiliki kekurangan pada pengorganisasian dan perencanaan jangka panjang. Tahap paripurna adalah The Ethical Companies, disebut juga ethical organization. Di tahap inilah terbentuk kesetimbangan yang apik antara ethics dan profit yang mengarahkan kebijakan perusahaan.

Kalau penjelasan di atas nampak rumit, ada penjelasan yang lebih sederhana yang dibuat oleh John Elkington dalam bukunya The Chrysalis Economy. Secara garis besar korporasi-korporasi di muka bumi ini bisa diklasifikasikan dalam 4 macam metafora, yakni: (1) Ulat (Caterpillar), pekerjaan kelompok ini adalah mengenyangkan perut sendiri. Efeknya lingkungan sekitarnya rusak. Fotosintesis tanaman, tempat di mana ia tinggal terganggu. Mahluk lain yangt mendekat bisa dibuat gatal dengan ranjau bulunya yang mengerikan. Pokoknya kelompok ini adalah si rakus yang high impact destructive dan degenerative, (2) Belalang (Locust), kelompok ini memang memakan daun ala kadarnya, tapi jangan dianggap remeh, apabila sudah dalam bentuk koloni mereka bisa membuat ladang menjadi gundul dalam sekejap. Ya, meski daya destruktif mereka relatif kecil tapi dalam jumlah banyak, mereka bisa degenerative; (3) Kupu-kupu (Butterfly), kelompok ini sudah mulai mampu meramu social-environmental value dengan economic value, meski dalam taraf low impact. Mereka mengambil madu dari bunga tetapi mereka juga tidak merusaknya malah membantu penyerbukan. Itu saja! Mereka bekerja dalam skala kecil dan lebih bersifat individual. (4) Lebah (Honeybees), kelompok ini sangat harmonis dalam meramu social-environmental value dengan economic value. Lihatlah mereka mengambil madu tanpa merusak bunga sambil membantu penyerbukan tanaman. Tapi tidak berhenti sampai di situ, mereka juga menyediakan madu yang sangat bermanfaat bagi mahluk lain. Dan hebatnya semua itu dilakukan dalam manajemen organisasi yang sangat solid. O, iya, sengatan mereka bahkan bisa dijadikan sarana pengobatan  akupuntur. Kesimpulannya, kelompok ini menciptakan bisnis yang regeneratif dengan taraf high impact!

Penjelasan di atas memang tidak hanya menjawab CSR dalam makna sempit. CSR itu bisa bermakna sangat luas bagi si Lebah! Ada satu statement dari Timberland, perusahaan apparel asal UK, yang layak kita renungkan terkait dengan CSR ini: “We do not give money to charity. Instead we try to create a return. We create values for our customers, the community and the non-profit organizations we work with. The traditional notion of philanthropy is not adequate. It is not smart or wise to approach social problems with the financial leftovers of companies.” Nah lho…


Dari Kambing Menuju Hakikat Kurban

December 9, 2008

smily-goatIdul Adha kemarin, saya turut mengorganisir titipan hewan kurban. Kebanyakan kambing, jadi saya kepikiran banyak hal tentang kambing. Bagaimana bahasa kambing? Apakah “mbeee” nya universal? Apakah kambing Sunda bisa berkomunikasi dengan kambing Jawa atau kambing Arab?

Saya juga jadi kepikiran tentang idiom yang menggunakan kata kambing. Kenapa ya orang-orang memilih “kambing hitam” bukan “kelinci hitam”?  Terus yang satu spesies, kenapa ya orang memilih idiom “adu domba” bukan “adu jangkrik” untuk makna memecah belah? Toh sama-sama mengadu satu bangsa.

Tapi pertanyaan-pertanyaan itu saya biarkan menggantung di pikiran prioritas belakang. Meskipun saya sudah memiliki banyak hipotesis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan usil di atas. Mending kita lebih serius mengingat makna kurban bagi kita.

Hidup ini pada hakikatnya ujian, agar Tuhan tahu siapa yang amalnya paling baik. Itu semua dibuktikan dengan tingkat pengorbanan manusia. Pada zaman sekarang, kita tetap bisa meneladani kisah Ibrahim yang diperintahkan Tuhan untuk menyembelih Ismail.  Baik meneladani melalui ibadah kurban yang bernilai religi-sosial-ekonomi, juga meneladani secara maknawi. Ismail zaman sekarang pada hakikatnya adalah sesuatu yang diidam-idamkan manusia, atribut-atribut duniawi yang sering dijadikan berhala oleh manusia,  bisa berupa kekayaan, jabatan dan sebagainya. Lantas apa maksud menyembelih atribut-atribut tersebut dan bagaimana caranya?

Menyembelih dalam konteks ini adalah memperlakukannya sesuai dengan perintah Tuhan. Jadi jika kita diuji dengan kekayaan, kelolalah kekayaan itu sesuai dengan perintah-Nya: berzakat dan menggunakannya untuk kemaslahatan bersama. Jika kita diuji dengan jabatan, gunakanlah jabatan itu untuk menegakkan keadilan, gunakanlah sebagai sarana amar ma’ruf nahy munkar.  Konsep menyembelih dalam konteks ini terkait erat dengan konsep zuhud. Zuhud bukan berarti berlari dari atribut-atribu duniawi tetapi ia meletakkan semua atribut itu hanya di tangan saja, tidak meletakkannya di dalam hati.

Dalam pelaksanaan pengurbanan, selalu terjadi peperangan batin: perang melawan godaan setan yang melancarkan serangan dari berbagai arah secara terus menerus. Seperti setan yang menggoda Ibrahim, kemudian menggoda Siti Hajar dan Ismail agar mengurungkan niat penyembelihan. Dan peperangan ini selalu ada sampai kiamat .

Di akhir tulisan saya tidak ingin membuat kesimpulan, tapi hanya mencoba memetik beberapa key word kehidupan ini dari kisah pengorbanan Ibrahim-Ismail, yakni: ujian, pengorbanan dan godaan. Itu saja. Silahkan menyusun paragraph kehidupan Anda dengan key words tersebut sesuka Anda. Tuhan Maha Tahu dan Maha Memperhitungkan…


Persahabatan Nusantara – Cina

December 1, 2008

chinese-childrenMembaca tiga novel dari tetraloginya Andrea Hirata, menyisakan kesan yang dalam, khususnya tentang persahabatan Melayu – Cina yang terjalin  indah: A Kiong yang pada akhirnya menikah dengan Sahara dan kisah pencarian cinta sejati Ikal, A Ling. Ya, Njoo Xian Ling, Michael Yeoh-nya Ikal.

Persahabatan Nusantara-Cina memang sudah terjalin berabad-abad lamanya dengan segala pasang surutnya. Semula adalah hubungan perdagangan yang dilakukan sejak zaman Sriwijaya, Samudera Pasai dan Majapahit. Kemudian sebagian dari duta dagang tersebut ada yang kerasan tinggal di Nusantara. Konon kekuatan tentara laut Majapahit dibantu banyak oleh sisa-sisa tentara Mongol yang dihancurkan Raden Wijaya (sebagian besar berbangsa Han), yang tidak sudi kembali ke Cina karena menjadi bawahan tentara Mongol. Duta persahabatan yang paling legendaris adalah Admiral Cheng Ho yang mengunjungi nusantara pada abad 15. Keluarga Kesultanan Demak dan Cirebon banyak yang memiliki darah Cina.

Sayang, hubungan yang manis antara Nusantara dan orang cina merenggang pada zaman kolonial. Pemerintah kolonial memperlakukan etnis cina sebagai bangsa tersendiri demi keuntungan pihak kolonial. Hal ini mengakibatkan etnis cina terkucil. Pada zaman Orde Lama hubungan pribumi – cina membaik dengan adanya kebijakan poros Jakarta – Peking. Sayang lagi, Orde Baru yang berkuasa kemudian tak banyak membantu memperbaiki jalinan persahabatan ini, meski dengan membuat kebijakan asimilasi melalui perubahan nama yang berbau Indonesia. Tapi tetap saja, persahabatan itu universal, tak perlu menunggu kebijakan pemerintah untuk bisa menjalinnya.

Kembali lagi ke setting novel. Berdasarkan literatur yang saya telusuri, nenek moyang A Ling mungkin berimigrasi ke Belitong pada akhir abad 19. Mereka adalah orang-orang Hokian yang berasal dari Provinsi Fujian yang berimigrasi dengan tujuan mencari penghidupan yang layak menyusul ambruknya pertanian di akhir Dinasti Qing. Awalnya mereka bekerja di pertambangan timah milik kolonial yang kemudian beralih profesi ke bidang perniagaan dan perdagangan eceran. Sebagian ada yang bekerja di sektor perkebunan, seperti ayahnya A Kiong.

Mengikuti kisah tokoh A Kiong dan A Ling, saya menjadi teringat teman-teman tionghoa saya. Sewaktu bersekolah di SMA N 1 Purwokerto, saya punya banyak teman-teman cina peranakan. Ada satu orang yang sangat dekat dengan saya, Chandra, teman sebangkuku. Anak yang terobsesi dengan komik dan bola basket. Buku-buku catatannya selalu habis dengan coretan-coretan kartun dari halaman belakang. Ia betul-betul menjadi sahabat dekat. Meminjami buku, mengajari berenang juga mencarikan tempat duduk yang strategis setiap pagi. Tempat duduk di kelas waktu itu memang bebas, siapa cepat ia dapat. Perannya sangat berarti karena saya selalu datang hampir telat, dan semua teman sekelas sangat enggan apabila duduk di deretan bangku depan: soalnya harus menjadi good boy sepanjang hari, membosankan kan?

Untuk yang perempuan, ada Sherley, si chubby. Dengan bibirnya yang merah natural dan kulitnya yang putih, wajahnya nampak manis seperti kue lapis. Ada juga Meilawati, anak yang sangat rajin, yang sering mengajakku diskusi PR setiap pagi. Wajahnya mirip pemeran A Ling dalam film Laskar Pelangi. Tapi dari deskripsi novelnya, menurutku A Ling yang sesungguhnya lebih mirip temanku yang satu lagi, namanya Sherly juga, tapi bukan Sherley yang chubby tadi.

Yang lain ada Rudy, si jago matematika, Eddy “Jangsing” si gendut yang lincah bermain basket, Diana yang imut dan berultah pada 17 Agustus. Sedangkan teman-teman kuliah, ada Irene, si mungil yang jenius. Sekarang ia sudah menjadi doktor Applied Physics. Ada Ye Gun, yang memiliki kecepatan berfikir dan berbicara yang mengagumkan seperti automatic gun. Ada juga Yoanna, si out of the box thinker. Dan masih banyak lagi teman-teman keturunan tionghoa yang tidak  saya sebut.

Saya selalu menaruh respect kepada mereka semua. Tak peduli mereka peranakan cina. Menurut saya mereka adalah Indonesia tulen juga. Dan saya belajar banyak pada mereka: kesediaan untuk bekerja keras dan cinta mereka yang besar kepada keluarga.

Lama saya tidak bertemu dengan mereka. Ah, saya merindukan mereka semua…