Growing Up Too Fast

November 28, 2008

anak-kecilSaya sering sedih menyaksikan anak-anak zaman sekarang yang dicekoki “konsumsi” orang dewasa. Materi ini tidak hanya berupa makanan (junk food), tapi juga lagu, film, bacaan dan lain sebagainya yang beredar melalui berbagai media cetak dan elektronik. Saya tertarik meninjau dari hal yang sederhana: lagu yang sering dinyanyikan anak-anak. Anak-anak zaman sekarang banyak yang mengkonsumsi lagu-lagu pop untuk dewasa. Pernah di sebuah angkutan umum, saya mendengarkan ada anak 4-5 tahunan yang dengan cedal menyanyikan lagu “Selingkuh.” Waktu si anak ini salah menyanyikan di satu bait lagu, ibunya dengan sigap membetulkan lirik lagu si anak. Ibu tersebut nampak bangga, anaknya pandai menyanyi, lagu-lagu dewasa lagi! Tidak usah jauh-jauh, dulu sepupu saya yang masih balita suka sekali nyanyi lagunya Peterpan.

Masalah ini bisa dianalisis dengan meminjam teori five forces. Buyers terhadap lagu-lagu anak kuat, sayang supplier-nya sangat lemah. Karena itu anak-anak mencari substitute product. Lagu-lagu yang tersedia sebagian besar untuk orang dewasa. Kalau pun ada beberapa lagu baru untuk anak-anak, kualitas lagu, baik lirik dan aransemen musiknya tidak menarik. Akhirnya mereka menikmati lagu-lagu orang dewasa. Apalagi orang tua mereka juga membolehkan bahkan bisa dikatakan mendukung.

Era 90-an industri  lagu anak-anak cukup booming, sayang industri ini semakin meredup belakangan ini. Apakah karena kurangnya pencipta lagu-lagu anak? Di mana Papa T Bob-Papa T Bob yang dulu? Atau industri lagu untuk segmen dewasa lebih menggiurkan dari pada lagu anak-anak?

Lebih jauh lagi, apa dampak lagu-lagu dewasa ini bagi anak-anak? Bagaimana perilaku mereka kelak jika semenjak kecil mereka sudah terbiasa dengan istilah pacaran, selingkuh, patah hati dan sebagainya? Lebih luas lagi apa dampak film-flm, sinetron, bacaan untuk dewasa yang sudah dikonsumsi sejak kanak-kanak?

Sekedar sharing saja, sebenarnya saya termasuk orang yang semenjak kecil sudah memakan “konsumsi” dewasa. Bukan lagu-lagu orang dewasa, tapi buku-buku orang dewasa. Ini bukan salah Ibu dan Bapak saya, tapi karena kerakusan kami (saya dan saudara kembar saya) terhadap bacaan. Kelas 3 SD kami sudah melahap novel-novelnya Motingo Busye, Fredy S, serial Wiro Sableng-nya Bastian Tito, dll. Bapak sudah membawakan majalah Kuncung, Ceria, kadang Ananda dan Bobo. Tapi itu cepat kami lahap. Jadi akhirnya kami membaca majalah orang tua dan kakak saya: Krida (majalahnya PNS Jawa Tengah), Hai, Gadis, Femina dan Kartini. Akibatnya kami menjadi cepat dewasa tanpa disadari oleh lingkungan kami. Ini bisa menjadi fatal seandainya kami tak memperoleh balancing. Alhamdulillah, balancing itu kami dapatkan berupa didikan moral dan agama dari orang tua yang demokratis dan pengajian di mushola depan rumah kami.

Kami tidak bisa membayangkan andai  tidak ada balancing itu. Sylvia Rimm dalam bukunya, Growing Up Too Fast, mewanti-wanti, anak-anak yang dikenalkan perilaku orang dewasa berpotensi besar: cenderung tidak mendengarkan orang tua, menghabiskan sebagian besar waktunya memikirkan hal-hal yang tidak layak dan  tertarik untuk berperilaku yang tidak patut.

Jadi ada dua hal yang mesti disadari oleh orang tua zaman sekarang, yakni: 1) Sebagai orang tua kita mesti bijak dalam memberikan “materi” kepada anak-anak sesuai dengan porsi perkembangan intelektual dan emosional mereka. Jangan segan-segan untuk memberikan batasan asupan, tentunya dilakukan dengan strategi yang bijak pula. 2) Pendidikan moral dan agama sangat penting sebagai balancing percepatan kemampuan itelektual dan emosional anak-anak. Apalagi di tengah globalisasi dan perkembangan teknologi yang memungkinkan asupan-asupan untuk dewasa dengan mudahnya masuk ke dalam kamar belajar anak-anak kita.


Sebuah Tempat Tinggal bagi Seorang Teman

November 27, 2008

pondok-pesantrenSabtu dan Minggu kemarin, saya mengantar rombongan teman-teman saya ke daerah Tasikmalaya untuk mencari pondok pesantren buat seorang teman saya. Bukan sembarang pesantren, yang kami cari adalah pesantren yang bisa memberikan terapi bagi teman saya itu yang sedang diuji dengan gangguan psikologis. Kami menemukannya pingsan di sebuah masjid. Mengaku sebatang kara, terusir dari keluarganya.

Tujuan pertama kami adalah Pesantren Suryalaya. Sayang kami tidak bisa melobi lebih jauh untuk menitipkan teman saya itu. Pertama,  karena saat ini terapi Suryalaya memang difokuskan pada korban narkoba, sedangkan teman saya itu hanya gangguan psikologis. Ke-dua, kami tidak bisa memenuhi persyaratan adanya wali/keluarga calon santri.

Akhirnya dari net work teman saya yang lain, kami dipertemukan dengan seorang guru muda sebuah pesantren di Ciawi, namanya Kang Budi. Beliau baik sekali dan sangat rensponsif untuk mencarikan pesantren yang cocok bagi teman saya itu. Bahkan karena kami kemalaman, kang Budi menyediakan tempat menginap untuk kami di rumahnya dan di pesantren tempat ia mengajar, sebuah pesantren tua, basis perjuangan di zaman Jepang. Ada beberapa alternatif pondok pesantren yang kami  coba hubungi di keesokan paginya. Sayang, akhirnya kami belum berhasil juga. Ada keberatan yang menjadi pertimbangan, disamping teman saya mengalami gangguan psikologis, ia juga lemah secara fisik. Ia butuh penanganan total yang bersifat personal. Dan di pesantren salaf, hal ini cukup sulit disediakan.

Akhirnya kami kembali ke Bandung. Teman-teman saya yang perkasa yang kemudian berjuang habis-habisan mencarikan tempat tinggal baginya. Ini juga cukup sulit, sebab ia sudah tidak diterima lagi oleh masyarakat di kompleks tempat kami tinggal, karena terlalu banyak masalah yang pernah dilakukannya. Sedangkan kami hanya anak-anak kost. Akhirnya berbekal rekomendasi, untuk sementara ia tinggal di sebuah rumah persinggahan. Kami tak tau sampai kapan.

Semua itu masih menyisakan ganjalan dalam hati saya. Saya meyakini solusi paling baik adalah menyerahkannya kepada keluarganya. Dan teman-teman masih mencoba men-trace keberadaan keluarganya dari potongan-potongan puzzle  yang kami tangkap darinya. Solusi terbaik nomer dua adalah Pesantren yang bersedia merawatnya. Karena menurut saya gangguan psikologisnya tidak terlampau parah, yang parah adalah pemahamannya terhadap beberapa konsep ketuhanan, terutama mengenai takdir. Ia tidak bisa membedakan mana yang absolut,  mana yang ikhtiari. Mungkin ada yang bersedia membantu mencarikannya tempat tinggal yang tepat?

Saya membayangkan betapa beratnya menjadi dia. Seorang wanita 30-an, sendirian,  terlempar dari keluarga, dengan kondisi fisik dan psikologis yang lemah… Saya juga jadi berfikir ternyata negara kita masih sangat minim dalam menyediakan fasilitas bagi orang-orang seperti mereka. Dan kalau mau jujur, orang-orang seperti ini jumlahnya berlimpah…


Laskar Pelangi Banget!

November 18, 2008

laskar-pelangiAkhirnya saya nonton film Laskar Pelangi. Saya di ajak teman-teman kampus satu proyek dulu, yang dimotori mba Ida. Dia senior saya di kampus, anak perminyakan dan studi pembangunan yang sebentar lagi mau melanjutkan program doktornya di Jepang. 

Saya memang belum membaca novel Laskar Pelangi secara utuh, saya hanya membaca resensi dan beberapa bagiannya saja. Namun dengan melihat film ini, saya merasa sudah mendapat gambaran Laskar Pelangi yang cukup.

Saya betul-betul tersindir dengan kisah bu Mus (bu Muslimah). Bu Mus begitu bersemangat mengajar di sebuah sekolah miskin, yang hanya berdinding kayu, yang setiap hujan selalu bocor. Meski bergaji kecil  dan bahkan dibayar telat. Ternyata yang membuat bu Mus bertahan karena bu Mus memang bekerja sesuai panggilan jiwanya. Mimpinya bukan menjadi istri saudagar tapi menjadi guru. Bu Mus bekerja dengan cinta. Mencintai anak-anak didiknya. Memberi kesempatan kepada anak-anak keluarga miskin Belitong untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Pendidikan yang tak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan tapi juga akhlak yang mulia. Ah, Cut Mini, Engkau begitu sempurna memerankan bu Mus.

Saya juga tersindir saat adegan Kucai yang hendak berhenti jadi ketua kelas karena mulai putus asa melerai pertengkaran diantara teman-temannya. Namun bu Mus dengan bijak menasihatinya dengan mengatakan: “Menjadi seorang pemimpin adalah tugas yang mulia.” Juga nasihat tambahan dari Sahara : “Alquran mengatakan bahwa kepemimpinan itu akan dipertanggungjawaban kelak di akhirat.” Akhirnya Kucai tetap menjadi ketua kelas.

Selepas menonton film ini, saya baru tersadar, sepertinya mba Ida ngoprak-ngoprak  kami untuk nonton film ini memang ada maksudnya. mba Ida tahu bahwa beberapa hari ini memang waktu yang sangat menjenuhkan bagi saya dan mas Riva. Mungkin kalau di Laskar Pelangi, kondisi kami ini seperti pak Bakrie yang mulai hopeless dengan kondisi pekerjaan eksisting dan diiming-imingi tawaran menggiurkan dari luar. Padahal di pekerjaan sekarang ini, kami bisa berbuat banyak bagi masyarakat. Padahal kondisi kami jauh lebih baik dari bu Mus itu. Jadi sebenarnya mba Ida mau menasihati kami seperti nasihat pak guru Harfan : “Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya. Bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.”

Saya jadi ingin membaca Laskar Pelangi secara utuh, menikmati setiap detil perjuangan bu Mus dan kesepuluh Laskar Pelanginya. Mengikuti petualangan mereka. Merasakan nuansa bunga saat Ikal melihat kuku Aling. Merasakan kecemasan saat Lintang yang tak kunjung datang, dst, dst…Sepertinya saya harus meminjam novel ini dan sambungan tetraloginya ke mba Ida. Bukan mba Ida yang saya sebut tadi, ini mba Ida lain lagi! Dia punya koleksi yang lengkap. Pinjam ya Mba…


Geothermal Direct Use

November 5, 2008

geothermal-direct-useSore kemarin saya berdiskusi dengan beberapa senior di Dinas Pertambangan & Energi Provinsi Jawa Barat. Salah satu temanya adalah pemanfaatan langsung panas bumi (direct use).  Beberapa waktu yang lalu mereka mengadakan studi banding ke area panas bumi Lahendong, Sulawesi Utara. Pertamina Area Geothermal Lahendong telah memasok uap sebesar 4 ton per jam secara cuma-cuma untuk pabrik gula aren Masarang yang berkapasitas produksi terpasang sebesar 2,5 ton per hari. Jadi pabrik ini merupakan pabrik gula aren pertama di Indonesia dan pabrik gula aren pertama di dunia yang menggunakan energi panas bumi sebagai bahan bakar pemrosesannya.

Nah kalau di Jawa Barat sendiri bagaimana? Di Pangalengan, panas bumi ini telah  dimanfaatkan pada budidaya jamur dan kentang untuk mensterilkan media tanam yang sebelumnya dikukus dengan energi dari BBM. Selain digunakan untuk mensterilkan media tanam, energi panas bumi bisa digunakan untuk proses pengeringan produk pertanian dan destilasi minyak atsiri. Teknik pengeringan produk pertanian itu telah diterapkan pada tiga pabrik pengeringan daun teh, yakni di Malabar, Kertamanah dan Purbasari, Pangalengan. Sedangkan di area PLTP Kamojang, Garut, akan dibangun pilot project pemanfaatan panas bumi untuk industri pengilangan minyak akar wangi.

Pemanfaatan utama energi panas bumi sebetulnya ditujukan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).  Namun sumur-sumur yang produksi uapnya sudah decline dan atau tak cukup untuk memasok uap PLTP, bisa dimanfaatkan untuk keperluan non listrik. Ini yang disebut dengan pemanfaatan langsung (direct use), yakni pemanfaatan energi dan atau fluida panas bumi untuk keperluan non listrik, seperti untuk agroindustri, proses industri dan pariwisata.

Nah dari diskusi ini ada hal unik tentang pemanfaatan panas bumi secara langsung di Indonesia yang betul-betul Indonesia banget. Yakni pemanfaatan air limbah panas bumi oleh beberapa masyarakat di Lahendong untuk bisnis ayam potong. Bukan untuk sterilisasi kandang, tapi untuk mempermudah pencabutan bulu ayam yang baru dipotong. Yang lebih lucu lagi di beberapa instalasi PLTP sering digunakan penduduk sekitar untuk menjemur pakaian. Sampai-sampai pihak PLTP membuat papan larangan menjemur pakaian. Ha ha ha.

Ayam rasa sulfur