Saya sering sedih menyaksikan anak-anak zaman sekarang yang dicekoki “konsumsi” orang dewasa. Materi ini tidak hanya berupa makanan (junk food), tapi juga lagu, film, bacaan dan lain sebagainya yang beredar melalui berbagai media cetak dan elektronik. Saya tertarik meninjau dari hal yang sederhana: lagu yang sering dinyanyikan anak-anak. Anak-anak zaman sekarang banyak yang mengkonsumsi lagu-lagu pop untuk dewasa. Pernah di sebuah angkutan umum, saya mendengarkan ada anak 4-5 tahunan yang dengan cedal menyanyikan lagu “Selingkuh.” Waktu si anak ini salah menyanyikan di satu bait lagu, ibunya dengan sigap membetulkan lirik lagu si anak. Ibu tersebut nampak bangga, anaknya pandai menyanyi, lagu-lagu dewasa lagi! Tidak usah jauh-jauh, dulu sepupu saya yang masih balita suka sekali nyanyi lagunya Peterpan.
Masalah ini bisa dianalisis dengan meminjam teori five forces. Buyers terhadap lagu-lagu anak kuat, sayang supplier-nya sangat lemah. Karena itu anak-anak mencari substitute product. Lagu-lagu yang tersedia sebagian besar untuk orang dewasa. Kalau pun ada beberapa lagu baru untuk anak-anak, kualitas lagu, baik lirik dan aransemen musiknya tidak menarik. Akhirnya mereka menikmati lagu-lagu orang dewasa. Apalagi orang tua mereka juga membolehkan bahkan bisa dikatakan mendukung.
Era 90-an industri lagu anak-anak cukup booming, sayang industri ini semakin meredup belakangan ini. Apakah karena kurangnya pencipta lagu-lagu anak? Di mana Papa T Bob-Papa T Bob yang dulu? Atau industri lagu untuk segmen dewasa lebih menggiurkan dari pada lagu anak-anak?
Lebih jauh lagi, apa dampak lagu-lagu dewasa ini bagi anak-anak? Bagaimana perilaku mereka kelak jika semenjak kecil mereka sudah terbiasa dengan istilah pacaran, selingkuh, patah hati dan sebagainya? Lebih luas lagi apa dampak film-flm, sinetron, bacaan untuk dewasa yang sudah dikonsumsi sejak kanak-kanak?
Sekedar sharing saja, sebenarnya saya termasuk orang yang semenjak kecil sudah memakan “konsumsi” dewasa. Bukan lagu-lagu orang dewasa, tapi buku-buku orang dewasa. Ini bukan salah Ibu dan Bapak saya, tapi karena kerakusan kami (saya dan saudara kembar saya) terhadap bacaan. Kelas 3 SD kami sudah melahap novel-novelnya Motingo Busye, Fredy S, serial Wiro Sableng-nya Bastian Tito, dll. Bapak sudah membawakan majalah Kuncung, Ceria, kadang Ananda dan Bobo. Tapi itu cepat kami lahap. Jadi akhirnya kami membaca majalah orang tua dan kakak saya: Krida (majalahnya PNS Jawa Tengah), Hai, Gadis, Femina dan Kartini. Akibatnya kami menjadi cepat dewasa tanpa disadari oleh lingkungan kami. Ini bisa menjadi fatal seandainya kami tak memperoleh balancing. Alhamdulillah, balancing itu kami dapatkan berupa didikan moral dan agama dari orang tua yang demokratis dan pengajian di mushola depan rumah kami.
Kami tidak bisa membayangkan andai tidak ada balancing itu. Sylvia Rimm dalam bukunya, Growing Up Too Fast, mewanti-wanti, anak-anak yang dikenalkan perilaku orang dewasa berpotensi besar: cenderung tidak mendengarkan orang tua, menghabiskan sebagian besar waktunya memikirkan hal-hal yang tidak layak dan tertarik untuk berperilaku yang tidak patut.
Jadi ada dua hal yang mesti disadari oleh orang tua zaman sekarang, yakni: 1) Sebagai orang tua kita mesti bijak dalam memberikan “materi” kepada anak-anak sesuai dengan porsi perkembangan intelektual dan emosional mereka. Jangan segan-segan untuk memberikan batasan asupan, tentunya dilakukan dengan strategi yang bijak pula. 2) Pendidikan moral dan agama sangat penting sebagai balancing percepatan kemampuan itelektual dan emosional anak-anak. Apalagi di tengah globalisasi dan perkembangan teknologi yang memungkinkan asupan-asupan untuk dewasa dengan mudahnya masuk ke dalam kamar belajar anak-anak kita.
Posted by Agus Fitriandi 
Posted by Agus Fitriandi 
Posted by Agus Fitriandi 

