Memperingati hari Sumpah Pemuda kemarin, saya mencoba menjawab pertanyaan klasik: Apa yang bisa disumbangkan generasi muda bagi bangsa? Saya sendiri merasa belum bisa memberi apa-apa. Justru saya jadi teringat orang-orang terdekat saya yang banyak memberi inspirasi untuk berbuat sesuatu bagi negeri ini. Seperti saudara kembarku yang mengabdi menjadi dokter di daerah pedalaman, tepatnya di Pulau Kesui, Seram Bagian Barat, Maluku. Dia menjadi dokter pertama di sana semenjak Indonesia merdeka. Tapi saya tak akan banyak membahasnya di sini, Anda bisa membaca langsung pengalamannya di blognya, Ekspedisi Kesui. Pada kesempatan ini saya ingin mengangkat jenis kepahlawanan lain yang bisa dilakukan oleh generasi muda. Kepahlawanan yang mungkin bersifat personal namun bisa berdampak sangat besar. Dan itu saya temukan itu pada diri kakak perempuan saya, Mba Tati.
Namanya Lastri, tapi kami, adik-adiknya, memanggilnya mba Tati. Soalnya waktu kami kecil, susah untuk melafalkan huruf L dan R, kami hanya bisa memanggilnya mba Tati. Sampai sekarang mba Tati adalah panggilan kesayangan untuknya. Waktu kondisi keuangan keluarga kami belum mapan, setamat SMA dia dengan kesadarannya tidak melanjutkan cita-citanya masuk ke Perguruan tinggi, tapi langsung bekerja. Dia banyak membantu keuangan keluarga dalam menyekolahkan adik-adiknya. Sebenarnya dia orang yang sangat cerdas. Karena itu pula lah akhirnya dia juga mendapat beasiswa dari perusahaannya untuk melanjutkan kuliah. Dengan dukungan Mba Tati ini lah, adik-adiknya menyelesaikan tingkat sarjana semua, satu orang Sarjana Ekonomi, satu orang dokter dan satu orang lagi insinyur. Bahkan dua diantaranya sudah menjadi master. Bayangkan saham yang turut ia tanamkan di setiap perbuatan adik-adiknya (jika mereka mau berbuat sesuatu yang berarti bagi negeri ini).
Ya, Setiap bangsa punya pahlawan, begitupun sebuah keluarga. Setelah Ibu dan Bapak kami, salah satu pahlawan kami adalah mba Tati. Ah, bangsa ini masih banyak memerlukan mba Tati-mba Tati lainnya: mau berkorban demi kemajuan bersama! Sore ini aku kangen banget sama mba Tatiku. Ya Allah, mudahkanlah segala urusannya. Aku tuliskan sebuah sajak khusus buatnya:
Jika satu saat Kau lelah
Bersandarlah di pundakku
Karena aku lelaki
Dan kau tak sendiri…
Posted by Agus Fitriandi 
Posted by Agus Fitriandi
Tiga hari yang lalu saya baru mengunjungi Singapura. Saya jadi teringat kembali sejarah. Pada abad ke-13, pulau ini dikuasai oleh Kerajaan Sriwijaya. Berdasarkan Hikayat Melayu, daerah ini dinamakan Singapura (kota singa) setelah pangeran Sriwijaya yang baru saja mendarat di pulau ini melihat binatang yang disangkanya singa (kemungkinan besar adalah harimau). Peristiwa ini dianggap sebagai pertanda baik, sehingga sang pangeran menamakan daerah ini menjadi Kota Singa, dalam sanskerta adalah Singapura. Bayangkan, andai sang pangeran melihat monyet, mungkin kita akan mengenal negeri itu dengan nama Wanarapura! Dan kita tak akan mengenal Merlion tapi Mermonkey!
Posted by Agus Fitriandi 

