Mba Tati dan Semangat Sumpah Pemuda

October 31, 2008

Memperingati hari Sumpah Pemuda kemarin, saya mencoba menjawab pertanyaan klasik: Apa yang bisa disumbangkan generasi muda bagi bangsa? Saya sendiri merasa belum bisa memberi apa-apa. Justru saya jadi teringat orang-orang terdekat saya yang banyak memberi inspirasi untuk berbuat sesuatu bagi negeri ini. Seperti saudara kembarku yang mengabdi menjadi dokter di daerah pedalaman, tepatnya di Pulau Kesui, Seram Bagian Barat, Maluku. Dia menjadi dokter pertama di sana semenjak Indonesia merdeka. Tapi saya tak akan banyak membahasnya di sini, Anda bisa membaca langsung pengalamannya di blognya, Ekspedisi Kesui. Pada kesempatan ini saya ingin mengangkat jenis kepahlawanan lain yang bisa dilakukan oleh generasi muda. Kepahlawanan yang mungkin bersifat personal namun bisa berdampak sangat besar. Dan itu saya temukan itu pada diri kakak perempuan saya, Mba Tati.

Namanya Lastri, tapi kami, adik-adiknya, memanggilnya mba Tati. Soalnya waktu kami kecil, susah untuk melafalkan huruf L dan R, kami hanya bisa memanggilnya mba Tati. Sampai sekarang mba Tati adalah panggilan kesayangan untuknya. Waktu kondisi keuangan keluarga kami belum mapan, setamat SMA dia dengan kesadarannya tidak melanjutkan cita-citanya masuk ke Perguruan tinggi, tapi langsung bekerja. Dia banyak membantu keuangan keluarga dalam menyekolahkan adik-adiknya. Sebenarnya dia orang yang sangat cerdas. Karena itu pula lah akhirnya dia juga mendapat beasiswa dari perusahaannya untuk melanjutkan kuliah. Dengan dukungan Mba Tati ini lah, adik-adiknya menyelesaikan tingkat sarjana semua, satu orang Sarjana Ekonomi, satu orang dokter dan satu orang lagi insinyur. Bahkan dua diantaranya sudah menjadi master. Bayangkan saham yang turut ia tanamkan di setiap perbuatan adik-adiknya (jika mereka mau berbuat sesuatu yang berarti bagi negeri ini).

Ya, Setiap bangsa punya pahlawan, begitupun sebuah keluarga. Setelah Ibu dan Bapak kami, salah satu pahlawan kami adalah mba Tati. Ah, bangsa ini masih banyak memerlukan mba Tati-mba Tati lainnya: mau berkorban demi kemajuan bersama! Sore ini aku kangen banget sama mba Tatiku. Ya Allah, mudahkanlah segala urusannya. Aku tuliskan sebuah sajak khusus buatnya:

Jika satu saat Kau lelah

Bersandarlah di pundakku

Karena aku lelaki

Dan kau tak sendiri…


Sebuah Senyum Istimewa

October 30, 2008

Ba’da Isya kemarin di tempat penitipan sandal Masjid Daarut Tauhid (DT), saya dapat pelajaran istimewa. Tukang penitipan sandal yang sedang berjaga malam itu adalah seorang yang diuji oleh Allah dengan sindrom kesulitan mengontrol gerak tubuh (Apa istilah kedokterannya Pak Dokter?). DT memang banyak mengkaryakan orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik. Bukan untuk dieksploitasi tetapi diberi ruang gerak untuk berkarya dalam hidupnya sesuai kemampuan mereka. Dengan keterbatasannya  tukang penitipan sandal itu memberiku sebuah senyum. Senyum yang sangat indah!  Sepertinya saya jarang sekali menemukan senyum seindah itu. Saya sampai terharu dan menangis sepanjang jalan pulang. Saya pikir itu adalah kekuatan ketulusan. Senyum yang kadang dianggap sepele menjadi begitu powerfull dengan ketulusan!

Waktu aku ceritakan peristiwa ini kepada tetangga saya, si Mumun, dia malah bilang,” selamat ya kamu dapat keberuntungan malam  ini, itu karena kamu orang baik.” Lalu saya jawab, ” Bukan itu lesson-nya Mun, saya jadi berpikir kita yang normal begini jarang banget memberi senyum yang tulus ke orang lain. Atau bahkan tidak pernah…”

“O, gitu ya. Kamu juga banyak senyum,” gombal si Mumun.

“Iya, tapi senyumnya orang sakit jiwa, Mun,” balasku dengan bercanda, “kalau kamu lain, kamu susah senyum. Kalau senyum juga ada maunya.”

Si Mumun pundung…


Singapura, Indonesia dan Sumpah Palapa

October 26, 2008

EsplanadeTiga hari yang lalu saya baru mengunjungi Singapura. Saya jadi teringat kembali sejarah. Pada abad ke-13, pulau ini dikuasai oleh Kerajaan Sriwijaya. Berdasarkan Hikayat Melayu, daerah ini dinamakan Singapura (kota singa) setelah pangeran Sriwijaya yang baru saja mendarat di pulau ini melihat binatang yang disangkanya singa (kemungkinan besar adalah harimau). Peristiwa ini dianggap sebagai pertanda baik, sehingga sang pangeran menamakan daerah ini menjadi Kota Singa, dalam sanskerta adalah Singapura. Bayangkan, andai sang pangeran melihat monyet, mungkin kita akan mengenal negeri itu dengan nama Wanarapura! Dan kita tak akan mengenal Merlion tapi Mermonkey!

Pulau ini menjadi pusat pelabuhan perdagangan yang terkenal semenjak abad ke-14. Ini tak lepas dari dukungan letak yang strategis, di tengah-tengah jalur perdagangan India dan Cina. Empu Prapanca dalam Kitab Negarakertagama menyebut daerah ini dengan sebutan Tumasik (kota laut). Dalam Sumpah Palapa, Gajah Mada menyebutkan Tumasik sebagai salah satu target penaklukan kerajaan Majapahit. Dan akhirnya cita-cita Gajah Mada memang terwujud, Tumasik menjadi daerah bawahan Majapahit. Peran Singapura semakin signifikan di Asia Tenggara ketika Stamford Raffles membangunnya menjadi kota pelabuhan modern mulai tahun 1819.

Singapura memang sangat nyaman untuk berbisnis, belajar atau untuk sekedar jalan-jalan dan berbelanja. Dipikir-pikir kunci dari kenyamanan ini adalah dua faktor: 1) Disiplin; 2) Menghormati hak semua orang. Dua faktor tersebut membuat negeri ini menjadi teratur dan nyaman. Implikasi dua faktor tersebut sangat besar dan luas, dari kebersihan yang terjaga, lalu lintas teratur, birokrasi yang simpel sampai menjalankan bisnis dengan nyaman, dll.

Kalau masyarakat Indonesia mau, kita bisa melebihi Singapura. Potensi resource yang dimiliki kita lebih banyak. Tinggal bagaimana kita membangun human capital kita. Sepertinya kita patut belajar lagi Sumpah Palapa-nya Gajah Mada, bukan untuk menginvasi Singapura, tapi mengalahkannya di bidang ekonomi, politik dan pendidikan!


Pembangunan Maritim Indonesia dan Pemilu 2009

October 20, 2008

Setiap liburan di Cilacap, saya selalu menyempatkan diri untuk bermain ke pantai. Demikian juga saat liburan kemarin. Saya memang suka sekali pantai. Pantai Laut Selatan hanya berjarak 6 km-an dari rumah saya. Dahulu sewaktu saya masih kecil, suara ombak terdengar sampai rumah kami di malam hari. Sekarang sudah tidak bisa terdengar lagi, mungkin karena semakin bisingnya daerah kami. Satu saat nanti saya ingin membuat rumah di pinggir pantai, sehingga setiap pagi dan senja bisa menikmati matahari terbit dan tenggelam bersama istri. Romantis sekali!

Semenjak dahulu, laut memang menjadi sumber inspirasi. Ini karena dua alasan. Alasan pertama adalah dari sisi geografis, pantai adalah tempat berlayar dan berlabuhnya perjalanan laut yang memungkinkan pertemuan berbagai suku/bangsa termasuk informasi dan budayanya. Alasan kedua adalah dari sisi psikologis. Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya, Arus Balik, menguraikan bahwa hamparan samudra secara psikologis mampu membangun jiwa yang lapang, berpandangan luas, lain halnya dengan tinggal di daerah pedalaman yang cenderung membuat pandangan yang sempit. Karena dua alasan inilah peradaban Nusantara berkembang pesat di pesisir, seperti Sriwijaya, Samudra Pasai dan Demak.

Majapahit pernah menjadi negara maritim yang perkasa di Asia Tenggara di bawah semangat Sumpah Palapa. Memang Majapahit tidak berpusat di pesisir, tetapi Majapahit memiliki kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa. Jadi lagu “nenek moyangku seorang pelaut” itu tidak mengada-ada. Sayang, kekuatan ini meluruh seiring dengan kemunduran Majapahit. Kekuatan maritim ini sempat dicoba dibangun kembali pada saat kesultanan Demak dengan dilatari semangat juang mengusir Portugis di Selat Malaka. Setelah kegagalan penyerangan dan kemunduran Demak, peradaban di Jawa kembali ditarik ke pedalaman oleh bangsawan-bangsawan agraris. Ini tak lepas dari skenario pengkerdilan kekuatan maritim oleh kolonialis. Demikian juga pusat-pusat kekuatan maritim lainnya kita seperti di Makasar, Ternate-Tidore dan Banten yang dibuat hancur. Berakhirlah masa kejayaan maritim Nusantara.

Empat abad kemudian, di orde baru, kekuatan maritim ini coba dibangun melalui pembangunan industri kapal laut – PT PAL dan industri pesawat terbang – IPTN dalam kelompok industri strategis yang dimotori BJ Habibie. Namun ini juga akhirnya gagal karena kurang kokohnya value chain kedua industri ini di Indonesia.

Pembangunan bahari kembali didengungkan dari masa pemerintahan Habibie sampai SBY. Namun sampai sekarang perkembangan signifikan di sektor maritim belum terlihat. Bahkan kita terpukul dengan berbagai peristiwa/keadaan yang menunjukkan lemahnya kekuatan maritim kita: lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan, bobroknya transportasi laut dan udara kita serta masih merajalelanya pencurian ikan oleh kapal asing. Sebab kegagalan sangat jelas, kita tidak memiliki visi yang jelas dalam pembangunan maritime kita. Sumber daya laut yang melimpah tetap hanya menjadi santapan negara asing. Nelayan kita tetap miskin!

Menjelang Pemilu 2009 ini, mungkin cukup tepat saatnya kita kampanyekan: jangan pilih partai dan pemimpin yang tidak memiliki visi dan program yang jelas dalam pembangunan maritim kita! Memang visi dan program yang partai/politisi janjikan di saat kampanye belumlah cukup. Namun tanpa visi dan program yang jelas, apa yang hendak mereka perjuangkan nanti?


Mudik dan Refleksi Makna Keberadaan

October 12, 2008

Akhirnya saya nge-blog lagi setelah dua minggu vakum karena suasana lebaran. Satu minggu larut dalam kesibukan mudik dan berlebaran dengan keluarga di Cilacap. Satu minggu lagi setelah kembali ke Bandung juga langsung ditelan kesibukan karena banyak pekerjaan yang mesti diselesaikan.

Mudik lebaran memang sebuah fenomena tahunan yang menarik di Indonesia. Semangat mudik sebenarnya ada di setiap bangsa karena bersumber dari fitrah manusia berupa kerinduan akan tempat asal. Namun ritual mudik masal hanya hidup di Indonesia dan sebagian masyarakat melayu. Budaya mudik ini mungkin berakar dari budaya yang sudah ada semenjak berabad lampau. Dahulu nenek moyang kita melakukan mudik untuk berziarah ke makam leluhurnya. Setelah Islam masuk, mereka menemukan momen spesial mudik pada saat lebaran, karena mampu menyatukan implementasi nilai-nilai silaturahim, kesyukuran setelah menjalani satu bulan berkah Ramadan serta ziarah sesuai ajaran Islam. Di Jawa, budaya mudik ini diperkuat dengan filosofi kebersamaan keluarga Jawa, mangan ora mangan angger kumpul. Tentu saja budaya mudik semakin besar seiring kuatnya arus transmigrasi dan urbanisasi.

Ternyata ritual mudik bukan hanya milik manusia saja. Banyak jenis satwa yang melakukan ritual mudik, terutama untuk golongan ikan (pisces) dan burung (aves). Yang paling fenomenal adalah mudiknya salmon atlantik. Mereka rutin melakukan migrasi ke tempat kelahirannya meski mengarungi berbagai rintangan dan seringnya berujung pada kematian. Satu-satunya motif mudik berbagai satwa tersebut adalah insting untuk mempertahankan kelangsungan populasi mereka. Sebuah perjalanan mudik yang berarti bukan? Mereka telah menunaikan sebuah makna keberadaan. Lantas apa makna mudiknya manusia?

Mudik yang berasal dari frasa “menuju udik” selain bisa bermakna kembali ke kampung juga berarti kembali ke asal (hulu). Kita berasal dari rahim ibu kita, di situlah titik temu kasih sayang antara kita dan saudara-saudara kita. Setelah beberapa waktu berpisah kadang terjadi kerenggangan antar keluarga inti atau keluarga dalam cakupan yang lebih luas. Nah mudik menjadi sarana silaturahim, menghubungkan kembali ikatan kekeluargaan dan kasih sayang. Lebih jauh lagi, mudik juga bisa membantu kita untuk memahami makna keberadaan: Dari mana kita berasal? Mengapa kita dicipta tak sendiri? Meski kemudian mudik bagi sebagian orang diboncengi oleh maksud-maksud lain, seperti memamerkan keberhasilan di negeri rantau dan sebagainya.

Disadari atau tidak, ritual mudik tahunan tersebut telah menimbulkan berbagai efek pada kehidupan sosial-budaya, ekonomi dan politik masyarakat kita. Pada aspek sosial-budaya, mudik merupakan media pertukaran informasi, life style bahkan pola pikir antara masyarakat urban dan rural. Meski pihak yang lebih dominan adalah pemudik, namun pemudik juga sedikit banyak bisa memperoleh feedback dari masyarakat desa, setidaknya memperoleh penyegaran akan nilai-nilai tradisional yang mulai sulit ditemukan di perkotaan. Pada aspek ekonomi lebih kentara terlihat, yakni pemudik membawa aliran cash dari kota ke desa, baik dalam bentuk konsumsi maupun sangu (bekal) bagi keluarga di kampung. Tanpa disadari, mudik juga merupakan arena marketing produk-produk dari perkotaan. Selanjutnya, efek di aspek politik yang paling sulit dilihat. Meski porsinya sedikit, pada pertemuan mudik telah terjadi diskusi politik, dalam arti yang luas, yang melibatkan sudut pandang urban/rural. Selain itu, mudik bagi para politikus Indonesia ternyata dijadikan ajang untuk mengumpulkan simpati agar nanti di pemilu/pilkada nanti mereka mendapat kursi.

Mudik bagi saya pribadi sampai saat ini selalu memberikan rasa bahagia dan sedih sekaligus. Bahagia karena bisa berkumpul langsung dengan keluarga dan sahabat. Sedih, karena setiap saya mudik, saya merasa menjadi orang paling tidak berguna dan paling bodoh di desa saya. Saya yang menyandang gelar insinyur dan master masih belum mampu berkontribusi nyata bagi masyarakat desa. Lantas apa bedanya dengan mereka yang tak memperoleh kesempatan untuk belajar?

Sebenarnya banyak sekali ide pengembangan masyarakat di kepala ini… Tuhan, beri kami kekuatan untuk merealisasikan semua mimpi itu. Hingga di saat kami mudik sejati ke hadapan-Mu, sebuah makna keberadaan telah kami coba tunaikan…