Beberapa malam Ramadan ini saya menyempatkan diri ke Masjid Salman ITB. Shalat ‘Isya dan tarawih berjamaah sambil mendengarkan ceramah dari tokoh-tokoh kampus dan tokoh-tokoh kaliber nasional. Hitung-hitung sambil bernostalgia.
Ya, Salman memang pernah menjadi rumah ke-dua saya semasa kuliah. Mungkin karena saya tinggal di asrama yang cukup jauh dari kampus ITB, jadi apabila ada jeda kuliah yang cukup lama ya ngaso di Salman dulu. Makan siang di kantin Salman (bergizi, higienis dan murah), shalat di Salman, tiduran di Salman. Saya juga sempat jadi seksi sibuk dalam satu organisasi kampus yang ruang sekretariatnya di gedung kayu Salman, jadi praktis dulu sering banget ke Salman. Bahkan hari Sabtu Minggu kami sering megadakan kegiatan di lingkungan Salman. Ah, Salman begitu banyak menyimpan kenangan. Salman menjadi saksi saat sedang bersedih, bahagia dan bahkan saat jatuh cinta (he he saya juga manusia biasa).
Sampai sekarang ada aura semangat yang selalu saya temukan di Salman. Coba saja lihat, saat akan Ujian (UTS atau UAS) koridor salman penuh mahasiswa yang sedang belajar sambil bediskusi (soalnya tempatnya memang adem sih
) Setiap waktu dhuha dan ba’da ashr koridor Salman penuh dengan kelompok-kelompok mahasiswa-mahasiswa yang sedang malakukan mentoring atau rapat unit-unit kegiatan Salman/Kampus. Mereka betul-betul tampak bersungguh-sungguh membangun dunia akhirat. Bagi saya, semua pemandangan itu merupakan suntikan energi untuk selalu memperbaiki diri. Jadi kalau saya sedang BT, saya suka mendatangi Salman.
Ada satu lagi yang sampai sekarang membuat saya ngiri, yakni anak-anak Asrama Salman ITB. Anak-anak Asrama Salman adalah aktivis-aktivis Salman. Mereka bukan sembarang aktivis Bung! Indeks Prestasi kuliah mereka bagus dan mereka hafal banyak bagian Al Quran.
Salman dan Semangat Pembaruan
Masjid Salman ITB memang memancarkan semangat pembaruan. Lihat saja arsitekturnya yang mendobrak gaya bangunan masjid yang umum di Indonesia. Masjid Salman yang dirancang oleh Pak Achmad Noe’man pada tahun 1964 tidak menampilkan kubah, atap tumpang atau kombinasinya.
Yang lebih penting adalah kehidupan masyarakat Salman itu sendiri. Salman pernah menjadi episentrum gerakan mahasiswa berbasiskan masjid, terlebih setelah adanya tindakan represif pemerintah terhadap gerakan kampus melalui Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK/BKK). Tokoh menonjol dibelakang gerakan ini adalah Bang Imad (Muhammad Imaduddin Abdulrahim) yang menjadikan Salman sebagai basis Latihan Mujahid Dakwah (LMD), sistem pembinaan SDM berlandaskan tauhid. Semangat gerakan ini menjalar ke kota-kota basis mahasiswa, seperti Jakarta dan Yogyakarta.
Hingga era 1970-an, Bandung-Salman-menjadi acuan untuk nasional, bahkan internasional, di bidang kegiatan pembinaan generasi muda Islam. Model pembelajaran agama di Masjid Salman yang kemudian dikenal sebagai mentoring banyak dikembangkan di berbagai masjid kampus di Indonesia.
Setelah gerakan mahasiswa kampus mendapatkan nafasnya kembali, peran Salman kemudian lebih menonjol pada pembinaan anak-anak dan remaja, melalui unit Keluarga Remaja Islam Salman (Karisma) dan Pembinaan Anak Salman (PAS). Unit-unit kegiatan Salman pun mulai bertambah, seperti Biologi Terapan (Bioter), Pusat Teknologi Tepat Guna (Pustena) dll. Salman tidak hanya menyentuh mahasiswa namun sampai setiap lapisan masyarakat dengan dukungan beberapa lembaga, seperti lembaga pengembangan pengkajian Islam, pemberdayaan umat, kaderisasi dan dakwah, bimbingan haji dan umrah, wakaf dan zakat, pengembangan pendidikan serta komunikasi media.
Saya pikir, Salman memang merupakan model masjid kampus yang bagus: Menyiapkan the next leader yang berakhlakul karimah dan dekat dengan masyarakat. Semangat Pembaruan yang tumbuh di lingkungan Salman, para aktivisnya dan alumnusnya inilah yang memungkinkan Salman melahirkan banyak tokoh penting di Indonesia. Saya sangat yakin 8-10 tahun mendatang lebih banyak lagi tokoh-tokoh bangsa yang merupakan hasil didikan Salman. Umat menantimu Bro!

June 27, 2009 at 2:32 am |
Bila tidak salah nama “Salman” diberikan oleh Bung Karno ( Presiden RI Pertama . Nama itu merupakan nama umu dari nama orang rakyat bawah. Benarkah demikian? Siapa yang dapat meberikan penjelasan?
June 27, 2009 at 12:49 pm |
Betul Bang Iskandar, nama Salman diberikan oleh Bung Karno. Beliau terinspirasi dengan salah satu sahabat Nabi Muhammad yang bernama Salman Al Farisi. Salman adalah sahabat yang dikenal mahir dalam bidang engineering khususnya arsitektur. Salman pernah mengusulkan strategi perang yang berkaitan dengan arsitektur, yakni membuat pertahanan dari parit (perang khandaq). Jadi Bung Karno berharap agar spirit Salman tertanam dalam Masjid kampus ITB, agar bisa menjadi pencetak engineer-engineer muslim seperti Salman Al Farisi.