Selamat Hari Raya Ied: Kemana Kita Kembali?

September 27, 2008

Setiap menjelang Idul Fitri, ada saja SMS dari teman-teman atau kerabat yang menanyakan: “Minal aidin wal faizin artinya apa Mas?” Atau “Taqabalallahu minna wa minkum artinya apa? Tulisan benernya seperti apa?”

Memang kata-kata yang paling umum digunakan sebagai ucapan idul Fitri di masyarakat kita adalah: Selamat Idul Fitri 1 Syawal 14XX H, minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. Begitu seringnya frasa “minal aidin wal faizin” melekat dengan “mohon maaf lahir dan batin,” sehingga membuat banyak orang beranggapan bahwa “minal aidin wal faizin” itu artinya adalah “mohon maaf lahir dan batin.”

Frasa “minal aidin wal faizin” berasal dari bahasa arab, namun konon masyarakat arab sendiri tidak mengenal dan memahami frasa ini. Secara harfian arti dari frasa ini adalah “dari orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang/beruntung.” Namun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa frasa ini berasal dari ungkapan masyarakat arab sebelum berangkat berperang. Dengan konteks ini, kemungkinan kalimat lengkapnya adalah: (semoga kita termasuk) dari orang-orang yang kembali (dari berperang – selamat) dan (termasuk) dari orang-orang yang menang. Apabila dikaitkan dengan Ramadan, frasa tersebut bisa bermakna: “(Semoga kita termasuk) dari orang-orang yang kembali dan memperoleh kemenangan (setelah sebulan penuh berperang melawan hawa nafsu).”

Frasa tersebut mungkin saja dibiarkan terbuka sebagai bahan perenungan bagi siapapun yang telah melalui satu bulan Ramadan. “Orang-orang yang kembali” ini maksudnya kembali kepada apa? Apakah kembali kepada sifat/perilaku malas kita seperti sebelum Ramadan? Kalau ini yang terjadi berarti kita memang mengalami idul fitri, fitri yang berasal dari kata fathara/fithrah yang bermakna keadaan awal-kosong. Semangat beribadah kembali kosong, masjid-masjid kembali kosong. Atau apakah kita kembali kepada fithrah yang bermakna keadaan awal-kesucian? Karena Ramadan sebagai bulan maghfirah (ampunan).

Namun kalau mau menilik asal kata idul fitri, yakni fathara/ifthor, makna yang paling tepat adalah memecah (puasa), kembali berbuka, kembali makan/minum. Sebab di hari Idul Fitri, umat islam diperbolehkan kembali untuk makan/minum setelah satu bulan sebelumnya dilarang makan/minum dari fajar sampai maghrib.

Lantas apa itu “taqabbalallahu minna wa minkum“? Justru inilah ucapan yang dicontohkan oleh Rasulullah di hari raya Idul Fitri. Ungkapan ini adalah doa yang artinya ” Semoga Allah menerima (amal-amal) dari kami dan (amal-amal) dari Anda.”

Jadi yang sebaiknya kita ucapkan di hari raya Idul Fitri adalah “taqabbalallahu minna wa minkum.” Tapi tentu saja kita tidak dilarang untuk mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin.” Hanya saja kalau kita memiliki kebiasaan meminta maaf seketika setelah kita berbuat salah kepada orang lain, meminta maaf menjadi tak harus menunggu satu tahun di hari raya Idul Fitri. Tidak dilarang juga untuk mengucapkan “minal aidin wal faizin,” dalam arti tidak sekedar kembali makan, tapi juga semoga kembali kepada kesucian.

O, iya, sekalian saja, sebelum terlambat saya ucapkan: Selamat hari raya Idul Fitri 1429 H, taqabbalallahu minna wa minkum. Terima kasih atas review dan comment dari pembaca blog Indonesia Sejahtera selama ini. Mohon maaf jika ada beberapa tulisan yang menyinggung atau menyakitkan dan belum saya mintakan maaf…


Mastering Physics: Bagaimana Membuat Fisika Menjadi Mudah?

September 26, 2008

Saya sering tertawa kalau ada kenalan baru yang menanyakan background sekolah, “dulu kuliah di jurusan apa?” Ketika saya menjawab “Teknik Fisika,” ia menyahut dengan cepat, “wah hebat.” Saya tertawa karena tak bisa menemukan di mana letak hebatnya. Sebab Teknik Fisika atau Fisika itu sama dengan ilmu lainnya, sama dalam effort untuk menguasainya. Tapi di sisi lain saya trenyuh, sebab itu berarti di dalam benak mereka Fisika itu sesuatu yang susah dijangkau. Saya lebih trenyuh lagi saat mendengar keluhan anak-anak sekolah tentang susahnya menyelesaikan soal-soal ujian Fisika. Saya trenyuh karena betapa cepatnya mereka men-judge Fisika sebagai pelajaran sulit.

Padahal Fisika itu memang ilmu yang biasa-biasa saja. Dalam arti semua orang bisa menguasainya, seperti menguasai ilmu manajemen, hukum dan sebagainya. Jadi apa sih yang membangun image Fisika sesuatu yang super sulit? Hemat saya ada beberapa hal yang membuat Fisika terkesan sebagai pelajaran yang super sulit.

1. Paradigma bahwa Fisika hanya bisa dikuasai oleh orang cerdas

Banyak kalangan yang beranggapan bahwa fisika adalah ilmu yang susahnya minta ampun, sehingga yang bisa menguasainya hanya orang-orang jenius, minimal cerdas. Alasan orang menganggap fisika itu sulit karena banyaknya hal-hal yang terkesan abstrak. Seperti gaya (force), momentum, listrik, dsb yang “tidak kelihatan.” Fisika kok abstrak?!

Pendapat tersebut jelas salah besar. Untuk menguasai Fisika cukup diperlukan satu syarat saja: akal sehat. Jadi, asal anda tidak gila, dalam arti memiliki akal sehat, itu sudah sangat cukup untuk memahami fisika dengan baik.

2. Fisika adalah pelajaran hafalan rumus

Padahal menghafal hanya sebagai alat bantu untuk mempercepat penyelesaian soal. Cara menghafalnya pun ada triknya sehingga mudah diingat sesuai logika akal sehat. Dengan memahami gaya dan gerak, kita akan sangat mudah menghafal rumus tegangan permukaan, rumus gerak peluru dan rumus lainnya yang terlihat panjang dan rumit (akan saya coba terangkan di pembahasan selanjutnya).

3. Fisika adalah matematika

Matematika hanyalah alat bantu. Dan sama seperti Fisika, Matematika itu selaras dengan akal sehat, jadi sebenarnya manusia itu tidak punya kesulitan memahami matematika.

Sebagai urun rembug, ada beberapa usulan yang bisa dipertimbangkan oleh guru-guru Fisika agar murid-muridnya menyukai Fisika, antara lain:

  1. Perbanyak praktikum. Agar tidak terkesan abstrak, murid harus diajak belajar dengan menyaksikan fenomena. Ini bisa dilakukan dengan melakukan banyak praktikum. Sebagai catatan, praktikum ini bisa dilakukan meski dengan alat sederhana! Saya sangat salut dengan salah satu dosen optik Teknik Fisika, Prof. Andri. Beliau membangun peralatan praktikum optik dengan alat-alat sederhana. Tapi dari situlah teman-teman Teknik Fisika bisa memahami arti fisis fenomena optik dengan jelas. Bahkan dari lab sederhana inilah banyak penelitian yang muncul di jurnal-jurnal ilmiah internasional. Berbicara tentang arti fisis ini, saya jadi teringat dengan salah satu teman saya. Setiap habis diterangkan oleh dosen, terutama kuliah-kuliah yang terkesan abstrak, seperti elektromagnetik dan fenomena gelombang, pertanyaan yang selalu ditanyakan adalah : Arti fisisnya seperti apa? Karena seringnya menanyakan seperti itu, pertanyaannya selalu bisa ditebak “arti fisisnya seperti apa?” Dia sering diledek, tetapi dia memang benar, untuk lebih memahami kita memang memerlukan deskripsi fisis! Dia sekarang benar-benar menjadi ilmuwan!
  2. Perbanyak akses informasi melalui internet. Buatlah siswa didik kita untuk rajin berfisika ria di internet. Sekarang banyak website yang menampilkan ilustrasi dan simulasi peragaan fisika yang akan memudahkan pemahaman anak didik tentang fisika.
  3. Kunjungan ke Laboratorium dan industri. Kunjungan ke laboratorium dan industri terkait akan membantu pemahaman siswa didik mengenai arti fisis dan terapannya di kehidupan nyata.
  4. Metoda pengajaran yang santai. Ini sangat penting. Sangat disayangkan image yang terbangun selama ini adalah kebanyakan guru Fisika itu galak. Untungnya saya selalu mendapat guru Fisika yang kocak (mungkin gara-gara ini saya jadi masuk Teknik Fisika). Jika murid-murid sudah merasa nyaman dan dekat dengan guru Fisika, dijamin mereka akan mau mati-matian memahami Fisika. Kalau perlu anjurkanlah siswa didik Anda untuk suka membaca buku sastra! Buku sastra akan melatih kemampuan bahasa dan imajinasi siswa didik Anda untuk mendeskripsikan fenomena alam ke dalam bahasa yang mudah dipahami. Kemampuan ini akan sangat membantu mereka kelak ketika menjadi ilmuwan.

Masjid Salman ITB dan Semangat Pembaruan

September 19, 2008

Beberapa malam Ramadan ini saya menyempatkan diri ke Masjid Salman ITB. Shalat ‘Isya dan tarawih berjamaah sambil mendengarkan ceramah dari tokoh-tokoh kampus dan tokoh-tokoh kaliber nasional. Hitung-hitung sambil bernostalgia.

Ya, Salman memang pernah menjadi rumah ke-dua saya semasa kuliah. Mungkin karena saya tinggal di asrama yang cukup jauh dari kampus ITB, jadi apabila ada jeda kuliah yang cukup lama ya ngaso di Salman dulu. Makan siang di kantin Salman (bergizi, higienis dan murah), shalat di Salman, tiduran di Salman. Saya juga sempat jadi seksi sibuk dalam satu organisasi kampus yang ruang sekretariatnya di gedung kayu Salman, jadi praktis dulu sering banget ke Salman. Bahkan hari Sabtu Minggu kami sering megadakan kegiatan di lingkungan Salman. Ah, Salman begitu banyak menyimpan kenangan. Salman menjadi  saksi saat sedang bersedih, bahagia dan bahkan saat jatuh cinta (he he saya juga manusia biasa).

Sampai sekarang ada aura semangat yang selalu saya temukan di Salman. Coba saja lihat, saat akan Ujian (UTS atau UAS) koridor salman penuh mahasiswa yang sedang belajar sambil bediskusi (soalnya tempatnya memang adem sih :D ) Setiap waktu dhuha dan ba’da ashr koridor Salman penuh dengan kelompok-kelompok mahasiswa-mahasiswa  yang sedang malakukan mentoring atau rapat unit-unit kegiatan Salman/Kampus. Mereka betul-betul tampak bersungguh-sungguh membangun dunia akhirat. Bagi saya, semua pemandangan itu merupakan suntikan energi untuk selalu memperbaiki diri. Jadi kalau saya sedang BT, saya suka mendatangi Salman.

Ada satu lagi yang sampai sekarang membuat saya ngiri, yakni anak-anak Asrama Salman ITB. Anak-anak Asrama Salman adalah aktivis-aktivis Salman. Mereka  bukan sembarang aktivis Bung! Indeks Prestasi kuliah mereka bagus dan mereka hafal banyak bagian Al Quran.

Salman dan Semangat Pembaruan

Masjid Salman ITB memang memancarkan semangat pembaruan. Lihat saja arsitekturnya yang mendobrak gaya bangunan masjid yang umum di Indonesia. Masjid Salman yang dirancang oleh Pak Achmad Noe’man pada tahun 1964 tidak menampilkan kubah, atap tumpang atau kombinasinya.

Yang lebih penting adalah kehidupan masyarakat Salman itu sendiri. Salman pernah menjadi episentrum gerakan mahasiswa berbasiskan masjid, terlebih setelah adanya tindakan represif pemerintah terhadap gerakan kampus melalui Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK/BKK). Tokoh menonjol dibelakang gerakan ini adalah Bang Imad (Muhammad Imaduddin Abdulrahim) yang menjadikan Salman sebagai basis Latihan Mujahid Dakwah (LMD), sistem pembinaan SDM berlandaskan tauhid. Semangat gerakan ini menjalar ke kota-kota basis mahasiswa, seperti Jakarta dan Yogyakarta.

Hingga era 1970-an, Bandung-Salman-menjadi acuan untuk nasional, bahkan internasional, di bidang kegiatan pembinaan generasi muda Islam. Model pembelajaran agama di Masjid Salman yang kemudian dikenal sebagai mentoring banyak dikembangkan di berbagai masjid kampus di Indonesia.

Setelah gerakan mahasiswa kampus mendapatkan nafasnya kembali, peran Salman kemudian lebih menonjol pada pembinaan anak-anak dan remaja, melalui unit Keluarga Remaja Islam Salman (Karisma) dan Pembinaan Anak Salman (PAS). Unit-unit kegiatan Salman pun mulai bertambah, seperti Biologi Terapan (Bioter), Pusat Teknologi Tepat Guna (Pustena) dll. Salman tidak hanya menyentuh mahasiswa namun sampai setiap lapisan masyarakat dengan dukungan beberapa lembaga, seperti lembaga pengembangan pengkajian Islam, pemberdayaan umat, kaderisasi dan dakwah, bimbingan haji dan umrah, wakaf dan zakat, pengembangan pendidikan serta komunikasi media.

Saya pikir, Salman memang merupakan model masjid kampus yang bagus: Menyiapkan the next leader yang berakhlakul karimah dan dekat dengan masyarakat. Semangat Pembaruan yang tumbuh di lingkungan Salman, para aktivisnya dan alumnusnya inilah yang memungkinkan Salman melahirkan banyak tokoh penting di Indonesia. Saya sangat yakin 8-10 tahun mendatang lebih banyak lagi tokoh-tokoh bangsa yang merupakan hasil didikan Salman. Umat menantimu Bro!

 


Menjalin Sinergi antar BUMD Provinsi Jabar

September 13, 2008

Selasa sore kemarin, 9 September, saya mengikuti acara forum silaturahim BUMD-BUMD Pemprov Jawa Barat yang diprakarsai oleh PT Jasa Sarana. Hadir di situ perwakilan Direksi dan Komisaris BUMD Jabar: PT Bank Jabar, PT Agronesia, PT Jasa Sarana, PD Agribisnis dan Pertambangan (PDAP) serta PD Jasa dan Kepariwisataan (PD Jawi). Ada dua BUMD yang belum bergabung, yakni PT Tirta Jabar yang masih dalam revitalisasi di bawah manajemen PT Jasa Sarana serta PT Bank Perkreditan Rakyat (PT BPR). Forum ini mirip-mirip BUMN Executive/CEO Club lah. Saya hadir di situ bukan sebagai salah satu executive BUMD, tapi karena diminta bantuan untuk mengurus acara Kultum (Kuliah Tujuh belas Menit) menjelang buka puasa bersama. Ustadznya Dr. Asep Zainal Aushof, salah satu dosen saya di kampus dulu.

Acara ini di buat untuk menjalin kembali sinergi antar BUMD Pemprov. Konon sih Badan Koordinasi Perusahaan-Perusahaan Daerah Pemprov Jabar sudah ada, namun gebrakan sinergitasnya masih belum terasa signifikan.

Seperti kita ketahui, kondisi BUMD-BUMD Pemprov Jabar beragam. Beberapa BUMD memang telah membangun dirinya menjadi entitas bisnis yang profesional, terutama BUMD yang telah berbentuk PT, namun secara keseluruhan BUMD-BUMD masih memiliki kondisi rata-rata sebagai berikut: 1. Tingkat produktifitas dan utilitas asset yang masih rendah; 2. Pola manajemen masih cenderung birokratis yang menyebabkan kurangnya tingkat adaptif dan inovasi bisnis; 3. Masih kurang berorientasi terhadap pasar, kualitas dan kinerja; 4. Kurangnya marketing; 5. Masih rendahnya tingkat profitabilitas, kondisi ini adalah konsekuensi dari keempat kondisi sebelumnya dan 6. Kondisi-kondisi tersebut masih ditambah dengan terkotak-kotaknya usaha masing-masing BUMD. Sinergi antar BUMD diharapkan dapat mengakselerasi perbaikan kondisi BUMD tersebut, dengan lingkup sinergi sebagai berikut:

1. Kerja sama penanganan proyek

Banyak proyek yang bisa disinergikan sesuai kompetensi masing-masing BUMD. Misalnya proyek pembangunan Rumah Susun (Rusun) Jabar bisa diakselerasi dengan adanya sinergi PT Jasa Sarana (kompetensi, development), PD Jawi (asset) dan Bank Jabar (Pendanaan). Proyek lainnya misalnya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di pedesaan yang dilakukan oleh PT TGR (SDA air), PT Jabar Energi- Perusahaan Anak PT Jasa sarana- dan Bank Jabar (Pendanaan).

2. Joint marketing

Program marketing bersama akan lebih efektif untuk produk/bidang bisnis yang terkait. Misal program kerja sama pengolahan dan pemasaran produk bentonit PDAP dan PT Jabar Energi untuk memasok kebutuhan bentonit untuk drilling di oil & gas industry. Program joint marketing juga bisa dilakukan untuk produk/bidang bisnis yang tidak terkait. Contoh sederhananya adalah penggunaan produk kuliner BMC PT Agronesia atau penggunaan hotel-hotel PD Jawi dalam acara-acara yang diselenggarakan oleh BUMD.

3. Knowledge sharing

Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa tingkat kondisi BUMD tidaklah seragam. Knowledge sharing memungkinkan untuk salaing membangun business management yang lebih efektif dan efisien, baik dalam penanganan kasus operasional, SDM, hukum dan keuangan.

Kultum

Di sesi kultum, Dr. Asep ZA memaparkan bahwa bulan Shaum Ramadan ini melatih kita untuk lebih bisa mengendalikan feeling, willing dan thingking. Pengendalian ketiga potensi inilah yang menentukan martabat kemanusiaan kita. Tingkat pengendalian terhadap tiga komponen itu mesti sangat diperhatikan oleh para pejabat. Dr. Asep ZA juga menyentil audience dengan teknik menertawakan diri sendiri atas beberapa perilaku-perilaku yang sering dianggap sepele namun sebenarnya menunjukan kurang dikendalikannya feeling, willing, thinking. Dan meskipun audience sudah senior, mereka saling bercanda dengan tunjuk-menunjuk. Hi hi hi. Salah satu Direktur BUMD bilang ke saya, ” Semuanya kena sentil.”

Pokoknya acara silaturahim BUMD-BUMD Pemprov Jabar kemarin cukup berhasil, setidaknya mencairkan kebekuan komunikasi selama ini. Saya berharap forum informal silaturahim ini berlanjut, sehingga sinergitas bisnis antar BUMD bukan sekedar wacana namun berlanjut pada program nyata. Tentunya untuk kemajuan Jawa Barat!


When Zakat Being a Life Style

September 3, 2008

Jumat malam kemarin, 29 Agustus, saya menghadiri undangan Rumah Zakat Indonesia (RZI) di acara Gelar Budaya Zakat: Roadshow 19 Kota menuju Indonesia Sadar Zakat 2008, yang bertempat di Balai Sartika-Bikasoga, Buah Batu-Bandung. Tema Gelar Budaya Zakat kali ini adalah When Zakat Being a Life Style. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berzakat sekaligus mensosialisasikan kemudahan cara membayar zakat, infak dan shadaqah melalui pemanfaatan teknologi.

Pada sesi talkshow yang dipandu CEO RZI, Kang Virda, hadir Pak Bambang Wirawanto dari Indosat Regional Jawa Barat, Pak Suharto MZ dari Bank Mandiri Kanwil Jawa Barat  dan Pak Eko P Pratomo, penulis buku berjudul Pengelolaan Finansial Keluarga dan Miracle of Love. Di talkshow ini audience diajak untuk merenung, “sudahkan zakat menjadi prioritas dalam perencanaan financial keluarga kita?” O ya, acara ini dimeriahkan oleh Opick “Tombo Ati”, Ami Biola serta Sanggar Angklung dan Perkusi Anak Asuh Rumah Zakat.

Zakat Sebagai Solusi

Saya setuju dengan pendapat Baqir ash Shadr dalam bukunya Iqtishaduna (Ekonomi kita) bahwa sumber daya di bumi pada hakikatnya melimpah. Allah telah menciptakan semesta ini berikut ukurannya dengan setepat-tepatnya, dengan demkian maka sumber daya ini pasti mencukupi seluruh umat manusia dari zaman nabi Adam sampai kiamat. Tinggal bagaimana mekanisme distribusi sumber daya tersebut dlaksanakan manusia agar mampu memberikan kemakmuran bagi seluruh umat.

Islam memberikan solusi melalui mekanisme zakat. Abul A’la Maududi dalam bukunya Usus al Iqtishad bani al Islam wa nuzum al muasyirah (Asas -Asas Ekonomi Islam dan Sistem-Sistem Ekonomi Modern) menekankan bahwa yang dikehendaki oleh Islam dalam zakat adalah adanya distribusi kekayaan di masyarakat. Bukan distribusi sama rata, akan tetapi adanya aliran kekayaan dari si kaya kepada sesamanya yang kekurangan demi kemaslahatan bersama di muka bumi.

Dasar filosofi amal zakat ini adalah keimanan bahwa harta adalah milik Allah, demikian juga kita. Allah yang melapangkan dan menyempitkan rezeki tiap manusia dan manusia akan diminta pertanggungjawabannya kelak atas rezeki tersebut. Nilai pertanggungjawaban itu terletak pada bagaimana cara mendapatkan dan membelanjakannya dalam amal yang paling baik sesuai aturan yang telah Allah gariskan. Siapa saja yang diamanahi kekayaan memiliki tanggung jawab kepada Allah untuk menyalurkannya kepada yang kekurangan.

Sistem zakat inilah yang menjadi jaringan pengaman sosial  yang akan menjamin mereka yang tidak mampu bekerja. Inilah cara untuk memberi pertolongan kepada mereka yang lemah atau sakit, anak-anak yatim, janda-janda yang memerlukan bantuan. Bahkan zakat bisa diangap sebagai sistem asuransi yang disediakan bagi umat Islam. Jika si kaya esok hari terkena musibah, ia tak perlu khawatir, karena ada sistem zakat yang akan menjaganya dari kelaparan bahkan memberinya kesempatan lagi untuk berusaha melalui mekanisme zakat produktif.

Kesadaran untuk berzakat inilah yang mesti kita tanamkan di umat. Alhamdulillah kita telah memiliki banyak Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang profesional (amanah, responsif, inovatif dan transparan). Ini merupakan modal kita untuk membuat masyarakat percaya untuk menyalurkan zakatnya. Jika seluruh umat muslim di Indonesia sadar zakat, masalah umat berupa kemiskinan dan kebodohan pasti cepat kita selesaikan. Ayo ramai-ramai berzakat! Jadikan zakat sebagai gaya hidup kita!