Lomba 17-an dan Lelang WKP Panas Bumi Jawa Barat

August 20, 2008

Tujuh belasan! Kantorku, PT Jasa Sarana, mengadakan corporate gathering yang dikemas dalam aneka perlombaan rakyat. Ada lomba individual skill: balap karung, paku-botol, memindahkan belut dan makan krupuk. Ada juga lomba team work: bakiak, mengambil coin di buah, tarik tambang, kelompencapir dan lomba cooking with hidden ingredients. Aku cuma mengumpulkan medali emas di bidang mengambil coin beregu dan medali perak di bidang paku-botol. O iya, aku juga dapet 2 doorprize sebagai orang paling kalem dan paling helpful di kantor (Narsis ya diceritain? Ini baru quickcount kok).

Ternyata perlombaan ini tak hanya berhenti di intern korporat, lusanya, 19 Agustus, kami berlomba di proses tender WKP Panas Bumi Jawa Barat Tahap II. Tahap pertama telah berhasil kami lewati, yakni penilaian program kerja pengembangan PLTP dan kemampuan pendanaan. Untuk bertanding di lelang ini, kami tidak sendiri, tapi bersinergi dengan strategic partner. Di WKP Cisolok-Cisukarame, kami bersama dengan PT Rekayasa Industri dalam wadah Konsorsium Jabar Halimun Geothermal, di WKP Gunung Tampomas dengan PT Wijaya Karya dan PT Resource Management Indonesia, sedangkan di WKP Tangkupan Perahu dengan PT Medco Power Indonesia.

Total Project

Di tender ini, peserta harus betul-betul fight, mengingat ini adalah tender terbuka dengan sistem total project, yakni pengembangan lapangan geothermal dari hulu (up stream) sampai hilir (down stream) dengan penilaian harga listrik terendah.

Dengan besarnya risiko di up stream dan adanya informasi terbuka mengenai drilling & EPC cost, maka yang akan menjadi kunci di sini bukan lagi the art of procurement tetapi  the art of funding. Sejauh mana return yang masih bisa diterima untuk mendapatkan the best electricity price. Apabila sebuah perusahaan mendapatkan sumber pendanaan dengan cost of debt/capital yang murah, maka batas bawah return  proyek yang diinginkan tentu lebih rendah.

Usulan ke Depan

Di balik serunya proses lelang WKP Panas Bumi dengan sistem total project pertama di Indonesia ini, ada banyak perbaikan yang mesti dilakukan pemerintah untuk bisa mengembangkan WKP-WKP berikutnya. Data awal berupa survey pendahuluan yang terbatas sebenarnya mengalihkan risiko pengembangan kepada pengembang (investor). Namun risiko ini tidak diimbangai dengan adanya penetapan batas tarif listrik geothermal, yang harus di bawah Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik PLN (80-85%). Ironisnya BPP dihitung berdasarkan historical cost pembangkit-pembangkit listrik eksisting yang sudah lama (mungkin sudah tidak memperhitungkan biaya depresiasi :) ). Seharusnya penentuan tarif listrik geothermal dibandingkan dengan BPP pembangkit baru. Lebih fair lagi apabila tarif listrik geothermal disamakan dengan BPP. Ini kan untuk waktu 30 tahun ke depan. Ketika harga listrik pembangkit berbahan bakar fosil semakin gila menanjak akibat naiknya bahan bakar fosil yang semakin langka, harga listrik geothermal relatif tetap karena hanya memperhitungkan eskalasi biaya berdasarkan indikator ekonomi makro.

Aturan main tender geothermal berdasarkan PP 59 juga perlu direview sebab masih memiliki beberapa kelemahan. Panitia tender tidak dimungkinkan untuk melakukan evaluasi terhadap harga listrik yang ditawarkan oleh peserta lelang. Apabila peserta lelang telah lolos tahap I  berupa evaluasi program kerja dan kemampuan pendanaan, maka di tahap ke-2, panitia hanya bisa menetapkan pemenang berdasarkan harga terendah. Tak peduli apakah dengan harga itu proyek pengembangan WKP bisa berjalan. Seolah-olah memungkinkan adanya discontinuity antara tahap I dan tahap II. Apabila banting-bantingan harga terjadi, maka bisa saja pemenang tender  hanya bertujuan asal menang untuk kemudian dijual kepada pihak ke-tiga. Atau pemenang tidak mampu melakukan pengembangan WKP akibat tidak menariknya feasibilitas financial proyek bagi perbankan/investor. Jika hal ini terjadi maka ada waktu penundaan pengembangan yang harus dibayar oleh pemerintah. Sumber daya geothermal akan mengalami idle lagi selama 2 tahun-an!

Pemenang Tender

Setelah pembukaan amplop harga listrik, alhamdulillah, kami menang di 2 WKP, yakni bersama PT Rekayasa Industri menang di WKP Cisolok-Cisukarame dan bersama PT Wijaya Karya serta PT RMI menang di WKP Gunung Tampomas. Itu bukan kemenangan kami saja tetapi juga kemenangan bagi Jawa Barat. Dan tugas pengembangan 2 WKP menantang di depan. Semangat! Semangat!

 


Happy Birthday!

August 2, 2008

Menjelang shubuh, aku mengecek handphone-ku. Ternyata ada satu sms yang masuk sejak pukul 00.09 WIB yang berisi ucapan: “Met ultah Mas! Semoga pj umur, sehat2 selalu, cepet dapet jodoh dan sukses selalu. Jgn lupa makan2nya ya.” SMS dari salah satu teman tulusku itu menyadarkanku bahwa ini hari lahirku menurut kalender masehi, meskipun beberapa hari yang lalu aku sudah banyak menerima ucapan happy birthday dari teman-teman via Friendster. Ucapan di pagi gelap ini sekaligus menyadarkanku akan nikmat Tuhan, aku masih diberi kesempatan hidup.

Salah Kaprah

Mendapat ucapan selamat ulang tahun, jadi kepikiran salah kaprah ungkapan ini di masyarakat kita. Pertama, salah kaprah dari segi bahasa. Mengapa disebut ulang tahun? Padahal tahun tak pernah berulang. Waktu itu irreversible. Mungkin maksud dari ungkapan ini adalah “satuan waktu tahun yang berulang kembali”. Bahasa lain nampak lebih logis dengan ungkapan yang berarti “hari lahir”, seperti ungkapan dalam bahasa Arab: milad atau dalam bahasa Inggris: birthday. Begitu juga di Jawa, istilah yang digunakan untuk hari kelahiran adalah wetonan, yang secara harfiah berarti waktu keluar (lahir). Sistem hari kelahiran ini tidak berulang dalam satuan tahun, akan tetapi dalam 35 hari. Hal ini dikarenakan wetonan merupakan gabungan dari hari week (Senin, Selasa, Rabu, Kamis Jumat, Sabtu dan Minggu) dan hari pasaran Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon).

Salah kaprah ke-dua adalah mengenai arti filosofi ulang tahun itu sendiri. Ucapan ulang tahun yang kita kenal lebih umum ditujukan kepada perayaan, bersenang-senang. Padahal hakikat ulang tahun seseorang adalah berkurangnya jatah usianya. Rasa senang hanya bagi mereka yang telah mengumpulkan bekal bertemu dengan Tuhan-nya dengan sebaik-baiknya. Sedangkan bagi yang bekalnya masih pas-pasan, hari lahir menimbulkan kecemasan: jatah usia makin pendek bekal masih minim. Untungnya ucapan selamat ulang tahun tidak berhenti di sekedar ucapan, tapi diikuti dengan doa-doa yang menyejukan, seperti semoga umur makin berkah, tercapai cita-citanya, cepat menikah, dsb.

Introspeksi

Selepas shubuh, aku bertahan di masjid cukup lama, mencoba berintrospeksi di usia 27 tahun ini. Ternyata aku belum banyak berbuat bagi keluarga apalagi bagi umat. Aku terlalu banyak ditelan kesibukan pribadi. Bahkan dengan kesibukan ini aku merasakan jarak yang makin jauh dengan Tuhan. Dan celakanya semua itu didalihkan dengan sebuah alibi: aku mengerjakannya untuk mereka.

“Tuhan, di hari lahir ini aku tak meminta kado mobil atau rumah… Aku hanya ingin cinta-Mu, kedekatan dengan-Mu. Juga makin dekatkan kami dengan keluarga. Dan berilah kekuatan untuk bisa berkhidmat bagi umat.”

Setelah jam 6, bertubi-tubi ucapan selamat ultah datang di handphone-ku, dari keluarga, teman kampus dan rekan kantor. Terima kasih semuanya. Besok Senin, siap-siap saja, mereka akan membajakku untuk minta ditraktir makan-makan. Acaranya Buka Bersama aja ya :D