Selamat Datang Ar Ruhul Jadid Fi Jasadil Ummat

July 31, 2008

21 Juli kemarin, telah lahir keponakan ke-dua ku, bayi laki-laki dengan berat badan 3,4 kg dan panjang 48 cm. “Selamat datang ya Ar Ruhul Jadid fi jasadil ummat (jiwa baru di tubuh umat),” bisikku kepadanya. Ia hanya menangis. Ibunya menamakannya Athallah, artinya karunia Allah. Kakaknya, Alya (4) ingin memanggil adiknya dengan nama Farrel, jauh-jauh hari sebelum Athallah lahir. Karena kami keluarga demokratis, mungkin kami akan memberinya nama Athallah Farrel.

Ia lahir saat negeri ini hendak merayakan 63 tahun hari ulang tahun kemerdekaannya. Ya negeri ini sudah merdeka enam dasawarsa, tetapi bangsa ini masih belum benar-benar merdeka. Bangsa ini masih terjajah oleh kemiskinan dan kebodohan. Dahulu kemiskinan dan kebodohan ini diakibatkan oleh penjajahan VOC yang diteruskan oleh Pemerintah Belanda. Tidak berbeda jauh, sekarang kemiskinan dan kebodohan ini akibat penjajahan korporatrokrasi, yakni sistem pemerintahan yang dikendalikan oleh korporatokrat, VOC-VOC modern.

Pak Amien Rais, dalam bukunya, Agenda Mendesak Bangsa – Selamatkan Indonesia, mengingatkan penjajahan jenis ini, yakni penjajahan oleh sistem atau mesin kekuasaan yang bertujuan mengontrol ekonomi dan politik global melalui 7 unsur: (1) Korporat besar yang mencari untung dengan membabi buta; (2) Pemerintah dengan kekuatan politiknya yang tunduk pada kepentingan ekonomi korporasi; (3) Perbankan dan Lembaga Keuangan Internasional yang mencekik lewat instrumen hutang dan memberikan resep-resep destruktif; (4) Kolaborasi militer – korporasi (new military industrial complex); (5) Media massa yang menjadi guard dog, lap dog bahkan stupid dog bagi korporasi; (6) Kaum intelektual yang mengabdi kepada kekuasaan; serta (7) Elite nasional yang bermental inlander.

Untuk menghancurkan penjajahan ini dibutuhkan jiwa-jiwa baru di tubuh umat. Jiwa-jiwa yang mempersiapkan dirinya dengan sebaik-baiknya menuju kepemimpinan alternatif, yakni:

  1. Pemimpin yang memahami bahwa kekuasaan adalah amanat rakyat yang mesti dijalankan dengan kejujuran dan kerja keras;
  2. Pemimpin yang bertekad dan memperjuangkan kemandirian nasional;
  3. Pemimpin yang benar-benar mengabdi kepada kepentingan bangsa.

Kepemimpinan alternatif inilah yang akan berani melaksanakan agenda penyelamatan dan pembangunan bangsa. Sekarang ini, agenda penyelamatan bangsa yang mendesak untuk dilaksanakan adalah: Mereview dan merevisi Undang-Undang yang tidak pro nasional, renegosiasi Kontrak Kerja Sama/Kontrak Production Sharing di bidang migas dan Kontrak Karya di bidang non migas yang nyata-nyata merugikan kepentingan bangsa, renegosiasi pembayaran hutang najis, serta revisi terhadap HPH yang dilaksanakan dengan serakah. Pada saatnya nanti, tantangan yang akan dihadapi oleh Athallah dewasa pasti akan lebih besar, korporatokrat tak akan tinggal diam.

Sebagai penutup, saya kutipkan pesan James Gibb Stuart, ekonom Amerika yang menasihati agar negara-negara berkembang jangan bergantung dan takut pada negara-negara kaya.

The sun still shines. The crops still ripen. The eager workman’s hands and skills and energies are in no way diminished – provided he can have faith in his Government to protect his earnings and an adequate rewards for himself and his family.

Betul, Athallah, mengapa kita mesti takut untuk mandiri?


Gerakan Penanggulangan Pengangguran (GPP) di Jawa Barat

July 11, 2008

Hari ini ada hajatan besar di GOR Saparua – Bandung, Launching Gerakan Penanggulangan Pengangguran (GPP) di Jawa Barat oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans), Erman Suparno, dan Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan. Dalam sambutannya pak Heryawan mengkampanyekan program penyerapan tenaga kerja dari sektor pertanian dan peternakan. Hal ini mengingat 70% penduduk Jabar tinggal di wilayah pedesaan, dengan potensi pertanian, peternakan dan perikanan yang paling feasible untuk dikembangkan sebagai penyerap pengangguran. Sehubungan dengan program ini, Pak Heryawan memaparkan minat investor dan pasar Timur Tengah akan bidang pertanian dan peternakan di Jawa Barat.

Menakertrans selain memberikan sambutan, juga melantik Pengurus Paguyuban Pedagang Mie Bakso se Indonesia. Mengapa mie bakso? Pak Erman memaparkan bahwa usaha  mie bakso cukup berperan signifikan dalam sektor UKM, dari 49 juta unit UKM, 22% diantaranya adalah usaha mie bakso. Usaha mie bakso ini turut juga memberi  multiplier effect bagi pertumbuhan usaha lainnya seperti industri mie, kecap, saos, air minum dalam kemasan, tusuk gigi, dll, yang apabila dihitung bisa mencapai sekitar 32 industri terkait. Jadi usaha mie bakso memang cukup signifikan dalam menyerap pengangguran di Indonesia!

Pengangguran memang memang masih menjadi permasalahan bangsa yang mesti segera ditanggulangi bersama. Di Jawa Barat sendiri, terdapat 6% pengangguran yang berarti berjumlah sekitar 2,5 juta orang, ini belum termasuk pengangguran terselubung.

Saya sangat antusias, saat pak Erman memaparkan salah satu program Depnakertrans, yakni Mobile Training Unit (MTU), team penyuluh ketrampilan UKM mobile ke desa-desa. Saya berharap team ini tidak hanya mengajarkan teknik budi daya dan pengolahan saja, tapi juga menularkan virus kewirausahaan bagi masyarakat desa sekaligus membekali masyarakat dengan keterampilan membuat rencana bisnis sederhana serta pelatihan manajerial usaha. Dengan pelatihan integral inilah, perekonomian pedesaan bisa berkembang yang pada gilirannya akan mengikis jumlah pengangguran.

Good News

Pada acara ini pengunjung dipersilahkan menikmati mie bakso secara cuma-cuma yang disediakan oleh sekitar 100 gerobak dan pikulan tukang bakso. Pengunjung juga bisa mencari info kerja dan melakukan pengajuan lamaran kerja pada beberapa stand perusahaan-perusahaan yang turut meramaikan launching GPP ini.

Pada kesempatan tersebut, pak Erman juga meresmikan Program Layanan SMS Info Kerja, sebuah produk dari PT Jabar Telematika – PT Jasa Sarana, BUMD Jawa Barat. Program layanan ini merupakan sarana komunikasi antara pemberi kerja (employer)  dan pencari kerja (jobseeker) yang menyediakan fitur info lowongan kerja, lamaran kerja via SMS, info panggilan kerja serta tips sukses berkarir. Bagi yang berminat, cukup ketik REG <spasi> JOB, kirim ke 3689.


Knowledge Sharing in Toll Road Financial Modeling

July 10, 2008

Tiga hari kemarin, 7 – 9 Juli, saya mengikuti pelatihan Investment Analysis & Financial Modeling in Toll Road Infrastructure Project yang diselenggarakan oleh Transforum di Hotel Borobudur, Jakarta. Bagi sebagian peserta yang berasal dari perusahaan jalan tol, materi financial modeling yang diberikan mungkin kurang begitu menarik, karena masing-masing perusahaan sudah mengembangkan financial modeling yang lebih lanjut. Namun  pelatihan ini menjadi menarik dengan adanya materi Managing Risk Management Issues in Toll Road Project  serta Financial Modeling using Simulation Program.  Pada sesi simulasi, pemateri mengenalkan Infrisk, sebuah program simulasi komputer untuk analisis risiko pada keuangan  proyek infrastruktur yang dikembangkan oleh Word Bank.

Banyak hal-hal baru dan berharga yang bisa saya dapatkan dari pemateri maupun dari sharing pengalaman antar sesama peserta. Ada teman-teman dari industri  jalan toll: Jasa Marga, MMS, MSJ, Astratel, Trans Marga Jateng dan Bakrie. Ada juga teman-teman dari Thies Indonesia, Jakpro dan Susanto Cipta Jaya. Sedangkan dari industri perbankan ada teman-teman dari BNI, BCA, BRI, Bank Jabar, Bank Sumut dan Bank Mega. Saya sarikan hasil diskusi tentang beberapa kunci keberhasilan bermain di industri jalan toll di Indonesia:

1) Kontrol Budgeting

Investasi jalan tol bersifat capital intensive dan dengan tingkat pengembalian yang tertentu akibat adanya regulated tariff. Oleh karena itu kontrol budgeting mesti dilakukan dengan ketat semenjak  land aqcuisition, EPC sampai operasi. Investor mesti terlibat secara aktif dalam pembebasan lahan, sebagai tahap yang paling krusial dalam pembangunan jalan toll. Semakin cepat pembebasan lahan semakin kecil risiko cost over run yang bisa terjadi.

2) Link-kan bisnis jalan toll dengan bisnis lain yang terkait

Bisnis jalan toll memiliki payback period yang lama dan dengan tingkat pertumbuhan yang terbatas. Investor mesti pintar mengawinkan bisnis ini dengan bisnis lainnya yang lebih quick yield dan dengan tingkat pertumbuhan yang lebih baik, misalnya bisnis pengembangan kawasan.  Contoh best practise-nya adalah Group Bakrie yang mengawinkan bisnis jalan toll dengan bisnis properti.

3) Masuklah pada saat yang tepat

Investor, baik pemain baru atau pemain lama,  mesti pandai-pandai memilih saat yang tepat apabila hendak masuk ke dalam satu ruas toll. Apakah akan mengikuti proses tender atau melalui pola akuisisi. Contoh best practise adalah saat Bosowa mengakuisisi ruas toll Serpong – Pondok Aren.

Meet Friends

Yang lebih menyenangkan, di pelatihan ini saya bisa berjumpa dengan teman-teman kampus dulu. Saya bertemu dengan Erza (GM 99) dan Hosni (SI 97) yang kini di Divisi Corporate  Banking BNI serta Pak  Rudi Alvin (senior di FT) yang kini di bagian Risk Management Bank Jabar.

O  iya, saya mesti mengucapkan selamat kepada Mba Irma Setyowati dari Bakrie, sebagai peserta teraktif selama pelatihan. Dia telah mengajarkan: “antusiaslah di mana pun kamu berada!”